27.5 C
Kediri
Sunday, July 3, 2022

Tak Punya Biaya, Belum Berani Daftar ke RSCM

Divonis menderita atresia bilier sejak Juli 2019 lalu, Gwen Syareefa Putri, harus segera menjalani operasi transplantasi hati agar bisa sembuh. Sayangnya, karena keterbatasan biaya, balita berusia 1,5 tahun itu belum kunjung bisa mendaftar ke Rumah Sakit Cipto Mangun Kusumo (RSCM) Jakarta, tempat rujukannya.

“Saya nggak menyangka kalau Gwen akan terkena atresia bilier,” ujar Supardi, ayah Gwen mengawali pembicaraan tentang penyakit yang diderita putrinya Senin (22/6) sore lalu. Jarum jam menunjukkan pukul 16.10. Peluh pria yang tinggal di Desa Kedungrejo, Tanjunganom itu masih belum kering. 

Dia baru saja pulang bekerja dari tempat pengepresan rongsokan plastik yang berjarak sekitar 500 meter dari rumahnya. Meski rasa lelah masih tergambar jelas di wajahnya, pria bertubuh kurus itu terlihat bersemangat bercerita tentang penyakit yang diderita putri tunggalnya selama 14 bulan terakhir. Demikian pun usaha-usaha yang dilakukan agar bocah mungil itu bisa sembuh dari penyakit langka yang diidapnya.

Seperti penderita atresia bilier kebanyakan, balita yang lahir pada 7 Januari 2019 lalu itu terlihat normal seperti bayi lainnya. Hanya saja, tubuhnya menguning. “Awalnya dikira kurang susu. Jadi selain ASI ditambahi susu formula. Tiap pagi anaknya juga dijemur,” kenang pria berusia 26 tahun itu. 

Tiga bulan berlalu, tubuh Gwen memang sudah tidak lagi kuning. Tetapi, matanya tetap berwarna kuning. Khawatir terjadi hal yang serius pada anaknya, Supardi memeriksakan putrinya ke dokter spesialis di RSUD Nganjuk. 

Di rumah sakit milik Pemkab Nganjuk itu, dia langsung menjalani serangkaian pemeriksaan laboratorium. “Satu bulan rawat jalan tidak ada perubahan. Usia Gwen lima bulan dirujuk ke RSUD Dr Soetomo, Surabaya,” lanjut bapak satu anak itu. 

Baca Juga :  Rumpun Bambu di Sumengko Terbakar

Di Surabaya, dia harus kembali menjalani pemeriksaan dari awal lagi. Setelah hasil tes keluar, Juli 2019 lalu Gwen diketahui mengidap atresia bilier atau penyumbatan saluran empedu. “Saat itu diraba livernya sudah mengeras. Ada pembengkakan tapi belum besar,” tutur Supardi sembari menyatukan tiga jarinya untuk menggambarkan ukuran pembengkakan liver Gwen kala itu. 

Tim dokter di rumah sakit milik Pemprov Jatim itu lantas memutuskan agar Gwen segera menjalani operasi kasai atau operasi untuk memotong bagian saluran empedu yang tertutup dan menggantinya dengan bagian dari usus halus.

Idealnya, operasi kasai harus dilakukan pada usia bayi antara 1-3 bulan. Sedangkan usia Gwen saat itu sudah enam bulan. “Keberhasilannya hanya 50:50, kami ya bingung. Tapi akhirnya diputuskan tetap dicoba operasi kasai,” urainya. 

Usai operasi, Supardi dan keluarganya sempat lega. Cairan yang menyumbat empedu sudah dikeluarkan. Sebulan hingga dua bulan pascaoperasi juga tidak ada keluhan. Tetapi, setelah itu Gwen jadi sering demam, batuk, dan pilek. Dia juga buang air besar (BAB) darah, dan muntah darah. “Akhirnya rawat inap lagi dan diketahui jika operasi kasai yang dijalani gagal,” beber suami Hanik Sundari itu. 

Dengan kegagalan operasi kasai itu, satu-satunya opsi kesembuhan Gwen hanya dengan melakukan transplantasi hati. Dia dirujuk ke RSCM Jakarta.  Demi kesehatan putrinya, Supardi juga mengaku siap mendonorkan hatinya.

Yang menjadi masalah, meski biaya operasi ditanggung oleh BPJS Kesehatan, tetapi hanya biaya Gwen saja yang ditanggung. Adapun rangkaian proses pemeriksaan, screening, hingga biaya tinggal selama di Jakarta menjadi tanggungan pribadi. “Saya sudah berdiskusi dengan grup-grup atresia bilier. Kebutuhan dananya sekitar Rp 200 juta,” ceritanya lesu.

