26.2 C
Kediri
Wednesday, July 6, 2022

Boyong Tiga Piala dari Lomba Se-Jawa Timur

Mereka berlatih dengan totalitas tinggi. Berjuang agar tidak tersisih. Mematuhi berbagai aturan dan larangan. Hasilnya, pulang dari lomba ludruk se-Jawa Timur, mereka memboyong tiga piala sekaligus.

 

RAMONA TIARA VALENTIN

 

Gedung  Cak Durasim Taman Budaya Surabaya jadi saksi gigihnya anak-anak SMPN 8 Kota Kediri ini. Mereka yang baru mengenal ludruk sudah harus bersaing dengan peserta yang lebih berpengalaman. Tak hanya itu, rata-rata pemain grup pesaing mereka juga lebih tua usianya.

Walaupun demikian, bocah-bocah Kota Kediri ini pantang menyerah. Sebaliknya, penampilannya sangat total. Mampu menampilkan yang terbaik dalam lomba ludruk yang berlangsung dalam rangka bulan bahasa beberapa waktu lalu. Rasa tegang dan cemas mampu mereka  redam. 

“Seleksinya sekitar satu minggu lewat pementasan drama. Lalu dipilih 23 anak. Untuk karawitan, peran, dan tari remo,” cerita Nadia Artamevia, salah satu pemain ludruk SMPN 8 Kota Kediri.

Seleksi tersebut berlangsung ketat. Karena baru pertama kali tahu kesenian itu, mereka pun membutuhkan latihan intensif. Tiga minggu sebelum lomba mereka tekun berlatih. Mulai dari kegigihan, komitmen, hingga mentaati aturan yang disepakati untuk menjaga kondisi tubuh. Semuanya mereka lakoni.

Awalnya ada 42 siswa terpilih. Lalu mengerucut menjadi 23. Mereka kemudian menjadi tanggung jawab guru bahasa daerah, kesenian, dan guru-guru lainnya. Bersiap mengikuti lomba ludruk.

Baca Juga :  Banyak Pelamar CPNS Tidak Memenuhi Syarat

Aturan yang diterapkan sangat ketat. Siswa tidak boleh mengonsumsi makanan sembarangan. Mereka harus menjaga performa. Baik fisik hingga suara. Harus rela berlatih setiap hari untuk mewakili Kota Kediri di ajang perlombaan ludruk se-Jawa Timur.

“Ludruk cukup sulit dari pada teater yang selama ini saya mainkan,” aku Rakha Bima, pemeran Partojoyo yang menghianati Boncolono. Menurutnya, seninya ludruk berada pada improvisasi yang harus dilakukan pemeran.

Bukan sekadar seni ludruk yang baru bagi anak-anak ini. Cerita yang diusung juga tergolong anyar untuk seni pertunjukan ludruk. Ber-setting zaman penjajahan di Kediri dulu, grup ini menampilkan cerita Boncolono melawan penjajah Belanda. Para pemain harus benar-benar total karena tampil dengan bahasa gado-gado. Tiga sekaligus. Jawa, Indonesia, dan Belanda.

“Saya coba berlatih sendiri. Lihat Youtube, bahasa Belanda beserta logat orang Belanda berbicara Bahasa Indonesia,” terang Lendra Airlangga, pemain lain.

Wajar bila Lendra harus observasi semacam itu. Karena dia berdapuk menjadi Belanda yang membenci Boncolono. Mempelajari bahasa Belanda dengan logatnya yang khas ia lakukan 3 minggu.

Metode rekrutmen pemain yang menggunakan sistem gugur membuat mereka mendapatkan siswa yang benar-benar total dalam berperan. Mereka memiliki komitmen tinggi. Tak hanya pemain, juga para penabuh gamelan. “Ini hal baru juga untuk penabuh gamelan. Biasanya ngiringi wayangan, ngiringi PPST (pendidikan dan pengembangan seni tradisi, Red). Untuk tempo ludruk ternyata lebih cepat,” cerita M. Al Khanafi, penabuh saron.

Baca Juga :  Satpol PP Kota Kediri Bubarkan Kerumunan Massa di Jembatan Brawijaya

Kini, bocah-bocah 13 sampai 15 tahun ini berniat melestarikan seni ludruk. Dengan cerita-cerita daerah lainnya. Bagi mereka, selagi muda akan dimanfaatkan untuk berkarya. Serta merajut kebersamaan dalam mencetak prestasi.

Prestasi yang mereka raih dalam ajang itu juga tak sembarangan. Memborong tiga piala sekaligus. Yaitu untuk naskah terbaik, penyaji terbaik, dan artistik terbaik. Penampilan mereka tak hanya memukau juri. Tapi juga penonton dan pihak Disbudparpora Kota Kediri.

“Respon yang luar biasa untuk anak-anak. Pihak disdik dan disbudparpora mengapresiasi mereka. Penampilan di luar ekspektasi,” ungkap Yusuf  Budi Santoso, kepala SMPN 8 Kota Kediri.

Heri Setiawan, guru bahasa derah, mengaku menekankan siswa agar lebih mengenal budaya dan bahasa lokal. “Kebetulan bahasa yang digunakan di ludruk ini adalah bahasa mataraman. Sesuai dengan folklore-nya yang juga berasal dari Kediri,” pungkas sang sutradara ini sambil tersenyum.

