25.7 C
Kediri
Wednesday, August 17, 2022

Vicky Febrian Piawai, Korban Pembunuhan di Mata Keluarganya

- Advertisement -

Senin (6/5) lalu, tepat 40 hari kematian Vicky Febrin Piawai. Pergi menghadap Sang Khalik dengan cara tragis, kepergian sulung dari tiga bersaudara itu meninggalkan banyak kenangan bagi keluarganya. Kini mereka hanya bisa berharap agar kasus kematiannya dibuka secara terang benderang.

REKIAN

Tidak ada kesibukan yang mencolok di rumah almarhumah Vicky Febrin Piawai, di Lingkungan Keringan, Kelurahan Mangundikaran, Kota Nganjuk, pada Minggu (5/5) lalu. Rumah yang kini ditempati Agung Murcahyo, sang ayah, bersama Rukmini, istrinya, itu terlihat lengang.

          Sekitar pukul 10.00, Agung terlihat tengah bersantai di bangunan berukuran 4×6 meter yang ada di depan rumahnya. Ruangan berdinding gedek itu memang sering digunakan untuk menerima tamu.

          Bangunan sederhana itu kini lebih sering ditinggali, salah satunya karena ruangan berlantai tanah itu banyak menyimpan kenangan tentang Vicky Febrin Piawai. Putri sulungnya yang meninggal pada 29 Maret lalu. “Terakhir kali kami juga bercanda di ruangan ini,” kenang pria berusia 54 tahun itu sembari menunjuk kursi berwarna hijau yang terletak di ujung selatan.

- Advertisement -

          Sebelum kecelakaan misterius merenggut nyawanya, perempuan berusia 28 tahun itu sempat memesan lontong tahu. Makanan kegemarannya itu juga dinikmati di ruangan itu sekitar pukul 18.30.

          Setelah kenyang, dia lantas berangkat mandi. Selang beberapa menit kemudian, perempuan berambut lurus itu pergi meninggalkan rumah dengan mengendarai motor Honda Scoopy warna silver miliknya.

Baca Juga :  Derita Arsyifa Balqis Nabiha, Bayi yang Terlahir Tanpa Bola Mata

          Jika biasanya Vicky bepergian menggunakan helm lamanya, malam itu dia sengaja memakai helm baru. Meski melihat hal aneh pada kelakuan putrinya, Agung tak kuasa berkomentar. Melainkan hanya memendamnya.

          Rupanya, malam itu merupakan kali terakhir pria berusia 54 tahun itu melihat putrinya dalam kondisi hidup. Sekitar pukul 23.00 malam itu, dia mendapat kabar putrinya tewas karena kecelakaan tunggal di bypass Desa Putren, Kecamatan Sukomoro.

          Berbagai kecurigaan langsung berkecamuk di benak pria tua itu setelah melihat jenazah putrinya di RS Bhayangkara. Terutama, setelah melihat beberapa luka tak wajar di tubuhnya.

          Satu bulan berselang, polisi telah menetapkan St, 34, asal Sukomoro sebagai tersangka pembunuhan Vicky. Anggota Satlantas Polres Nganjuk yang diduga terlibat itu juga telah ditahan.

          Mendengar penahanan pria yang tidak begitu dikenal keluarganya, Agung mengaku sempat terkejut. Meski mengetahui jika putrinya memiliki pergaulan yang luas, dia tak menyangka jika nyawa anaknya akan berakhir tragis.

“Vicky itu anaknya grapyak, gampang bergaul,” tuturnya.

          Semasa hidupnya, gadis 28 tahun itu dikenal mandiri. Setamat sekolah, dia sudah terbiasa mencari uang sendiri. Tidak pernah tergantung kepada orang tuanya. Saat itu, Vicky langsung bekerja di diler motor sebagai marketing. “Selama ini, Vicky tidak pernah merepotkan saya dan ibunya,” beber lelaki berambut putih tersebut.

Baca Juga :  Pasutri asal Gurah Disabilitas yang Berkarya di Tengah Keterbatasan

          Setiap ada masalah, sang anak juga berusaha memendamnya sendiri. Dia tidak pernah bercerita secara detail kepada keluarganya. Apalagi, selama ini perempuan berkulit putih itu dikenal tidak gampang mengeluh.

          Karena sikapnya itu pula, Agung dan istrinya hanya mengenal sebagian teman putrinya itu. Bahkan, kondisi yang putri yang tewas dalam kondisi mengandung juga baru diketahui belakangan. “Dia tidak pernah cerita kepada saya,” keluh Agung tentang Vicky yang didapati hamil empat bulan saat tewas itu.

          Belakangan, Agung menduga putri tercintanya itu juga tewas akibat kondisi tubuhnya yang mengandung itu. Meski tidak mengetahui detail kasus tersebut, Agung mengaku sangat menyesal karena tidak mengetahui beban yang ditanggung putrinya itu. “Kalau dia cerita mungkin masalahnya tidak seperti ini,” sesalnya.

          Nasi sudah menjadi bubur. Agung mengaku tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Dia hanya berharap polisi mau membuka kasus meninggalnya Vicky secara terang benderang. Termasuk menjerat siapapun yang terlibat dalam kasus pembunuhan putrinya tersebut. Dengan cara itu, dia berharap arwah putrinya bisa tenang.

          Untuk diketahui, hingga pertengahan Mei ini kasus meninggalnya Vicky Febrin Piawai masih ditangani oleh Satreskrim Polres Nganjuk. Kamis (16/5) lalu, Polres Nganjuk menggelar rekonstruksi pembunuhan lajang tersebut. Dari sana terungkap jika perempuan yang dilaporkan mengalami kecelakaan tunggal itu dibunuh di mobil Sw, sang tersangka pembunuhan.

