22.9 C
Kediri
Tuesday, August 16, 2022

Kuliah Daring Kevin dan Alif, Dua Mahasiswa Tiongkok asal Kediri

- Advertisement -

Kuliah daring tak selamanya enak. Apalagi melintasi batas negara. Tak hanya terganggu masalah sinyal. Kendala bahasa turut memperunyam keadaan. Bila sudah kepepet, mahasiswa ini terpaksa bertanya pada sang dosen.

 

SAMSUL ABIDIN, KOTA, JP Radar Kediri

 

Andrea Kevin Pratama bersantai di rumahnya, di Kelurahan Dermo, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Duduk di ruang tamu, dia masih menghadap laptop yang dalam kondisi on. Beberapa kali jemarinya menekan tuts keyboard. Mengecek beberapa aplikasi yang dia buka.

- Advertisement -

“Kampus saya termasuk belakangan melakukan kuliah jarak jauh. Pas di Natuna dulu ada beberapa teman dari kampus lain yang sudah kuliah secara online,” ujarnya mengawali percakapan.

Pemuda yang disapa Kevin ini adalah mahasiswa China University of Geosciences di Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok. Jurusan yang dia ambil adalah international trade and economic. Tapi, sudah dua bulan ini dia berada di rumah. Menyusul wabah Covid-19 yang lebih dulu membuat Wuhan menerapkan lockdown.

Sejak mengikuti perkuliahan daring awal Maret lalu, tidak selamanya berjalan lancar. Terkadang dia mengalami kesulitan. Terutama kala sang dosen menggunakan full bahasa Mandarin. Meskipun dia sudah punya basic bahasa tersebut toh tetap saja dia merasa kerepotan.

“Di tahun pertama ada kelas bahasa Mandarin. Kelasnya full ngomongnya, nulisnya, pakai bahasa Mandarin,” terang alumnus SMKN 1 Kota Kediri ini.

Lalu, mengapa sekarang kesulitan? Penyebabnya adalah di tahun kedua ini semua mata kuliah menggunakan bahasa pengantar Mandarin. Nah, ada beberapa istilah yang dia kurang memahami. Hal itu lebih sulit ketika disampaikan via online.

“Matematika lanjutan itu kadang ada istilah yang saya tidak tahu,” aku pemuda yang saat diwawancarai mengenakan polo shirt ini.

 

Selama kuliah daring, para dosen di kampus Kevin memberikan materi ke grup-grup yang telah dibuat. Sebagian lagi ada yang memberikan narasi pajang lebar lengkap dengan power point. Rata-rata perkuliahan  berlangsung di aplikasi QQ, aplikasi WhatsApp versi Tiongkok, dan MOOC. “Itu (MOOC, Red) aplikasi pembelajaran yang dipakai seluruh universitas di Tiongkok,” jelas Kevin.

Baca Juga :  Aldiano Satriagung, Atlet Aeromodelling Termuda yang Penuh Prestasi

Saat ini, setidaknya dua mata kuliah yang berlangsung daring. Waktunya dua hari dalam seminggu. Yaitu gaodeng shuxue atau matematika lanjutan dan keji hanyu. “Yang terakhir itu mata kuliah bahasa Mandarin,” terangnya.

Selain bahasa, satu lagi kendala yang dihadapi Kevin adalan sinyal. Apalagi aplikasi yang digunakan adalah aplikasi lokal buatan Negeri Tirai Bambu itu. “Agak lemot, harus nunggu lama. Tapi terkadang juga materi ada yang kurang paham juga,” imbuhnya.

Menyiasati hal tersebut, Kevin biasanya berdiskusi dengan mahasiswa lain. Terutama yang dari kelasnya. Atau dengan teman asal Indonesia lainnya. “Kalau sudah kepepet baru tanya dosen,” terang pemuda 20 tahun tersebut.

Lalu, bagaimana kabar Kota Wuhan saat ini? Kevin mengaku masih sering berkomunikasi dengan temannya yang asli kota tersebut. Dari teman-temannya itulah dia tahu bila kondisi kota asal mula pandemi ini mulai normal. Transportasi umum sudah beroperasi lagi. Angka penyebaran virus juga kian sedikit. Tapi, universitas dan sekolah belum ada yang aktif.

Jujur, Kevin mengaku kangen dengan suasana perkuliahan di kota itu. Tapi dengan kondisi seperti sekarang ini memang belum memungkinkan untuk  kembali. “Dari sananya (kebijakan pemerintah Tiongkok, Red) menunggu semua negara bersih dulu, baru (kampus) dibuka kembali. Visanya pun sekarang di-suspend. Jadi bagi yang punya visa belum bisa kembali, meskipun negaranya (Tiongkok, Red) sana sudah beres semua,” urai Kevin panjang lebar.

