31.7 C
Kediri
Friday, August 12, 2022

Dua Tahun Diisolasi, Napi Lapas Kediri Lepas Kangen dengan Kerabat

Suasana haru memenuhi aula Lapas Kelas II A Kediri, kemarin. Isak tangis mewarnai perjumpaan para narapidana dengan keluarga. Mereka melepas kangen setelah dua tahun tak bertemu akibat pandemi Covid-19.

Sedih sekaligus bahagia. Perasaan Aris, 21, kemarin campur aduk. Waktu kunjungan selama sekitar 20 menit kemarin benar-benar membuat hati pemuda asal Desa/Kecamatan Banyakan itu bak roller coaster. Merasa sedih saat kali pertama berjumpa, senang saat mengobrol bersama, hingga sedih kembali karena harus berpisah.

Rona bahagia tergambar jelas di wajah pemuda yang kemarin memakai kaus warna krem itu. Senyumnya mengembang saat melihat kedua orang tuanya. Hanya dalam hitungan detik, dia langsung menghambur ke pelukan perempuan berkerudung cokelat yang tak lain adalah Eni, sang ibu. Selanjutnya, dia menyalami pria berambut putih yang tak lain ayahnya. “Alhamdulillah, sudah satu tahun tidak bertemu,” aku Eni senang.

Seolah berada di “taman”, Aris langsung mengajak kedua orang tuanya duduk di salah satu sudut aula. Duduk di karpet warna biru, mereka membahas berbagai hal. Mulai menanyakan kondisi pemuda berambut cepak itu hingga membahas hal-hal ringan. Sesekali senyum tersungging di bibir ketiganya.

“Sejak semalam tidak sabar ingin bertemu ibu dan bapak,” sambung Aris sambil mengusap air matanya. Saking lamanya tidak bertemu, dia mengaku deg-degan begitu jarum jam menunjukkan pukul 09.00. Jadwal kunjungan tatap muka yang kembali dibuka setelah ditutup selama pandemi Covid-19.

Baca Juga :  Lansia asal Desa Watudandang Meninggal di Jalan

Sebelumnya, dia memang sudah berpesan agar ayah dan ibunya datang pagi. Sehingga, dia bisa segera bertemu dengan dua orang yang telah membesarkannya itu. Makanya, begitu bertemu dia langsung meluapkan kegembiraan dengan menangis tersedu-sedu.

Pemandangan serupa terjadi pada 70 keluarga narapidana yang kemarin melepas kangen di aula. Jika Aris hanya bertemu ayah dan ibunya, tidak sedikit narapidana yang juga bertemu anak-anaknya. Bahkan, anak-anak berusia di bawah tujuh tahun pun terlihat asyik berlarian di beberapa sudut aula saat bercanda dengan orang tuanya.

Kesan seram lapas sama sekali tak terlihat kemarin. Yang ada adalah raut gembira puluhan keluarga yang tengah bersenda gurau. Selama sekitar 20 menit, tidak sedikit narapidana yang terus berpegangan tangan dengan keluarganya. Sedikit berbicara. Hanya bahasa tubuh mereka yang menyiratkan kelegaan setelah lama tak berjumpa.

Sekitar 20 menit bertemu, tibalah waktu untuk berpisah. Gelak tawa berganti dengan tangisan. Dengan berat hati, para narapidana mengantar keluarga mereka hingga di pintu besi pembatas menuju pintu keluar.

Aris yang harus kembali berpisah dengan ayah dan ibunya memilih melepas dengan pelukan hangat. Selama sekitar 15 detik, dia membenamkan kepalanya di dada sang ibu. Eni yang juga tak bisa menahan tangis langsung mengelus kepala Aris sebelum meninggalkannya.

Baca Juga :  Sertijab KP BI Kediri: Musni Hardi Resmi Gantikan Djoko

Sementara itu, Surya, salah satu pengunjung terlihat gembira begitu keluar dari lapas. Dia mengaku bahagia bisa bertemu adiknya yang terjerat kasus narkoba. Pemuda asal Desa Menang, Pagu itu lega karena bisa memberi dukungan untuk kerabatnya yang sebentar lagi bisa bebas dari lapas itu.

Kepala Kesatuan Pengalaman Lembaga Pemasyarakatan (KPLP) Kelas II A Kediri Ario Galih Maduseno yang turut memantau kunjungan perdana narapidana dengan keluarganya kemarin, terlihat ikut berbahagia. “Memang kunjungan (kemarin, Red) diutamakan untuk keluarga inti. Suami, atau istri, dan anak,” terangnya.

Pria yang akrab disapa Galih itu terenyuh melihat keluarga narapidana mayoritas menangis. Setelah dibuka kali pertama kemarin, kunjungan akan dibuka lagi pada Selasa (26/7) nanti. Prosedurnya sama, hanya keluarga narapidana yang sudah vaksin booster saja yang tidak perlu melakukan tes ulang.

Adapun keluarga yang vaksinasinya belum lengkap, mereka harus melakukan rapid test antigen atau swab antigen dengan hasil negatif. “Prosedur ini diterapkan untuk mencegah penularan Covid-19.

Seperti prosedur kunjungan sebelum pandemi, petugas lapas agaknya tak ingin kecolongan. Mereka tetap memeriksa dengan ketat makanan yang dibawa keluarga narapidana. Bahkan, keluarga yang masuk ke lapas yang hendak masuk juga harus lolos pemeriksaan X ray. “Itu untuk mencegah adanya barang terlarang yang masuk ke lapas,” paparnya.






