26.3 C
Kediri
Tuesday, August 16, 2022

Pengalaman M. Rafli dan Belva Avila Jadi Paskibra Jatim

- Advertisement -

Dua pelajar dari Kota Kediri terpilih menjadi pasukan pengibar bendera (paskibra) tingkat Provinsi Jawa Timur di Surabaya. Mereka adalah Muhammad Rafli Ramadhan dan Belva Avila Yustisia. Banyak pengalaman dan kenangan tak terlupa. Seperti apa?

 

RINO HAYYU SETYO

 

- Advertisement -

Bruk… bruk…bruk…suara derap sepatu pasukan pengibar bendera (paskibra) di halaman Grahadi, Kota Surabaya. Terik dan panas tidak bisa dipisahkan dari kulit tubuh mereka. Semakin siang semakin menyengat. Bak membakar pori-pori kulit puluhan remaja yang bertugas.

Sinar violet sang surya tentu menjadi salah satu faktor penambah pigmen kulit mereka. Paskibra itu datang dari berbagai kota dan kabupaten di Provinsi Jawa Timur. Mereka hanya diberi waktu 10 hari untuk menyiapkan diri.

Tiap mendengar suara gemuruh gelepak kain bendera tersebut, rasanya ada kepuasan yang tak bisa disampaikan dengan lisan. Apalagi ketika menurunkan sang dwi warna dengan sempurna pada Kamis (17/8) sekitar pukul 16.00. Itu menjadi penanda tugas telah berakhir.

Setidaknya ituah gambaran ingatan Muhammad Rafli Ramadhan dan Belva Avila Yustisia. Keduanya merupakan pelajar yang lolos mengikuti karantina sekaligus terpilih menjadi paskibraka tingkat provinsi.

“Aduuuuhh kangen Kediri pokoknya, tapi di sana senang sekali,” kata Rafli yang ditemui Jawa Pos Radar Kediri di Taman Sekartaji, Mojoroto, Senin kemarin (21/8).

Banyak kenangan tak terlupakan ketika karantina di Surabaya. Termasuk ingatan Rafli tentang kerasnya latihan dan sanksi push up ketika berbuat kesalahan. Namun, yang paling berkesan adalah kekonyolan Rafli dan teman barunya di asrama. Mengapa?

Baca Juga :  Sisi Lain Peringatan HUT RI: Seragam Anjlok, Benderanya Menolong

Dari awal memasuki karantina, mereka tidak diperbolehkan mengoperasikan alat elektronik. Seperti gawai, powerbank, dan arloji. Semua harus rela diamankan oleh para senior Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Jawa Timur yang ditugaskan sebagai kakak pendamping kamar.

Padahal bagi Rafli, jam tangan alias arloji menjadi hal yang sangat penting. Karena ia akan lebih cepat beradaptasi lingkungan dengan menghafal siklus kegiatan latihan. “Disita semua Mas, kan di awal kami digeledahi, biar patuh aturan,” terang pelajar SMAN 2 Kediri ini.

Saking inginnya Rafli mengetahui waktu, otaknya seolah diembusi udara segar. Yang membuat menemukan cara di luar kesadaran wajar. Untuk melihat waktu menunjuk pukul berapa, Rafli tidak sengaja melihat remote air conditioner (AC) kamarnya. Ia baru menyadari ketika pada layar remote digital itu terdapat waktu. Sontak Rafli pun terkejut dan keheranan. Karena keinginan untuk mengetahui waktu tersebut bisa terjawab.

Meskipun ia harus memutar otak lebih keras lagi. Sebab, malam itu ia tidak mengetahui pukul berapa waktu sebenarnya. Sedangkan pada remote AC itu hanya menunjukan kedip-kedipan sekitar pukul 15.00 sore hari. “Saya bingung ini sudah malam, tapi jamnya remote AC kok masih jam tiga sore,” tutur anak pasangan Edial dan Atik Soelistijo ini.

