25.6 C
Kediri
Thursday, June 30, 2022

Muhammad Hasan Dzulfadli Ciptakan ‘Cincin Pemanggil’

Cincin ini bukan sembarang cincin. Melainkan alat bantu sang ibu yang sakit stroke untuk berkomunikasi dengan orang lain. Mengantar si pembuat menjadi finalis lomba Inovasi Cipta Karya Teknologi Tepat Guna DPMPD 2021.

SYAIKHU ALIYA RAHMAN, Kabupaten

Serangan stroke memaksa sang ibu hanya bisa berbaring di kasur. Setengah dari tubuhnya lumpuh. Kedua kakinya tak bisa bergerak. Hanya mulut dan tangan kirinya saja yang berfungsi. Kondisi itu memaksa sang ibu harus berteriak kencang saat ingin meminta bantuan.

Sebagai putra sulung, Muhammad Hasan Dzulfadli satu-satunya orang yang harus berada di sisi ibunya. Memberi penjagaan ekstra. Sebab, ayahnya adalah pekerja lapangan. Sementara, sang adik harus sekolah tatap muka. Hanya Hasan yang bisa beraktivitas di rumah karena kuliah masih daring. 

Hasan memang harus bisa membagi waktu. Mahasiswa semester 3 Teknik Elektro, Universitas Sepuluh November (ITS) Surabaya itu tetap wajib mengikuti perkuliahan. Serta diwajibkan menyelesaikan tumpukan tugas kuliah. “Kadang pas ibu memanggil. Saya lagi zoom meeting. Kan pakai headset, jadi tidak dengar,” ujarnya.

Kondisi tersebut yang melatarbelakangi remaja usia 19 tahun itu membuat alat bantu sang ibu. Ia menamainya Smart Bell Ring atau cincin pemanggil pintar. Fungsi alat ini adalah sebagai media pengirim sinyal bantuan dari pasien atau orang sakit kepada keluarga pasien. “Alhamdulillah alat ini bisa memudahkan ibu. Jadi ibu tak perlu teriak lagi,” ucapnya.

Baca Juga :  Mengenal Railfans 68, Komunitas Pecinta Kereta Api di Kediri

Remaja asal Wanengpaten, Gampengrejo itu mendesain alatnya menyerupai sebuah cincin. Di atas cincin terdapat satu tombol. Pengoperasian tergolong mudah. Alat harus dipasang ke salah satu jari pasien. Ketika pasien menekan tombol, secara otomatis alat akan mengirim notifikasi pesan dari pasien.

Selanjutnya, notifikasi akan terkoneksi ke platform telegram yang ada di gawai atau laptop pengguna atau keluarga pasien. Notifikasi bertuliskan “Ibu memanggil!!!”. Menariknya, notifikasi bisa terkirim ke banyak user yang masuk ke grup telegram. “Ibu saya hanya tinggal pencet tombol, tak perlu teriak lagi,” jelasnya.

Alat terbagi dua buah perangkat. Selain cincin, Hasan juga membuat radio frekuensi. Bentuknya kotak dengan berat berkisar 1 kilogram. Perangkat ini berfungsi penyalur sinyal bantuan. Alat ini menggunakan bantuan sinyal WiFi.

Cincin otomatis akan terhubung ketika radio frekuensi dicolokkan ke listrik. “Prinsip alat ini meniru bell wireless. Memakai radio frekuensi. Alat ini juga bisa dikembangkan sebagai remote cloning kunci rumah atau kendaraan,” lanjutnya.

Baca Juga :  Wah, Fajar Akui Terima Transferan untuk Samsul

Dunia sistem kontrol, ucap Hasan, telah ia geluti sejak duduk di bangku sekolah dasar. Awalnya, Hasan suka memerhatikan saudaranya saat otak atik komputer. Menginjak SMK, Hasan kemudian masuk jurusan teknik Instalasi pemanfaatan tenaga listrik di SMKN 1 Kediri. “Saat om saya perbaiki komputernya yang error, saya suka mendampinginya,” ucapnya.

Kini, jerih payah Hasan berbuah manis. Alat itu sukses membawa Hasan menjadi finalis lomba Inovasi Cipta Karya Teknologi Tepat Guna 2021 yang digelar Dinas Pembedayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DPMPD) Kabupaten Kediri.

Prestasi itu tak Hasan dapatkan secara instan. Ia harus bersaing dengan 37 peserta. Hasan mengaku sempat pesimis. “Alhamdulillah, sempat tak percaya diri. Penggarapan kurang maksimal sebab keterbatasan waktu,” ungkapnya.

Kini, kesehatan sang ibu mulai membaik. Meski belum sehat 100 persen, Hasan bersyukur ibunya sudah bisa beraktivitas seperti biasa. Terhitung sejak seminggu terakhir, sang ibu yang kesehariannya menjadi guru ngaji sudah menunjukkan angka pemulihan 75 persen. “Alhamdulillah, ibu sudah berangsur sembuh. Sudah bisa mengajar ngaji lagi. Semoga ibu segera pulih sediakala,” harapnya dengan mata sedikit berlinang. (dea)

- Advertisement -

Cincin ini bukan sembarang cincin. Melainkan alat bantu sang ibu yang sakit stroke untuk berkomunikasi dengan orang lain. Mengantar si pembuat menjadi finalis lomba Inovasi Cipta Karya Teknologi Tepat Guna DPMPD 2021.

