24.4 C
Kediri
Saturday, October 1, 2022

Memupuk Jiwa Sosial melalui Palang Merah Remaja

- Advertisement -

Semangat dan jiwa sosial di kalangan pemuda ternyata belum surut. Setidaknya dilihat dari keberadaan palang merah remaja. Setiap tahun ada peningkatan anggota, meskipun tidak banyak.

Bila berbicara garda depan kemanusiaan, Palang Merah Indonesia (PMI) adalah salah satunya. Mereka berisi para relawan yang siap diterjunkan pada kondisi kedaruratan. Terutama bila ada bencana alam.

Nah, memupuk jiwa sosial seperti itu harus dilakukan sejak dini. Salah satunya adalah melalui organisasi palang merah remaja (PMR). Hebatnya, minat generasi muda menjadi anggota PMR tak pernah surut.

“Trennya selalu naik. Meskipun tidak banyak namun tetap ada,” terang Sekretaris PMI Kabupaten Kediri Triatmono Wahyoe Soepriyadi.

Sinyalemen lelaki yang disapa Triatmono itu bisa dilihat dari latihan dasar (latsar) yang digelar. Setiap tahunnya, latsar bisa berlangsung berkali-kali. Baik kepada murid TK, SD, SMP, hingga SMA. Dari sinilah pemupukan jiwa sosial itu bermula. Sebab, latsar juga berisi ajaran untuk menolong sesama dan melatih tanggung jawab.

Baca Juga :  Terobosan Bagus Antono Berantas Hama Jagung dan Cabai
(Ilustrasi: Afrizal)
- Advertisement -

“Karena setiap saat pasti akan ada yang butuh pertolongan. Meningkatkan rasa empati, dan menggerakkan kebiasaan tolong-menolong ini yang harus ditingkatkan,” tandas Triatmono.

Hal itu juga diamini oleh Pengurus PMR Kabupaten Kediri Indomi Jusprabowo. Sebelum melangkah ke kegiatan bantuan besar, yang perlu dilakukan adalah memupuk sikap tolong-menolong.

Menurut guru MTsN 1 Pare ini, selama belasan tahun menjadi pembina PMR di Kabupaten Kediri, angka peminatnya terus meningkat. “Contohnya di MTsN 1 Pare. Kami tidak pernah merekrut, hanya membuka pendaftaran. Tapi, selalu banyak yang ikut. Tahun ini saja sekitar 300,” katanya.

Antusiasme yang tinggi itu membuat PMR di MTsN 1 Pare kerap menjadi model. Sering mengikuti perlombaan PMR di Indonesia dan keluar sebagai juara.

Domi yakin seiring berkembangnya zaman, PMR sebagai gerbang utama menjadi sukarelawan akan terus berkembang. Jumlahnya bakal meningkat.  Asalkan dengan kegiatan yang jelas, dan pengarahan yang tepat. “Tidak semata-mata akan diadakan kegiatan ketika ada lomba saja. Namun setiap ada waktu juga terus ditanamkan rasa kemanusiaan. Orang butuh bantuan itu tidak mengenal waktu, bisa setiap saat,” papar lelaki berkacamata itu.

Baca Juga :  NLFC Terbentur Tembok Tebal PSBI Blitar

Hal serupa juga terjadi di SMAN 1 Pare. Di sekolah ini PMR-nya juga menggeliat. “Kami tengah bersiap mengikuti Jumbara,” aku Ketua PMR SMAN 1 Pare Rahayu Ningtiyas.

Jumbara adalah wahana bertemunya PMR. Tahun ini, kegiatan akan berlangsung di Kecamatan Gurah, selama tiga hari tiga malam. Di ajang ini bakal ada beberapa lomba ketangkasan. Seperti pertolongan pertama, pasang bongkar tenda, kepalangmerahan, kepemimpinan, hingga Ayo Siaga Bencana (ASB). Tak lupa, ada pula kegiatan donor darah.

Tahun ini, anggota PMR di SMAN 1 Pare sebanyak 58 orang. Menurut Rahayu, agar PMR tetap eksis dan diminati oleh siswa, perlu kekompakan, keterbukaan, dan loyalitas antara pengurus dan anggota.






