27.2 C
Kediri
Monday, July 4, 2022

Korban Rentan Trauma dan Depresi

Menjadi korban kekerasan fisik dan seksual membawa banyak dampak buruk bagi mental dan psikis. Terlebih, yang menjadi korban adalah anak-anak. Mereka sangat rentan mengalami trauma dan depresi akibat pengalaman buruk tersebut.

Rasa trauma tersebut berpotensi dibawa hingga si korban dewasa. Meski, trauma tersebut dapat dikurangi dengan beberapa tahapan pendampingan. Seperti yang dilakukan Dinsos PPPA Nganjuk melalui Satuan Bakti Pekerja Sosial Perlindungan Anak (Sakti Peksos). “Kami berikan rehabilitasi sosial dan trauma healing,” ujar Kepala Dinsos PPPA Nganjuk Nafhan Tohawi.

Tahap rehabilitasi sosial itu meliputi empat tahap utama. Antara lain asesmen, intervensi, reunifikasi dan reintegrasi sosial, dan bimbingan lanjutan. Masing-masing tahapan dilakukan untuk menyiapkan mental si korban dan mengikis traumanya.

Baca Juga :  Ajak Anak, Mbak Pur Curi Kosmetik

Dalam asesmen, Sakti Peksos melakukan pendampingan langsung terhadap korban. Baik yang ada di rumah aman, rumah singgah, maupun korban yang tinggal di rumah bersama keluarganya. “Mulai dari motivasi, pendampingan psikososial, hingga konseling,” terangnya.

Dalam pendampingan dan trauma healing tersebut, setiap kasus memiliki tingkatan yang berbeda-beda. Pendampingan dilakukan untuk menurunkan tingkat trauma yang dialami anak.

Dampak dari trauma ini diakui Nafhan perlu dikikis. Pasalnya, pada tingkatan yang parah, korban memiliki kecenderungan untuk melukai diri sendiri. Bahkan, bisa saja terpikirkan untuk mengakhiri hidup lantaran depresi.

Kebanyakan akan merasa dirinya tidak berguna lagi. Terlebih, mereka yang menjadi korban kekerasan seksual. “Kami di sini berusaha menekankan optimisme. Bahwa masa depan masih panjang,” imbuh Nafhan.

Baca Juga :  BKKBN Jawa Timur Bagi Seribu Paket Sembako

Hasil akhir atau tujuan utama dari rehabilitasi sosial dan trauma healing adalah untuk menyiapkan mental si anak. Sehingga, mereka siap untuk kembali lagi bersosialisasi dengan keluarga, lingkungan, dan masyarakat.

Selain rasa trauma, kegiatan sekolah anak dipastikan terbengkalai lantaran kasus kekerasan ini. Baik anak yang menjadi korban maupun anak pelaku. “Sekolahnya pasti terganggu. Oleh karenanya, kami juga memberikan advokasi,” sambung Kabid Perlindungan Perempuan dan Anak Dinsos PPPA Agus Sugianto.

Menyikapi hal tersebut, peran orang tua dan lingkungan yang sehat menjadi faktor yang krusial dalam menjaga tumbuh kembang anak. Terlebih, untuk selalu menjaga dan menyayangi anak-anaknya. Juga agar tidak terjerumus ke dalam pergaulan atau lingkungan yang buruk. 

- Advertisement -

Menjadi korban kekerasan fisik dan seksual membawa banyak dampak buruk bagi mental dan psikis. Terlebih, yang menjadi korban adalah anak-anak. Mereka sangat rentan mengalami trauma dan depresi akibat pengalaman buruk tersebut.

Rasa trauma tersebut berpotensi dibawa hingga si korban dewasa. Meski, trauma tersebut dapat dikurangi dengan beberapa tahapan pendampingan. Seperti yang dilakukan Dinsos PPPA Nganjuk melalui Satuan Bakti Pekerja Sosial Perlindungan Anak (Sakti Peksos). “Kami berikan rehabilitasi sosial dan trauma healing,” ujar Kepala Dinsos PPPA Nganjuk Nafhan Tohawi.

Tahap rehabilitasi sosial itu meliputi empat tahap utama. Antara lain asesmen, intervensi, reunifikasi dan reintegrasi sosial, dan bimbingan lanjutan. Masing-masing tahapan dilakukan untuk menyiapkan mental si korban dan mengikis traumanya.

Baca Juga :  Pedagang Pasar Kertosono Ogah di Lantai Tiga

Dalam asesmen, Sakti Peksos melakukan pendampingan langsung terhadap korban. Baik yang ada di rumah aman, rumah singgah, maupun korban yang tinggal di rumah bersama keluarganya. “Mulai dari motivasi, pendampingan psikososial, hingga konseling,” terangnya.

Dalam pendampingan dan trauma healing tersebut, setiap kasus memiliki tingkatan yang berbeda-beda. Pendampingan dilakukan untuk menurunkan tingkat trauma yang dialami anak.

Dampak dari trauma ini diakui Nafhan perlu dikikis. Pasalnya, pada tingkatan yang parah, korban memiliki kecenderungan untuk melukai diri sendiri. Bahkan, bisa saja terpikirkan untuk mengakhiri hidup lantaran depresi.

Kebanyakan akan merasa dirinya tidak berguna lagi. Terlebih, mereka yang menjadi korban kekerasan seksual. “Kami di sini berusaha menekankan optimisme. Bahwa masa depan masih panjang,” imbuh Nafhan.

Baca Juga :  Dulu Sentral Toko Emas Kini Jadi Pusat Oleh-Oleh

Hasil akhir atau tujuan utama dari rehabilitasi sosial dan trauma healing adalah untuk menyiapkan mental si anak. Sehingga, mereka siap untuk kembali lagi bersosialisasi dengan keluarga, lingkungan, dan masyarakat.

Selain rasa trauma, kegiatan sekolah anak dipastikan terbengkalai lantaran kasus kekerasan ini. Baik anak yang menjadi korban maupun anak pelaku. “Sekolahnya pasti terganggu. Oleh karenanya, kami juga memberikan advokasi,” sambung Kabid Perlindungan Perempuan dan Anak Dinsos PPPA Agus Sugianto.

Menyikapi hal tersebut, peran orang tua dan lingkungan yang sehat menjadi faktor yang krusial dalam menjaga tumbuh kembang anak. Terlebih, untuk selalu menjaga dan menyayangi anak-anaknya. Juga agar tidak terjerumus ke dalam pergaulan atau lingkungan yang buruk. 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/