22.3 C
Kediri
Monday, August 8, 2022

Sumiatun, Ibu Muda yang Nekat Membunuh Bayinya

Enam tahun menjalani bahtera rumah tangga dengan Sumiatun, M. Imam Shodiq tak habis pikir dengan sikap istrinya yang memilih menyembunyikan kehamilannya. Dia semakin terpukul karenaSumiatun juga tega menghabisi darah dagingnya sendiri. 

 

REKIAN

Raut wajah M. Imam Shodiq terlihat murung Kamis (15/8) pagi lalu. Saat rumahnya di Jl Wolter Monginsidi, Kelurahan Payaman, Kota Nganjuk mulai ramai dengan polisi sekitar pukul 07.30, pria yang memakai hoodie warna hitam itu lebih banyak tertunduk.

          Saat ditanya beberapa kerabat yang sengaja datang untuk menemani pagi itu, Shodiq, demikian dia biasa disapa, juga hanya menjawab dengan kalimat yang pendek. Kesedihan tergambar jelas di wajahnya kala itu.

          Kejadian pembunuhan bayi yang terjadi Sabtu (03/8) dini hari lalu yang dilakukan oleh Sumiatun, memang akan kembali tergambar jelas pagi itu. Sebab, Shodiq bersama Sumiatun yang sudah mendekam di tahanan hampir dua minggu, akan menjalani reka ulang atau rekonstruksi. 

          Sejak pagi polisi sudah mensterilkan rumah pria yang bekerja menjaga tempat parkir itu. Dia juga memilih menyerahkan penjagaan tempat parkir kepada keluarganya selama pelaksanaan rekonstruksi.

          Didampingi perwakilan Women’s Crisis Center (WCC), Shodiq mau menceritakan ihwal tragedi yang menimpa keluarganya. “Sebenarnya ini anak yang ketiga. Dulu yang kedua memang keguguran,” ujarnya membuka percakapan.

Baca Juga :  Menelusuri Titik Nol Kota Kediri yang Berpindah-pindah

          Jika saat kehamilan anak keduanya Shodiq mengaku tahu riwayatnya, tidak demikian dengan kehamilan anak ketiga. Rupanya, perempuan yang dinikahinya 2013 lalu itu memilih menutup rapat kondisi kehamilannya.

          Kondisi tubuhnya yang gemuk membuat niat perempuan asal Madura itu tercapai. “Dia memang tertutup. Tidak terbuka masalah kehamilannya,” lanjutnya sembari beberapa kali menunduk.

          Meski tinggal dalam satu rumah, perempuan yang dikenalnya lewat Facebook itu terkesan menutup diri. Tidak hanya kepada sang suami, sikap serupa juga ditunjukkan kepada keluarga pria berusia 33 tahun itu. Dia tidak pernah banyak berbicara kepada tetangga atau kerabat.

          Sifat perempuan berambut ikal itulah yang membuat Shodiq tidak mengetahui jika istrinya mengandung. Apalagi, selama ini ibu tiga anak itu juga tidak pernah memeriksakan diri ke bidan atau dokter.

          Karenanya, begitu Sabtu (3/8) dini hari lalu Sumiatun mengaku keguguran, dia terkejut bukan kepalang. Belum hilang kekagetannya, pria bertubuh kurus itu harus mendapati fakta jika perempuan berusia 27 tahun itu tega menghabisi nyawa bayi yang baru dilahirkannya.

          Meski baru saja mengalami peristiwa yang di luar nalarnya, Shodiq mengaku tetap menyayangi istrinya. Hal tersebut ditunjukkan dengan sikap pria berambut lurus itu yang selalu mengunjungi Sumiatun di tahanan.

Baca Juga :  Marwin Angeles Pemain Filipina Pertama yang Merumput di Liga Indonesia

          Sebanyak dua hingga tiga kali dalam seminggu, Shodiq selalu menyapa sang istri. “Saya bawakan makanan kesukaannya. Kasihan,” tuturnya sembari menyebut sikap sang istri selama di tahanan juga tetap dingin dan tidak banyak bicara.

          Sembari mengikuti proses hukum istrinya, kini Shodiq tengah berpikir keras untuk memberi pejelasan kepada Fal, 4, anak sulungnya. Bocah yang sempat diminta mengambilkan gunting oleh Sumiatun untuk memotong tali pusar bayinya itu sering menanyakan sang ibu. “Sementara ini saya bilang kalau masih di rumah sakit. Tapi nanti saya harus menjelaskan,” urainya.

          Terpisah, Kanit Unit PPA Iptu Darsini yang ditanya tentang keadaan Sumiatun menuturkan, minggu ketiga Agustus ini kondisi kesehatannya tetap dikontrol oleh dokter Polres Nganjuk. Dokter memeriksa kesehatannya secara rutin.

          Mereka juga menyiapkan obat-obatan yang dibutuhkan oleh Sumiatun. “Untuk pembalut semua kami sediakan,” bebernya sembari menyebut Polres Nganjuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Sebab, sebelum ditahan dia masih banyak mengeluarkan darah.

          Berdasar pemeriksaan dokter Polres Nganjuk, jelas Darsini, kondisi tersangka kasus pembunuhan itu relatif sehat. Dia juga tidak pernah mengeluhkan kondisi tubuhnya.

