24.4 C
Kediri
Saturday, October 1, 2022

Sebagai ‘Tempat Ibadah’ Kedua

- Advertisement -

Bagi para relawan, menolong sesama adalah sesuatu yang sakral. Karena memupuk sikap tenggang rasa hingga berbagi ke sesama. “Menjadi sukarelawan itu lebih seperti tempat ibadah kedua saya. Yaitu untuk beramal dan membantu,” kata sukarelawan PMI Kediri Zainal.

Lelaki yang menjadi sukarelawan PMI sejak 2011 ini mengatakan, kegiatan yang dilakukannya sudah pasti menguras tenaga dan waktu. Namun hal itu dilakukan dengan senang hati. Karena baginya saling membantu ibarat beribadah.

Lelaki 28 tahun ini melatih jiwa sosialnya sejak duduk di kelas 10 SMK 1 PGRI. “Sampai sekarang Alhamdulillah masih terus ikut menjadi sukarelawan,” terangnya.

Lelah, sudah pasti. Namun lelaki yang akrab dipanggil Bang J atau Tamtam ini mengatakan rasa lelah itu seolah hilang. Karena menjadi bagian sukarelawan itu adalah suatu kebanggaan dan penghargaan. “Kalau yang kita lakukan didasari rasa senang dan ikhlas, sudah pasti kayak nggak terasa capeknya,” akunya.

Baca Juga :  Sing Lanang Caper, Sing Wedok Baper

Apalagi, kegiatan Sukarelawan PMI yang ia ikuti, tidak melulu tentang donor darah saja. Zainal beberapa kali ikut diturukan di lapangan untuk kegiatan membantu aksi kemanusiaan. Seperti bencana Kelud 2014 dan bencana gempa dan banjir di beberapa daerah seperti Malang dan Tulungagung.

- Advertisement -

“Aksi kemanusiaan tidak terbatas tempat, suku, ras, dan budaya. Apabila ada orang yang membutuhkan saat itu juga pasti akan dibantu bila kita bisa,” papar Zainal.

Bahkan, tidak lepas dari PMI yang identik dengan donor darah, para pendonor pun bisa dikategorikan sebagai sukarelawan. Karena setetes darah yang diberikan, bisa membantu orang lain. Karena Prinsip dasar dari Palang Merah adalah membantu.

Baca Juga :  Belasan Hektare Padi di Kabupaten Kediri Terancam Gagal Panen

Seperti saat Gunung Semeru erupsi di akhir 2021 lalu, relawan dari PMI Kabupaten Kediri turut serta mengulurkan bantuan. Tak hanya makanan dan minuman, juga tenaga yang ditempatkan di dapur umum.

Sementara, aktivitas donor darah juga menjadi nyawa PMI. Kegiatan ini ditopang oleh relawan dari berbagai kelompok masyarakat. “Yang donor darah itu dari organisasi dan instansi. Ada juga dari kelompok-kelompok masyarakat, seperti pencak silat,” beber Triatmono, saat ditemui di kantor PMI di Jl Dr Wahidin Sudiro Husodo, Desa Pelem, Kecamatan Pare.






Reporter: Iqbal Syahroni
- Advertisement -

Bagi para relawan, menolong sesama adalah sesuatu yang sakral. Karena memupuk sikap tenggang rasa hingga berbagi ke sesama. “Menjadi sukarelawan itu lebih seperti tempat ibadah kedua saya. Yaitu untuk beramal dan membantu,” kata sukarelawan PMI Kediri Zainal.

Lelaki yang menjadi sukarelawan PMI sejak 2011 ini mengatakan, kegiatan yang dilakukannya sudah pasti menguras tenaga dan waktu. Namun hal itu dilakukan dengan senang hati. Karena baginya saling membantu ibarat beribadah.

Lelaki 28 tahun ini melatih jiwa sosialnya sejak duduk di kelas 10 SMK 1 PGRI. “Sampai sekarang Alhamdulillah masih terus ikut menjadi sukarelawan,” terangnya.

Lelah, sudah pasti. Namun lelaki yang akrab dipanggil Bang J atau Tamtam ini mengatakan rasa lelah itu seolah hilang. Karena menjadi bagian sukarelawan itu adalah suatu kebanggaan dan penghargaan. “Kalau yang kita lakukan didasari rasa senang dan ikhlas, sudah pasti kayak nggak terasa capeknya,” akunya.

Baca Juga :  Belasan Hektare Padi di Kabupaten Kediri Terancam Gagal Panen

Apalagi, kegiatan Sukarelawan PMI yang ia ikuti, tidak melulu tentang donor darah saja. Zainal beberapa kali ikut diturukan di lapangan untuk kegiatan membantu aksi kemanusiaan. Seperti bencana Kelud 2014 dan bencana gempa dan banjir di beberapa daerah seperti Malang dan Tulungagung.

“Aksi kemanusiaan tidak terbatas tempat, suku, ras, dan budaya. Apabila ada orang yang membutuhkan saat itu juga pasti akan dibantu bila kita bisa,” papar Zainal.

Bahkan, tidak lepas dari PMI yang identik dengan donor darah, para pendonor pun bisa dikategorikan sebagai sukarelawan. Karena setetes darah yang diberikan, bisa membantu orang lain. Karena Prinsip dasar dari Palang Merah adalah membantu.

Baca Juga :  Produksi Padi Naik Ratusan Ton

Seperti saat Gunung Semeru erupsi di akhir 2021 lalu, relawan dari PMI Kabupaten Kediri turut serta mengulurkan bantuan. Tak hanya makanan dan minuman, juga tenaga yang ditempatkan di dapur umum.

Sementara, aktivitas donor darah juga menjadi nyawa PMI. Kegiatan ini ditopang oleh relawan dari berbagai kelompok masyarakat. “Yang donor darah itu dari organisasi dan instansi. Ada juga dari kelompok-kelompok masyarakat, seperti pencak silat,” beber Triatmono, saat ditemui di kantor PMI di Jl Dr Wahidin Sudiro Husodo, Desa Pelem, Kecamatan Pare.






Reporter: Iqbal Syahroni

Artikel Terkait

Most Read

Ampas Kopi Itu Bisa Jadi Uang

Megengan Pandemi

Tiga Makam di Puncak Bukit Maskumambang


Artikel Terbaru

/