25.6 C
Kediri
Saturday, June 25, 2022

Nono Mardiono, Perajin yang Melestarikan Wayang Beber

Kecintaan Nono Mardiono pada dunia seni memang sudah melekat. Puluhan tahun hidupnya didedikasikan pada dunia wayang. Bahkan, karyanya terjual hingga ke luar negeri. Wayang beber paling membanggakan.

KAREN WIBI, NGANJUK, JP Radar Nganjuk

“Ngeeeng….Ngeeeng…,” tampak suara kendaraan bermotor bersahutan di jalanan. Sementara itu, sebuah rumah di persimpangan jalan Desa Guyangan, Kecamatan Bagor itu tampak begitu tenang. Tidak terganggu kebisingan jalan raya di depan kediamannya.

Beberapa tanaman tampak mendominasi di antara patung dari batu. Di rumah yang memanjang dari utara ke selatan tersebut tampak dua pintu. Di sebelah utara pintu tampak papan kayu berukuran 40 x 60 sentimeter (cm).

Di papan bertuliskan kalimat yang menyatakan empunya rumah adalah seorang seniman wayang. Selain itu, beberapa tulisan menjelaskan sang empunya rumah sedang membuka les untuk kerajinan memahat dan membuat wayang.

Lebih dalam lagi, di ruang tamu berukuran 4 x 6 meter tampak beberapa lukisan tergantung di dinding. Beberapa wayang kayu juga tampak digantung di kusen kayu di tengah-tengah ruangan. Beberapa wayang lain disandarkan di papan kayu yang menjadi pembatas ruangan.

Baca Juga :  Suparman, Agen Koran Penerima Satyalancana Kebaktian Sosial

Tampak seorang pria sedang duduk bersantai di salah satu sofa di utara ruangan. Salah satu kakinya terangkat. Matanya tidak menoleh ke mana pun selain ke handphone (HP) yang sedang digenggam.

Dialah Nono Mardiono, si empunya rumah. Laki-laki 64 tahun ini tinggal di rumah dekat persimpangan jalan Desa Guyangan. Dia sering menciptakan banyak karya. Mulai wayang kayu, lukisan kaca, hingga wayang beber.

Nono sudah jatuh cinta pada karya seni wayang dan lukis sejak berumur 15 tahun. Ketika usianya 17 tahun, dirinya lebih mendalami dunia seni dengan belajar ke banyak orang. Tidak tanggung-tanggung, Nono pernah berkeliling Indonesia demi menimba ilmu dunia sejarah perwayangan.

Menurut ingatannya, Nono pernah pergi ke Bandung, Jakarta, Kalimantan, Jogjakarta, dan Bali. “Dulu saya mulai keliling sejak umur 18 tahun,” ucapnya.

Baru sekitar 30 tahun lalu dirinya pulang ke Nganjuk. Di kampung halamannya, Nono fokus membuat lukisan di kaca, wayang kayu, dan wayang beber. Dari semua karyanya, wayang beber paling membanggakan. Pasalnya, merupakan jenis wayang paling tua di Indonesia.

Baca Juga :  Prosedur Terapi Triger Point Yoga Harus Pas Agar Hasilnya Maksimal

Selain itu, saat ini seniman pembuat wayang beber sudah sangat berkurang drastis. “Ini kan memang peninggalan dari leluhur kita,” tambahnya.

Dalam pembuatan wayang beber, Nono memerlukan waktu sekitar satu bulan. Waktu tersebut dimulai dari pengukuran kain, penggambaran sketsa, hingga pemberian warna.

Dulunya Nono menjual karyanya di sekitar Nganjuk. Namun cara tersebut tidak berhasil. Pada waktu tersebut, orang yang datang ke lapaknya sangatlah banyak. Namun mereka hanya melihat-lihat. “Mungkin memang daya belinya kurang,” ujarnya.

Selain itu, karya-karya Nono sudah dijual hingga ke luar negeri. Sebut saja dari Singapura, Amerika, dan masih banyak negara lainnya. “Bahkan dulu ada orang dari Swedia yang datang ke rumah saya untuk beli salah satu karya saya,” ungkapnya.

Tidak tanggung-tanggung, karya seni Nono bisa terjual hingga puluhan juta rupiah. Saat pameran, wayang beber milik Nono bisa terjual di angka Rp 10 juta –Rp 20 juta. “Tapi untuk wayang kayu ya sekitar Rp 500 ribu hingga Rp 700 ribu,” tutupnya.

