23.9 C
Kediri
Wednesday, July 6, 2022

Ibu-Ibu Desa Sonorejo, Grogol, Ubah Sampah Jadi Barang-Barang Menarik

Niatan para wanita ini mulia. Ingin mengubah perilaku warga dalam membuang sampah. Sayang, kehadiran mereka tak sepenuhnya didukung pemerintah desa.

Pagi itu (9/6) suasana Taman Totok Kerot sangat ramai. Beberapa meja berjajar di taman yang berada di Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu itu. Meja-meja itu adalah tempat bagi peserta lomba yang digelar berkaitan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup sedunia memamerkan karya-karyanya.

Di salah satu meja, tersaji berbagai macam bunga. Terlihat sangat indah selayaknya bunga yang tumbuh di dahan tanaman. Baru ketika dekat, dan disentuh, tahulah bahwa bunga itu adalah imitasi.

“Dibaut dari sampah kresek,” kata Astutik, wanita 49 tahun yang menjaga stan tersebut.

Wanita berkerudung ini berasal dari Dusun Sumberagung, Desa Sonorejo. Bersama dengan rekannya sesama anggota ‘Bank Sampah Berkah’ mereka menjadi wakil Kecamatan Grogol dalam lomba tersebut.

Pajangan bunga imitasi dari kelompok ini terlihat menarik. Namun, ada satu yang paling menyita perhatian. Berupa bonsai pohon beringin setinggi setengah meter yang diletakkan di meja. Mulai dari batang, dahan, hingga daun terbuat dari kresek bekas. Ada kreativitas tambahan dengan memberi bonsai ini bunga yang juga terbikin dari kresek. Sementara, pot bunga berasal dari kaleng bekas tempat biscuit.

“Bahan yang digunakan ini semua barang bekas yang bisa didaur ulang. Kecuali lem, gunting, seterika, dan tang,” imbuhnya.

Baca Juga :  Riyadi, Pelopor Bersih-Bersih Sungai Gronjong Wariti

Astutik menjelaskan, kresek yang digunakan dikumpulkan dari ibu-ibu di dusun nya. Pengumpulanya mudah, karena sudah terbentuk bank sampah. Nah, bank sampah inilah yang mengumpulkan limbah-limbah rumah tangga yang dapat di daur ulang.

Di Desa Sonorejo terdapat dua bank sampah yang masih aktif. Salah satunya yang berada di Dusun Sumberagung itu. Yang terbentuk sejak 2018. Saat itu pembentukannya didasari keinginan mengubah perilaku masyarakat dalam membuang sampah. Sebelumnya, karena lahan pembuangan sampah semakin sempit, warga banyak yang membuang barang-barang bekas ke sungai dan saluran air.

Tidak mudah untuk mengubah perilaku warga yang seperti itu. Perlu waktu edukasi yang tak instan. “Kami akhirnya menyosialisasikan melalui ibu-ibu yang datang ke posyandu,” terang Restu, anggota lain yang juga bidan desa.

Saat bertemu di posyandu itu, sosialisasi diberikan. Ibu-ibu diminta mengumpulkan sampah non-organik secara terpisah. Bila terkumpul kemudian dibawa ke kegiatan posyandu sebulan sekali.

Sebenarnya, yang datang ke posyandu puluhan orang. Namun, yang rajin melakukan itu hanya belasan orang saja.

Agar menarik perhatian, kelompok ini berencana membuka buku tabungan. Uang hasil penjualan sampah itu dimasukkan ke buku tabungan itu. “Nanti, bila terkumpul banyak uang tersebut bisa dimanfaatkan,” terangnya.

Sebenarnya, Bank Sampah Berkah pernah menjajaki kerja sama dengan sekolah. Bungkus-bungkus jajan dikumpulkan di karung yang ada di depan kelas. Sayang, upaya ini tak berlangsung lama. Kurangnya dukungan dari pihak pemerintah desa (pemdes) menjadi penyebabnya.

Baca Juga :  Bayi Asal Kecamatan Mojo Terlantar di Rumah Sakit

Faktornya adalah masalah transportasi. Karena jumlah karung itu puluhan, butuh kendaraan setiap kali mengambil. Mereka pernah menyewa, tapi lama-lama dianggap besar di ongkos. Karena itu dihentikan. Sementara pihak pemdes juga tak mengucurkan bantuan.

Mengapa? “Karena kami dianggap menghasilkan uang. Padahal hasil penjualan sampah juga tidak seberapa,” aku Restu.

Kini, kelompok ini berusaha bertahan. Barang bekas diolah menjadi hiasan. Kresek bekas belanjaan dikumpulkan. “Kami belajar dengan melihat tutorial di Youtube,” tutur Astutik.

Sebelumnya, mereka perlu mencuci terlebih dulu kresek tersebut. Karena kebanyakan kotor karena bekas pakai.

Untuk membuat kerajinan, biasanya mereka berkumpul setelah selesai mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Terkadang mereka berkumpul di rumah Yuliatin, salah satu anggota mereka. Sambil bercengkerama, kedua tangannya ini sibuk berkreasi. Bunga-bunga imitasi yang dihasilkan tidak kalah dengan buatan pabrik.

Bagaimana menjualnya? Mereka masih mengandalkan cara sederhana, dari mulut ke mulut. “Dari penjualan sampah dan bunga hias ini digunakan untuk keperluan warga. Salah satunya untuk membeli lampu jalan,” terang istri dari Sunaji ini.






