23.9 C
Kediri
Wednesday, July 6, 2022

Jadi Saksi Karya-Karya Literasi Bernilai Tinggi

Kota Kediri pernah punya penerbitan ternama. Yang mewarnai khasanan literasi di akhir abad 19. Penerbit itu bernama Boekhandel Tan Khoen Swie. Lokasinya, di Jalan Dhoho.

 

Balai Pustaka adalah penerbit nasional yang menghasilkan karya-karya bernilai sastra tinggi. Penerbit ini baru lahir pada 1920. Padahal, TKS-kependekan Tan Khoen Swie-sudah menerbitkan buku sejak 1915. Buku-buku yang diterbitkan  telah beredar luas hingga penerbitan ini tutup pada 1950.

Hadirnya penerbitan TKS ini telah mengubah tradisi tutur masyarakat Jawa ketika itu. Bahkan, tokoh-tokoh nasional seperti Soekarno disebut pula sebagai pembaca terbitan TKS Kediri. Salah satunya tentang ramalan Jangka Jayabaya. Ramalan itu Soekarno gunakan memperkuat pledoinya-yang berjudul Indonesia Menggugat-saat disidang dengan tuduhan makar.

Presiden pertama Indonesia itu menyebut tentang hadirnya Ratu Adil yang kemudian menumbuhkan semangat bagi rakyat Indonesia untuk merdeka dari penjajahan Belanda. Dari pledoi itulah, penggiat Komunitas Budayawan Eling Handarbeni Hangrupkepi Upaya Madya (Edhum) Kota Kediri Achamad Zainal Fachris meyakini Soekarno juga membaca karya terbitan TKS Kediri.

Baca Juga :  Penonton Bioskop di Kediri Masih Dibatasi 70 Persen

“Karya tentang Ramalan Jangka Jayabaya itu banyak diproduksi oleh Boekhandel TKS Kediri,” terangnya.

Dia menjelaskan, karya-karya yang lahir dari TKS Kediri banyak lahir dari pustaka Keraton Solo yang dicetak dengan ukuran tipis dan harganya murah. Lahirnya karya-karya besar di TKS Kediri ini tidak lepas dari penulis ternama pada masanya. Pujangga Jawa yang ikut berkontribusi di penerbitan adalah Ronggowarsito, Yosodipuro, hingga Mangkoenagoro IV. Alasan itulah yang membuat karya-karya TKS Kediri mampu menciptakan karya yang berat.

“Tidak hanya sastra Jawa, tulisan tentang obat-obatan pun ada di sana,” lanjut Fachris.

Tema-tema lainnya adalah ilmu-ilmu kehidupan, teologi, hingga ramalan-ramalan. Seperti teologi, karya yang pernah dicetak di penerbitan TKS Kediri ini adalah Kawruh Theosofi, Riwayat Nabi Kongucu, Kitab Tarekat, hingga Sukmowiworo dan Kawruh Pekih.

Baca Juga :  Kuliah Daring Kevin dan Alif, Dua Mahasiswa Tiongkok asal Kediri

Bahkan koleksi pustaka Keraton Solo di TKS Kediri lantaran penulis pujangga Solo modern penerus Ronggowarsito seperti adalah Ki Padmosusastro. Lainnya seperi Mangunwidjojo dan Tanojo. “Ketika menulis, mereka datang ke Kediri hingga berbulan-bulan,” ujar Fachris.

Dia menambahkan, Ki Padmosusatro ini pernah memimpin museum tertua Radyapustaka Solo dengan nama Ngabehi Wirapustaka. Semasa muda ia pernah mendalami ilmu ke Leiden, Belanda. Ketika berkerjama dengan TKS Kediri dia menerbitkan koran Djawi Khanda pada 1886. Tidak aneh bila kemudian terbitan TKS Kediri ini banyak ditemukan di Leiden.