SYAIKHU ALIYA RAHMAN, Kabupaten

Serangan stroke memaksa sang ibu hanya bisa berbaring di kasur. Setengah dari tubuhnya lumpuh. Kedua kakinya tak bisa bergerak. Hanya mulut dan tangan kirinya saja yang berfungsi. Kondisi itu memaksa sang ibu harus berteriak kencang saat ingin meminta bantuan.

Sebagai putra sulung, Muhammad Hasan Dzulfadli satu-satunya orang yang harus berada di sisi ibunya. Memberi penjagaan ekstra. Sebab, ayahnya adalah pekerja lapangan. Sementara, sang adik harus sekolah tatap muka. Hanya Hasan yang bisa beraktivitas di rumah karena kuliah masih daring. 

Hasan memang harus bisa membagi waktu. Mahasiswa semester 3 Teknik Elektro, Universitas Sepuluh November (ITS) Surabaya itu tetap wajib mengikuti perkuliahan. Serta diwajibkan menyelesaikan tumpukan tugas kuliah. “Kadang pas ibu memanggil. Saya lagi zoom meeting. Kan pakai headset, jadi tidak dengar,” ujarnya.

Kondisi tersebut yang melatarbelakangi remaja usia 19 tahun itu membuat alat bantu sang ibu. Ia menamainya Smart Bell Ring atau cincin pemanggil pintar. Fungsi alat ini adalah sebagai media pengirim sinyal bantuan dari pasien atau orang sakit kepada keluarga pasien. “Alhamdulillah alat ini bisa memudahkan ibu. Jadi ibu tak perlu teriak lagi,” ucapnya.

Baca Juga :  Haru Iringi Keberangkatan 450 Prajurit Yonif 521 ke Papua

Remaja asal Wanengpaten, Gampengrejo itu mendesain alatnya menyerupai sebuah cincin. Di atas cincin terdapat satu tombol. Pengoperasian tergolong mudah. Alat harus dipasang ke salah satu jari pasien. Ketika pasien menekan tombol, secara otomatis alat akan mengirim notifikasi pesan dari pasien.

Selanjutnya, notifikasi akan terkoneksi ke platform telegram yang ada di gawai atau laptop pengguna atau keluarga pasien. Notifikasi bertuliskan “Ibu memanggil!!!”. Menariknya, notifikasi bisa terkirim ke banyak user yang masuk ke grup telegram. “Ibu saya hanya tinggal pencet tombol, tak perlu teriak lagi,” jelasnya.

Alat terbagi dua buah perangkat. Selain cincin, Hasan juga membuat radio frekuensi. Bentuknya kotak dengan berat berkisar 1 kilogram. Perangkat ini berfungsi penyalur sinyal bantuan. Alat ini menggunakan bantuan sinyal WiFi.

Cincin otomatis akan terhubung ketika radio frekuensi dicolokkan ke listrik. “Prinsip alat ini meniru bell wireless. Memakai radio frekuensi. Alat ini juga bisa dikembangkan sebagai remote cloning kunci rumah atau kendaraan,” lanjutnya.

Baca Juga :  Yusuf Tri Prasetyo, Guru Honorer SD yang Jadi Pelatih Angkat Berat

Dunia sistem kontrol, ucap Hasan, telah ia geluti sejak duduk di bangku sekolah dasar. Awalnya, Hasan suka memerhatikan saudaranya saat otak atik komputer. Menginjak SMK, Hasan kemudian masuk jurusan teknik Instalasi pemanfaatan tenaga listrik di SMKN 1 Kediri. “Saat om saya perbaiki komputernya yang error, saya suka mendampinginya,” ucapnya.

Kini, jerih payah Hasan berbuah manis. Alat itu sukses membawa Hasan menjadi finalis lomba Inovasi Cipta Karya Teknologi Tepat Guna 2021 yang digelar Dinas Pembedayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DPMPD) Kabupaten Kediri.

Prestasi itu tak Hasan dapatkan secara instan. Ia harus bersaing dengan 37 peserta. Hasan mengaku sempat pesimis. “Alhamdulillah, sempat tak percaya diri. Penggarapan kurang maksimal sebab keterbatasan waktu,” ungkapnya.

Kini, kesehatan sang ibu mulai membaik. Meski belum sehat 100 persen, Hasan bersyukur ibunya sudah bisa beraktivitas seperti biasa. Terhitung sejak seminggu terakhir, sang ibu yang kesehariannya menjadi guru ngaji sudah menunjukkan angka pemulihan 75 persen. “Alhamdulillah, ibu sudah berangsur sembuh. Sudah bisa mengajar ngaji lagi. Semoga ibu segera pulih sediakala,” harapnya dengan mata sedikit berlinang. (dea)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/