22.9 C
Kediri
Tuesday, August 16, 2022

Mereka yang Menjadi Juara dalam KVRR 2018 (1)

- Advertisement -

Bagi gadis belia ini, KVRR 2018 menorehkan sesuatu yang serba pertama. Pertama kali ikut lari dengan rute menanjak. Pertama kali ikut lomba lari di luar kotanya. Dan, pertama kali pula juara di luar daerah asalnya.

 

RAMONA TIARA VALENTIN

 

Hanifah Istiqomah seperti penasaran. Setelah keluar dari terowongan Ganesha, runner asal Temanggung, Jawa Tengah ini, tak kuasa menahan hasrat. Kepalanya menengok ke kiri. Melihat ke arah kawah Gunung Kelud. Kecepatan larinya pun sempat tertahan sebentar saat berjarak 50-an meter dari garis finish itu.

- Advertisement -

Sesaat kemudian dia kembali fokus pada larinya. Kecepatan berusaha dia tambah. Dan, ketika tubuhnya menerpa pita finish, teriakan dan tepukan meriah menyambutnya. Ucapan selamat dari berbagai pihak pun menyerbunya. Tak hanya panitia, penonton dan bahkan aparat keamanan pun mengerubuti gadis 14 tahun yang kemarin menjuarai kategori pelajar putri itu.

Hanifah langsung dituntun ke tenda medis. Bibirnya terlihat putih kering dan mengelupas. Namun, bibir pucat tanda haus itu masih bisa memberi senyuman pada orang yang mengucapkan selamat.

Setelah staminanya mulai pulih, gadis berbadan kecil nan gesit itu mulai bisa bercerita. Dia mengaku tak menyangka bisa menjadi pemenang untuk kategori female student.

Baca Juga :  Kajari Kagum Profesionalitas Wartawan Radar Nganjuk

“Saya nggak menyangka, karena ini pertama kalinya mencoba rute tanjakan gunung,” akunya.

Pelajar di salah satu SMPN 2 Ngadirejo, Temanggung ini masih terlihat malu-malu. Usai mengambil medali di tenda refreshment, dia juga kikuk saat diwawancarai awak media. Termasuk ketika wajahnya disorot kamera televisi.

“Saya malu,” ucapnya sembari membungkukkan badannya.

Hanifah juga lama untuk percaya bahwa dia adalah pemenang pertama di kategori yang dia ikuti. Sambil tangannya memegang medali dan snack dari panitia, matanya terus memandang garis finish. Upaya meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia sudah menaklukkan medan berat sekaligus tampil menjadi pemenang.

Menurut Hanifah, dia memang sengaja mengikuti event lari dengan medan gunung ini. Karena itu dia mempersiapkan diri sebaik mungkin. Persiapan yang dia lakukan jauh-jauh hari.

Gadis ini menceritakan, latihan rutin sudah dia  lakukan satu bulan menjelang lomba. Berlatih berlari sejauh 15 kilometer setiap hari. Baik yang berute datar maupun yang diselingi tanjakan.

Namun, tetap saja berbeda rasa antara saat berlatih dengan berlari di rute sebenarnya. Medan 10 kilometer dengan medan menanjak memiliki tantangan yang luar biasa. Yang menguras staminanya.

Baca Juga :  Ketagihan Karaoke Mbak Pur, Curi Uang Mertua

Namun, ada satu keuntungan dia berlari dengan medan pegunungan eksotis seperti Kelud. Pemandangannya benar-benar memesona mata. Sangat alami. Suasana gunung pasca-letusan terasa berbeda. Dan itu membuatnya mengurangi rasa lelahnya. Ketika terasa lelah, muncul rasa penasaran pemandangan seperti apa yang akan dia lihat menuju garis finish. Rasa penasara itulah yang memompa semangatnya agar terus berlari menuju finish.

Anak pertama dari dua bersaudara ini menganggap rute 10 kilometer ini tidak hanya menyajikan tantangan dan keindahan yang bebeda. Melainkan juga kondisi fisik rute yang dilalui. “Alami banget, jalan aspal yang lobang-lobang karena letusan sampai tebing yang warnanya masih coklat dan belum berubah hijau,” ucapnya tersenyum.

Saat ditanya mengapa ia begitu terkesan dengan pemandangan Kelud, ia tertuju pada suasana dan kawah yang terlihat masih baru. Belum ada campur tangan manusia yang menghiasi tepi danau yang terbentuk setelah letusan 14 Februari 2014 lalu ini. Risiko sesak setelah berdiri tidak begitu ia rasakan karena rute yang dilaluinya berbeda dengna rute-rute sebelumnya. “Seneng aja sama pemandangannya, sejuk, uindah, asyik, bagus pokoknya. Tahun depan mau ikut lagi,” imbuhnya sambari meneguk air mineral.