Menurut Fachris, sampai sekarang terbitan TKS ini masih bisa ditemukan di Leiden. Selain itu, masih banyak orang dari luar negari yang mendatangi Kediri untuk mendalami Tan Khoen Swie. (rq/fud/bersambung)

- Advertisement -

Kota Kediri pernah punya penerbitan ternama. Yang mewarnai khasanan literasi di akhir abad 19. Penerbit itu bernama Boekhandel Tan Khoen Swie. Lokasinya, di Jalan Dhoho.

 

Balai Pustaka adalah penerbit nasional yang menghasilkan karya-karya bernilai sastra tinggi. Penerbit ini baru lahir pada 1920. Padahal, TKS-kependekan Tan Khoen Swie-sudah menerbitkan buku sejak 1915. Buku-buku yang diterbitkan  telah beredar luas hingga penerbitan ini tutup pada 1950.

Hadirnya penerbitan TKS ini telah mengubah tradisi tutur masyarakat Jawa ketika itu. Bahkan, tokoh-tokoh nasional seperti Soekarno disebut pula sebagai pembaca terbitan TKS Kediri. Salah satunya tentang ramalan Jangka Jayabaya. Ramalan itu Soekarno gunakan memperkuat pledoinya-yang berjudul Indonesia Menggugat-saat disidang dengan tuduhan makar.

Presiden pertama Indonesia itu menyebut tentang hadirnya Ratu Adil yang kemudian menumbuhkan semangat bagi rakyat Indonesia untuk merdeka dari penjajahan Belanda. Dari pledoi itulah, penggiat Komunitas Budayawan Eling Handarbeni Hangrupkepi Upaya Madya (Edhum) Kota Kediri Achamad Zainal Fachris meyakini Soekarno juga membaca karya terbitan TKS Kediri.

Baca Juga :  PT KAI Perbaiki Jembatan, Kereta Pagi Terlambat

“Karya tentang Ramalan Jangka Jayabaya itu banyak diproduksi oleh Boekhandel TKS Kediri,” terangnya.

Dia menjelaskan, karya-karya yang lahir dari TKS Kediri banyak lahir dari pustaka Keraton Solo yang dicetak dengan ukuran tipis dan harganya murah. Lahirnya karya-karya besar di TKS Kediri ini tidak lepas dari penulis ternama pada masanya. Pujangga Jawa yang ikut berkontribusi di penerbitan adalah Ronggowarsito, Yosodipuro, hingga Mangkoenagoro IV. Alasan itulah yang membuat karya-karya TKS Kediri mampu menciptakan karya yang berat.

“Tidak hanya sastra Jawa, tulisan tentang obat-obatan pun ada di sana,” lanjut Fachris.

Tema-tema lainnya adalah ilmu-ilmu kehidupan, teologi, hingga ramalan-ramalan. Seperti teologi, karya yang pernah dicetak di penerbitan TKS Kediri ini adalah Kawruh Theosofi, Riwayat Nabi Kongucu, Kitab Tarekat, hingga Sukmowiworo dan Kawruh Pekih.

Baca Juga :  CSR PG Ngadiredjo Bagikan Ribuan Paket Gula

Bahkan koleksi pustaka Keraton Solo di TKS Kediri lantaran penulis pujangga Solo modern penerus Ronggowarsito seperti adalah Ki Padmosusastro. Lainnya seperi Mangunwidjojo dan Tanojo. “Ketika menulis, mereka datang ke Kediri hingga berbulan-bulan,” ujar Fachris.

Dia menambahkan, Ki Padmosusatro ini pernah memimpin museum tertua Radyapustaka Solo dengan nama Ngabehi Wirapustaka. Semasa muda ia pernah mendalami ilmu ke Leiden, Belanda. Ketika berkerjama dengan TKS Kediri dia menerbitkan koran Djawi Khanda pada 1886. Tidak aneh bila kemudian terbitan TKS Kediri ini banyak ditemukan di Leiden.

Menurut Fachris, sampai sekarang terbitan TKS ini masih bisa ditemukan di Leiden. Selain itu, masih banyak orang dari luar negari yang mendatangi Kediri untuk mendalami Tan Khoen Swie. (rq/fud/bersambung)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/