Reporter: Habibaham Anisa Muktiara
- Advertisement -

Niatan para wanita ini mulia. Ingin mengubah perilaku warga dalam membuang sampah. Sayang, kehadiran mereka tak sepenuhnya didukung pemerintah desa.

Pagi itu (9/6) suasana Taman Totok Kerot sangat ramai. Beberapa meja berjajar di taman yang berada di Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu itu. Meja-meja itu adalah tempat bagi peserta lomba yang digelar berkaitan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup sedunia memamerkan karya-karyanya.

Di salah satu meja, tersaji berbagai macam bunga. Terlihat sangat indah selayaknya bunga yang tumbuh di dahan tanaman. Baru ketika dekat, dan disentuh, tahulah bahwa bunga itu adalah imitasi.

“Dibaut dari sampah kresek,” kata Astutik, wanita 49 tahun yang menjaga stan tersebut.

Wanita berkerudung ini berasal dari Dusun Sumberagung, Desa Sonorejo. Bersama dengan rekannya sesama anggota ‘Bank Sampah Berkah’ mereka menjadi wakil Kecamatan Grogol dalam lomba tersebut.

Pajangan bunga imitasi dari kelompok ini terlihat menarik. Namun, ada satu yang paling menyita perhatian. Berupa bonsai pohon beringin setinggi setengah meter yang diletakkan di meja. Mulai dari batang, dahan, hingga daun terbuat dari kresek bekas. Ada kreativitas tambahan dengan memberi bonsai ini bunga yang juga terbikin dari kresek. Sementara, pot bunga berasal dari kaleng bekas tempat biscuit.

“Bahan yang digunakan ini semua barang bekas yang bisa didaur ulang. Kecuali lem, gunting, seterika, dan tang,” imbuhnya.

Baca Juga :  Suminar Wati, Kreator Batik Khas Kabupaten Kediri

Astutik menjelaskan, kresek yang digunakan dikumpulkan dari ibu-ibu di dusun nya. Pengumpulanya mudah, karena sudah terbentuk bank sampah. Nah, bank sampah inilah yang mengumpulkan limbah-limbah rumah tangga yang dapat di daur ulang.

Di Desa Sonorejo terdapat dua bank sampah yang masih aktif. Salah satunya yang berada di Dusun Sumberagung itu. Yang terbentuk sejak 2018. Saat itu pembentukannya didasari keinginan mengubah perilaku masyarakat dalam membuang sampah. Sebelumnya, karena lahan pembuangan sampah semakin sempit, warga banyak yang membuang barang-barang bekas ke sungai dan saluran air.

Tidak mudah untuk mengubah perilaku warga yang seperti itu. Perlu waktu edukasi yang tak instan. “Kami akhirnya menyosialisasikan melalui ibu-ibu yang datang ke posyandu,” terang Restu, anggota lain yang juga bidan desa.

Saat bertemu di posyandu itu, sosialisasi diberikan. Ibu-ibu diminta mengumpulkan sampah non-organik secara terpisah. Bila terkumpul kemudian dibawa ke kegiatan posyandu sebulan sekali.

Sebenarnya, yang datang ke posyandu puluhan orang. Namun, yang rajin melakukan itu hanya belasan orang saja.

Agar menarik perhatian, kelompok ini berencana membuka buku tabungan. Uang hasil penjualan sampah itu dimasukkan ke buku tabungan itu. “Nanti, bila terkumpul banyak uang tersebut bisa dimanfaatkan,” terangnya.

Sebenarnya, Bank Sampah Berkah pernah menjajaki kerja sama dengan sekolah. Bungkus-bungkus jajan dikumpulkan di karung yang ada di depan kelas. Sayang, upaya ini tak berlangsung lama. Kurangnya dukungan dari pihak pemerintah desa (pemdes) menjadi penyebabnya.

Baca Juga :  Belum Mahir Nyetir, Mobil Warga Tulungagung Masuk Sawah 

Faktornya adalah masalah transportasi. Karena jumlah karung itu puluhan, butuh kendaraan setiap kali mengambil. Mereka pernah menyewa, tapi lama-lama dianggap besar di ongkos. Karena itu dihentikan. Sementara pihak pemdes juga tak mengucurkan bantuan.

Mengapa? “Karena kami dianggap menghasilkan uang. Padahal hasil penjualan sampah juga tidak seberapa,” aku Restu.

Kini, kelompok ini berusaha bertahan. Barang bekas diolah menjadi hiasan. Kresek bekas belanjaan dikumpulkan. “Kami belajar dengan melihat tutorial di Youtube,” tutur Astutik.

Sebelumnya, mereka perlu mencuci terlebih dulu kresek tersebut. Karena kebanyakan kotor karena bekas pakai.

Untuk membuat kerajinan, biasanya mereka berkumpul setelah selesai mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Terkadang mereka berkumpul di rumah Yuliatin, salah satu anggota mereka. Sambil bercengkerama, kedua tangannya ini sibuk berkreasi. Bunga-bunga imitasi yang dihasilkan tidak kalah dengan buatan pabrik.

Bagaimana menjualnya? Mereka masih mengandalkan cara sederhana, dari mulut ke mulut. “Dari penjualan sampah dan bunga hias ini digunakan untuk keperluan warga. Salah satunya untuk membeli lampu jalan,” terang istri dari Sunaji ini.






Reporter: Habibaham Anisa Muktiara

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/