30.1 C
Kediri
Monday, August 8, 2022

Vina Noer Anisa, Juru Bahasa Isyarat saat Rilis di Polres Kediri Kota

Awalnya Vina N. Anisa tak paham bahasa isyarat. Namun sejak bekerja di Dinas Sosial Kota Kediri, dia harus belajar. Kini selain bisa berinteraksi dengan penyandang tunarungu, keahliannya juga dibutuhkan aparat penegak hukum.

ILMIDZA AMALIA NADZIRA, Kota, JP Radar Kediri 

Pemandangan berbeda terlihat saat pers rilis kasus narkoba di Polres Kediri Kota beberapa hari lalu (16/3). Berdiri di samping Kapolres Kediri Kota AKBP Eko Prasetyo tampak seorang perempuan muda berpakaian rapi. Mengenakan kemeja hitam dengan jilbab hitam penampilannya cukup khas. 

Tanpa mengucap kata, ia kerap mengayunkan kedua tangannya. Jari-jemarinya pun bergerak lincah dalam bentuk-bentuk isyarat. Dengan menggerakkan tangan dan menggunakan mimik muka, wanita ini menyampaikan informasi yang disampaikan kapolresta. 

Dari kalimat pembuka hingga kronologi perkara yang dipaparkan ke orang nomor satu di kepolisian resor Kota Tahu itu kepada awak media, dia menerjemahkannya menggunakan bahasa isyarat. 

Seiring dengan dibacakannya rilis dalam konferensi pers tersebut, wanita ini ternyata tengah menerjemahkan bahasa lisan menjadi bahasa isyarat. Gerakan tangan dan jari-jemari itu familier dipahami oleh para penyandang disabilitas. Utamanya mereka yang memiliki kekurangan dalam indera pendengarannya atau tunarungu.

Nama perempuan penerjemah bahasa isyarat ini adalah Vina Noer Anisa. Ia merupakan seorang juru bahasa isyarat professional. Vina –sapaan karibnya –bertugas di setiap konferensi pers di Polres Kediri Kota. 

Perempuan berusia 24 tahun ini telah menggeluti profesinya sebagai juru bahasa isyarat sejak 2018. Nah, penampilannya menerjemahkan bahasa isyarat di depan media massa itu merupakan pengalaman kali pertama. 

Alumnus Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung, Jawa Barat, itu mengaku deg-degan karena baru kali pertama menjadi penerjemaah di lingkungan kepolisian. Padahal selama ini dia sudah tiga tahun menjadi penerjemah. 

Baca Juga :  Menggali’ Candi Klotok, Mencari Jejak Sejarah Besar Kota Kediri (5)

Namun karena baru kali pertama, tetap saja dirinya merasa gugup saat menerjemahkan yang disampaikan pimpinan kepolisian di Kota Kediri itu. Pasalnya, sudah tiga tahun ia menjadi penerjemah. Hanya saja, Vina biasa menerjemahkan bahasa isyarat di lingkungan perkantoran. 

“Karena ini di mapolresta, saya sampai persiapan dulu sepekan. Ya karena bahasa hukum cukup sulit diterjemahkan. Banyak kosa kata baru yang harus dipahami,” ungkapnya.

Tak sama dengan mereka yang mengikuti pers rilis di masa pandemi Covid-19 itu, Vina tak terlihat mengenakan masker. Padahal anggota kepolisian di sampingnya mengenakan masker. Hal itu bukan karena dirinya tak taat protokol kesehatan (prokes). Namun untuk menerjemahkan perkataan lisan juga diperlukan mimik wajah dan gerak mulut.

“Seharusnya penerjemah itu memang tidak diperuntukkan menggunakan masker. Sebab, saat melakukan gerakan isyarat, bibir juga harus bergerak. Para tunarungu juga melihat bahasa atau gerak bibir,” terangnya. 

Makanya jika harus melakukan gerakan isyarat tetapi dengan mulut tertutup masker, nantinya pesan yang disampaikan tidak bisa diinterpretasikan masyarakat yang tunarungu. “Aturannya memang begitu. Yang penting kan tidak bersuara,” imbuhnya.

Padahal awalnya keahlian bahasa isyarat itu tidak dimiliki Vina. Itu bermula ketika ia diterima menjadi pegawai negeri sipil (PNS) oleh Kementerian Sosial dan ditempatkan di Dinas Sosial Kota Kediri. Sejak itulah dia harus belajar tentang bahasa isyarat. Butuh waktu lama hingga bisa fasih dan lancar menerjemahkan bahasa. “Kurang lebih satu setengah tahun baru bisa lancar,” paparnya.

