22.3 C
Kediri
Tuesday, June 28, 2022

Melongok Kampung Tangguh di Tengah Pandemi Covid-19 di Kediri (1)

Pandemi Covid-19 ini bukan untuk ditakuti. Namun diwaspadai. Meski berada di tengah pandemi, semangat masyarakat untuk menghadapi pandemi patut dicontoh. Seperti di Kelurahan Betet, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri ini.

 

IQBAL SYAHRONI, KOTA JP Radar Kediri

 

Dari Perempatan Bence di Jalan Kapten Tendean, jika hendak masuk ke Kelurahan Betet harus melewati jalan yang agak sempit. Cukupnya hanya dua mobil yang mampu masuk ke arah timur dari simpang empat itu.

          Sekitar 400-500 meter ke arah timur, hingga masuk disambut gapura dengan tinggi mencapai 15 meter itu. Suasananya masih asri. Mulai dari persawahan, kebun-kebun warga, hingga pekarangan rumah yang dipenuhi oleh tanaman.

          Saat ditemui, Kepala Kelurahan Betet Surono menjelaskan bahwa warga Kelurahan Betet, banyak yang menanami tanaman di pekarangan rumahnya. “Termasuk saya juga, ada tanaman yang saya rawat di rumah,” ujarnya.

          Dari situlah, Surono ingin memaksimalkan potensi sumberdaya manusia (SDM) yang sudah ia pahami sejak dulu. Pasalnya, Surono sendiri berasal dari Kelurahan Betet juga. “Warga sini (Betet, Red), Mas, saya,” imbuh Surono.

          Memang, kelurahan dengan 24 RT dan sembilan RW ini, juga masih banyak warganya yang bekerja di bidang tanaman. Entah itu sebagai petani, atau penjual sayuran, hingga berjualan makanan dari hasil pertanian. Makanya, ia memiliki visi, selama menjadi percontohan Kampung Tangguh di Kecamatan Pesantren ini, ia ingin memaksimalkan di bidang pertanian.

Baca Juga :  Widi Asri, dari Buruh Migran menjadi Perajin Bunga Sabun

          Meski memang banyak yang ditanami oleh tebu, di sawah sekitar Kelurahan Betet, ada beberapa warga dengan tanaman lain. Seperti jagung, kacang, hingga sayuran seperti terong, dan lainnya.

          Dari situlah, Surono mengajak warganya, selama menjadi percontohan Kampung Tangguh untuk menanami sayuran pangan untuk ketangguhan pangan selama Pandemi Covid-19 ini. “Sedang berjalan untuk penanaman sayur, dan untuk konsumsi sehari-hari,” terang Surono.

          Bahkan, ia juga akan memaksimalkan greenhouse di Kelurahan Betet, untuk ditanami berbagai jenis sayuran. Yang tujuannya tetap, dari warga, untuk warga pula. “Jumat besok (19/6) rencananya, akan saya kumpulkan warga dan relawan, untuk membahas, penanaman, bibitnya sudah ada,” terang Surono.

          Memang, selama ini, pihak kelurahan dan warganya juga saling membantu urusan ketahanan pangan antarwarga. Surono menjelaskan selama pandemi ini, banyak warga yang memang kekurangan pemasukan. Sehingga membuat kondisi ekonomi, dan makan terganggu. Para warganya juga sudah mengalokasikan dan menyisihkan rezeki mereka untuk yang paling terdampak.

          Mulai dari bantuan makanan, seperti beras, atau sayuran, atau bahan makanan lain, semua sudah dilakukan oleh warga, untuk warga sendiri. Namun, dalam beberapa minggu ke-depan, apalagi di tengan pandemi, akan kesulitan untuk mengatasinya.

Makanya Surono mengajak warga Kelurahan Betet, baik relawan, dan warganya yang lain, untuk ikut memaksimalkan menanam sayuran. “Nantinya, juga akan dibuat seperti kolam, untuk pembibitan nila, kalau sudah besar, bisa untuk konsumsi juga, jadi tidak sayur melulu,” ujar pria berumur 54 tahun ini.

Baca Juga :  Tokoh Lintas Agama Berkumpul di Ndalem Pojok, Ini yang Dilakukan

          Mantan Lurah Tempurejo ini menjelaskan bahwa kesiapan warganya juga sangat baik. Baik dari segi komunikasi, maupun untuk koordinasinya. Menurutnya, saat ditunjuk sebagai percontohan Kampung Tangguh di Kecamatan Pesantren ini, Surono juga merasa tidak repot mengajak warganya untuk menghadapinya secara bersama. “Terlebih dahulu, pas ada dari Polda Jatim ke sini (Betet, Red), tidak perlu mempersiapkan banyak, karena memang dari awal sudah siap,” terangnya.

          Sementara itu, banyak juga warganya yang juga melakukan pembagian sayur setiap hari sendiri. Yakni di rumah Sudariyati. Setiap pagi, ia mencantelkan sayur di depan rumahnya. Meski ia bukan seorang petani sayur, ia setiap hari melakukan hal tersebut, dengan membeli sayur dari pedagang sayur langganannya. “Semua ekonomi terdampak, berbuat baik ke setiap orang juga tetap perlu dilakukan,” imbuhnya.

          Para warganya sudah beraktivitas serperti biasa. Namun, bedanya, tetap saja, para warganya menggunakan masker saat melintas. Anak-anak kecil yang mungkin sedang libur bersekolah juga terlihat sedang berkejaran di depan kantor kelurahan. Menjadi waspada tetap harus dilakukan, namun roda kehidupan tetap harus berjalan.

