28.9 C
Kediri
Thursday, July 7, 2022

Mengintip Penambang Pasir di Desa Tanjungrejo, Kecamatan Loceret

Penambang pasir tradisional di Sungai Tanjung, Desa Tanjungrejo harus kerja keras saat ini. Karena pasir di sungai tidak sebanyak musim hujan. Otomatis, pendapatan juga menurun.

“Dapat pasir satu pikap itu butuh waktu sekitar tiga hari,” ujar Darminto, penambang pasir tradisional di Sungai Tanjung kemarin. Ini karena pasir di sungai sangat sedikit. Hujan yang jarang turun menjadi penyebabnya. Pasir dari Sungai Kuncir ke Sungai Tanjung tidak sebanyak saat musim hujan.

Karena itu, pria berusia 50 tahun ini harus kerja keras saat nyungkro. Setiap hari, dia berangkat pagi sekitar pukul 07.00 WIB. Kemudian, dia pulang sekitar pukul 12.00 WIB. Selama lima jam itu, Darminto harus nyungkro ratusan kali. Saking sulitnya mendapatkan pasir, Darminto harus menyelam cukup lama. Sekitar 30 detik. Itu pun pasir yang didapat tidak banyak. Cikrak yang digunakan untuk nyungkro tidak penuh dengan pasir. Ada juga sampah rumah tangga, seperti plastik dan kaus.

Baca Juga :  Dalem Pojok Gelar Upacara dengan Menutup Mata

Sedikitnya pasir yang didapat Darminto itu membuatnya tidak bisa langsung menikmati hasil kerja kerasnya setiap hari. Pasir yang didapat dikumpulkan di tepi jalan. Baru setelah ada satu pikap, pembeli akan datang untuk membeli. “Satu pikap itu dibeli Rp 250 ribu,” ujarnya.

Bagi Darminto, pekerjaan nyungkro ini sudah digeluti selama 20 tahun. Dia tidak pernah pindah tempat. Selama itu, dia nyungkro di Sungai Tanjung. Karena sungai tersebut dekat dengan rumahnya. Karena itu, dia juga tidak kesulitan dalam memasarkan pasir yang didapat. Pembeli akan datang sendiri ke tepi sungai. “Sudah ada langganan yang ngulak pasir,” ujarnya.

Meski demikian, bapak dua anak ini tidak hanya mengandalkan pendapatan dari nyungkro saat musim kemarau. Ini karena pasir yang didapat akan semakin sedikit. Sehingga, dia memilih bekerja serabutan jika tidak mencari pasir. “Biasanya membuat batu bata dan jual makanan,” ujarnya.

Baca Juga :  Wisata Kelud Diuji Coba Buka, Segini Penghasilan Para Pedagangnya

Sedikitnya pasir saat musim kemarau ini membuat penambang pasir tradisional di Sungai Tanjung sedikit. Hanya bisa dihitung dengan jari. Bahkan, kemarin, hanya ada Darminto. Dia sendirian. Sedangkan, teman-temannya lebih memilih bekerja yang lain.

Ini berbeda jika musim hujan tiba. Sungai Tanjung yang merupakan anak Sungai Kuncir ini ramai penambang pasir tradisional. Karena saat itu merupakan waktunya panen pasir. Dalam sehari, satu penambang pasir tradisional bisa mendapatkan pasir sebanyak dua pikap. Artinya, Rp 500 ribu sehari bisa dibawa pulang. “Kalau musim hujan bisa sampai ada 10 orang mencari pasir di Sungai Tanjung,” ujarnya.

- Advertisement -

Penambang pasir tradisional di Sungai Tanjung, Desa Tanjungrejo harus kerja keras saat ini. Karena pasir di sungai tidak sebanyak musim hujan. Otomatis, pendapatan juga menurun.

“Dapat pasir satu pikap itu butuh waktu sekitar tiga hari,” ujar Darminto, penambang pasir tradisional di Sungai Tanjung kemarin. Ini karena pasir di sungai sangat sedikit. Hujan yang jarang turun menjadi penyebabnya. Pasir dari Sungai Kuncir ke Sungai Tanjung tidak sebanyak saat musim hujan.

Karena itu, pria berusia 50 tahun ini harus kerja keras saat nyungkro. Setiap hari, dia berangkat pagi sekitar pukul 07.00 WIB. Kemudian, dia pulang sekitar pukul 12.00 WIB. Selama lima jam itu, Darminto harus nyungkro ratusan kali. Saking sulitnya mendapatkan pasir, Darminto harus menyelam cukup lama. Sekitar 30 detik. Itu pun pasir yang didapat tidak banyak. Cikrak yang digunakan untuk nyungkro tidak penuh dengan pasir. Ada juga sampah rumah tangga, seperti plastik dan kaus.

Baca Juga :  ---- Bu Han ----

Sedikitnya pasir yang didapat Darminto itu membuatnya tidak bisa langsung menikmati hasil kerja kerasnya setiap hari. Pasir yang didapat dikumpulkan di tepi jalan. Baru setelah ada satu pikap, pembeli akan datang untuk membeli. “Satu pikap itu dibeli Rp 250 ribu,” ujarnya.

Bagi Darminto, pekerjaan nyungkro ini sudah digeluti selama 20 tahun. Dia tidak pernah pindah tempat. Selama itu, dia nyungkro di Sungai Tanjung. Karena sungai tersebut dekat dengan rumahnya. Karena itu, dia juga tidak kesulitan dalam memasarkan pasir yang didapat. Pembeli akan datang sendiri ke tepi sungai. “Sudah ada langganan yang ngulak pasir,” ujarnya.

Meski demikian, bapak dua anak ini tidak hanya mengandalkan pendapatan dari nyungkro saat musim kemarau. Ini karena pasir yang didapat akan semakin sedikit. Sehingga, dia memilih bekerja serabutan jika tidak mencari pasir. “Biasanya membuat batu bata dan jual makanan,” ujarnya.

Baca Juga :  Pengisian Perangkat Desa Harus Pakai Perda Desa

Sedikitnya pasir saat musim kemarau ini membuat penambang pasir tradisional di Sungai Tanjung sedikit. Hanya bisa dihitung dengan jari. Bahkan, kemarin, hanya ada Darminto. Dia sendirian. Sedangkan, teman-temannya lebih memilih bekerja yang lain.

Ini berbeda jika musim hujan tiba. Sungai Tanjung yang merupakan anak Sungai Kuncir ini ramai penambang pasir tradisional. Karena saat itu merupakan waktunya panen pasir. Dalam sehari, satu penambang pasir tradisional bisa mendapatkan pasir sebanyak dua pikap. Artinya, Rp 500 ribu sehari bisa dibawa pulang. “Kalau musim hujan bisa sampai ada 10 orang mencari pasir di Sungai Tanjung,” ujarnya.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/