26.1 C
Kediri
Sunday, June 26, 2022

Perburuan Liar Marak, Kopi Luwak pun Susut

Untuk menghasilkan kopi luwak yang spesial, Sudiro tak menernak luwak secara khusus. Dia memanfaatkan luwak liar di lereng Wilis agar ‘memangsa’ kopi-kopinya. Sayang, perburuan liar pada binatang itu membuat kopi luwak liar terancam.

 

IQBAL SYAHRONI

 

Awalnya, Sudiro menjadi petani kopi hanya penerus saja. Melakukan perawatan kopi yang diwariskan sang ayah. Demikian secara turun-temurun.

Selain itu, semula dia menanam kopi hanya untuk konsumsi pribadi. Tak semuanya dijual. Hanya bila ada sisa panenan dia menjualnya. “Atau jika ada permintaan saja (saya menjualnya),” terang warga Dusun Besuki, Desa Jugo, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri ini.

Namun, pandangannya berubah ketika melihat mulai banyaknya petani kopi di daerah lereng Wilis. Dia kemudian mulai merintis sebagai tengkulak. Membeli kopi dari para petani kopi yang lokasinya terpencar di beberapa area hutan di kaki Gunung Wilis. Ada 12 petani kopi yang berafiliasi. Menjual panenan kopinya pada Sudiro.

Lambat laun, usaha kopi Sudiro meningkat. Dia mulai ikut pameran kopi. Baik yang digelar oleh Pemkab Kediri maupun instansi lain.. “Bulan ini bahkan diundang untuk mengisi di Pameran Budaya,” terangnya.

Seiring berjalannya waktu, Sudiro mencoba peruntungan kopi luwak. Namun, Sudiro memilih cara alami. Mengandalkan luwak liar. Mengumpulkan kotoran luwak di berbagai penjuru hutan. Karena luasnya area hutan, mencari dan mengumpulkan kotoran luwak tentu saja hal yang sangat susah. Hasilnya pun jadi sedikit.

Baca Juga :  Pasrah, Tunggu Kepastian Nasib yang Belum Jelas

Hingga suatu saat Sudiro mewakili Kabupaten Kediri menjalani pelatihan di Pusat Penelitian Kopi dan Kokoa (Puslit Koka) Jember. Dalam kelas khusus itulah dia mendapatkan ilmu baru. Menjadi tahu cara luwak hutan hidup. “Luwak liar yang sudah memakan kopi (ternyata) akan membuang kotorannya di tempat kering (jarang rumput, Red),” jelasnya.

Kebiasaan itu membuatnya punya ide brilian. Dia pun mengakali dengan mencabuti rumput yang ada di tanah sekitar pohon kopi. Metode yang diilhami dari kelas di Puslit Kokoa itu berhasil. Luwak liar membuang kotorannya di sekitar pohon kopi.

Dengan metode itu, dalam satu musim panen ia sanggup mengumpulkan sekitar 40 kg biji kopi luwak. Tapi tak hanya dari lahannya sendiri, juga dari petani lain. Kopi itu biasanya masih bercampur kotoran. “Nanti diproses di pabrik,” ujarnya

Sayangnya, mulai 2015 produksi biji kopi luwak liarnya mulai menurun produksinya. Penyebabnya, habitat luwak liar mulai terganggu. Banyak pemburu liar masuk ke hutan. Membunuhi dan menangkap luwak secara membabi-buta.

Sudiro punya rencana untuk memasang pagar kawat besi di beberapa titik. Tujuannya untuk melindungi luwak dari perburuan liar. Namun, ide itu belum dia terapkan. Walaupun sudah dia bicarakan dengan para petani kopi yang ada.

Baca Juga :  Eko Suroso, Kades Paling Inovatif Anugerah Desa 2018

Mengapa tidak berusaha memelihara luwak secara khusus? Menurutnya, pemikiran untuk memelihara luwak liar atau luwak alas tidak pernah tebersit. Sebab, tak baik memaksa luwak memakan kopi setiap hari. “Saya pengennya luwak bebas berkeliaran di hutan,” terangnya.

Walaupun kuantitas produksi kopi luwaknya menurun, Sudiro masih tetap memiliki semangat. Sebab, permintaan pasar kopi luwaknya selama ini memang tak terlalu banyak. Tapi punya pelanggan tetap. Dengan permintaan yang stabil seperti sekarang, dia masih bisa memenuhi. Tapi, jika permintaan naik, dia kerepotan untuk memenuhinya. “Jika masih banyak yang berburu, mending saya tolak, Mas,” imbuhnya.

Selain memproduksi kopi luwak alas, Sudiro juga memproduksi kopi robusta dan kopi lanang. Semuanya dia klaim sebagai kopi alas. Pada 2017 dia mencoba menanam jenis arabica. Setelah dia mendapat bantuan dari salah satu instansi yang memberinya modal. Ia mulai menanam di pekarangan rumah. Kemudian berlanjut di area hutan yang berdekatan dengan pohon kopi robusta miliknya.

Kopi arabica yang ditanam Sudiro sementara ini diproyeksikan untuk kopi arabica biasa. Tapi, nantinya juga untuk kopi luwak. “Awalnya kenal malah karena kopi luwak,” ujar Sudiro. Sudiro menambahkan, dengan ketinggian di Dusun Besuki memang cocok untuk menanam pohon kopi jenis arabica.

