27.5 C
Kediri
Sunday, July 3, 2022

Dermojoyo Dikenal Dekat dengan Petani 

Kiai Dermojoyo dikenal sebagai ulama di Kecamatan Tanjunganom. Dia memiliki banyak santri. Karena itu, saat memberontak melawan penjajah Belanda, Dermojoyo tidak sendirian. Santri dan warga ikut mendukung. Banyaknya warga yang ikut angkat senjata ini karena Dermojoyo juga dikenal dekat dengan petani.

“Dermojoyo mengajarkan bertani yang baik kepada petani dan santri-santrinya,” ujar Aries Trio Effendi, pemerhati sejarah Nganjuk. Karena selain menjadi ulama, Dermojoyo juga memiliki lahan pertanian yang luas. Santri-santri dan buruh tani juga bekerja di sawahnya. 

Tak hanya itu, Dermojoyo juga memiliki usaha peternakan. Dia juga memberikan ilmu beternak sapi kepada santri dan warga setempat. 

Karena itulah, saat penjajah Belanda menaikan uang sewa tanah yang mencekik petani, Dermojoyo tidak terima. Dia berani mengangkat senjata. Meski akibatnya, Dermojoyo dan para santrinya gugur dalam medan perang. 

Baca Juga :  Vicky Febrian Piawai, Korban Pembunuhan di Mata Keluarganya

Keberanian Dermojoyo inilah yang membuatnya menjadi pahlawan bagi Kota Angin. Jasanya terus dikenang hingga sekarang.

Sayang, sosok Dermojoyo ini tidak diketahui secara jelas. Tidak ada foto dan saksi mata yang ditemukan wartawan koran ini. Namun demikian, berdasarkan cerita dari mulut ke mulut, Dermojoyo ini adalah sosok yang rupawan.

“Beliau wajahnya tampan. Tidak ada kumis atau jenggot. Bersih wajahnya,” ujar Mbah Jasmo, 69, juru kunci makam Kiai Dermojoyo saat ditemui oleh Jawa Pos Radar Nganjuk kemarin.

Mbah Jasmo memang belum pernah bertemu langsung atau melihat foto Kiai Dermojoyo. Namun, banyak pendahulunya yang menuturkan cerita tersebut secara turun-temurun. Sehingga, warga setempat, termasuk dirinya, hanya tahu dari cerita.

Baca Juga :  Aldiano Satriagung, Atlet Aeromodelling Termuda yang Penuh Prestasi

Selain memiliki wajah yang rupawan, Kiai Dermojoyo juga berkharisma tinggi. Itulah mengapa banyak orang yang berguru dan patuh kepadanya. Sosoknya yang kharismatik membuat orang di sekelilingnya mengagumi.

Karena itu meski sebenarnya berasal dari Kudus. Kemudian, menikah dengan warga Nganjuk dan  menetap di Dusun Bendungan, Desa Kedungrejo, Kecamatan Tanjunganom tetapi dia dianggap warga Nganjuk.

Sebagai pria asli Jawa, Kiai Dermojoyo juga diyakini memiliki postur tubuh yang tidak terlalu tinggi. Mbah Jasmo menggambarkan Dermojoyo tingginya tidak berbeda seperti dirinya. Yakni sekitar 165 sentimeter. “Paling ya setinggi saya,” katanya.

Sebagai orang Jawa, Mbah Jasmo mengatakan, Kiai Dermojoyo selalu memakai penutup kepala. Dia meyakini jika Kiai Dermojoyo lebih suka memakai blangkon. (tar/tyo)

- Advertisement -

Kiai Dermojoyo dikenal sebagai ulama di Kecamatan Tanjunganom. Dia memiliki banyak santri. Karena itu, saat memberontak melawan penjajah Belanda, Dermojoyo tidak sendirian. Santri dan warga ikut mendukung. Banyaknya warga yang ikut angkat senjata ini karena Dermojoyo juga dikenal dekat dengan petani.

“Dermojoyo mengajarkan bertani yang baik kepada petani dan santri-santrinya,” ujar Aries Trio Effendi, pemerhati sejarah Nganjuk. Karena selain menjadi ulama, Dermojoyo juga memiliki lahan pertanian yang luas. Santri-santri dan buruh tani juga bekerja di sawahnya. 

Tak hanya itu, Dermojoyo juga memiliki usaha peternakan. Dia juga memberikan ilmu beternak sapi kepada santri dan warga setempat. 

Karena itulah, saat penjajah Belanda menaikan uang sewa tanah yang mencekik petani, Dermojoyo tidak terima. Dia berani mengangkat senjata. Meski akibatnya, Dermojoyo dan para santrinya gugur dalam medan perang. 

Baca Juga :  Usaha Perajin Genting yang Masih Bertahan

Keberanian Dermojoyo inilah yang membuatnya menjadi pahlawan bagi Kota Angin. Jasanya terus dikenang hingga sekarang.

Sayang, sosok Dermojoyo ini tidak diketahui secara jelas. Tidak ada foto dan saksi mata yang ditemukan wartawan koran ini. Namun demikian, berdasarkan cerita dari mulut ke mulut, Dermojoyo ini adalah sosok yang rupawan.

“Beliau wajahnya tampan. Tidak ada kumis atau jenggot. Bersih wajahnya,” ujar Mbah Jasmo, 69, juru kunci makam Kiai Dermojoyo saat ditemui oleh Jawa Pos Radar Nganjuk kemarin.

Mbah Jasmo memang belum pernah bertemu langsung atau melihat foto Kiai Dermojoyo. Namun, banyak pendahulunya yang menuturkan cerita tersebut secara turun-temurun. Sehingga, warga setempat, termasuk dirinya, hanya tahu dari cerita.

Baca Juga :  Imlek di Kelenteng Tjoe Hwie Kiong Kediri Tanpa Tari Barongsai

Selain memiliki wajah yang rupawan, Kiai Dermojoyo juga berkharisma tinggi. Itulah mengapa banyak orang yang berguru dan patuh kepadanya. Sosoknya yang kharismatik membuat orang di sekelilingnya mengagumi.

Karena itu meski sebenarnya berasal dari Kudus. Kemudian, menikah dengan warga Nganjuk dan  menetap di Dusun Bendungan, Desa Kedungrejo, Kecamatan Tanjunganom tetapi dia dianggap warga Nganjuk.

Sebagai pria asli Jawa, Kiai Dermojoyo juga diyakini memiliki postur tubuh yang tidak terlalu tinggi. Mbah Jasmo menggambarkan Dermojoyo tingginya tidak berbeda seperti dirinya. Yakni sekitar 165 sentimeter. “Paling ya setinggi saya,” katanya.

Sebagai orang Jawa, Mbah Jasmo mengatakan, Kiai Dermojoyo selalu memakai penutup kepala. Dia meyakini jika Kiai Dermojoyo lebih suka memakai blangkon. (tar/tyo)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/