- Advertisement -

Pandemi Covid-19 ini bukan untuk ditakuti. Namun diwaspadai. Meski berada di tengah pandemi, semangat masyarakat untuk menghadapi pandemi patut dicontoh. Seperti di Kelurahan Betet, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri ini.

 

IQBAL SYAHRONI, KOTA JP Radar Kediri

 

Dari Perempatan Bence di Jalan Kapten Tendean, jika hendak masuk ke Kelurahan Betet harus melewati jalan yang agak sempit. Cukupnya hanya dua mobil yang mampu masuk ke arah timur dari simpang empat itu.

          Sekitar 400-500 meter ke arah timur, hingga masuk disambut gapura dengan tinggi mencapai 15 meter itu. Suasananya masih asri. Mulai dari persawahan, kebun-kebun warga, hingga pekarangan rumah yang dipenuhi oleh tanaman.

          Saat ditemui, Kepala Kelurahan Betet Surono menjelaskan bahwa warga Kelurahan Betet, banyak yang menanami tanaman di pekarangan rumahnya. “Termasuk saya juga, ada tanaman yang saya rawat di rumah,” ujarnya.

          Dari situlah, Surono ingin memaksimalkan potensi sumberdaya manusia (SDM) yang sudah ia pahami sejak dulu. Pasalnya, Surono sendiri berasal dari Kelurahan Betet juga. “Warga sini (Betet, Red), Mas, saya,” imbuh Surono.

          Memang, kelurahan dengan 24 RT dan sembilan RW ini, juga masih banyak warganya yang bekerja di bidang tanaman. Entah itu sebagai petani, atau penjual sayuran, hingga berjualan makanan dari hasil pertanian. Makanya, ia memiliki visi, selama menjadi percontohan Kampung Tangguh di Kecamatan Pesantren ini, ia ingin memaksimalkan di bidang pertanian.

Baca Juga :  Kasus Bocah Lumpuh: LPA Sebut Informed Consent Sangatlah Penting

          Meski memang banyak yang ditanami oleh tebu, di sawah sekitar Kelurahan Betet, ada beberapa warga dengan tanaman lain. Seperti jagung, kacang, hingga sayuran seperti terong, dan lainnya.

          Dari situlah, Surono mengajak warganya, selama menjadi percontohan Kampung Tangguh untuk menanami sayuran pangan untuk ketangguhan pangan selama Pandemi Covid-19 ini. “Sedang berjalan untuk penanaman sayur, dan untuk konsumsi sehari-hari,” terang Surono.

          Bahkan, ia juga akan memaksimalkan greenhouse di Kelurahan Betet, untuk ditanami berbagai jenis sayuran. Yang tujuannya tetap, dari warga, untuk warga pula. “Jumat besok (19/6) rencananya, akan saya kumpulkan warga dan relawan, untuk membahas, penanaman, bibitnya sudah ada,” terang Surono.

          Memang, selama ini, pihak kelurahan dan warganya juga saling membantu urusan ketahanan pangan antarwarga. Surono menjelaskan selama pandemi ini, banyak warga yang memang kekurangan pemasukan. Sehingga membuat kondisi ekonomi, dan makan terganggu. Para warganya juga sudah mengalokasikan dan menyisihkan rezeki mereka untuk yang paling terdampak.

          Mulai dari bantuan makanan, seperti beras, atau sayuran, atau bahan makanan lain, semua sudah dilakukan oleh warga, untuk warga sendiri. Namun, dalam beberapa minggu ke-depan, apalagi di tengan pandemi, akan kesulitan untuk mengatasinya.

Makanya Surono mengajak warga Kelurahan Betet, baik relawan, dan warganya yang lain, untuk ikut memaksimalkan menanam sayuran. “Nantinya, juga akan dibuat seperti kolam, untuk pembibitan nila, kalau sudah besar, bisa untuk konsumsi juga, jadi tidak sayur melulu,” ujar pria berumur 54 tahun ini.

Baca Juga :  Banyak Istri Banyak Rezeki

          Mantan Lurah Tempurejo ini menjelaskan bahwa kesiapan warganya juga sangat baik. Baik dari segi komunikasi, maupun untuk koordinasinya. Menurutnya, saat ditunjuk sebagai percontohan Kampung Tangguh di Kecamatan Pesantren ini, Surono juga merasa tidak repot mengajak warganya untuk menghadapinya secara bersama. “Terlebih dahulu, pas ada dari Polda Jatim ke sini (Betet, Red), tidak perlu mempersiapkan banyak, karena memang dari awal sudah siap,” terangnya.

          Sementara itu, banyak juga warganya yang juga melakukan pembagian sayur setiap hari sendiri. Yakni di rumah Sudariyati. Setiap pagi, ia mencantelkan sayur di depan rumahnya. Meski ia bukan seorang petani sayur, ia setiap hari melakukan hal tersebut, dengan membeli sayur dari pedagang sayur langganannya. “Semua ekonomi terdampak, berbuat baik ke setiap orang juga tetap perlu dilakukan,” imbuhnya.

          Para warganya sudah beraktivitas serperti biasa. Namun, bedanya, tetap saja, para warganya menggunakan masker saat melintas. Anak-anak kecil yang mungkin sedang libur bersekolah juga terlihat sedang berkejaran di depan kantor kelurahan. Menjadi waspada tetap harus dilakukan, namun roda kehidupan tetap harus berjalan.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/