- Advertisement -

Bagi gadis belia ini, KVRR 2018 menorehkan sesuatu yang serba pertama. Pertama kali ikut lari dengan rute menanjak. Pertama kali ikut lomba lari di luar kotanya. Dan, pertama kali pula juara di luar daerah asalnya.

 

RAMONA TIARA VALENTIN

 

Hanifah Istiqomah seperti penasaran. Setelah keluar dari terowongan Ganesha, runner asal Temanggung, Jawa Tengah ini, tak kuasa menahan hasrat. Kepalanya menengok ke kiri. Melihat ke arah kawah Gunung Kelud. Kecepatan larinya pun sempat tertahan sebentar saat berjarak 50-an meter dari garis finish itu.

Sesaat kemudian dia kembali fokus pada larinya. Kecepatan berusaha dia tambah. Dan, ketika tubuhnya menerpa pita finish, teriakan dan tepukan meriah menyambutnya. Ucapan selamat dari berbagai pihak pun menyerbunya. Tak hanya panitia, penonton dan bahkan aparat keamanan pun mengerubuti gadis 14 tahun yang kemarin menjuarai kategori pelajar putri itu.

Hanifah langsung dituntun ke tenda medis. Bibirnya terlihat putih kering dan mengelupas. Namun, bibir pucat tanda haus itu masih bisa memberi senyuman pada orang yang mengucapkan selamat.

Setelah staminanya mulai pulih, gadis berbadan kecil nan gesit itu mulai bisa bercerita. Dia mengaku tak menyangka bisa menjadi pemenang untuk kategori female student.

Baca Juga :  Komika Nasional Insan Nur Akbar Siap Guncang Radar Kediri Awards

“Saya nggak menyangka, karena ini pertama kalinya mencoba rute tanjakan gunung,” akunya.

Pelajar di salah satu SMPN 2 Ngadirejo, Temanggung ini masih terlihat malu-malu. Usai mengambil medali di tenda refreshment, dia juga kikuk saat diwawancarai awak media. Termasuk ketika wajahnya disorot kamera televisi.

“Saya malu,” ucapnya sembari membungkukkan badannya.

Hanifah juga lama untuk percaya bahwa dia adalah pemenang pertama di kategori yang dia ikuti. Sambil tangannya memegang medali dan snack dari panitia, matanya terus memandang garis finish. Upaya meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia sudah menaklukkan medan berat sekaligus tampil menjadi pemenang.

Menurut Hanifah, dia memang sengaja mengikuti event lari dengan medan gunung ini. Karena itu dia mempersiapkan diri sebaik mungkin. Persiapan yang dia lakukan jauh-jauh hari.

Gadis ini menceritakan, latihan rutin sudah dia  lakukan satu bulan menjelang lomba. Berlatih berlari sejauh 15 kilometer setiap hari. Baik yang berute datar maupun yang diselingi tanjakan.

Namun, tetap saja berbeda rasa antara saat berlatih dengan berlari di rute sebenarnya. Medan 10 kilometer dengan medan menanjak memiliki tantangan yang luar biasa. Yang menguras staminanya.

Baca Juga :  Jadi Saksi Karya-Karya Literasi Bernilai Tinggi

Namun, ada satu keuntungan dia berlari dengan medan pegunungan eksotis seperti Kelud. Pemandangannya benar-benar memesona mata. Sangat alami. Suasana gunung pasca-letusan terasa berbeda. Dan itu membuatnya mengurangi rasa lelahnya. Ketika terasa lelah, muncul rasa penasaran pemandangan seperti apa yang akan dia lihat menuju garis finish. Rasa penasara itulah yang memompa semangatnya agar terus berlari menuju finish.

Anak pertama dari dua bersaudara ini menganggap rute 10 kilometer ini tidak hanya menyajikan tantangan dan keindahan yang bebeda. Melainkan juga kondisi fisik rute yang dilalui. “Alami banget, jalan aspal yang lobang-lobang karena letusan sampai tebing yang warnanya masih coklat dan belum berubah hijau,” ucapnya tersenyum.

Saat ditanya mengapa ia begitu terkesan dengan pemandangan Kelud, ia tertuju pada suasana dan kawah yang terlihat masih baru. Belum ada campur tangan manusia yang menghiasi tepi danau yang terbentuk setelah letusan 14 Februari 2014 lalu ini. Risiko sesak setelah berdiri tidak begitu ia rasakan karena rute yang dilaluinya berbeda dengna rute-rute sebelumnya. “Seneng aja sama pemandangannya, sejuk, uindah, asyik, bagus pokoknya. Tahun depan mau ikut lagi,” imbuhnya sambari meneguk air mineral.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/