23.6 C
Kediri
Tuesday, August 16, 2022

Sengaja Ciptakan Oven Khusus agar Kering Maksimal

- Advertisement -

Media semai benih biasanya berupa plastik. Tapi, di tangan Yudi, terciptalah coopers dari serbuk serabut kelapa yang memiliki banyak manfaat. Mampu menekan biaya produksi jadi lebih murah.

 

HABIBAH A. MUKTIARA, Kabupaten, JP Radar Kediri

 

Halaman belakang rumah Yudi Santoso hanya berukuran 4×5. Tapi, semua areanya sudah dipenuhi rak yang ditata berjajar. Pada rak bambu itu, terpasang papan yang berisi media semai atau coopers yang dijemur. “Ini dari cocopeat, jadi harus dijemur dulu. Kalau sini (rak) penuh, biasanya saya jemur juga di atap kamar mandi,” terang Yudi.

- Advertisement -

Yudi Santoso adalah pembuat terobosan media semai yang menggunakan cocopeat atau coopers. Karyanya mendapat penghargaan juara 2 lomba Cipta Karya Teknologi Tepat Guna tingkat Kabupaten Kediri yang diselenggarakan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DPMPD) Kabupaten Kediri November lalu.

Cocopeat merupakan media tanam yang memiliki daya serap air yang cukup tinggi dan menyimpan air dalam jumlah banyak daripada yang ditampung dalam tanah. “Saya masih menggunakan peralatan manual,” imbuhnya.

         Tidak hanya dalam pengeringan, dalam proses pembuatan ia tidak menggunakan alat-alat yang digerakkan menggunakan listrik. Melainkan menggunakan tenaga manusia.

         Pria 35 tahun ini mengatakan, usaha pembuatan alat semai ini ia lakukan ketika awal wabah Covid-19 muncul. Sebelum menekuni pembuatan alat semai ini, Yudi berjualan peralatan renang. Akan tetapi karena masa pandemi tidak ada pertandingan, membuat usahanya tersebut sepi.

Baca Juga :  Unjuk Rasa, Tuntutan Guru dan Kepala Madrasah Dituruti

         Jauh sebelum menjalankan usaha peralatan renang, rupanya suami dari Nunung Setiowati ini pernah bekerja di pabrik benih selama sembilan tahun. “Karena tidak ada pekerjaan, jadi saya kepikiran untuk melakukan pekerjaan lama saya,” jelas Yudi.

         Selama bekerja di perusahaan benih, ia mengaku berada di bagian produksi pengadaan benih. Dengan pengalaman di bidang tersebut, membuatnya mengetahui apa yang terjadi pada petani, terutama terkait pembenihan.

         Menurut pengamatannya, selama ini dalam pembenihan lebih banyak yang menggunakan tanah. Sementara mereka yang menanam hidroponik, mengandalkan menggunakan rockwool yang merupakan produk impor.    “Selama ini, sebagian besar penyemaian menggunakan plastik yang berisi tanah,” ujarnya. Ketika menanam, petani juga menanam plastik yang digunakan untuk menyemai benih. Sehingga akan meninggalkan limbah plastik di dalam tanah. Sementara juka menggunakan rockwool, tanpa sadar sudah menggunakan barang impor terlalu berlebih.

         Yudi akhirnya memiliki ide untuk membuat media semai yang terbuat dari cocopeat sehingga dapat menggantikan rockwool. Dibandingkan dengan rockwool, kandungan yang terdapat pada cocopeat lebih baik. Karena selain memiliki kandungan mineral, juga memiliki kandungan kalium dan fosfor. Kandungan ini sangat membantu dalam pembentukan akar.

Baca Juga :  Suka setelah Jadi Korban Bully

         “Kemarin sudah diuji coba ke petani dan hasilnya dapat diterima,” ungkap alumni program studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian UNIK Kediri. Dengan menggunakan cocopeat ini, petani juga membuat petani menghemat biaya pembelian benih.

          Jika biasanya petani membeli benih dengan harga Rp 250 per benih, kini dapat dibawah Rp 50 per benihnya. Kelebihan cocopeat ini nantinya bisa  terurai dengan tanah.

 Karena usaha yang dibuatnya masih menggunakan alat manual, dalam satu hari ia hanya dapat 10 hingga 13 cetakan. Dalam sekali cetakan, ini dapat membuat alat semai untuk 100 tanaman.

         Untuk bahan bakum, dia masih mendatangkan dari Blitar. Dalam membuat satu ball, membutuhkan satu karung cocopeat ukuran 25 kilogram. Dengan musim penghujan ini, membuat produksi cocopeat mengalami kendala. Jika musim kemarau, proses pengeringan memerlukan waktu selama dua hari. Namun dengan adanya musim penghujan ini, ia perlu mengoven cocopeat selama lima jam. Satu lembar cocopeat buatannya berukuran 30 x 40 sentimeter.