Baca Juga :  Bambang Dwi Cahyo dan Burung-Burung Puter Tangkarannya

Sejak putrinya divonis Atresia Bilier, Supardi memang melakukan berbagai usaha untuk mendapatkan kesembuhan. Harta benda mulai rumah dan sepeda motor pun ludes terjual. Pria yang sebelumnya tinggal di Loceret itu kini harus menumpang di rumah mertuanya. 

Meski sudah menghabiskan semua tabungan, rupanya biaya yang mencapai ratusan juta ada di depan mata. “Saya membuka donasi di kitabisa.com, biaya cangkok hati untuk Gwen anak atresia bilier,” urainya tentang upayanya mencari bantuan di situs penggalangan dana itu.

Rupanya, sejak di-posting pada 25 Oktober 2019 lalu, bantuan yang terkumpul dari situs galang dana itu hanya Rp 2,6 juta. Pria yang menikah pada 24 Januari 2018 lalu itu lantas berusaha menggalang dana lewat media sosial. “Komunitas-komunitas di Twitter dan Instagram saya DM (direct message, Red). Termasuk Komunitas Nganjuk Peduli yang akhirnya juga menggalang dana untuk Gwen,” bebernya. 

Tetapi, hingga saat ini dana yang terkumpul masih belum mencukupi. Apalagi, untuk biaya perawatan Gwen sehari-hari Supardi juga kewalahan. Sebab, untuk susu saja, Gwen harus mengonsumsi susu khusus anak atresia bilier yang harganya mahal.

Dengan belum terkumpulnya dana itu, Supardi belum berani mendaftarkan putrinya ke RSCM. Padahal, Gwen yang tubuhnya kini semakin kurus perlu mendapat penanganan segera. “Belum lagi nanti antre di RSCM kan lama. Rujukan seluruh Indonesia hanya di sana,” imbuh Supardi.

Melihat kondisi putrinya itu, Supardi kembali mengetuk hati para donatur agar mau membantu pengobatan putrinya. “Kami ingin anak kami bisa sembuh dan ceria seperti anak-anak lainnya,” harapnya sedih. (ut)

- Advertisement -

Divonis menderita atresia bilier sejak Juli 2019 lalu, Gwen Syareefa Putri, harus segera menjalani operasi transplantasi hati agar bisa sembuh. Sayangnya, karena keterbatasan biaya, balita berusia 1,5 tahun itu belum kunjung bisa mendaftar ke Rumah Sakit Cipto Mangun Kusumo (RSCM) Jakarta, tempat rujukannya.

“Saya nggak menyangka kalau Gwen akan terkena atresia bilier,” ujar Supardi, ayah Gwen mengawali pembicaraan tentang penyakit yang diderita putrinya Senin (22/6) sore lalu. Jarum jam menunjukkan pukul 16.10. Peluh pria yang tinggal di Desa Kedungrejo, Tanjunganom itu masih belum kering. 

Dia baru saja pulang bekerja dari tempat pengepresan rongsokan plastik yang berjarak sekitar 500 meter dari rumahnya. Meski rasa lelah masih tergambar jelas di wajahnya, pria bertubuh kurus itu terlihat bersemangat bercerita tentang penyakit yang diderita putri tunggalnya selama 14 bulan terakhir. Demikian pun usaha-usaha yang dilakukan agar bocah mungil itu bisa sembuh dari penyakit langka yang diidapnya.

Seperti penderita atresia bilier kebanyakan, balita yang lahir pada 7 Januari 2019 lalu itu terlihat normal seperti bayi lainnya. Hanya saja, tubuhnya menguning. “Awalnya dikira kurang susu. Jadi selain ASI ditambahi susu formula. Tiap pagi anaknya juga dijemur,” kenang pria berusia 26 tahun itu. 

Tiga bulan berlalu, tubuh Gwen memang sudah tidak lagi kuning. Tetapi, matanya tetap berwarna kuning. Khawatir terjadi hal yang serius pada anaknya, Supardi memeriksakan putrinya ke dokter spesialis di RSUD Nganjuk. 

Di rumah sakit milik Pemkab Nganjuk itu, dia langsung menjalani serangkaian pemeriksaan laboratorium. “Satu bulan rawat jalan tidak ada perubahan. Usia Gwen lima bulan dirujuk ke RSUD Dr Soetomo, Surabaya,” lanjut bapak satu anak itu. 

