26.7 C
Kediri
Monday, July 4, 2022

Ruri Wahyudi, Pelukis Kayu dengan Teknik Wood Burning

Di tangan lelaki ini, kayu-kayu bekas bisa jadi karya seni bernilai. Memahatnya hingga menjadi lukisan kayu. Namun, itu dilakukan melalui cara yang bernama wood burning.

 

HAIBAH ANISA MUKTIARA

 

          Potongan-potongan kayu menumpuk di depan rumah yang terletak di Jalan Mundu 42, Pare, Kabupaten Kediri. Itulah salah satu penanda dari rumah Ruri Wahyudi. Karena kayu-kayu itu adalah bahan utama bagi aktivitas Ruri. Yang sehari-hari memang pembuat lukisan kayu dengan teknik wood burning. 

Ruri belum lama menekuni bidang wood burning itu. Baru sekitar 3,5 tahun. Namun, sebelumnya dia sudah berkutat di bidang seni kerajinan juga. Tapi bahannya pasir pantai dank ain perca.

          Ruri tergolong tak sengaja ‘terjebak’ dalam aktivitas melukis kayu dengan menggunakan teknik wood burning. “Awalnya munculnya ide tersebut dari alat pemotong styrofoam,” jelas Ruri.

Teknik melukis ini sama dengan teknik memotong Styrofoam. Yang berbeda hanya tegangan listriknya. “Kalau (memotong) styrofoam pakai volume yang kecil, kalau pembuatan lukisan ini menggunakan volume yang besar,” terangnya.

Awalnya, saat memotong styrofoam, alatnya terkena kayu. Kayu itu kemudian terlihat gosong. Hal itulah yang kemudian memunculkan ide. Membuat lukisan di kayu dengan alat tersebut.

Baca Juga :  Iskandar Tegar D, Taekwondoin Raih Emas di Thailand Open 2017

           “Dengan alat seadanya, saya membuat lukisan dengan ukuran 40 x 60. Alhamdulilah pelanggan puas degan hasilnya,” ungkap Ruri, sambil mengatakan pelanggan pertamanya dari Kampung Inggris.

Karena tergolong baru, istrinya sempat khawatir Ruri tidak sanggup memenuhi permintaan pelanggan. Namun, tekad kuat Ruri mengalahkan segalanya.  Dia tak pernah lelah mencoba. Tak peduli pada hasilnya terlebih dulu.

Kini, selain membuat lukisan, bapak satu anak ini mengembangkan ke kerajinan lain. Seperti membuat gantungan kunci, tas, tempat gawai, dan beberapa peralatan lain yang berbahan kayu.

          Kayu yang digunakan Ruri beberapa jenis. Mulai pinus, waru, hingga kayu kembang.  Untuk lukisan, kayu yang digunakan yang tak terlihat seratnya.  Sementara untuk tas jenis yang sebaliknya. Yang banyak seratnya.

Kayu-kayu tersebut dipilih karena lebih mudah dilukis. “Karena kayu tersebut sudah dioven terlebih dahulu,” ujar Ruri. Kebanyakan kayu yang dia dapatkan merupakan bekas palet yang sudah tidak digunakan.  Yang dia peroleh dari berbagai tempat di Kediri.

Selama ini, karya yang paling sulit, menurutnya, adalah membuat sketsa wajah. Sebab, harus mirip dengan contoh gambar pemesan. Berbeda dengan bila menggambar pemandangan atau benda.

Baca Juga :  Teras dan Pagar Warga di Tiron dan Banyakan Terancam Terkepras

Untuk mewujudkan lukisan itu, Ruri juga menggunakan dua pola. Yaitu pola arsir dan lictenberg. Untuk arsir digunakan menggambar wajah. Sedangkan Lichtenberg biasa untuk pemandangan atau benda. Teknik terakhir itu juga butuh listrik berdaya tinggi. Sebesar 650 volt. Sedangkan yang arsir hanya butuh 3 volt.

Ada peristiwa yang membuatnya terus bertahan dengan aktivitasnya saat ini. Yaitu ketika di awal dia menekuni bidang wood burning ini. Saat itu Ruri masih menggunakan alat seadanya. Dia sempat mendapat kecelakaan. “Saya saat itu sempat tersetrum. Nnamun itu yang membuat saya bangun kembali,” ujarnya.

Untuk menyelesaikan satu gambar, Ruri membutuhkan waktu satu minggu. Hal itu juga terkait dengan mood. Sebab, bila merasa jenuh dia akan istirahat. “Dari pada nanti salah,” akunya.

          Hasil karyanya yang berharga hingga ratusan ribu itu banyak diminati tokoh. Bahkan, Bupati Haryanti juga pernah memesan satu lukisan.