- Advertisement -

Enam tahun menjalani bahtera rumah tangga dengan Sumiatun, M. Imam Shodiq tak habis pikir dengan sikap istrinya yang memilih menyembunyikan kehamilannya. Dia semakin terpukul karenaSumiatun juga tega menghabisi darah dagingnya sendiri. 

 

REKIAN

Raut wajah M. Imam Shodiq terlihat murung Kamis (15/8) pagi lalu. Saat rumahnya di Jl Wolter Monginsidi, Kelurahan Payaman, Kota Nganjuk mulai ramai dengan polisi sekitar pukul 07.30, pria yang memakai hoodie warna hitam itu lebih banyak tertunduk.

          Saat ditanya beberapa kerabat yang sengaja datang untuk menemani pagi itu, Shodiq, demikian dia biasa disapa, juga hanya menjawab dengan kalimat yang pendek. Kesedihan tergambar jelas di wajahnya kala itu.

          Kejadian pembunuhan bayi yang terjadi Sabtu (03/8) dini hari lalu yang dilakukan oleh Sumiatun, memang akan kembali tergambar jelas pagi itu. Sebab, Shodiq bersama Sumiatun yang sudah mendekam di tahanan hampir dua minggu, akan menjalani reka ulang atau rekonstruksi. 

          Sejak pagi polisi sudah mensterilkan rumah pria yang bekerja menjaga tempat parkir itu. Dia juga memilih menyerahkan penjagaan tempat parkir kepada keluarganya selama pelaksanaan rekonstruksi.

          Didampingi perwakilan Women’s Crisis Center (WCC), Shodiq mau menceritakan ihwal tragedi yang menimpa keluarganya. “Sebenarnya ini anak yang ketiga. Dulu yang kedua memang keguguran,” ujarnya membuka percakapan.

Baca Juga :  Bebatuan Gua Jegles Menjadi Spot Foto

          Jika saat kehamilan anak keduanya Shodiq mengaku tahu riwayatnya, tidak demikian dengan kehamilan anak ketiga. Rupanya, perempuan yang dinikahinya 2013 lalu itu memilih menutup rapat kondisi kehamilannya.

          Kondisi tubuhnya yang gemuk membuat niat perempuan asal Madura itu tercapai. “Dia memang tertutup. Tidak terbuka masalah kehamilannya,” lanjutnya sembari beberapa kali menunduk.

          Meski tinggal dalam satu rumah, perempuan yang dikenalnya lewat Facebook itu terkesan menutup diri. Tidak hanya kepada sang suami, sikap serupa juga ditunjukkan kepada keluarga pria berusia 33 tahun itu. Dia tidak pernah banyak berbicara kepada tetangga atau kerabat.

          Sifat perempuan berambut ikal itulah yang membuat Shodiq tidak mengetahui jika istrinya mengandung. Apalagi, selama ini ibu tiga anak itu juga tidak pernah memeriksakan diri ke bidan atau dokter.

          Karenanya, begitu Sabtu (3/8) dini hari lalu Sumiatun mengaku keguguran, dia terkejut bukan kepalang. Belum hilang kekagetannya, pria bertubuh kurus itu harus mendapati fakta jika perempuan berusia 27 tahun itu tega menghabisi nyawa bayi yang baru dilahirkannya.

          Meski baru saja mengalami peristiwa yang di luar nalarnya, Shodiq mengaku tetap menyayangi istrinya. Hal tersebut ditunjukkan dengan sikap pria berambut lurus itu yang selalu mengunjungi Sumiatun di tahanan.

Baca Juga :  Melihat 20 Hari Tim Daarut Tauhiid (DT) Peduli Bangun Jembatan Cepoko

          Sebanyak dua hingga tiga kali dalam seminggu, Shodiq selalu menyapa sang istri. “Saya bawakan makanan kesukaannya. Kasihan,” tuturnya sembari menyebut sikap sang istri selama di tahanan juga tetap dingin dan tidak banyak bicara.

          Sembari mengikuti proses hukum istrinya, kini Shodiq tengah berpikir keras untuk memberi pejelasan kepada Fal, 4, anak sulungnya. Bocah yang sempat diminta mengambilkan gunting oleh Sumiatun untuk memotong tali pusar bayinya itu sering menanyakan sang ibu. “Sementara ini saya bilang kalau masih di rumah sakit. Tapi nanti saya harus menjelaskan,” urainya.

          Terpisah, Kanit Unit PPA Iptu Darsini yang ditanya tentang keadaan Sumiatun menuturkan, minggu ketiga Agustus ini kondisi kesehatannya tetap dikontrol oleh dokter Polres Nganjuk. Dokter memeriksa kesehatannya secara rutin.

          Mereka juga menyiapkan obat-obatan yang dibutuhkan oleh Sumiatun. “Untuk pembalut semua kami sediakan,” bebernya sembari menyebut Polres Nganjuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Sebab, sebelum ditahan dia masih banyak mengeluarkan darah.

          Berdasar pemeriksaan dokter Polres Nganjuk, jelas Darsini, kondisi tersangka kasus pembunuhan itu relatif sehat. Dia juga tidak pernah mengeluhkan kondisi tubuhnya.

Artikel Terkait

Most Read

Ampas Kopi Itu Bisa Jadi Uang

Megengan Pandemi

Mulai Data Tanah Tol Agustus


Artikel Terbaru

/