28.8 C
Kediri
Sunday, June 26, 2022

Serda Agus Widodo, Anggota TNI yang Buka Pelatihan Jahit Gratis

Di luar tugasnya sebagai Babinsa di Jlumbang, Kandangan, anggota TNI punya aktivitas lain. Dia memanfaatkan gudang rumahnya jadi Rumah Mandiri. Tempat pelatihan jahit gratis untuk bekal keterampilan anak-anak muda.

 

LU’LU’UL ISNAINIYAH, Kabupaten, JP Radar Kediri

 

Minggu siang (20/9) sekitar pukul 12.00 suasana di gudang berdinding batako itu tampak sepi. Dalam bangunan dengan lebar seluas 6 x 10 meter persegi tersebut menampung berbagai alat konveksi.

Setidaknya ada 13 mesin jahit. Selain itu, tampak mesin pemotong kain dan mesin bordir. Karena Minggu libur beberapa pekerja yang biasanya beraktivitas di sana tak masuk. Makanya situasi lengang. Ya di gudang yang berada di Dusun Kwagean, Desa Krenceng, Kecamatan Kepung itu memang dimanfaatkan untuk kegiatan usaha.

Usaha konveksi tersebut dikelola oleh Serda Agus Widodo. Dia merupakan anggota TNI AD yang bertugas di Koramil 15/Kandangan. Agus bertugas sebagai bintara pembina desa (babinsa) di Desa Jlumbang, Kecamatan Kandangan.

Selain melaksanakan tugas sebagai babinsa, Agus juga memiliki kesibukan lain. Yakni untuk mengurus usaha konveksinya. Tentu saja usaha yang didirikan tentara ini bukan hanya untuk pemenuhan kebutuhan ekonominya belaka.

Melainkan dimanfaatkan pula jadi wadah para pemuda yang yang baru lulus sekolah. Utamanya dari jenjang sekolah menengah atas atau sederajat. “Saya inginnya anak muda setelah lulus itu memiliki keterampilan. Kan kalu di masa sekolah biasanya kita hanya dapat teori saja,” ujarnya saat ditemui di kantor koramil tempat tugasnya.

Atas keprihatinannya tersebut, Agus pun mendirikan Rumah Mandiri. Rumah ini sebagai tempat para pemuda untuk mencari pengalaman. Khususnya di bidang jahit-menjahit. Rumah tersebut sudah didirikannya sejak dua tahun lalu. Tepatnya pada tahun 2018.

Baca Juga :  Bantah Pembebasan Ribuan Ha Lahan

“Awalnya dulu saya beli dua mesin jahit, terus yang gabung ikut pelatihan cuma tiga anak saja,” terangnya.

Pada awalnya, Agus sejatinya tidak memiliki keterampilan dalam hal menjahit. Namun, dia memiliki tekad kuat untuk mendirikan usaha tersebut. Bahkan dirinya sempat mendapatkan cibiran atas aktivitasnya itu.

“Pernah saya dikatain teman. Kamu itu gak bisa jahit, tapi malah ngajarin orang menjahit,” urainya menirukan perkataan temannya waktu itu.

Walau begitu, cibiran tersebut tak menyulutkan niat Agus untuk tetap mendirikan rumah pelatihan menjahit. Meskipun ia sendiri juga juga belum dapat menjahit ketika itu. Karenanya, ketika membuka pelatihan ia pun ikut belajar.

“Kita semua di sini berangkat dari nol. Anak-anak juga pas ikut pelatihan juga gak ada bekal menjahit sama sekali,” jelas pria bertubuh kekar ini.

Kemudian, karena ia tak memiliki bekal menjahit, Agus tak kurang akal. Dia mendatangkan orang yang ahli dalam bidang menjahit. Penjahit inilah yang mengajari mereka mulai dari awal hingga mahir.

“Untuk awal ya kami datangkan tenaga alhi terlebih dahulu. Penjahit ini yang membimbing anak-anak,” ujarnya.

Setelah beberapa anak lihai menjahit baju, para peminat pelatihan ini mulai bertambah. Tak hanya pemuda dari sekitar desanya saja. Melainkan anak yang berasal dari kecamatan lain.  “Siapa saja boleh ikut. Ini pelatihannya gratis,” tegas Agus.