- Advertisement -

Untuk menghasilkan kopi luwak yang spesial, Sudiro tak menernak luwak secara khusus. Dia memanfaatkan luwak liar di lereng Wilis agar ‘memangsa’ kopi-kopinya. Sayang, perburuan liar pada binatang itu membuat kopi luwak liar terancam.

 

IQBAL SYAHRONI

 

Awalnya, Sudiro menjadi petani kopi hanya penerus saja. Melakukan perawatan kopi yang diwariskan sang ayah. Demikian secara turun-temurun.

Selain itu, semula dia menanam kopi hanya untuk konsumsi pribadi. Tak semuanya dijual. Hanya bila ada sisa panenan dia menjualnya. “Atau jika ada permintaan saja (saya menjualnya),” terang warga Dusun Besuki, Desa Jugo, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri ini.

Namun, pandangannya berubah ketika melihat mulai banyaknya petani kopi di daerah lereng Wilis. Dia kemudian mulai merintis sebagai tengkulak. Membeli kopi dari para petani kopi yang lokasinya terpencar di beberapa area hutan di kaki Gunung Wilis. Ada 12 petani kopi yang berafiliasi. Menjual panenan kopinya pada Sudiro.

Lambat laun, usaha kopi Sudiro meningkat. Dia mulai ikut pameran kopi. Baik yang digelar oleh Pemkab Kediri maupun instansi lain.. “Bulan ini bahkan diundang untuk mengisi di Pameran Budaya,” terangnya.

Seiring berjalannya waktu, Sudiro mencoba peruntungan kopi luwak. Namun, Sudiro memilih cara alami. Mengandalkan luwak liar. Mengumpulkan kotoran luwak di berbagai penjuru hutan. Karena luasnya area hutan, mencari dan mengumpulkan kotoran luwak tentu saja hal yang sangat susah. Hasilnya pun jadi sedikit.

Baca Juga :  Polisi Sita 11.744 Butir Pil Dobel L, Ternyata Pengedarnya...

Hingga suatu saat Sudiro mewakili Kabupaten Kediri menjalani pelatihan di Pusat Penelitian Kopi dan Kokoa (Puslit Koka) Jember. Dalam kelas khusus itulah dia mendapatkan ilmu baru. Menjadi tahu cara luwak hutan hidup. “Luwak liar yang sudah memakan kopi (ternyata) akan membuang kotorannya di tempat kering (jarang rumput, Red),” jelasnya.

Kebiasaan itu membuatnya punya ide brilian. Dia pun mengakali dengan mencabuti rumput yang ada di tanah sekitar pohon kopi. Metode yang diilhami dari kelas di Puslit Kokoa itu berhasil. Luwak liar membuang kotorannya di sekitar pohon kopi.

Dengan metode itu, dalam satu musim panen ia sanggup mengumpulkan sekitar 40 kg biji kopi luwak. Tapi tak hanya dari lahannya sendiri, juga dari petani lain. Kopi itu biasanya masih bercampur kotoran. “Nanti diproses di pabrik,” ujarnya

Sayangnya, mulai 2015 produksi biji kopi luwak liarnya mulai menurun produksinya. Penyebabnya, habitat luwak liar mulai terganggu. Banyak pemburu liar masuk ke hutan. Membunuhi dan menangkap luwak secara membabi-buta.

Sudiro punya rencana untuk memasang pagar kawat besi di beberapa titik. Tujuannya untuk melindungi luwak dari perburuan liar. Namun, ide itu belum dia terapkan. Walaupun sudah dia bicarakan dengan para petani kopi yang ada.

Baca Juga :  ‘Menggali’ Candi Klotok, Mencari Jejak Besar Kota Kediri (20)

Mengapa tidak berusaha memelihara luwak secara khusus? Menurutnya, pemikiran untuk memelihara luwak liar atau luwak alas tidak pernah tebersit. Sebab, tak baik memaksa luwak memakan kopi setiap hari. “Saya pengennya luwak bebas berkeliaran di hutan,” terangnya.

Walaupun kuantitas produksi kopi luwaknya menurun, Sudiro masih tetap memiliki semangat. Sebab, permintaan pasar kopi luwaknya selama ini memang tak terlalu banyak. Tapi punya pelanggan tetap. Dengan permintaan yang stabil seperti sekarang, dia masih bisa memenuhi. Tapi, jika permintaan naik, dia kerepotan untuk memenuhinya. “Jika masih banyak yang berburu, mending saya tolak, Mas,” imbuhnya.

Selain memproduksi kopi luwak alas, Sudiro juga memproduksi kopi robusta dan kopi lanang. Semuanya dia klaim sebagai kopi alas. Pada 2017 dia mencoba menanam jenis arabica. Setelah dia mendapat bantuan dari salah satu instansi yang memberinya modal. Ia mulai menanam di pekarangan rumah. Kemudian berlanjut di area hutan yang berdekatan dengan pohon kopi robusta miliknya.

Kopi arabica yang ditanam Sudiro sementara ini diproyeksikan untuk kopi arabica biasa. Tapi, nantinya juga untuk kopi luwak. “Awalnya kenal malah karena kopi luwak,” ujar Sudiro. Sudiro menambahkan, dengan ketinggian di Dusun Besuki memang cocok untuk menanam pohon kopi jenis arabica.

Artikel Terkait

Most Read

Megengan Pandemi

Sembadra Karya


Artikel Terbaru

/