24.3 C
Kediri
Wednesday, June 29, 2022

Yaya – Oca, Kakak Beradik Terjuni Balap Sepeda

Banyak yang dipertaruhkan oleh adik-kakak ini ketika nekat menggeluti balap sepeda. Mulai sepeda rusak hingga tubuh memar-memar. Toh, tak menghalangi mereka mengoleksi medali juara.

 

IQBAL SYAHRONI, Kabupaten, JP Radar Kediri

 

Suara ban sepeda yang memutar di bike trainer terdengar nyaring. Datang dari halaman rumah berpagar coklat di Desa Tawang, Kecamatan Wates. Roda-roda itu berputar cepat karena kayuhan kaki dua gadis berwajah cantik.

“(Seharusnya) latihan rutin sore hari. Karena hujan, berlatih di roll saja,” ucap salah seorang di antaranya.

Yang berucap itu biasa dipanggil Yaya. Panggilan yang diambil dari kata depan namanya. Sedangkan nama lengkapnya adalah Yaya Yufinda. Sedangkan yang seorang lagi adalah Teerea Mozza, yang sapaannya adalah Oca. Dua gadis ini adalah kakak-beradik. Yang kebetulan punya hobi sama, bersepeda.

Hujan yang sering turun di sore hari sedikit mengganggu latihan mereka. Padahal, saat ini keduanya tengah mempersiapkan diri mengikuti roadbike yang berlangsung hari ini di Tamanan, Wates. Lomba itu digelar oleh Ikatan Sepeda Sport Indonesia (ISSI) Kabupaten Kediri. Jadilah mereka berlatih di halaman rumah pamannya itu.

Saat berlatih itu, Yaya-Oca terlihat kompak. Tapi, jangan mengira di arena mereka tak saling berkompetisi jadi yang terbaik. Memang, keseriusan menjadi nama tengah mereka. Dalam setiap lomba, keduanya berusaha keras menjadi yang terbaik. Wajar bila kemudian sederet prestasi sudah mereka persembahkan.

Baca Juga :  Kejari Kabupaten Nganjuk Ajak Siswa SMAN 1 Patianrowo Cegah Bullying

“Saya (terjun di olahraga sepeda) lebih dahulu. Adik  baru satu tahunan,” ujar perempuan berambut panjang itu.

Pelajar berusia 16 tahun ini mengatakan, hobi bersepeda balap baru dia jalani 2017. Tepatnya saat duduk di bangku kelas 7 SMP.

Awalnya, Yaya malah menekuni sepeda BMX. Lalu beralih ke mountain bike (MTB). Baru terakhir beralih ke roadbike. “Lomba pertama yang diikuti menggunakan BMX. Lalu downhill menggunakan MTB, menuruni bukit di Sedudo,” ceritanya.

Anak pertama dari dua bersaudara itu mengatakan, kegemaran bersepedanya berawal saat dia diajak oleh pelatih basket. Bersama dengan teman-teman SMP yang satu tim basket, dia bersepeda. Mulai Wates hingga Kelud.

Ya, dulu Yaya memilih basket untuk ditekuni. Sebelum akhirnya memutuskan ke sepeda sport. “Lebih seru dan banyak tantangan,” ujarnya beralasan.

Tantangan ekstrem bersepeda memang menjadi daya tarik tersendiri. Apalagi ketika dulu sering melewati jalur ekstrem di pegunungan. Pilihannya ke olahraga sepeda kian menguat karena dukungan kedua orang tuanya.

Punya kisah duka? Yaya tertawa kecil. Ada sedikit gurat malu yang terlihat di wajahnya mendapat pertanyaan itu.

“Paling parah ya pas menabrak batu saat downhill,” kenangnya.

Baca Juga :  Kaki Kanan Patah, Dinsos Tampung di Rumah Singgah

Insiden itu membuat bengkak kakinya. Sampai harus di-rontgen dan istirahat hingga 3 minggu. Selain kejadian tersebut, Yaya juga pernah jatuh ke jurang ataupun crash dengan pesepeda lain.

Setali tiga wang, Oca pun memiliki kisah serupa. Bahkan, ada luka di dahi yang masih terbalut perban kemarin. Luka itu dia dapat ketika berlatih roadbike Minggu (13/3).

Meski seringkali terjatuh dan berdarah-darah, semangat juang keduanya tak mudah patah. Hasilnya pun terlihat. Banyak prestasi mereka raih. Mulai dari kejuaraan provinsi (kejurprov) yang dilombakan oleh ISSI di Tuban pada 2018 hingga pekan olahraga provinsi (porprov). Terbaru adalah Porprov Jatim 2021 yang berlangsung di Tulungagung dan di Magetan.

Dalam kejuaraan itu Yaya mengantongi emas, perak, dan perunggu sekaligus. Sedangkan Oca, yang baru pertama ikut, menyabet medali perunggu.

Februari lalu mereka mengikuti open bike di Surabaya dan Mojokerto. Di kejuaraan berlevel nasional ini, Yaya menyabet medali perunggu.

“Target porprov tahun ini, juga mendapatkan medali,” ujarnya bersemangat.

