23.8 C
Kediri
Sunday, June 26, 2022

Sugiono, Kitman Persik Kediri yang Bikin Grup Dangdut

Merintis sebagai ballboy di Persik Kediri sejak 1999 lalu menjadi kitman di klub tersebut tidak membuat Sugiono mengesampingkan hobinya: bermusik dangdut. Berawal sebagai penikmat, kini dia memiliki grup orkes sendiri.

 

IQBAL SYAHRONI, KOTA, JP Radar Kediri

 

Malam yang dingin di RT 26/RW 5, Lingkungan Majekan, Kelurahan / Kecamatan Pesantren, Kota Kediri berubah menjadi lebih hangat ketika beberapa pemuda berkumpul di rumah Sugiono, Minggu (15/12). Mereka hendak berlatih di rumah yang difungsikan sebagai studio musik tersebut.

Beberapa menit menyetel gitar, bas, drum, dan ketipung, terdengarlah alunan irama yang rancak. Lirik “Kartonyono Medhot Janji” yang dipopulerkan Denny Caknan pun mengalir dari grup bentukan Sugiono itu.

Tapi, sesekali mereka menghentikan permainan musiknya. “Kalau ada yang rasanya kurang, langsung diperbaiki. Berhenti dulu,” ujar Sugik –pangggilan akrab Sugiono—kepada Jawa Pos Radar Kediri.

New Armaka, begitu lelaki 46 tahun ini menyebut nama grup orkes dangdut yang dibentuknya. Dia mendirikan Juli 2017. Sudah dua tahun lebih. “Dulunya sudah ada,” kisahnya.

Belasan tahun lalu. Namun, saat itu hanya sebagai sarana untuk menyalurkan hobi pemuda setempat dalam bermusik. Makanya, latihan pun dilakukan sesempatnya. Sesukanya. “Armaka itu singkatan dari Arek Majekan,” sambung Sugik.

Baca Juga :  Panasi Mesin dalam Laga Pra Musim di Malang

Karena ingin lebih serius, dia pun berinisiatif untuk menjadikannya sebagai grup orkes yang lebih profesional. Personel-personel lama dikumpulkan. Ternyata gayung bersambut. Mereka sepakat menghidupkan grup tersebut. “Namanya jadi New Armaka,” lanjut lelaki yang juga ketua RW 05 Lingkungan Majekan ini.

Dua tahun merintis kembali grup tersebut, Sugik dkk semakin dikenal. Undangan tampil pun mulai berdatangan. Mulai dari even rumahan hingga yang lebih besar. Bahkan, akhir tahun ini mereka sudah mengikat kontrak dengan salah satu perusahaan rokok luar kota.

Walau demikian, di tengah kesibukannya sebagai pimpinan grup orkes dangdut, Sugik tak melepaskan pekerjaannya sebagai kitman di Persik Kediri. Juga, sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Kediri. “Sepak bola itu sudah jiwa saya,” katanya.

Sejak kecil dia jatuh cinta pada olahraga tersebut. Bahkan, Sugik pernah bermain sebagai bek kanan di Sekolah Sepakbola (SSB) Indonesia Muda. “Sepakbola terus jalan, dangdutan juga jalan,” ucapnya.

Lalu bagaimana untuk membagi waktu? Sugik sudah membuat konsep dengan matang. Dia meminta istrinya untuk meng-handle grup dangdut tersebut jika dirinya sedang mengikuti Persik away ke kota lain. Ada frontman New Armaka yang membantu.

Baca Juga :  Adi Satryo Kiper Persik Kediri Sudah Beraktivitas Normal

Sebagai kitman Macan Putih, yang diurusi Sugik sangat berbeda dengan grup musiknya. Dia harus menyiapkan segala kebutuhan tim. Termasuk mencuci dan mengeringkan jersey para pemain.

Tak jarang, jika sedang away, kamar hotel yang ditempatinya penuh dengan jersey pemain yang dia jemur! Dulu, dia mencuci dan mengeringkannya secara manual dengan tangan. “Tapi, berkat Persik, saya bisa ikut ke mana-mana. Mulai dari Surabaya, hingga Jepang dan Australia,” katanya bersyukur.

Kini, kalaupun mencuci dan mengeringkan, Sugik bisa melakukannya dengan mesin cuci. Selain itu, mulai 2016 sudah ada asisten yang membantunya. “Semua dijalani dengan enjoy saja,” sambungnya tentang resep setia pada Macan Putih.  

Ya, tidak seperti lirik lagu yang sedang dinyanyikannya malam itu, Sugik tak akan medhot janji dengan Persik. Ditingkah gerimis yang masih jatuh di luar studio mini berukuran 3×6 meter, suara Sugik kembali mengalun mengakhiri wawancara dengan koran ini.

“Mbiyen aku jik betah, suwe-suwe wegah. Nuruti kekarepanmu sansaya bubrah. Mbiyen wis tak wanti-wanti, aja ngasi lali. Tapi kenyataannya pergi..” Pada Macan Putih, Sugik tak seperti itu.