Baca Juga :  Mayoritas Pemilih Jokowi Coblos Gus Ipul-Mbak Puti

Selain Kevin, ada lagi pemuda Kediri yang berkuliah di Tiongkok. Dia adalah Alif Prima Pratama. Pemuda beralamat di Dusun Katang, Desa Sukorejo, Kecamatan Ngasem, ini tercatat sebagai mahasiswa Shandong University of Science and Technology. Jurusannya adalah teknik telekomunikasi.

Sama seperti Kevin, Alif juga harus menjalani perkuliahan daring. Dan, masih sama pula dengan yang dirasakan Kevin, Alif juga lebih suka perkuliahan tatap muka dibanding dengan daring.

“Kurang cocok kalau kuliah hanya lewat HP saja. Mending langsung ketemu. Apalagi materi, kalau menjelaskan juga lebih jelas daripada cuma nyekrol PPT (power point, Red),” akunya.

Berbeda dengan Kevin yang menggunakan bahasa Mandarin dalam perkuliahan, kampus Alif justru menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar. Namun, tetap saja terasa kurang nyaman bila berlangsung secara daring. Sebab, aksen para dosennya adalan Inggris-Mandarin. “Jadi agak sulit dipahami,” keluhnya.

Menurutnya, biasanya dosen-dosen di kampusnya memberikan materi sekaligus dengan soal yang harus dikerjakan. Tapi, tidak semuanya seperti itu. “Yang aktif itu cuma ada tiga dosen. Yang lainnya hanya memberi tugas,” jelasnya.

Beberapa aplikasi digunakan oleh kampusnya. Di antaranya adalah Dingtalk dan Superstar. “Kalau di aplikasi superstar ini dikirim video. Terserah mau ditonton kapan. Kalau sudah ditonton akan berubah warnanya jadi hijau,” imbuh pemuda 20 tahun tersebut.

Bila ada kesulitan, Alif biasanya diskusi lewat video call dengan teman-teman yang dari Indonesi. Kalau tetap tidak bisa biasanya dia akan browsing di internet.

Kampus Alif yang berada di Kota Qingdao, Provinsi Shandong menurut kabar yang ia dapat juga sudah berangsur normal. Namun, masyarakat masih diimbau memakai masker dan menjaga jarak. “Kalau kampus di sana belum di buka,” terangnya.

 

- Advertisement -

Kuliah daring tak selamanya enak. Apalagi melintasi batas negara. Tak hanya terganggu masalah sinyal. Kendala bahasa turut memperunyam keadaan. Bila sudah kepepet, mahasiswa ini terpaksa bertanya pada sang dosen.

 

SAMSUL ABIDIN, KOTA, JP Radar Kediri

 

Andrea Kevin Pratama bersantai di rumahnya, di Kelurahan Dermo, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Duduk di ruang tamu, dia masih menghadap laptop yang dalam kondisi on. Beberapa kali jemarinya menekan tuts keyboard. Mengecek beberapa aplikasi yang dia buka.

“Kampus saya termasuk belakangan melakukan kuliah jarak jauh. Pas di Natuna dulu ada beberapa teman dari kampus lain yang sudah kuliah secara online,” ujarnya mengawali percakapan.

Pemuda yang disapa Kevin ini adalah mahasiswa China University of Geosciences di Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok. Jurusan yang dia ambil adalah international trade and economic. Tapi, sudah dua bulan ini dia berada di rumah. Menyusul wabah Covid-19 yang lebih dulu membuat Wuhan menerapkan lockdown.

Sejak mengikuti perkuliahan daring awal Maret lalu, tidak selamanya berjalan lancar. Terkadang dia mengalami kesulitan. Terutama kala sang dosen menggunakan full bahasa Mandarin. Meskipun dia sudah punya basic bahasa tersebut toh tetap saja dia merasa kerepotan.

“Di tahun pertama ada kelas bahasa Mandarin. Kelasnya full ngomongnya, nulisnya, pakai bahasa Mandarin,” terang alumnus SMKN 1 Kota Kediri ini.

Lalu, mengapa sekarang kesulitan? Penyebabnya adalah di tahun kedua ini semua mata kuliah menggunakan bahasa pengantar Mandarin. Nah, ada beberapa istilah yang dia kurang memahami. Hal itu lebih sulit ketika disampaikan via online.

“Matematika lanjutan itu kadang ada istilah yang saya tidak tahu,” aku pemuda yang saat diwawancarai mengenakan polo shirt ini.