Semangat itu diimbangi oleh seriusnya dia berlatih sore itu. Ditemani ibunya, Yudin Fitriani, dan pamannya, Heru, keduanya terus menjajal batas kemampuannya. Ditimpali oleh sorak anak-anak pemberi semangat, suasana latihan pun terasa ceria. Meskipun mendung menggelayut di langit.(fud)

- Advertisement -

Banyak yang dipertaruhkan oleh adik-kakak ini ketika nekat menggeluti balap sepeda. Mulai sepeda rusak hingga tubuh memar-memar. Toh, tak menghalangi mereka mengoleksi medali juara.

 

IQBAL SYAHRONI, Kabupaten, JP Radar Kediri

 

Suara ban sepeda yang memutar di bike trainer terdengar nyaring. Datang dari halaman rumah berpagar coklat di Desa Tawang, Kecamatan Wates. Roda-roda itu berputar cepat karena kayuhan kaki dua gadis berwajah cantik.

“(Seharusnya) latihan rutin sore hari. Karena hujan, berlatih di roll saja,” ucap salah seorang di antaranya.

Yang berucap itu biasa dipanggil Yaya. Panggilan yang diambil dari kata depan namanya. Sedangkan nama lengkapnya adalah Yaya Yufinda. Sedangkan yang seorang lagi adalah Teerea Mozza, yang sapaannya adalah Oca. Dua gadis ini adalah kakak-beradik. Yang kebetulan punya hobi sama, bersepeda.

Hujan yang sering turun di sore hari sedikit mengganggu latihan mereka. Padahal, saat ini keduanya tengah mempersiapkan diri mengikuti roadbike yang berlangsung hari ini di Tamanan, Wates. Lomba itu digelar oleh Ikatan Sepeda Sport Indonesia (ISSI) Kabupaten Kediri. Jadilah mereka berlatih di halaman rumah pamannya itu.

Saat berlatih itu, Yaya-Oca terlihat kompak. Tapi, jangan mengira di arena mereka tak saling berkompetisi jadi yang terbaik. Memang, keseriusan menjadi nama tengah mereka. Dalam setiap lomba, keduanya berusaha keras menjadi yang terbaik. Wajar bila kemudian sederet prestasi sudah mereka persembahkan.

Baca Juga :  Mas Novi Resmi Kantongi Rekom dari DPP PKB

“Saya (terjun di olahraga sepeda) lebih dahulu. Adik  baru satu tahunan,” ujar perempuan berambut panjang itu.

Pelajar berusia 16 tahun ini mengatakan, hobi bersepeda balap baru dia jalani 2017. Tepatnya saat duduk di bangku kelas 7 SMP.

Awalnya, Yaya malah menekuni sepeda BMX. Lalu beralih ke mountain bike (MTB). Baru terakhir beralih ke roadbike. “Lomba pertama yang diikuti menggunakan BMX. Lalu downhill menggunakan MTB, menuruni bukit di Sedudo,” ceritanya.

Anak pertama dari dua bersaudara itu mengatakan, kegemaran bersepedanya berawal saat dia diajak oleh pelatih basket. Bersama dengan teman-teman SMP yang satu tim basket, dia bersepeda. Mulai Wates hingga Kelud.

Ya, dulu Yaya memilih basket untuk ditekuni. Sebelum akhirnya memutuskan ke sepeda sport. “Lebih seru dan banyak tantangan,” ujarnya beralasan.

Tantangan ekstrem bersepeda memang menjadi daya tarik tersendiri. Apalagi ketika dulu sering melewati jalur ekstrem di pegunungan. Pilihannya ke olahraga sepeda kian menguat karena dukungan kedua orang tuanya.

Punya kisah duka? Yaya tertawa kecil. Ada sedikit gurat malu yang terlihat di wajahnya mendapat pertanyaan itu.

“Paling parah ya pas menabrak batu saat downhill,” kenangnya.

Baca Juga :  Ogah Jadi CPNS, Dokter Pilih Mengundurkan Diri

Insiden itu membuat bengkak kakinya. Sampai harus di-rontgen dan istirahat hingga 3 minggu. Selain kejadian tersebut, Yaya juga pernah jatuh ke jurang ataupun crash dengan pesepeda lain.

Setali tiga wang, Oca pun memiliki kisah serupa. Bahkan, ada luka di dahi yang masih terbalut perban kemarin. Luka itu dia dapat ketika berlatih roadbike Minggu (13/3).

Meski seringkali terjatuh dan berdarah-darah, semangat juang keduanya tak mudah patah. Hasilnya pun terlihat. Banyak prestasi mereka raih. Mulai dari kejuaraan provinsi (kejurprov) yang dilombakan oleh ISSI di Tuban pada 2018 hingga pekan olahraga provinsi (porprov). Terbaru adalah Porprov Jatim 2021 yang berlangsung di Tulungagung dan di Magetan.

Dalam kejuaraan itu Yaya mengantongi emas, perak, dan perunggu sekaligus. Sedangkan Oca, yang baru pertama ikut, menyabet medali perunggu.

Februari lalu mereka mengikuti open bike di Surabaya dan Mojokerto. Di kejuaraan berlevel nasional ini, Yaya menyabet medali perunggu.

“Target porprov tahun ini, juga mendapatkan medali,” ujarnya bersemangat.

Semangat itu diimbangi oleh seriusnya dia berlatih sore itu. Ditemani ibunya, Yudin Fitriani, dan pamannya, Heru, keduanya terus menjajal batas kemampuannya. Ditimpali oleh sorak anak-anak pemberi semangat, suasana latihan pun terasa ceria. Meskipun mendung menggelayut di langit.(fud)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/