          Selain menerima pesanan, Ruri juga membuat lukisan mandiri. Lukisan itu yang dia titipkan di satu toko yang berada di kawasan Kampung Inggris.

- Advertisement -

Di tangan lelaki ini, kayu-kayu bekas bisa jadi karya seni bernilai. Memahatnya hingga menjadi lukisan kayu. Namun, itu dilakukan melalui cara yang bernama wood burning.

 

HAIBAH ANISA MUKTIARA

 

          Potongan-potongan kayu menumpuk di depan rumah yang terletak di Jalan Mundu 42, Pare, Kabupaten Kediri. Itulah salah satu penanda dari rumah Ruri Wahyudi. Karena kayu-kayu itu adalah bahan utama bagi aktivitas Ruri. Yang sehari-hari memang pembuat lukisan kayu dengan teknik wood burning. 

Ruri belum lama menekuni bidang wood burning itu. Baru sekitar 3,5 tahun. Namun, sebelumnya dia sudah berkutat di bidang seni kerajinan juga. Tapi bahannya pasir pantai dank ain perca.

          Ruri tergolong tak sengaja ‘terjebak’ dalam aktivitas melukis kayu dengan menggunakan teknik wood burning. “Awalnya munculnya ide tersebut dari alat pemotong styrofoam,” jelas Ruri.

Teknik melukis ini sama dengan teknik memotong Styrofoam. Yang berbeda hanya tegangan listriknya. “Kalau (memotong) styrofoam pakai volume yang kecil, kalau pembuatan lukisan ini menggunakan volume yang besar,” terangnya.

Awalnya, saat memotong styrofoam, alatnya terkena kayu. Kayu itu kemudian terlihat gosong. Hal itulah yang kemudian memunculkan ide. Membuat lukisan di kayu dengan alat tersebut.

Baca Juga :  Buka Lapak di CFD

           “Dengan alat seadanya, saya membuat lukisan dengan ukuran 40 x 60. Alhamdulilah pelanggan puas degan hasilnya,” ungkap Ruri, sambil mengatakan pelanggan pertamanya dari Kampung Inggris.

Karena tergolong baru, istrinya sempat khawatir Ruri tidak sanggup memenuhi permintaan pelanggan. Namun, tekad kuat Ruri mengalahkan segalanya.  Dia tak pernah lelah mencoba. Tak peduli pada hasilnya terlebih dulu.

Kini, selain membuat lukisan, bapak satu anak ini mengembangkan ke kerajinan lain. Seperti membuat gantungan kunci, tas, tempat gawai, dan beberapa peralatan lain yang berbahan kayu.

          Kayu yang digunakan Ruri beberapa jenis. Mulai pinus, waru, hingga kayu kembang.  Untuk lukisan, kayu yang digunakan yang tak terlihat seratnya.  Sementara untuk tas jenis yang sebaliknya. Yang banyak seratnya.

Kayu-kayu tersebut dipilih karena lebih mudah dilukis. “Karena kayu tersebut sudah dioven terlebih dahulu,” ujar Ruri. Kebanyakan kayu yang dia dapatkan merupakan bekas palet yang sudah tidak digunakan.  Yang dia peroleh dari berbagai tempat di Kediri.

Selama ini, karya yang paling sulit, menurutnya, adalah membuat sketsa wajah. Sebab, harus mirip dengan contoh gambar pemesan. Berbeda dengan bila menggambar pemandangan atau benda.

Baca Juga :  Terbakar, Kebun Tebu Seluas 4 Hektare Hangus

Untuk mewujudkan lukisan itu, Ruri juga menggunakan dua pola. Yaitu pola arsir dan lictenberg. Untuk arsir digunakan menggambar wajah. Sedangkan Lichtenberg biasa untuk pemandangan atau benda. Teknik terakhir itu juga butuh listrik berdaya tinggi. Sebesar 650 volt. Sedangkan yang arsir hanya butuh 3 volt.

Ada peristiwa yang membuatnya terus bertahan dengan aktivitasnya saat ini. Yaitu ketika di awal dia menekuni bidang wood burning ini. Saat itu Ruri masih menggunakan alat seadanya. Dia sempat mendapat kecelakaan. “Saya saat itu sempat tersetrum. Nnamun itu yang membuat saya bangun kembali,” ujarnya.

Untuk menyelesaikan satu gambar, Ruri membutuhkan waktu satu minggu. Hal itu juga terkait dengan mood. Sebab, bila merasa jenuh dia akan istirahat. “Dari pada nanti salah,” akunya.

          Hasil karyanya yang berharga hingga ratusan ribu itu banyak diminati tokoh. Bahkan, Bupati Haryanti juga pernah memesan satu lukisan.

          Selain menerima pesanan, Ruri juga membuat lukisan mandiri. Lukisan itu yang dia titipkan di satu toko yang berada di kawasan Kampung Inggris.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/