- Advertisement -

Mereka berlatih dengan totalitas tinggi. Berjuang agar tidak tersisih. Mematuhi berbagai aturan dan larangan. Hasilnya, pulang dari lomba ludruk se-Jawa Timur, mereka memboyong tiga piala sekaligus.

 

RAMONA TIARA VALENTIN

 

Gedung  Cak Durasim Taman Budaya Surabaya jadi saksi gigihnya anak-anak SMPN 8 Kota Kediri ini. Mereka yang baru mengenal ludruk sudah harus bersaing dengan peserta yang lebih berpengalaman. Tak hanya itu, rata-rata pemain grup pesaing mereka juga lebih tua usianya.

Walaupun demikian, bocah-bocah Kota Kediri ini pantang menyerah. Sebaliknya, penampilannya sangat total. Mampu menampilkan yang terbaik dalam lomba ludruk yang berlangsung dalam rangka bulan bahasa beberapa waktu lalu. Rasa tegang dan cemas mampu mereka  redam. 

“Seleksinya sekitar satu minggu lewat pementasan drama. Lalu dipilih 23 anak. Untuk karawitan, peran, dan tari remo,” cerita Nadia Artamevia, salah satu pemain ludruk SMPN 8 Kota Kediri.

Seleksi tersebut berlangsung ketat. Karena baru pertama kali tahu kesenian itu, mereka pun membutuhkan latihan intensif. Tiga minggu sebelum lomba mereka tekun berlatih. Mulai dari kegigihan, komitmen, hingga mentaati aturan yang disepakati untuk menjaga kondisi tubuh. Semuanya mereka lakoni.

Awalnya ada 42 siswa terpilih. Lalu mengerucut menjadi 23. Mereka kemudian menjadi tanggung jawab guru bahasa daerah, kesenian, dan guru-guru lainnya. Bersiap mengikuti lomba ludruk.

Baca Juga :  Kisah Pengungsi Longsor Ngetos Merayakan Lebaran dalam Keterbatasan

Aturan yang diterapkan sangat ketat. Siswa tidak boleh mengonsumsi makanan sembarangan. Mereka harus menjaga performa. Baik fisik hingga suara. Harus rela berlatih setiap hari untuk mewakili Kota Kediri di ajang perlombaan ludruk se-Jawa Timur.

“Ludruk cukup sulit dari pada teater yang selama ini saya mainkan,” aku Rakha Bima, pemeran Partojoyo yang menghianati Boncolono. Menurutnya, seninya ludruk berada pada improvisasi yang harus dilakukan pemeran.

Bukan sekadar seni ludruk yang baru bagi anak-anak ini. Cerita yang diusung juga tergolong anyar untuk seni pertunjukan ludruk. Ber-setting zaman penjajahan di Kediri dulu, grup ini menampilkan cerita Boncolono melawan penjajah Belanda. Para pemain harus benar-benar total karena tampil dengan bahasa gado-gado. Tiga sekaligus. Jawa, Indonesia, dan Belanda.

“Saya coba berlatih sendiri. Lihat Youtube, bahasa Belanda beserta logat orang Belanda berbicara Bahasa Indonesia,” terang Lendra Airlangga, pemain lain.

Wajar bila Lendra harus observasi semacam itu. Karena dia berdapuk menjadi Belanda yang membenci Boncolono. Mempelajari bahasa Belanda dengan logatnya yang khas ia lakukan 3 minggu.

Metode rekrutmen pemain yang menggunakan sistem gugur membuat mereka mendapatkan siswa yang benar-benar total dalam berperan. Mereka memiliki komitmen tinggi. Tak hanya pemain, juga para penabuh gamelan. “Ini hal baru juga untuk penabuh gamelan. Biasanya ngiringi wayangan, ngiringi PPST (pendidikan dan pengembangan seni tradisi, Red). Untuk tempo ludruk ternyata lebih cepat,” cerita M. Al Khanafi, penabuh saron.

Baca Juga :  Satpol PP Kota Kediri Amankan Pelaku Pelecehan Seks

Kini, bocah-bocah 13 sampai 15 tahun ini berniat melestarikan seni ludruk. Dengan cerita-cerita daerah lainnya. Bagi mereka, selagi muda akan dimanfaatkan untuk berkarya. Serta merajut kebersamaan dalam mencetak prestasi.

Prestasi yang mereka raih dalam ajang itu juga tak sembarangan. Memborong tiga piala sekaligus. Yaitu untuk naskah terbaik, penyaji terbaik, dan artistik terbaik. Penampilan mereka tak hanya memukau juri. Tapi juga penonton dan pihak Disbudparpora Kota Kediri.

“Respon yang luar biasa untuk anak-anak. Pihak disdik dan disbudparpora mengapresiasi mereka. Penampilan di luar ekspektasi,” ungkap Yusuf  Budi Santoso, kepala SMPN 8 Kota Kediri.

Heri Setiawan, guru bahasa derah, mengaku menekankan siswa agar lebih mengenal budaya dan bahasa lokal. “Kebetulan bahasa yang digunakan di ludruk ini adalah bahasa mataraman. Sesuai dengan folklore-nya yang juga berasal dari Kediri,” pungkas sang sutradara ini sambil tersenyum.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/