Tak hanya memberikan pelatihan kerja. Agus juga menjalin beberapa jaringan untuk mengembangkan pelatihannya. Dia melakukan perkenalan ke pabrik-pabrik yang ada. Hingga akhirnya anggota TNI ini menemukan sebuah perusahaan yang bersedia bekerja sama menjahitkan seragamnya.

Baca Juga :  Kapten Kasihin Gugur di Usia 32 Tahun

“Alhamdulillah perusahaan Yakult mempercayakan jahitan seragam ke kami. Hasil karya anak-anak juga mendapat respons baik dari mereka,” tutur pria berusia 42 tahun tersebut.

Tak hanya menerima penjahitan seragam saja, bahkan topi mereka juga mengerjakannya. Ratusan seragam dan topi diproduksi. Para anak muda yang sudah mahir menjahit dapat mengerjakan seragam tersebut dengan baik.

Meskipun mengaku kini tak dapat menjahit secara mahir, namun peran Agus dalam Rumah Mandiri sangat penting. Dia lah yang selalu memberikan motivasi kepada para anak muda peserta pelatihan.

“Saya inginnya anak-anak ini setelah lulus sekolah bisa punya bekal pengalaman. Jadi ya terus saya motivasi mereka agar tetap semangat,” tuturnya.

Saat ini karena sedang dilanda pandemi Covid-19 Agus belum berani untuk mengumpulkan banyak orang. Sehingga mau tidak mau ia tetap harus mematuhi protokol kesehatan yang ada.

“Karena pandemi ini ya mau tak mau harus dikurangi dulu aktivitas berkumpulnya,” ujarnya.

Pasca pelatihan di Rumah Mandiri, Agus berpesan untuk anak-anak yang lulus sekolah membagikan pengalamannya. Sehingga ketika mereka terjun ke dunia kerja memiliki bekal yang dapat digunakan di mana pun.

Bahkan untuk di rumah pun dapat membuka usaha menjahit sendiri. “Kegiatan ini juga untuk menghindarkan anak-anak berkeliaran di jalan, ya seperti jadi pengamen atau anak punk,” terangnya. (ndr)

- Advertisement -

Di luar tugasnya sebagai Babinsa di Jlumbang, Kandangan, anggota TNI punya aktivitas lain. Dia memanfaatkan gudang rumahnya jadi Rumah Mandiri. Tempat pelatihan jahit gratis untuk bekal keterampilan anak-anak muda.

 

LU’LU’UL ISNAINIYAH, Kabupaten, JP Radar Kediri

 

Minggu siang (20/9) sekitar pukul 12.00 suasana di gudang berdinding batako itu tampak sepi. Dalam bangunan dengan lebar seluas 6 x 10 meter persegi tersebut menampung berbagai alat konveksi.

Setidaknya ada 13 mesin jahit. Selain itu, tampak mesin pemotong kain dan mesin bordir. Karena Minggu libur beberapa pekerja yang biasanya beraktivitas di sana tak masuk. Makanya situasi lengang. Ya di gudang yang berada di Dusun Kwagean, Desa Krenceng, Kecamatan Kepung itu memang dimanfaatkan untuk kegiatan usaha.

Usaha konveksi tersebut dikelola oleh Serda Agus Widodo. Dia merupakan anggota TNI AD yang bertugas di Koramil 15/Kandangan. Agus bertugas sebagai bintara pembina desa (babinsa) di Desa Jlumbang, Kecamatan Kandangan.

Selain melaksanakan tugas sebagai babinsa, Agus juga memiliki kesibukan lain. Yakni untuk mengurus usaha konveksinya. Tentu saja usaha yang didirikan tentara ini bukan hanya untuk pemenuhan kebutuhan ekonominya belaka.

Melainkan dimanfaatkan pula jadi wadah para pemuda yang yang baru lulus sekolah. Utamanya dari jenjang sekolah menengah atas atau sederajat. “Saya inginnya anak muda setelah lulus itu memiliki keterampilan. Kan kalu di masa sekolah biasanya kita hanya dapat teori saja,” ujarnya saat ditemui di kantor koramil tempat tugasnya.

