23.7 C
Kediri
Sunday, June 26, 2022

Mereka Bicara tentang Cita Rasa Kopi Lokal Kediri (4/habis)

Menurut barista Rio Rahmadhika, 60 persen cita rasa kopi tergantung dari bagaimana petani merawat kebun kopinya. Sisanya, baru ada di tangan roaster dan barista.

 

ANDHIKA ATTAR

 

          “Tiga puluh persen di tangan roaster, sedangkan 10 persennya baru ditangan barista,” kata  Rio menyebut pengaruh barista dan roaster pada cita rasa kopi. Menegaskan bagaimana pentingnya peran petani kopi dalam menentukan cita rasa kopi.

 

 Oleh karena itu, edukasi tentang perawatan tanaman kopi bagi petani dirasanya sangat penting. Hal itu tidak lain agar petani lokal bisa menghasilkan biji kopi kualitas terbaik.

          Ia bercerita tentang pengalamannya mencicipi beberapa kopi robusta lokal Kediri. Salah satunya adalah kopi robusta Irenggolo. Menurutnya kopi jenis robusta ini memang dominan rasa cokelatnya. “Apalagi ketika dicampur dengan susu kental manis, terasa sekali cokelatnya,” ujar barista sekaligus owner Peh Kopi Kediri.

          Menurutnya kopi robusta Irenggolo berkarakter memiliki body yang tebal, bitter (pahit), ada sedikit rasa manis dan tentunya memiliki long after taste. “Kopi jenis robusta memang yang paling banyak dikenal,” imbuh pria kelahiran asli Kediri ini.

Baca Juga :  Maling Mengaku Maling

          Cita rasa kopi juga bisa ditentukan dari proses roasting biji kopinya. Terlepas itu jenis robusta atau arabika tak jauh berbeda. Biji kopi yang di roast terang akan cenderung menghasilkan rasa yang asam, medium akan menghasilkan rasa manis. “Kalau di-roast gelap akan terasa cokelat,” sambungnya.

Meskipun begitu, ia mengaku jika terkadang masih menemukan ada defect (cacat rasa) pada kopi robusta lokal. “Seperti ada zat kimianya,” tutur ayah satu orang anak ini.

Kemungkinan besar hal ini terjadi karena proses pascapanen yang kurang bagus. Ia menambahkan bahwa harusnya ada proses sortasi untuk memisahkan biji kopi yang berkualitas bagus dan kurang bagus.

          Tentunya, biji kopi yang telah lolos sortasi dan dikategorikan bagus, otomatis harganya juga akan lebih mahal juga. Petani juga yang diuntungkan. Namun jangan salah, untuk yang kualitas yang kurang bagus tetap laku dijual. “Tinggal diatur harga dan segmen pasarnya saja,” ujar pria lulusan Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang ini.

Baca Juga :  Catatan Ekspedisi Wilis I, Potensi Wisata di Pegunungan Wilis (1)

          Menurutnya, itulah satu cara agar kopi lokal dapat naik kelas menjadi kopi specialty. Setiap perkebunan kopi harus dirawat dengan baik agar biji kopi yang dihasilkan bisa maksimal cita rasanya.

          Sebagai ujung tombak penjualan dalam industri kopi, sebuah kedai kopi haruslah juga belajar tentang semua lini industri kopi. Mulai dari proses yang ada di hulu hingga hilirnya yang ada kedai kopi.

          Menurutnya, kedai dan penggiat kopi harus memiliki kesadaran untuk mengangkat industri kopi lokal. Salah satu yang bisa dilakukan adalah berbagi ilmu dengan petani kopi lokal yang ada di Kediri.

          Tentunya, peran serta pemerintah di sini juga sangat diperlukan. Menurut pria berumur 26 tahun ini, pemerintah hanya belum begitu mengerti tentang potensi kopi.

Padahal, ia melihat ada potensi dari kopi lokal Kediri untuk menjadi salah satu komoditas unggulan daerah. “Dengan catatan, tanaman dan perkebunan kopi dirawat dengan baik,” tegas pria berzodiak Aries ini.(fud)

 

- Advertisement -

Menurut barista Rio Rahmadhika, 60 persen cita rasa kopi tergantung dari bagaimana petani merawat kebun kopinya. Sisanya, baru ada di tangan roaster dan barista.

