25.5 C
Kediri
Wednesday, July 6, 2022

Gereja Puhsarang, Objek Wisata Religi di Kaki Gunung Wilis

Kaki Gunung Wilis tidak hanya menawarkan tempat wisata alam saja. Di Desa Puhsarang, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, terdapat wisata religi yang banyak dikunjungi wisatawan. Yang terkenal tentu saja adalah Gereja Katolik Maria Puhsarang.

 

 Selama pandemi Covid-19, kawasan Gereja Puhsarang hanya boleh dikunjungi bagi mereka yang ingin beribadah. Jumlah pengunjung yang dibatasi, membuat beda suasana tersebut.

“Yang tidak beribadah, masih belum bisa masuk,” kata Yulius Santoso, Petugas Informasi Gua Maria Gereja Katolik Santa Maria Lourdes.

          Karena itu, pengurus hanya menyediakan satu pintu masuk dan keluar. Sebelum masuk, selain ada pemeriksaan suhu, juga menulis buku tamu. Selain itu anak yang belum mendapatkan vaksin tidak diperbolehkan masuk.

Seperti diketahui, tempat wisata Gereja Puhsarang dikelilingi pepohonan. Dari pusat Kota Kediri, waktu tempuhnya sekitar 15 hingga 20 menit. Meski jalannya menanjak, namun tidak sulit untuk menuju ke sana. Semua jenis kendaraan bisa masuk ke Gua Puhsarang.

Baca Juga :  Dokter Jualan Kerupuk

          Daniel, Ketua 2 Badan Pengelola Peziarah Puhsarang (BP3), mengungkapkan, pembangunan Gereja Puhsarang dilakukan pada 1936. Gereja Katolik tersebut dibangun oleh Romo Jan Wolters yang datang ke Puhsarang pada tahun 1931.

Pembangunan pada saat itu semula diperuntukkan untuk tempat pendidikan. Karena pada zaman itu, penduduk di sekitar Puhsarang banyak yang tidak sekolah.

Setelah pembangunan sekolah, baru pada 1936, Gereja Puhsarang didirikan. Ketika mendirikan Gereja Puhsarang, Pastor Wolters tidak hanya berpikir fungsi, tapi juga terkait filosofi gereja.  Untuk membangun sebuah peradaban, perlu sebuah budaya. Sehingga Romo Wolters belajar budaya.  Jika dilihat, Gereja Puhsarang tidak seperti gereja yang berada di Eropa.

Karena gereja pada umumnya atapnya berbentuk kerucut, namun Gereja Puhsarang menggunakan atap joglo yang erat dengan mitologi Jawa. Semua yang berada di Gereja Puhsarang memiliki makna simbolis. Makna simbolis itu sangat berkaitan erat dengan budaya. Ketika akan dibangun gereja, pada saat itu tanahnya hanya berupa satu undakan. Namun sekarang menjadi tiga undakan. Jika dalam kepercayaan Hindu dan Budha, terdapat Kamadhatu yang merupakan undakan paling bawah. Undakan paling bawah merupakan pelataran gereja yang berada di sebelah timur. Kemudian naik undakan kedua yang berupa rupa datu. Dan undakan ketiga di mana lokasi gereja dinamakan Rupadhatu.

Baca Juga :  Tak Terpisahkan dari Musik

“Adanya sap (undakan, Red) bukan agar halaman terlihat luas. Namun di balik rumah Jawa ada mitologi dari rumah Jawa,” terang Daniel.

Karena adanya akulturasi, agama gereja Katolik masuk pada budaya setempat. Tujuannya bukan agama melebur dengan budaya, akan tetapi budaya ini diberi warna iman. Doanya bahasa menggunakan Jawa, sedangkan iringan musik menggunakan gamelan. (ara/baz)

    

- Advertisement -

Kaki Gunung Wilis tidak hanya menawarkan tempat wisata alam saja. Di Desa Puhsarang, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, terdapat wisata religi yang banyak dikunjungi wisatawan. Yang terkenal tentu saja adalah Gereja Katolik Maria Puhsarang.

 

 Selama pandemi Covid-19, kawasan Gereja Puhsarang hanya boleh dikunjungi bagi mereka yang ingin beribadah. Jumlah pengunjung yang dibatasi, membuat beda suasana tersebut.

“Yang tidak beribadah, masih belum bisa masuk,” kata Yulius Santoso, Petugas Informasi Gua Maria Gereja Katolik Santa Maria Lourdes.

          Karena itu, pengurus hanya menyediakan satu pintu masuk dan keluar. Sebelum masuk, selain ada pemeriksaan suhu, juga menulis buku tamu. Selain itu anak yang belum mendapatkan vaksin tidak diperbolehkan masuk.

Seperti diketahui, tempat wisata Gereja Puhsarang dikelilingi pepohonan. Dari pusat Kota Kediri, waktu tempuhnya sekitar 15 hingga 20 menit. Meski jalannya menanjak, namun tidak sulit untuk menuju ke sana. Semua jenis kendaraan bisa masuk ke Gua Puhsarang.

Baca Juga :  Seminggu, Belasan ODGJ Terjaring Razia

          Daniel, Ketua 2 Badan Pengelola Peziarah Puhsarang (BP3), mengungkapkan, pembangunan Gereja Puhsarang dilakukan pada 1936. Gereja Katolik tersebut dibangun oleh Romo Jan Wolters yang datang ke Puhsarang pada tahun 1931.

Pembangunan pada saat itu semula diperuntukkan untuk tempat pendidikan. Karena pada zaman itu, penduduk di sekitar Puhsarang banyak yang tidak sekolah.

Setelah pembangunan sekolah, baru pada 1936, Gereja Puhsarang didirikan. Ketika mendirikan Gereja Puhsarang, Pastor Wolters tidak hanya berpikir fungsi, tapi juga terkait filosofi gereja.  Untuk membangun sebuah peradaban, perlu sebuah budaya. Sehingga Romo Wolters belajar budaya.  Jika dilihat, Gereja Puhsarang tidak seperti gereja yang berada di Eropa.

Karena gereja pada umumnya atapnya berbentuk kerucut, namun Gereja Puhsarang menggunakan atap joglo yang erat dengan mitologi Jawa. Semua yang berada di Gereja Puhsarang memiliki makna simbolis. Makna simbolis itu sangat berkaitan erat dengan budaya. Ketika akan dibangun gereja, pada saat itu tanahnya hanya berupa satu undakan. Namun sekarang menjadi tiga undakan. Jika dalam kepercayaan Hindu dan Budha, terdapat Kamadhatu yang merupakan undakan paling bawah. Undakan paling bawah merupakan pelataran gereja yang berada di sebelah timur. Kemudian naik undakan kedua yang berupa rupa datu. Dan undakan ketiga di mana lokasi gereja dinamakan Rupadhatu.

Baca Juga :  Tunanetra Bersaing Jadi ASN

“Adanya sap (undakan, Red) bukan agar halaman terlihat luas. Namun di balik rumah Jawa ada mitologi dari rumah Jawa,” terang Daniel.

Karena adanya akulturasi, agama gereja Katolik masuk pada budaya setempat. Tujuannya bukan agama melebur dengan budaya, akan tetapi budaya ini diberi warna iman. Doanya bahasa menggunakan Jawa, sedangkan iringan musik menggunakan gamelan. (ara/baz)

    

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/