Atas keprihatinannya tersebut, Agus pun mendirikan Rumah Mandiri. Rumah ini sebagai tempat para pemuda untuk mencari pengalaman. Khususnya di bidang jahit-menjahit. Rumah tersebut sudah didirikannya sejak dua tahun lalu. Tepatnya pada tahun 2018.

Baca Juga :  Demi Rupiah, Mereka Lumuri Tubuh dengan Cat Silver

“Awalnya dulu saya beli dua mesin jahit, terus yang gabung ikut pelatihan cuma tiga anak saja,” terangnya.

Pada awalnya, Agus sejatinya tidak memiliki keterampilan dalam hal menjahit. Namun, dia memiliki tekad kuat untuk mendirikan usaha tersebut. Bahkan dirinya sempat mendapatkan cibiran atas aktivitasnya itu.

“Pernah saya dikatain teman. Kamu itu gak bisa jahit, tapi malah ngajarin orang menjahit,” urainya menirukan perkataan temannya waktu itu.

Walau begitu, cibiran tersebut tak menyulutkan niat Agus untuk tetap mendirikan rumah pelatihan menjahit. Meskipun ia sendiri juga juga belum dapat menjahit ketika itu. Karenanya, ketika membuka pelatihan ia pun ikut belajar.

“Kita semua di sini berangkat dari nol. Anak-anak juga pas ikut pelatihan juga gak ada bekal menjahit sama sekali,” jelas pria bertubuh kekar ini.

Kemudian, karena ia tak memiliki bekal menjahit, Agus tak kurang akal. Dia mendatangkan orang yang ahli dalam bidang menjahit. Penjahit inilah yang mengajari mereka mulai dari awal hingga mahir.

“Untuk awal ya kami datangkan tenaga alhi terlebih dahulu. Penjahit ini yang membimbing anak-anak,” ujarnya.

Setelah beberapa anak lihai menjahit baju, para peminat pelatihan ini mulai bertambah. Tak hanya pemuda dari sekitar desanya saja. Melainkan anak yang berasal dari kecamatan lain.  “Siapa saja boleh ikut. Ini pelatihannya gratis,” tegas Agus.

Tak hanya memberikan pelatihan kerja. Agus juga menjalin beberapa jaringan untuk mengembangkan pelatihannya. Dia melakukan perkenalan ke pabrik-pabrik yang ada. Hingga akhirnya anggota TNI ini menemukan sebuah perusahaan yang bersedia bekerja sama menjahitkan seragamnya.

Baca Juga :  Bantah Pembebasan Ribuan Ha Lahan

“Alhamdulillah perusahaan Yakult mempercayakan jahitan seragam ke kami. Hasil karya anak-anak juga mendapat respons baik dari mereka,” tutur pria berusia 42 tahun tersebut.

Tak hanya menerima penjahitan seragam saja, bahkan topi mereka juga mengerjakannya. Ratusan seragam dan topi diproduksi. Para anak muda yang sudah mahir menjahit dapat mengerjakan seragam tersebut dengan baik.

Meskipun mengaku kini tak dapat menjahit secara mahir, namun peran Agus dalam Rumah Mandiri sangat penting. Dia lah yang selalu memberikan motivasi kepada para anak muda peserta pelatihan.

“Saya inginnya anak-anak ini setelah lulus sekolah bisa punya bekal pengalaman. Jadi ya terus saya motivasi mereka agar tetap semangat,” tuturnya.

Saat ini karena sedang dilanda pandemi Covid-19 Agus belum berani untuk mengumpulkan banyak orang. Sehingga mau tidak mau ia tetap harus mematuhi protokol kesehatan yang ada.

“Karena pandemi ini ya mau tak mau harus dikurangi dulu aktivitas berkumpulnya,” ujarnya.

Pasca pelatihan di Rumah Mandiri, Agus berpesan untuk anak-anak yang lulus sekolah membagikan pengalamannya. Sehingga ketika mereka terjun ke dunia kerja memiliki bekal yang dapat digunakan di mana pun.

Bahkan untuk di rumah pun dapat membuka usaha menjahit sendiri. “Kegiatan ini juga untuk menghindarkan anak-anak berkeliaran di jalan, ya seperti jadi pengamen atau anak punk,” terangnya. (ndr)

Artikel Terkait

Most Read

Megengan Pandemi

Sembadra Karya


Artikel Terbaru

/