 

ANDHIKA ATTAR

 

          “Tiga puluh persen di tangan roaster, sedangkan 10 persennya baru ditangan barista,” kata  Rio menyebut pengaruh barista dan roaster pada cita rasa kopi. Menegaskan bagaimana pentingnya peran petani kopi dalam menentukan cita rasa kopi.

 

 Oleh karena itu, edukasi tentang perawatan tanaman kopi bagi petani dirasanya sangat penting. Hal itu tidak lain agar petani lokal bisa menghasilkan biji kopi kualitas terbaik.

          Ia bercerita tentang pengalamannya mencicipi beberapa kopi robusta lokal Kediri. Salah satunya adalah kopi robusta Irenggolo. Menurutnya kopi jenis robusta ini memang dominan rasa cokelatnya. “Apalagi ketika dicampur dengan susu kental manis, terasa sekali cokelatnya,” ujar barista sekaligus owner Peh Kopi Kediri.

          Menurutnya kopi robusta Irenggolo berkarakter memiliki body yang tebal, bitter (pahit), ada sedikit rasa manis dan tentunya memiliki long after taste. “Kopi jenis robusta memang yang paling banyak dikenal,” imbuh pria kelahiran asli Kediri ini.

Baca Juga :  Lampion dan Lampu Ketupat Jadi Identitas Keberagaman

          Cita rasa kopi juga bisa ditentukan dari proses roasting biji kopinya. Terlepas itu jenis robusta atau arabika tak jauh berbeda. Biji kopi yang di roast terang akan cenderung menghasilkan rasa yang asam, medium akan menghasilkan rasa manis. “Kalau di-roast gelap akan terasa cokelat,” sambungnya.

Meskipun begitu, ia mengaku jika terkadang masih menemukan ada defect (cacat rasa) pada kopi robusta lokal. “Seperti ada zat kimianya,” tutur ayah satu orang anak ini.

Kemungkinan besar hal ini terjadi karena proses pascapanen yang kurang bagus. Ia menambahkan bahwa harusnya ada proses sortasi untuk memisahkan biji kopi yang berkualitas bagus dan kurang bagus.

          Tentunya, biji kopi yang telah lolos sortasi dan dikategorikan bagus, otomatis harganya juga akan lebih mahal juga. Petani juga yang diuntungkan. Namun jangan salah, untuk yang kualitas yang kurang bagus tetap laku dijual. “Tinggal diatur harga dan segmen pasarnya saja,” ujar pria lulusan Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang ini.

Baca Juga :  Alvian Lakukan Hipnoterapi pada Atlet dan Pelatih PON 2020 Agar Fokus

          Menurutnya, itulah satu cara agar kopi lokal dapat naik kelas menjadi kopi specialty. Setiap perkebunan kopi harus dirawat dengan baik agar biji kopi yang dihasilkan bisa maksimal cita rasanya.

          Sebagai ujung tombak penjualan dalam industri kopi, sebuah kedai kopi haruslah juga belajar tentang semua lini industri kopi. Mulai dari proses yang ada di hulu hingga hilirnya yang ada kedai kopi.

          Menurutnya, kedai dan penggiat kopi harus memiliki kesadaran untuk mengangkat industri kopi lokal. Salah satu yang bisa dilakukan adalah berbagi ilmu dengan petani kopi lokal yang ada di Kediri.

          Tentunya, peran serta pemerintah di sini juga sangat diperlukan. Menurut pria berumur 26 tahun ini, pemerintah hanya belum begitu mengerti tentang potensi kopi.

Padahal, ia melihat ada potensi dari kopi lokal Kediri untuk menjadi salah satu komoditas unggulan daerah. “Dengan catatan, tanaman dan perkebunan kopi dirawat dengan baik,” tegas pria berzodiak Aries ini.(fud)

 

Artikel Terkait

Most Read

Megengan Pandemi

Sembadra Karya


Artikel Terbaru

/