Baca Juga :  Fachurozi - Azzam, Siswa MTsN 1 Kota Kediri, Juara Nasional Robotik

Di Surabaya, dia harus kembali menjalani pemeriksaan dari awal lagi. Setelah hasil tes keluar, Juli 2019 lalu Gwen diketahui mengidap atresia bilier atau penyumbatan saluran empedu. “Saat itu diraba livernya sudah mengeras. Ada pembengkakan tapi belum besar,” tutur Supardi sembari menyatukan tiga jarinya untuk menggambarkan ukuran pembengkakan liver Gwen kala itu. 

Tim dokter di rumah sakit milik Pemprov Jatim itu lantas memutuskan agar Gwen segera menjalani operasi kasai atau operasi untuk memotong bagian saluran empedu yang tertutup dan menggantinya dengan bagian dari usus halus.

Idealnya, operasi kasai harus dilakukan pada usia bayi antara 1-3 bulan. Sedangkan usia Gwen saat itu sudah enam bulan. “Keberhasilannya hanya 50:50, kami ya bingung. Tapi akhirnya diputuskan tetap dicoba operasi kasai,” urainya. 

Usai operasi, Supardi dan keluarganya sempat lega. Cairan yang menyumbat empedu sudah dikeluarkan. Sebulan hingga dua bulan pascaoperasi juga tidak ada keluhan. Tetapi, setelah itu Gwen jadi sering demam, batuk, dan pilek. Dia juga buang air besar (BAB) darah, dan muntah darah. “Akhirnya rawat inap lagi dan diketahui jika operasi kasai yang dijalani gagal,” beber suami Hanik Sundari itu. 

Dengan kegagalan operasi kasai itu, satu-satunya opsi kesembuhan Gwen hanya dengan melakukan transplantasi hati. Dia dirujuk ke RSCM Jakarta.  Demi kesehatan putrinya, Supardi juga mengaku siap mendonorkan hatinya.

Yang menjadi masalah, meski biaya operasi ditanggung oleh BPJS Kesehatan, tetapi hanya biaya Gwen saja yang ditanggung. Adapun rangkaian proses pemeriksaan, screening, hingga biaya tinggal selama di Jakarta menjadi tanggungan pribadi. “Saya sudah berdiskusi dengan grup-grup atresia bilier. Kebutuhan dananya sekitar Rp 200 juta,” ceritanya lesu.

Baca Juga :  Novi Masuk Sel Koruptor

Sejak putrinya divonis Atresia Bilier, Supardi memang melakukan berbagai usaha untuk mendapatkan kesembuhan. Harta benda mulai rumah dan sepeda motor pun ludes terjual. Pria yang sebelumnya tinggal di Loceret itu kini harus menumpang di rumah mertuanya. 

Meski sudah menghabiskan semua tabungan, rupanya biaya yang mencapai ratusan juta ada di depan mata. “Saya membuka donasi di kitabisa.com, biaya cangkok hati untuk Gwen anak atresia bilier,” urainya tentang upayanya mencari bantuan di situs penggalangan dana itu.

Rupanya, sejak di-posting pada 25 Oktober 2019 lalu, bantuan yang terkumpul dari situs galang dana itu hanya Rp 2,6 juta. Pria yang menikah pada 24 Januari 2018 lalu itu lantas berusaha menggalang dana lewat media sosial. “Komunitas-komunitas di Twitter dan Instagram saya DM (direct message, Red). Termasuk Komunitas Nganjuk Peduli yang akhirnya juga menggalang dana untuk Gwen,” bebernya. 

Tetapi, hingga saat ini dana yang terkumpul masih belum mencukupi. Apalagi, untuk biaya perawatan Gwen sehari-hari Supardi juga kewalahan. Sebab, untuk susu saja, Gwen harus mengonsumsi susu khusus anak atresia bilier yang harganya mahal.

Dengan belum terkumpulnya dana itu, Supardi belum berani mendaftarkan putrinya ke RSCM. Padahal, Gwen yang tubuhnya kini semakin kurus perlu mendapat penanganan segera. “Belum lagi nanti antre di RSCM kan lama. Rujukan seluruh Indonesia hanya di sana,” imbuh Supardi.

Melihat kondisi putrinya itu, Supardi kembali mengetuk hati para donatur agar mau membantu pengobatan putrinya. “Kami ingin anak kami bisa sembuh dan ceria seperti anak-anak lainnya,” harapnya sedih. (ut)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/