 

Selama kuliah daring, para dosen di kampus Kevin memberikan materi ke grup-grup yang telah dibuat. Sebagian lagi ada yang memberikan narasi pajang lebar lengkap dengan power point. Rata-rata perkuliahan  berlangsung di aplikasi QQ, aplikasi WhatsApp versi Tiongkok, dan MOOC. “Itu (MOOC, Red) aplikasi pembelajaran yang dipakai seluruh universitas di Tiongkok,” jelas Kevin.

Baca Juga :  Pendidikan di Kediri: Guru Tak Siap, Butuh Kurikulum Khusus

Saat ini, setidaknya dua mata kuliah yang berlangsung daring. Waktunya dua hari dalam seminggu. Yaitu gaodeng shuxue atau matematika lanjutan dan keji hanyu. “Yang terakhir itu mata kuliah bahasa Mandarin,” terangnya.

Selain bahasa, satu lagi kendala yang dihadapi Kevin adalan sinyal. Apalagi aplikasi yang digunakan adalah aplikasi lokal buatan Negeri Tirai Bambu itu. “Agak lemot, harus nunggu lama. Tapi terkadang juga materi ada yang kurang paham juga,” imbuhnya.

Menyiasati hal tersebut, Kevin biasanya berdiskusi dengan mahasiswa lain. Terutama yang dari kelasnya. Atau dengan teman asal Indonesia lainnya. “Kalau sudah kepepet baru tanya dosen,” terang pemuda 20 tahun tersebut.

Lalu, bagaimana kabar Kota Wuhan saat ini? Kevin mengaku masih sering berkomunikasi dengan temannya yang asli kota tersebut. Dari teman-temannya itulah dia tahu bila kondisi kota asal mula pandemi ini mulai normal. Transportasi umum sudah beroperasi lagi. Angka penyebaran virus juga kian sedikit. Tapi, universitas dan sekolah belum ada yang aktif.

Jujur, Kevin mengaku kangen dengan suasana perkuliahan di kota itu. Tapi dengan kondisi seperti sekarang ini memang belum memungkinkan untuk  kembali. “Dari sananya (kebijakan pemerintah Tiongkok, Red) menunggu semua negara bersih dulu, baru (kampus) dibuka kembali. Visanya pun sekarang di-suspend. Jadi bagi yang punya visa belum bisa kembali, meskipun negaranya (Tiongkok, Red) sana sudah beres semua,” urai Kevin panjang lebar.

Baca Juga :  Gula Jawa Nira Sari

Selain Kevin, ada lagi pemuda Kediri yang berkuliah di Tiongkok. Dia adalah Alif Prima Pratama. Pemuda beralamat di Dusun Katang, Desa Sukorejo, Kecamatan Ngasem, ini tercatat sebagai mahasiswa Shandong University of Science and Technology. Jurusannya adalah teknik telekomunikasi.

Sama seperti Kevin, Alif juga harus menjalani perkuliahan daring. Dan, masih sama pula dengan yang dirasakan Kevin, Alif juga lebih suka perkuliahan tatap muka dibanding dengan daring.

“Kurang cocok kalau kuliah hanya lewat HP saja. Mending langsung ketemu. Apalagi materi, kalau menjelaskan juga lebih jelas daripada cuma nyekrol PPT (power point, Red),” akunya.

Berbeda dengan Kevin yang menggunakan bahasa Mandarin dalam perkuliahan, kampus Alif justru menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar. Namun, tetap saja terasa kurang nyaman bila berlangsung secara daring. Sebab, aksen para dosennya adalan Inggris-Mandarin. “Jadi agak sulit dipahami,” keluhnya.

Menurutnya, biasanya dosen-dosen di kampusnya memberikan materi sekaligus dengan soal yang harus dikerjakan. Tapi, tidak semuanya seperti itu. “Yang aktif itu cuma ada tiga dosen. Yang lainnya hanya memberi tugas,” jelasnya.

Beberapa aplikasi digunakan oleh kampusnya. Di antaranya adalah Dingtalk dan Superstar. “Kalau di aplikasi superstar ini dikirim video. Terserah mau ditonton kapan. Kalau sudah ditonton akan berubah warnanya jadi hijau,” imbuh pemuda 20 tahun tersebut.

Bila ada kesulitan, Alif biasanya diskusi lewat video call dengan teman-teman yang dari Indonesi. Kalau tetap tidak bisa biasanya dia akan browsing di internet.

Kampus Alif yang berada di Kota Qingdao, Provinsi Shandong menurut kabar yang ia dapat juga sudah berangsur normal. Namun, masyarakat masih diimbau memakai masker dan menjaga jarak. “Kalau kampus di sana belum di buka,” terangnya.

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/