- Advertisement -

Senin (6/5) lalu, tepat 40 hari kematian Vicky Febrin Piawai. Pergi menghadap Sang Khalik dengan cara tragis, kepergian sulung dari tiga bersaudara itu meninggalkan banyak kenangan bagi keluarganya. Kini mereka hanya bisa berharap agar kasus kematiannya dibuka secara terang benderang.

REKIAN

Tidak ada kesibukan yang mencolok di rumah almarhumah Vicky Febrin Piawai, di Lingkungan Keringan, Kelurahan Mangundikaran, Kota Nganjuk, pada Minggu (5/5) lalu. Rumah yang kini ditempati Agung Murcahyo, sang ayah, bersama Rukmini, istrinya, itu terlihat lengang.

          Sekitar pukul 10.00, Agung terlihat tengah bersantai di bangunan berukuran 4×6 meter yang ada di depan rumahnya. Ruangan berdinding gedek itu memang sering digunakan untuk menerima tamu.

          Bangunan sederhana itu kini lebih sering ditinggali, salah satunya karena ruangan berlantai tanah itu banyak menyimpan kenangan tentang Vicky Febrin Piawai. Putri sulungnya yang meninggal pada 29 Maret lalu. “Terakhir kali kami juga bercanda di ruangan ini,” kenang pria berusia 54 tahun itu sembari menunjuk kursi berwarna hijau yang terletak di ujung selatan.

          Sebelum kecelakaan misterius merenggut nyawanya, perempuan berusia 28 tahun itu sempat memesan lontong tahu. Makanan kegemarannya itu juga dinikmati di ruangan itu sekitar pukul 18.30.

          Setelah kenyang, dia lantas berangkat mandi. Selang beberapa menit kemudian, perempuan berambut lurus itu pergi meninggalkan rumah dengan mengendarai motor Honda Scoopy warna silver miliknya.

Baca Juga :  Mengintip Perawatan Plt Bupati Marhaen Djumadi di RSUD Nganjuk

          Jika biasanya Vicky bepergian menggunakan helm lamanya, malam itu dia sengaja memakai helm baru. Meski melihat hal aneh pada kelakuan putrinya, Agung tak kuasa berkomentar. Melainkan hanya memendamnya.

          Rupanya, malam itu merupakan kali terakhir pria berusia 54 tahun itu melihat putrinya dalam kondisi hidup. Sekitar pukul 23.00 malam itu, dia mendapat kabar putrinya tewas karena kecelakaan tunggal di bypass Desa Putren, Kecamatan Sukomoro.

          Berbagai kecurigaan langsung berkecamuk di benak pria tua itu setelah melihat jenazah putrinya di RS Bhayangkara. Terutama, setelah melihat beberapa luka tak wajar di tubuhnya.

          Satu bulan berselang, polisi telah menetapkan St, 34, asal Sukomoro sebagai tersangka pembunuhan Vicky. Anggota Satlantas Polres Nganjuk yang diduga terlibat itu juga telah ditahan.

          Mendengar penahanan pria yang tidak begitu dikenal keluarganya, Agung mengaku sempat terkejut. Meski mengetahui jika putrinya memiliki pergaulan yang luas, dia tak menyangka jika nyawa anaknya akan berakhir tragis.

“Vicky itu anaknya grapyak, gampang bergaul,” tuturnya.

          Semasa hidupnya, gadis 28 tahun itu dikenal mandiri. Setamat sekolah, dia sudah terbiasa mencari uang sendiri. Tidak pernah tergantung kepada orang tuanya. Saat itu, Vicky langsung bekerja di diler motor sebagai marketing. “Selama ini, Vicky tidak pernah merepotkan saya dan ibunya,” beber lelaki berambut putih tersebut.

Baca Juga :  Hanya Separo Badan Jalan yang Berfungsi

          Setiap ada masalah, sang anak juga berusaha memendamnya sendiri. Dia tidak pernah bercerita secara detail kepada keluarganya. Apalagi, selama ini perempuan berkulit putih itu dikenal tidak gampang mengeluh.

          Karena sikapnya itu pula, Agung dan istrinya hanya mengenal sebagian teman putrinya itu. Bahkan, kondisi yang putri yang tewas dalam kondisi mengandung juga baru diketahui belakangan. “Dia tidak pernah cerita kepada saya,” keluh Agung tentang Vicky yang didapati hamil empat bulan saat tewas itu.

          Belakangan, Agung menduga putri tercintanya itu juga tewas akibat kondisi tubuhnya yang mengandung itu. Meski tidak mengetahui detail kasus tersebut, Agung mengaku sangat menyesal karena tidak mengetahui beban yang ditanggung putrinya itu. “Kalau dia cerita mungkin masalahnya tidak seperti ini,” sesalnya.

          Nasi sudah menjadi bubur. Agung mengaku tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Dia hanya berharap polisi mau membuka kasus meninggalnya Vicky secara terang benderang. Termasuk menjerat siapapun yang terlibat dalam kasus pembunuhan putrinya tersebut. Dengan cara itu, dia berharap arwah putrinya bisa tenang.

          Untuk diketahui, hingga pertengahan Mei ini kasus meninggalnya Vicky Febrin Piawai masih ditangani oleh Satreskrim Polres Nganjuk. Kamis (16/5) lalu, Polres Nganjuk menggelar rekonstruksi pembunuhan lajang tersebut. Dari sana terungkap jika perempuan yang dilaporkan mengalami kecelakaan tunggal itu dibunuh di mobil Sw, sang tersangka pembunuhan.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/