Kebingungan dengan itu, Rafli pun berkoordinasi bersama empat temannya sekamar. Akhirnya, misi mendapatkan waktu yang sebenarnya pun terjawab dengan mulus. Kerja sama dengan empat temannya itu membuahkan hasil ketika salah satu temannya bergaya sakit perut. Sehingga, ada alasan izin kepada pendamping kamar untuk menuju ke ruang kesehatan. “Teman saya itu bergaya sakit terus minta obat di klinik,” ungkapnya.

Baca Juga :  KAC, Berbagi Kecintaan Keastronomian kepada Anak-Anak

Jedeeeeerrr. Benar insting mereka membuahkan hasil. Ketika melihat sebuah jam dinding yang terpajang. Sehingga mereka bisa melewati waktu demi waktu tanpa kegalauan. Karena baginya waktu bisa membawa ancaman serius barisan. Yakni hukuman jika telat datang di lapangan untuk berlatih.Setiap satu kesalahan mereka harus menerima 20 push up dari pelatih Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Berbeda kesan yang dirasakan Belva. Pelajar SMAN 7 Kediri ini merasakan kedisiplinan yang luar biasa ketika tidak bisa menghubungi siapapun. Termasuk orang tuanya, Basuki Wiyono dan Puji Astuti. Kesempatan yang diberikan pelatih dan pendamping tidak banyak dalam 10 hari karantina. Hanya 10 menit menelepon orang tua di rumah.

Ketika menelepon pun dijaga ketat pendamping kamar. Tepatnya pada Senin (14/8) siang hari. Menit demi menit benar-benar dimanfaatkan untuk memberikan kabar kepada keluarganya jika keadaanya tengah digembleng demi mengibarkan sang Merah Putih di hadapan Gubernur Jawa Timur Soekarwo. “Itu yang paling trenyuh, akhirnya bisa komunikasi dengan orang tua,” papar gadis asal Bandarkidul, Mojoroto ini.

Namun, Belva bersyukur di tengah kerasnya latihan banyak hikmah. Karena, penanaman sifat disiplin ini berpengaruh setelah kepulangannya di Kediri. Kini Rafli dan Belva jadi sangat menghargai waktu. Apalagi dalam menempuh pendidikan ke depan. “Rasanya nggak ingin buang-buang waktu buat hal yang nggak penting. Tahu rasanya dikarantina kayak gitu lho Mas,” katanya.

 

- Advertisement -

Dua pelajar dari Kota Kediri terpilih menjadi pasukan pengibar bendera (paskibra) tingkat Provinsi Jawa Timur di Surabaya. Mereka adalah Muhammad Rafli Ramadhan dan Belva Avila Yustisia. Banyak pengalaman dan kenangan tak terlupa. Seperti apa?

 

RINO HAYYU SETYO

 

Bruk… bruk…bruk…suara derap sepatu pasukan pengibar bendera (paskibra) di halaman Grahadi, Kota Surabaya. Terik dan panas tidak bisa dipisahkan dari kulit tubuh mereka. Semakin siang semakin menyengat. Bak membakar pori-pori kulit puluhan remaja yang bertugas.

Sinar violet sang surya tentu menjadi salah satu faktor penambah pigmen kulit mereka. Paskibra itu datang dari berbagai kota dan kabupaten di Provinsi Jawa Timur. Mereka hanya diberi waktu 10 hari untuk menyiapkan diri.

Tiap mendengar suara gemuruh gelepak kain bendera tersebut, rasanya ada kepuasan yang tak bisa disampaikan dengan lisan. Apalagi ketika menurunkan sang dwi warna dengan sempurna pada Kamis (17/8) sekitar pukul 16.00. Itu menjadi penanda tugas telah berakhir.

Setidaknya ituah gambaran ingatan Muhammad Rafli Ramadhan dan Belva Avila Yustisia. Keduanya merupakan pelajar yang lolos mengikuti karantina sekaligus terpilih menjadi paskibraka tingkat provinsi.

“Aduuuuhh kangen Kediri pokoknya, tapi di sana senang sekali,” kata Rafli yang ditemui Jawa Pos Radar Kediri di Taman Sekartaji, Mojoroto, Senin kemarin (21/8).

Banyak kenangan tak terlupakan ketika karantina di Surabaya. Termasuk ingatan Rafli tentang kerasnya latihan dan sanksi push up ketika berbuat kesalahan. Namun, yang paling berkesan adalah kekonyolan Rafli dan teman barunya di asrama. Mengapa?