Proses mempelajari bahasa isyarat merupakan pengalaman yang menyenangkan bagi Vina. Sebab, aktivitas belajar bahasa isyarat diisi dengan kegiatan video call, jalan-jalan, dan berkegiatan bersama para anggota Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) Kota Kediri. 

Baca Juga :  Gus Ab: Hidup Harmonis saat Ramadan

“Ada juga seminar dan workshop bagi penerjemah-penerjemah. Dari situlah saya banyak belajar bahasa isyarat hingga lancar seperti sekarang,” tuturnya.

Selama menjalani profesi sebagai juru bahasa isyarat, Vina telah mengalami berbagai pengalaman baik suka dan duka. Salah satu pengalaman yang tak pernah dia lupakan adalah ketika tengah menerjemahkan bahasa isyarat di Kejaksaan Negeri Kota Kediri. Saat itu ia mendampingi seorang anak disabilitas tunarungu yang melakukan kekerasan terhadap temannya yang juga tunarungu. 

“Harus telaten dan lebih sabar. Supaya anak-anak tunarungu ini paham tentang hukum,” ujarnya. 

Selama ini, Vina merasa masyarakat awam masih belum terbiasa dengan fenomena bahasa isyarat. Sehingga banyak yang masih memandang itu sebagai hal baru. Ia berharap, masyarakat luas dapat menerima dan tidak lagi berpikir negatif pada kaum disabilitas serta pengguna bahasa isyarat di kehidupan sehari-hari. 

“Pengalaman duka yang lain, banyak orang yang masih menganggap juru bahasa isyarat itu sebagai sebuah lelucon. Tetapi berkat profesi ini, saya jadi bisa bertemu dengan banyak orang,” paparnya.

Tantangannya, menurut Vina, penerjemah bahasa isyarat harus bisa menyampaikan informasi secara utuh dan dimengerti para tunarungu. “Karena masyarakat yang menonton berita di televisi pasti fokus mereka terbelah. Di mana harus melihat kejadian secara visual, tapi juga isyarat dari penerjemah,” ungkapnya.

Perempuan asal Desa Plosolor, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri ini mengakui, pekerjaan yang dilakoninya saat ini sangat berisiko karena berada di tempat terbuka. Namun rasa kekhawatiran itu tak membuatnya menyerah untuk terus menyebarkan informasi kepada para tunarungu. 

“Hal ini saya lakukan juga agar para tunarungu mendapat akses informasi yang sama dengan masyarakat pada umumnya. Selain itu saya senang melakukan pekerjaan ini,” tandasnya.(ndr)

- Advertisement -

Awalnya Vina N. Anisa tak paham bahasa isyarat. Namun sejak bekerja di Dinas Sosial Kota Kediri, dia harus belajar. Kini selain bisa berinteraksi dengan penyandang tunarungu, keahliannya juga dibutuhkan aparat penegak hukum.

ILMIDZA AMALIA NADZIRA, Kota, JP Radar Kediri 

Pemandangan berbeda terlihat saat pers rilis kasus narkoba di Polres Kediri Kota beberapa hari lalu (16/3). Berdiri di samping Kapolres Kediri Kota AKBP Eko Prasetyo tampak seorang perempuan muda berpakaian rapi. Mengenakan kemeja hitam dengan jilbab hitam penampilannya cukup khas. 

Tanpa mengucap kata, ia kerap mengayunkan kedua tangannya. Jari-jemarinya pun bergerak lincah dalam bentuk-bentuk isyarat. Dengan menggerakkan tangan dan menggunakan mimik muka, wanita ini menyampaikan informasi yang disampaikan kapolresta. 

Dari kalimat pembuka hingga kronologi perkara yang dipaparkan ke orang nomor satu di kepolisian resor Kota Tahu itu kepada awak media, dia menerjemahkannya menggunakan bahasa isyarat. 

Seiring dengan dibacakannya rilis dalam konferensi pers tersebut, wanita ini ternyata tengah menerjemahkan bahasa lisan menjadi bahasa isyarat. Gerakan tangan dan jari-jemari itu familier dipahami oleh para penyandang disabilitas. Utamanya mereka yang memiliki kekurangan dalam indera pendengarannya atau tunarungu.

Nama perempuan penerjemah bahasa isyarat ini adalah Vina Noer Anisa. Ia merupakan seorang juru bahasa isyarat professional. Vina –sapaan karibnya –bertugas di setiap konferensi pers di Polres Kediri Kota. 

Perempuan berusia 24 tahun ini telah menggeluti profesinya sebagai juru bahasa isyarat sejak 2018. Nah, penampilannya menerjemahkan bahasa isyarat di depan media massa itu merupakan pengalaman kali pertama. 

Alumnus Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung, Jawa Barat, itu mengaku deg-degan karena baru kali pertama menjadi penerjemaah di lingkungan kepolisian. Padahal selama ini dia sudah tiga tahun menjadi penerjemah. 