Reporter: Ilmidza Amalia Nadzira
- Advertisement -

Suasana haru memenuhi aula Lapas Kelas II A Kediri, kemarin. Isak tangis mewarnai perjumpaan para narapidana dengan keluarga. Mereka melepas kangen setelah dua tahun tak bertemu akibat pandemi Covid-19.

Sedih sekaligus bahagia. Perasaan Aris, 21, kemarin campur aduk. Waktu kunjungan selama sekitar 20 menit kemarin benar-benar membuat hati pemuda asal Desa/Kecamatan Banyakan itu bak roller coaster. Merasa sedih saat kali pertama berjumpa, senang saat mengobrol bersama, hingga sedih kembali karena harus berpisah.

Rona bahagia tergambar jelas di wajah pemuda yang kemarin memakai kaus warna krem itu. Senyumnya mengembang saat melihat kedua orang tuanya. Hanya dalam hitungan detik, dia langsung menghambur ke pelukan perempuan berkerudung cokelat yang tak lain adalah Eni, sang ibu. Selanjutnya, dia menyalami pria berambut putih yang tak lain ayahnya. “Alhamdulillah, sudah satu tahun tidak bertemu,” aku Eni senang.

Seolah berada di “taman”, Aris langsung mengajak kedua orang tuanya duduk di salah satu sudut aula. Duduk di karpet warna biru, mereka membahas berbagai hal. Mulai menanyakan kondisi pemuda berambut cepak itu hingga membahas hal-hal ringan. Sesekali senyum tersungging di bibir ketiganya.

“Sejak semalam tidak sabar ingin bertemu ibu dan bapak,” sambung Aris sambil mengusap air matanya. Saking lamanya tidak bertemu, dia mengaku deg-degan begitu jarum jam menunjukkan pukul 09.00. Jadwal kunjungan tatap muka yang kembali dibuka setelah ditutup selama pandemi Covid-19.

Baca Juga :  Self Reward, Jangan Sampai Jadi Perilaku Konsumtif

Sebelumnya, dia memang sudah berpesan agar ayah dan ibunya datang pagi. Sehingga, dia bisa segera bertemu dengan dua orang yang telah membesarkannya itu. Makanya, begitu bertemu dia langsung meluapkan kegembiraan dengan menangis tersedu-sedu.

Pemandangan serupa terjadi pada 70 keluarga narapidana yang kemarin melepas kangen di aula. Jika Aris hanya bertemu ayah dan ibunya, tidak sedikit narapidana yang juga bertemu anak-anaknya. Bahkan, anak-anak berusia di bawah tujuh tahun pun terlihat asyik berlarian di beberapa sudut aula saat bercanda dengan orang tuanya.

Kesan seram lapas sama sekali tak terlihat kemarin. Yang ada adalah raut gembira puluhan keluarga yang tengah bersenda gurau. Selama sekitar 20 menit, tidak sedikit narapidana yang terus berpegangan tangan dengan keluarganya. Sedikit berbicara. Hanya bahasa tubuh mereka yang menyiratkan kelegaan setelah lama tak berjumpa.

Sekitar 20 menit bertemu, tibalah waktu untuk berpisah. Gelak tawa berganti dengan tangisan. Dengan berat hati, para narapidana mengantar keluarga mereka hingga di pintu besi pembatas menuju pintu keluar.

Aris yang harus kembali berpisah dengan ayah dan ibunya memilih melepas dengan pelukan hangat. Selama sekitar 15 detik, dia membenamkan kepalanya di dada sang ibu. Eni yang juga tak bisa menahan tangis langsung mengelus kepala Aris sebelum meninggalkannya.

Baca Juga :  Cara Tumbuhkan Literasi ala Nganjuk Spirit Iqro

Sementara itu, Surya, salah satu pengunjung terlihat gembira begitu keluar dari lapas. Dia mengaku bahagia bisa bertemu adiknya yang terjerat kasus narkoba. Pemuda asal Desa Menang, Pagu itu lega karena bisa memberi dukungan untuk kerabatnya yang sebentar lagi bisa bebas dari lapas itu.

Kepala Kesatuan Pengalaman Lembaga Pemasyarakatan (KPLP) Kelas II A Kediri Ario Galih Maduseno yang turut memantau kunjungan perdana narapidana dengan keluarganya kemarin, terlihat ikut berbahagia. “Memang kunjungan (kemarin, Red) diutamakan untuk keluarga inti. Suami, atau istri, dan anak,” terangnya.

Pria yang akrab disapa Galih itu terenyuh melihat keluarga narapidana mayoritas menangis. Setelah dibuka kali pertama kemarin, kunjungan akan dibuka lagi pada Selasa (26/7) nanti. Prosedurnya sama, hanya keluarga narapidana yang sudah vaksin booster saja yang tidak perlu melakukan tes ulang.

Adapun keluarga yang vaksinasinya belum lengkap, mereka harus melakukan rapid test antigen atau swab antigen dengan hasil negatif. “Prosedur ini diterapkan untuk mencegah penularan Covid-19.

Seperti prosedur kunjungan sebelum pandemi, petugas lapas agaknya tak ingin kecolongan. Mereka tetap memeriksa dengan ketat makanan yang dibawa keluarga narapidana. Bahkan, keluarga yang masuk ke lapas yang hendak masuk juga harus lolos pemeriksaan X ray. “Itu untuk mencegah adanya barang terlarang yang masuk ke lapas,” paparnya.






Reporter: Ilmidza Amalia Nadzira

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/