27.5 C
Kediri
Sunday, July 3, 2022

Ratusan Lembaga di Kediri Baru Mulai PTM

Jumlah lembaga pendidikan yang menggelar pembelajaran tatap muka (PTM) di Kota Kediri bertambah hari ini. Jika semula hanya berjumlah 19 lembaga di tingkat TK, SD, dan SMP, hari ini total ada ratusan yang mulai menggelar pembelajaran luar jaringan (luring).

          Jubir Satgas Penanganan Covid-19 Kota Kediri dr Fauzan Adima mengungkapkan, meski ada ratusan lembaga yang menggelar PTM, tetapi pihaknya tetap menerapkan pembatasan. “PTM tetap dilakukan secara bertahap,” kata Fauzan sembari menyebut salah satu alasannya karena vaksinasi remaja masih di angka 22,69 persen.

          Selebihnya, tidak semua sekolah memiliki fasilitas pendukung pelaksanaan PTM yang memadai. Karenanya, satgas tetap melakukan pembatasan. Yakni, jenjang TK maksimal lima siswa per kelas, SD 16 siswa per kelas, dan SMP maksimal 17 siswa per kelas.

          Untuk diketahui, selain jenjang pendidikan dasar, jumlah MA/SMA/SMK yang menggelar PTM hari ini juga bertambah. Misalnya, SMKN 1 Kediri yang

Baca Juga :  Lawan Corona dengan Olahraga yang cukup

sempat menunda penerapan PTM karena ada tes pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (P3K) juga memulai pembelajaran pagi ini.

          Kepala Sekolah SMKN 1 Kota Kediri Hadi Sugiharto memastikan jumlah siswa yang mengikuti PTM pertama hanya 50 persen. “Sisanya masih mengikuti pembelajaran daring,” jelasnya.

          Tak hanya SMK, sejumlah pelajar madrasah aliyah negeri (MAN) juga mengikuti PTM mulai hari ini. Kepala MAN 2 Kota Kediri Nursalim yang dikonfirmasi terkait pembelajaran tatap muka kali pertama pagi ini menyebut, kebijakan itu diterapkan setelah Kota Kediri menerapkan PPKM level 2 sejak 14 September lalu.

          Seperti halnya lembaga lain, pembelajaran luring di MAN 2 hanya diikuti separo siswa di tiap kelas. “Untuk vaksinasi, hampir semua siswa MAN 2 sudah disuntik vaksin,” jelas Nursalim tentang salah satu persyaratan PTM tersebut.

          Nursalim menegaskan, PTM di sekolahnya tidak ada paksaan. Artinya, siswa mengikuti pembelajaran di sekolah dengan seizin orang tua. Untuk yang tidak diizinkan tetap bisa mengikuti pembelajaran daring. Hingga kemarin menurutnya ada beberapa siswa yang tidak diizinkan mengikuti PTM. Terutama siswa dari luar Jawa.

Baca Juga :  Ini Sosok Daniel Loh, Presiden Direktur PT BASF Indonesia

          Sementara itu, Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri bersiap melakukan evaluasi PTM yang telah digelar selama empat hari terakhir. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri Sujud Winarko menyebut pihaknya akan mengevaluasi kesehatan siswa. Serta, sejumlah kendala yang mungkin ada selama pembelajaran. “Sampai Jumat (17/9) tetap lancar, tapi masih akan kami evaluasi,” jelasnya.

          Salah satu poin yang juga akan dievaluasi adalah jam pembelajaran. Apakah tetap menggunakan dua jam secara bergantian atau metode baru. Disdik menurut Sujud juga berencana menambah jumlah siswa yang mengikuti PTM. Meski demikian dia belum menentukan waktu pemberlakuan kebijakan tersebut. Adapun saat ini baru diterapkan jumlah siswa maksimal 30 persen di tiap sekolah. (rq/ara/syi/ut)

- Advertisement -

Jumlah lembaga pendidikan yang menggelar pembelajaran tatap muka (PTM) di Kota Kediri bertambah hari ini. Jika semula hanya berjumlah 19 lembaga di tingkat TK, SD, dan SMP, hari ini total ada ratusan yang mulai menggelar pembelajaran luar jaringan (luring).

          Jubir Satgas Penanganan Covid-19 Kota Kediri dr Fauzan Adima mengungkapkan, meski ada ratusan lembaga yang menggelar PTM, tetapi pihaknya tetap menerapkan pembatasan. “PTM tetap dilakukan secara bertahap,” kata Fauzan sembari menyebut salah satu alasannya karena vaksinasi remaja masih di angka 22,69 persen.

          Selebihnya, tidak semua sekolah memiliki fasilitas pendukung pelaksanaan PTM yang memadai. Karenanya, satgas tetap melakukan pembatasan. Yakni, jenjang TK maksimal lima siswa per kelas, SD 16 siswa per kelas, dan SMP maksimal 17 siswa per kelas.

          Untuk diketahui, selain jenjang pendidikan dasar, jumlah MA/SMA/SMK yang menggelar PTM hari ini juga bertambah. Misalnya, SMKN 1 Kediri yang

Baca Juga :  Lawan Corona dengan Olahraga yang cukup

sempat menunda penerapan PTM karena ada tes pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (P3K) juga memulai pembelajaran pagi ini.

          Kepala Sekolah SMKN 1 Kota Kediri Hadi Sugiharto memastikan jumlah siswa yang mengikuti PTM pertama hanya 50 persen. “Sisanya masih mengikuti pembelajaran daring,” jelasnya.

          Tak hanya SMK, sejumlah pelajar madrasah aliyah negeri (MAN) juga mengikuti PTM mulai hari ini. Kepala MAN 2 Kota Kediri Nursalim yang dikonfirmasi terkait pembelajaran tatap muka kali pertama pagi ini menyebut, kebijakan itu diterapkan setelah Kota Kediri menerapkan PPKM level 2 sejak 14 September lalu.

          Seperti halnya lembaga lain, pembelajaran luring di MAN 2 hanya diikuti separo siswa di tiap kelas. “Untuk vaksinasi, hampir semua siswa MAN 2 sudah disuntik vaksin,” jelas Nursalim tentang salah satu persyaratan PTM tersebut.

          Nursalim menegaskan, PTM di sekolahnya tidak ada paksaan. Artinya, siswa mengikuti pembelajaran di sekolah dengan seizin orang tua. Untuk yang tidak diizinkan tetap bisa mengikuti pembelajaran daring. Hingga kemarin menurutnya ada beberapa siswa yang tidak diizinkan mengikuti PTM. Terutama siswa dari luar Jawa.

Baca Juga :  Apresiasi dalam Membangun Daerah

          Sementara itu, Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri bersiap melakukan evaluasi PTM yang telah digelar selama empat hari terakhir. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri Sujud Winarko menyebut pihaknya akan mengevaluasi kesehatan siswa. Serta, sejumlah kendala yang mungkin ada selama pembelajaran. “Sampai Jumat (17/9) tetap lancar, tapi masih akan kami evaluasi,” jelasnya.

          Salah satu poin yang juga akan dievaluasi adalah jam pembelajaran. Apakah tetap menggunakan dua jam secara bergantian atau metode baru. Disdik menurut Sujud juga berencana menambah jumlah siswa yang mengikuti PTM. Meski demikian dia belum menentukan waktu pemberlakuan kebijakan tersebut. Adapun saat ini baru diterapkan jumlah siswa maksimal 30 persen di tiap sekolah. (rq/ara/syi/ut)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/