Baca Juga :  Sisi Lain Peringatan HUT RI: Seragam Anjlok, Benderanya Menolong

Dari awal memasuki karantina, mereka tidak diperbolehkan mengoperasikan alat elektronik. Seperti gawai, powerbank, dan arloji. Semua harus rela diamankan oleh para senior Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Jawa Timur yang ditugaskan sebagai kakak pendamping kamar.

Padahal bagi Rafli, jam tangan alias arloji menjadi hal yang sangat penting. Karena ia akan lebih cepat beradaptasi lingkungan dengan menghafal siklus kegiatan latihan. “Disita semua Mas, kan di awal kami digeledahi, biar patuh aturan,” terang pelajar SMAN 2 Kediri ini.

Saking inginnya Rafli mengetahui waktu, otaknya seolah diembusi udara segar. Yang membuat menemukan cara di luar kesadaran wajar. Untuk melihat waktu menunjuk pukul berapa, Rafli tidak sengaja melihat remote air conditioner (AC) kamarnya. Ia baru menyadari ketika pada layar remote digital itu terdapat waktu. Sontak Rafli pun terkejut dan keheranan. Karena keinginan untuk mengetahui waktu tersebut bisa terjawab.

Meskipun ia harus memutar otak lebih keras lagi. Sebab, malam itu ia tidak mengetahui pukul berapa waktu sebenarnya. Sedangkan pada remote AC itu hanya menunjukan kedip-kedipan sekitar pukul 15.00 sore hari. “Saya bingung ini sudah malam, tapi jamnya remote AC kok masih jam tiga sore,” tutur anak pasangan Edial dan Atik Soelistijo ini.

Kebingungan dengan itu, Rafli pun berkoordinasi bersama empat temannya sekamar. Akhirnya, misi mendapatkan waktu yang sebenarnya pun terjawab dengan mulus. Kerja sama dengan empat temannya itu membuahkan hasil ketika salah satu temannya bergaya sakit perut. Sehingga, ada alasan izin kepada pendamping kamar untuk menuju ke ruang kesehatan. “Teman saya itu bergaya sakit terus minta obat di klinik,” ungkapnya.

Baca Juga :  Warga Banjaran Kediri Ini Kreasi Kue Basah Sejak 41 Tahun Lalu

Jedeeeeerrr. Benar insting mereka membuahkan hasil. Ketika melihat sebuah jam dinding yang terpajang. Sehingga mereka bisa melewati waktu demi waktu tanpa kegalauan. Karena baginya waktu bisa membawa ancaman serius barisan. Yakni hukuman jika telat datang di lapangan untuk berlatih.Setiap satu kesalahan mereka harus menerima 20 push up dari pelatih Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Berbeda kesan yang dirasakan Belva. Pelajar SMAN 7 Kediri ini merasakan kedisiplinan yang luar biasa ketika tidak bisa menghubungi siapapun. Termasuk orang tuanya, Basuki Wiyono dan Puji Astuti. Kesempatan yang diberikan pelatih dan pendamping tidak banyak dalam 10 hari karantina. Hanya 10 menit menelepon orang tua di rumah.

Ketika menelepon pun dijaga ketat pendamping kamar. Tepatnya pada Senin (14/8) siang hari. Menit demi menit benar-benar dimanfaatkan untuk memberikan kabar kepada keluarganya jika keadaanya tengah digembleng demi mengibarkan sang Merah Putih di hadapan Gubernur Jawa Timur Soekarwo. “Itu yang paling trenyuh, akhirnya bisa komunikasi dengan orang tua,” papar gadis asal Bandarkidul, Mojoroto ini.

Namun, Belva bersyukur di tengah kerasnya latihan banyak hikmah. Karena, penanaman sifat disiplin ini berpengaruh setelah kepulangannya di Kediri. Kini Rafli dan Belva jadi sangat menghargai waktu. Apalagi dalam menempuh pendidikan ke depan. “Rasanya nggak ingin buang-buang waktu buat hal yang nggak penting. Tahu rasanya dikarantina kayak gitu lho Mas,” katanya.

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/