Reporter: Iqbal Syahroni
- Advertisement -

Semangat dan jiwa sosial di kalangan pemuda ternyata belum surut. Setidaknya dilihat dari keberadaan palang merah remaja. Setiap tahun ada peningkatan anggota, meskipun tidak banyak.

Bila berbicara garda depan kemanusiaan, Palang Merah Indonesia (PMI) adalah salah satunya. Mereka berisi para relawan yang siap diterjunkan pada kondisi kedaruratan. Terutama bila ada bencana alam.

Nah, memupuk jiwa sosial seperti itu harus dilakukan sejak dini. Salah satunya adalah melalui organisasi palang merah remaja (PMR). Hebatnya, minat generasi muda menjadi anggota PMR tak pernah surut.

“Trennya selalu naik. Meskipun tidak banyak namun tetap ada,” terang Sekretaris PMI Kabupaten Kediri Triatmono Wahyoe Soepriyadi.

Sinyalemen lelaki yang disapa Triatmono itu bisa dilihat dari latihan dasar (latsar) yang digelar. Setiap tahunnya, latsar bisa berlangsung berkali-kali. Baik kepada murid TK, SD, SMP, hingga SMA. Dari sinilah pemupukan jiwa sosial itu bermula. Sebab, latsar juga berisi ajaran untuk menolong sesama dan melatih tanggung jawab.

Baca Juga :  Dedikasi Supriyono untuk Olahraga Renang Kota Kediri
(Ilustrasi: Afrizal)

“Karena setiap saat pasti akan ada yang butuh pertolongan. Meningkatkan rasa empati, dan menggerakkan kebiasaan tolong-menolong ini yang harus ditingkatkan,” tandas Triatmono.

Hal itu juga diamini oleh Pengurus PMR Kabupaten Kediri Indomi Jusprabowo. Sebelum melangkah ke kegiatan bantuan besar, yang perlu dilakukan adalah memupuk sikap tolong-menolong.

Menurut guru MTsN 1 Pare ini, selama belasan tahun menjadi pembina PMR di Kabupaten Kediri, angka peminatnya terus meningkat. “Contohnya di MTsN 1 Pare. Kami tidak pernah merekrut, hanya membuka pendaftaran. Tapi, selalu banyak yang ikut. Tahun ini saja sekitar 300,” katanya.

Antusiasme yang tinggi itu membuat PMR di MTsN 1 Pare kerap menjadi model. Sering mengikuti perlombaan PMR di Indonesia dan keluar sebagai juara.

Domi yakin seiring berkembangnya zaman, PMR sebagai gerbang utama menjadi sukarelawan akan terus berkembang. Jumlahnya bakal meningkat.  Asalkan dengan kegiatan yang jelas, dan pengarahan yang tepat. “Tidak semata-mata akan diadakan kegiatan ketika ada lomba saja. Namun setiap ada waktu juga terus ditanamkan rasa kemanusiaan. Orang butuh bantuan itu tidak mengenal waktu, bisa setiap saat,” papar lelaki berkacamata itu.

Baca Juga :  Aqsa dan Azzahra, Siswa MAN 2 Kota Kediri Raih Medali IYSEI Malaysia

Hal serupa juga terjadi di SMAN 1 Pare. Di sekolah ini PMR-nya juga menggeliat. “Kami tengah bersiap mengikuti Jumbara,” aku Ketua PMR SMAN 1 Pare Rahayu Ningtiyas.

Jumbara adalah wahana bertemunya PMR. Tahun ini, kegiatan akan berlangsung di Kecamatan Gurah, selama tiga hari tiga malam. Di ajang ini bakal ada beberapa lomba ketangkasan. Seperti pertolongan pertama, pasang bongkar tenda, kepalangmerahan, kepemimpinan, hingga Ayo Siaga Bencana (ASB). Tak lupa, ada pula kegiatan donor darah.

Tahun ini, anggota PMR di SMAN 1 Pare sebanyak 58 orang. Menurut Rahayu, agar PMR tetap eksis dan diminati oleh siswa, perlu kekompakan, keterbukaan, dan loyalitas antara pengurus dan anggota.






Reporter: Iqbal Syahroni

Artikel Terkait

Most Read

Ampas Kopi Itu Bisa Jadi Uang

Megengan Pandemi

Tiga Makam di Puncak Bukit Maskumambang


Artikel Terbaru

/