23.3 C
Kediri
Wednesday, July 6, 2022

Mini 4WD Kembali Ngetren di Masa Pandemi Covid-19

 

Mainan mobil satu ini adalah mini 4WD. Mainan mobil balap yang kali pertama pada 1980. Pernah populer di masanya, kini kembali digemari.

Di tengah pandemi Covid-19, tren mini 4WD kembali bangkit. Mereka yang kelahiran tahun 1990-an sangat tidak asing dengan mainan satu ini. Berbeda dengan mainan mobil pada umumnya, memainkan mobil satu ini memerlukan jalur lintasan.

Bahkan permainan ini memiliki kejuaraan. “Mini 4WD adalah sebuah mainan yang berbentuk rakitan,” terang Ferri Kristiawan, penjual spare part mini 4WD.

Dia mengatakan bahwa merakit mulai dari chasing hingga bodi. Semua dirakit secara manual. Merakit mainan ini memerlukan ketelatenan. Karena spare part-nya berukuran kecil. “Merakit mini 4WD ini salah satu hal yang menarik,” kata laki-laki berusia 32 tahun ini.

Ditemui di rumahnya di Dusun Tanjung, Desa Ngablak, Kecamatan Banyakan, Ferri mengatakan, kegemarannya dengan mini 4WD semenjak kelas dua sekolah dasar (SD). “Pertama saya beli tamiya itu di Sri Ratu seharga Rp 17 ribu,” kenangnya.

Baca Juga :  Menelusuri Jejak Satwa Lindung yang Habitatnya Bakal Jadi Bandara

Saat duduk di kelas lima SD, Ferri mulai mengikuti perlombaan di Kelurahan Ngronggo, Kecamatan Kota Kediri. Awalnya sempat canggung karena baru pertama mengikuti perlombaan dan harus beradaptasi. Tetapi, ia tetap yakin dan percaya diri sesuai dengan kemampuan. Dari perlombaan tersebut, juara satu diperolehnya.

Ferri mengatakan, pada 2010 mulai mengikuti lomba di luar kota seperti Malang, Surabaya, dan Magetan. Dalam perlombaan itu membuat dirinya mendapatkan dukungan penuh dari orang tua dan salah satu sponsornya. Bahkan ia juga memiliki pengalaman menarik dan terkesan. Yakni pada saat lomba di Malang yang mampu meraih juara 1, 2, 3.

Alumni SMAN 7 Kediri ini mengatakan bahwa uang hasil juara ditabung. Dari uang tabungannya, digunakan membeli arena permainan mini 4WD dan membuka toko spare part tamiya.

Baca Juga :  di Kabupaten Kediri Vaksinasi Booster Nakes Sudah 90%  

Usaha itu merupakan keinginannya menambah pemasukan agar dapat digunakan kebutuhan sehari-hari. “Modal usahanya buka toko ada sekitar Rp 30 juta. Itu sudah termasuk spare part tamiya dan arena permainan. Kalau uangnya dari pribadi dan tabungan hasil juara lomba,” ucap anak kedua dari tiga bersaudara ini.

Dalam kesehariannya, Ferri sibuk beraktivitas di tokonya untuk melayani orang yang datang seperti membeli spare part dan servis tamiya. Bahkan, orang yang datang tersebut mayoritas pencinta tamiya dari lokal Kediri maupun luar kota. “Sehari orang yang servis dan bermain di sini ada sekitar 10 orang. Kalau ramainya itu pasti di sore hari,” pungkasnya. (ara/ndr)

- Advertisement -

 

Mainan mobil satu ini adalah mini 4WD. Mainan mobil balap yang kali pertama pada 1980. Pernah populer di masanya, kini kembali digemari.

Di tengah pandemi Covid-19, tren mini 4WD kembali bangkit. Mereka yang kelahiran tahun 1990-an sangat tidak asing dengan mainan satu ini. Berbeda dengan mainan mobil pada umumnya, memainkan mobil satu ini memerlukan jalur lintasan.

Bahkan permainan ini memiliki kejuaraan. “Mini 4WD adalah sebuah mainan yang berbentuk rakitan,” terang Ferri Kristiawan, penjual spare part mini 4WD.

Dia mengatakan bahwa merakit mulai dari chasing hingga bodi. Semua dirakit secara manual. Merakit mainan ini memerlukan ketelatenan. Karena spare part-nya berukuran kecil. “Merakit mini 4WD ini salah satu hal yang menarik,” kata laki-laki berusia 32 tahun ini.

Ditemui di rumahnya di Dusun Tanjung, Desa Ngablak, Kecamatan Banyakan, Ferri mengatakan, kegemarannya dengan mini 4WD semenjak kelas dua sekolah dasar (SD). “Pertama saya beli tamiya itu di Sri Ratu seharga Rp 17 ribu,” kenangnya.

Baca Juga :  Puti Guntur ke Makam Bung Karno

Saat duduk di kelas lima SD, Ferri mulai mengikuti perlombaan di Kelurahan Ngronggo, Kecamatan Kota Kediri. Awalnya sempat canggung karena baru pertama mengikuti perlombaan dan harus beradaptasi. Tetapi, ia tetap yakin dan percaya diri sesuai dengan kemampuan. Dari perlombaan tersebut, juara satu diperolehnya.

Ferri mengatakan, pada 2010 mulai mengikuti lomba di luar kota seperti Malang, Surabaya, dan Magetan. Dalam perlombaan itu membuat dirinya mendapatkan dukungan penuh dari orang tua dan salah satu sponsornya. Bahkan ia juga memiliki pengalaman menarik dan terkesan. Yakni pada saat lomba di Malang yang mampu meraih juara 1, 2, 3.

Alumni SMAN 7 Kediri ini mengatakan bahwa uang hasil juara ditabung. Dari uang tabungannya, digunakan membeli arena permainan mini 4WD dan membuka toko spare part tamiya.

Baca Juga :  Hari Peduli Sampah di Kediri: Buat Barongsai dari Sangkar Burung Bekas

Usaha itu merupakan keinginannya menambah pemasukan agar dapat digunakan kebutuhan sehari-hari. “Modal usahanya buka toko ada sekitar Rp 30 juta. Itu sudah termasuk spare part tamiya dan arena permainan. Kalau uangnya dari pribadi dan tabungan hasil juara lomba,” ucap anak kedua dari tiga bersaudara ini.

Dalam kesehariannya, Ferri sibuk beraktivitas di tokonya untuk melayani orang yang datang seperti membeli spare part dan servis tamiya. Bahkan, orang yang datang tersebut mayoritas pencinta tamiya dari lokal Kediri maupun luar kota. “Sehari orang yang servis dan bermain di sini ada sekitar 10 orang. Kalau ramainya itu pasti di sore hari,” pungkasnya. (ara/ndr)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/