Baca Juga :  Polisi Amankan Lebih 16 Ribu Butir Pil Koplo di Tarokan 

Namun karena baru kali pertama, tetap saja dirinya merasa gugup saat menerjemahkan yang disampaikan pimpinan kepolisian di Kota Kediri itu. Pasalnya, sudah tiga tahun ia menjadi penerjemah. Hanya saja, Vina biasa menerjemahkan bahasa isyarat di lingkungan perkantoran. 

“Karena ini di mapolresta, saya sampai persiapan dulu sepekan. Ya karena bahasa hukum cukup sulit diterjemahkan. Banyak kosa kata baru yang harus dipahami,” ungkapnya.

Tak sama dengan mereka yang mengikuti pers rilis di masa pandemi Covid-19 itu, Vina tak terlihat mengenakan masker. Padahal anggota kepolisian di sampingnya mengenakan masker. Hal itu bukan karena dirinya tak taat protokol kesehatan (prokes). Namun untuk menerjemahkan perkataan lisan juga diperlukan mimik wajah dan gerak mulut.

“Seharusnya penerjemah itu memang tidak diperuntukkan menggunakan masker. Sebab, saat melakukan gerakan isyarat, bibir juga harus bergerak. Para tunarungu juga melihat bahasa atau gerak bibir,” terangnya. 

Makanya jika harus melakukan gerakan isyarat tetapi dengan mulut tertutup masker, nantinya pesan yang disampaikan tidak bisa diinterpretasikan masyarakat yang tunarungu. “Aturannya memang begitu. Yang penting kan tidak bersuara,” imbuhnya.

Padahal awalnya keahlian bahasa isyarat itu tidak dimiliki Vina. Itu bermula ketika ia diterima menjadi pegawai negeri sipil (PNS) oleh Kementerian Sosial dan ditempatkan di Dinas Sosial Kota Kediri. Sejak itulah dia harus belajar tentang bahasa isyarat. Butuh waktu lama hingga bisa fasih dan lancar menerjemahkan bahasa. “Kurang lebih satu setengah tahun baru bisa lancar,” paparnya.

Proses mempelajari bahasa isyarat merupakan pengalaman yang menyenangkan bagi Vina. Sebab, aktivitas belajar bahasa isyarat diisi dengan kegiatan video call, jalan-jalan, dan berkegiatan bersama para anggota Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) Kota Kediri. 

Baca Juga :  Iffaty Aufa Bahy, Duta Lalu Lintas (Lantas) Polres Kediri Kota 

“Ada juga seminar dan workshop bagi penerjemah-penerjemah. Dari situlah saya banyak belajar bahasa isyarat hingga lancar seperti sekarang,” tuturnya.

Selama menjalani profesi sebagai juru bahasa isyarat, Vina telah mengalami berbagai pengalaman baik suka dan duka. Salah satu pengalaman yang tak pernah dia lupakan adalah ketika tengah menerjemahkan bahasa isyarat di Kejaksaan Negeri Kota Kediri. Saat itu ia mendampingi seorang anak disabilitas tunarungu yang melakukan kekerasan terhadap temannya yang juga tunarungu. 

“Harus telaten dan lebih sabar. Supaya anak-anak tunarungu ini paham tentang hukum,” ujarnya. 

Selama ini, Vina merasa masyarakat awam masih belum terbiasa dengan fenomena bahasa isyarat. Sehingga banyak yang masih memandang itu sebagai hal baru. Ia berharap, masyarakat luas dapat menerima dan tidak lagi berpikir negatif pada kaum disabilitas serta pengguna bahasa isyarat di kehidupan sehari-hari. 

“Pengalaman duka yang lain, banyak orang yang masih menganggap juru bahasa isyarat itu sebagai sebuah lelucon. Tetapi berkat profesi ini, saya jadi bisa bertemu dengan banyak orang,” paparnya.

Tantangannya, menurut Vina, penerjemah bahasa isyarat harus bisa menyampaikan informasi secara utuh dan dimengerti para tunarungu. “Karena masyarakat yang menonton berita di televisi pasti fokus mereka terbelah. Di mana harus melihat kejadian secara visual, tapi juga isyarat dari penerjemah,” ungkapnya.

Perempuan asal Desa Plosolor, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri ini mengakui, pekerjaan yang dilakoninya saat ini sangat berisiko karena berada di tempat terbuka. Namun rasa kekhawatiran itu tak membuatnya menyerah untuk terus menyebarkan informasi kepada para tunarungu. 

“Hal ini saya lakukan juga agar para tunarungu mendapat akses informasi yang sama dengan masyarakat pada umumnya. Selain itu saya senang melakukan pekerjaan ini,” tandasnya.(ndr)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/