- Advertisement -

Kecintaan Nono Mardiono pada dunia seni memang sudah melekat. Puluhan tahun hidupnya didedikasikan pada dunia wayang. Bahkan, karyanya terjual hingga ke luar negeri. Wayang beber paling membanggakan.

KAREN WIBI, NGANJUK, JP Radar Nganjuk

“Ngeeeng….Ngeeeng…,” tampak suara kendaraan bermotor bersahutan di jalanan. Sementara itu, sebuah rumah di persimpangan jalan Desa Guyangan, Kecamatan Bagor itu tampak begitu tenang. Tidak terganggu kebisingan jalan raya di depan kediamannya.

Beberapa tanaman tampak mendominasi di antara patung dari batu. Di rumah yang memanjang dari utara ke selatan tersebut tampak dua pintu. Di sebelah utara pintu tampak papan kayu berukuran 40 x 60 sentimeter (cm).

Di papan bertuliskan kalimat yang menyatakan empunya rumah adalah seorang seniman wayang. Selain itu, beberapa tulisan menjelaskan sang empunya rumah sedang membuka les untuk kerajinan memahat dan membuat wayang.

Lebih dalam lagi, di ruang tamu berukuran 4 x 6 meter tampak beberapa lukisan tergantung di dinding. Beberapa wayang kayu juga tampak digantung di kusen kayu di tengah-tengah ruangan. Beberapa wayang lain disandarkan di papan kayu yang menjadi pembatas ruangan.

Baca Juga :  MPP Nyawiji Semakin Sepi

Tampak seorang pria sedang duduk bersantai di salah satu sofa di utara ruangan. Salah satu kakinya terangkat. Matanya tidak menoleh ke mana pun selain ke handphone (HP) yang sedang digenggam.

Dialah Nono Mardiono, si empunya rumah. Laki-laki 64 tahun ini tinggal di rumah dekat persimpangan jalan Desa Guyangan. Dia sering menciptakan banyak karya. Mulai wayang kayu, lukisan kaca, hingga wayang beber.

Nono sudah jatuh cinta pada karya seni wayang dan lukis sejak berumur 15 tahun. Ketika usianya 17 tahun, dirinya lebih mendalami dunia seni dengan belajar ke banyak orang. Tidak tanggung-tanggung, Nono pernah berkeliling Indonesia demi menimba ilmu dunia sejarah perwayangan.

Menurut ingatannya, Nono pernah pergi ke Bandung, Jakarta, Kalimantan, Jogjakarta, dan Bali. “Dulu saya mulai keliling sejak umur 18 tahun,” ucapnya.

Baru sekitar 30 tahun lalu dirinya pulang ke Nganjuk. Di kampung halamannya, Nono fokus membuat lukisan di kaca, wayang kayu, dan wayang beber. Dari semua karyanya, wayang beber paling membanggakan. Pasalnya, merupakan jenis wayang paling tua di Indonesia.

Baca Juga :  Afina Azka Mazaya, Atlet Senam Artistik Putri Berprestasi Nasional

Selain itu, saat ini seniman pembuat wayang beber sudah sangat berkurang drastis. “Ini kan memang peninggalan dari leluhur kita,” tambahnya.

Dalam pembuatan wayang beber, Nono memerlukan waktu sekitar satu bulan. Waktu tersebut dimulai dari pengukuran kain, penggambaran sketsa, hingga pemberian warna.

Dulunya Nono menjual karyanya di sekitar Nganjuk. Namun cara tersebut tidak berhasil. Pada waktu tersebut, orang yang datang ke lapaknya sangatlah banyak. Namun mereka hanya melihat-lihat. “Mungkin memang daya belinya kurang,” ujarnya.

Selain itu, karya-karya Nono sudah dijual hingga ke luar negeri. Sebut saja dari Singapura, Amerika, dan masih banyak negara lainnya. “Bahkan dulu ada orang dari Swedia yang datang ke rumah saya untuk beli salah satu karya saya,” ungkapnya.

Tidak tanggung-tanggung, karya seni Nono bisa terjual hingga puluhan juta rupiah. Saat pameran, wayang beber milik Nono bisa terjual di angka Rp 10 juta –Rp 20 juta. “Tapi untuk wayang kayu ya sekitar Rp 500 ribu hingga Rp 700 ribu,” tutupnya.

Artikel Terkait

Most Read

Megengan Pandemi

Sembadra Karya


Artikel Terbaru

/