         Oven yang menggunakan bahan bakar elpiji adalah buatannya sendiri. Satu elpijio dapat mengoven sebanyak tiga kali dengan kapasitas 7 ball. Sebenarnya cocopeat buatannya diminati hingga luar kota. Karena keterbatasan tenaga, untuk saat ini ia hanya melayani petani dari wilayah Kediri. (dea)

 

 

- Advertisement -

Media semai benih biasanya berupa plastik. Tapi, di tangan Yudi, terciptalah coopers dari serbuk serabut kelapa yang memiliki banyak manfaat. Mampu menekan biaya produksi jadi lebih murah.

 

HABIBAH A. MUKTIARA, Kabupaten, JP Radar Kediri

 

Halaman belakang rumah Yudi Santoso hanya berukuran 4×5. Tapi, semua areanya sudah dipenuhi rak yang ditata berjajar. Pada rak bambu itu, terpasang papan yang berisi media semai atau coopers yang dijemur. “Ini dari cocopeat, jadi harus dijemur dulu. Kalau sini (rak) penuh, biasanya saya jemur juga di atap kamar mandi,” terang Yudi.

Yudi Santoso adalah pembuat terobosan media semai yang menggunakan cocopeat atau coopers. Karyanya mendapat penghargaan juara 2 lomba Cipta Karya Teknologi Tepat Guna tingkat Kabupaten Kediri yang diselenggarakan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DPMPD) Kabupaten Kediri November lalu.

Cocopeat merupakan media tanam yang memiliki daya serap air yang cukup tinggi dan menyimpan air dalam jumlah banyak daripada yang ditampung dalam tanah. “Saya masih menggunakan peralatan manual,” imbuhnya.

         Tidak hanya dalam pengeringan, dalam proses pembuatan ia tidak menggunakan alat-alat yang digerakkan menggunakan listrik. Melainkan menggunakan tenaga manusia.

         Pria 35 tahun ini mengatakan, usaha pembuatan alat semai ini ia lakukan ketika awal wabah Covid-19 muncul. Sebelum menekuni pembuatan alat semai ini, Yudi berjualan peralatan renang. Akan tetapi karena masa pandemi tidak ada pertandingan, membuat usahanya tersebut sepi.

Baca Juga :  Tak Punya HP, Titip Guru

         Jauh sebelum menjalankan usaha peralatan renang, rupanya suami dari Nunung Setiowati ini pernah bekerja di pabrik benih selama sembilan tahun. “Karena tidak ada pekerjaan, jadi saya kepikiran untuk melakukan pekerjaan lama saya,” jelas Yudi.

         Selama bekerja di perusahaan benih, ia mengaku berada di bagian produksi pengadaan benih. Dengan pengalaman di bidang tersebut, membuatnya mengetahui apa yang terjadi pada petani, terutama terkait pembenihan.

         Menurut pengamatannya, selama ini dalam pembenihan lebih banyak yang menggunakan tanah. Sementara mereka yang menanam hidroponik, mengandalkan menggunakan rockwool yang merupakan produk impor.    “Selama ini, sebagian besar penyemaian menggunakan plastik yang berisi tanah,” ujarnya. Ketika menanam, petani juga menanam plastik yang digunakan untuk menyemai benih. Sehingga akan meninggalkan limbah plastik di dalam tanah. Sementara juka menggunakan rockwool, tanpa sadar sudah menggunakan barang impor terlalu berlebih.

         Yudi akhirnya memiliki ide untuk membuat media semai yang terbuat dari cocopeat sehingga dapat menggantikan rockwool. Dibandingkan dengan rockwool, kandungan yang terdapat pada cocopeat lebih baik. Karena selain memiliki kandungan mineral, juga memiliki kandungan kalium dan fosfor. Kandungan ini sangat membantu dalam pembentukan akar.

Baca Juga :  Desain Mug Eksklusif

         “Kemarin sudah diuji coba ke petani dan hasilnya dapat diterima,” ungkap alumni program studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian UNIK Kediri. Dengan menggunakan cocopeat ini, petani juga membuat petani menghemat biaya pembelian benih.

          Jika biasanya petani membeli benih dengan harga Rp 250 per benih, kini dapat dibawah Rp 50 per benihnya. Kelebihan cocopeat ini nantinya bisa  terurai dengan tanah.

 Karena usaha yang dibuatnya masih menggunakan alat manual, dalam satu hari ia hanya dapat 10 hingga 13 cetakan. Dalam sekali cetakan, ini dapat membuat alat semai untuk 100 tanaman.

         Untuk bahan bakum, dia masih mendatangkan dari Blitar. Dalam membuat satu ball, membutuhkan satu karung cocopeat ukuran 25 kilogram. Dengan musim penghujan ini, membuat produksi cocopeat mengalami kendala. Jika musim kemarau, proses pengeringan memerlukan waktu selama dua hari. Namun dengan adanya musim penghujan ini, ia perlu mengoven cocopeat selama lima jam. Satu lembar cocopeat buatannya berukuran 30 x 40 sentimeter.

         Oven yang menggunakan bahan bakar elpiji adalah buatannya sendiri. Satu elpijio dapat mengoven sebanyak tiga kali dengan kapasitas 7 ball. Sebenarnya cocopeat buatannya diminati hingga luar kota. Karena keterbatasan tenaga, untuk saat ini ia hanya melayani petani dari wilayah Kediri. (dea)

 

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/