- Advertisement -

Merintis sebagai ballboy di Persik Kediri sejak 1999 lalu menjadi kitman di klub tersebut tidak membuat Sugiono mengesampingkan hobinya: bermusik dangdut. Berawal sebagai penikmat, kini dia memiliki grup orkes sendiri.

 

IQBAL SYAHRONI, KOTA, JP Radar Kediri

 

Malam yang dingin di RT 26/RW 5, Lingkungan Majekan, Kelurahan / Kecamatan Pesantren, Kota Kediri berubah menjadi lebih hangat ketika beberapa pemuda berkumpul di rumah Sugiono, Minggu (15/12). Mereka hendak berlatih di rumah yang difungsikan sebagai studio musik tersebut.

Beberapa menit menyetel gitar, bas, drum, dan ketipung, terdengarlah alunan irama yang rancak. Lirik “Kartonyono Medhot Janji” yang dipopulerkan Denny Caknan pun mengalir dari grup bentukan Sugiono itu.

Tapi, sesekali mereka menghentikan permainan musiknya. “Kalau ada yang rasanya kurang, langsung diperbaiki. Berhenti dulu,” ujar Sugik –pangggilan akrab Sugiono—kepada Jawa Pos Radar Kediri.

New Armaka, begitu lelaki 46 tahun ini menyebut nama grup orkes dangdut yang dibentuknya. Dia mendirikan Juli 2017. Sudah dua tahun lebih. “Dulunya sudah ada,” kisahnya.

Belasan tahun lalu. Namun, saat itu hanya sebagai sarana untuk menyalurkan hobi pemuda setempat dalam bermusik. Makanya, latihan pun dilakukan sesempatnya. Sesukanya. “Armaka itu singkatan dari Arek Majekan,” sambung Sugik.

Baca Juga :  Ketika Satu Keluarga Pertahankan Keahlian Pijat Sangkal Putung

Karena ingin lebih serius, dia pun berinisiatif untuk menjadikannya sebagai grup orkes yang lebih profesional. Personel-personel lama dikumpulkan. Ternyata gayung bersambut. Mereka sepakat menghidupkan grup tersebut. “Namanya jadi New Armaka,” lanjut lelaki yang juga ketua RW 05 Lingkungan Majekan ini.

Dua tahun merintis kembali grup tersebut, Sugik dkk semakin dikenal. Undangan tampil pun mulai berdatangan. Mulai dari even rumahan hingga yang lebih besar. Bahkan, akhir tahun ini mereka sudah mengikat kontrak dengan salah satu perusahaan rokok luar kota.

Walau demikian, di tengah kesibukannya sebagai pimpinan grup orkes dangdut, Sugik tak melepaskan pekerjaannya sebagai kitman di Persik Kediri. Juga, sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Kediri. “Sepak bola itu sudah jiwa saya,” katanya.

Sejak kecil dia jatuh cinta pada olahraga tersebut. Bahkan, Sugik pernah bermain sebagai bek kanan di Sekolah Sepakbola (SSB) Indonesia Muda. “Sepakbola terus jalan, dangdutan juga jalan,” ucapnya.

Lalu bagaimana untuk membagi waktu? Sugik sudah membuat konsep dengan matang. Dia meminta istrinya untuk meng-handle grup dangdut tersebut jika dirinya sedang mengikuti Persik away ke kota lain. Ada frontman New Armaka yang membantu.

Baca Juga :  Panasi Mesin dalam Laga Pra Musim di Malang

Sebagai kitman Macan Putih, yang diurusi Sugik sangat berbeda dengan grup musiknya. Dia harus menyiapkan segala kebutuhan tim. Termasuk mencuci dan mengeringkan jersey para pemain.

Tak jarang, jika sedang away, kamar hotel yang ditempatinya penuh dengan jersey pemain yang dia jemur! Dulu, dia mencuci dan mengeringkannya secara manual dengan tangan. “Tapi, berkat Persik, saya bisa ikut ke mana-mana. Mulai dari Surabaya, hingga Jepang dan Australia,” katanya bersyukur.

Kini, kalaupun mencuci dan mengeringkan, Sugik bisa melakukannya dengan mesin cuci. Selain itu, mulai 2016 sudah ada asisten yang membantunya. “Semua dijalani dengan enjoy saja,” sambungnya tentang resep setia pada Macan Putih.  

Ya, tidak seperti lirik lagu yang sedang dinyanyikannya malam itu, Sugik tak akan medhot janji dengan Persik. Ditingkah gerimis yang masih jatuh di luar studio mini berukuran 3×6 meter, suara Sugik kembali mengalun mengakhiri wawancara dengan koran ini.

“Mbiyen aku jik betah, suwe-suwe wegah. Nuruti kekarepanmu sansaya bubrah. Mbiyen wis tak wanti-wanti, aja ngasi lali. Tapi kenyataannya pergi..” Pada Macan Putih, Sugik tak seperti itu.

Artikel Terkait

Most Read

Megengan Pandemi

Sembadra Karya


Artikel Terbaru

/