23.9 C
Kediri
Sunday, August 14, 2022

Ketika Persiapan Pesepak Bola PON 2020 Terimbas Wabah Korona

- Advertisement -

Rasa tanggung jawab sebagai atlet mendorong mereka tetap giat berlatih. Meskipun di tengah pandemi Covid-19. Meskipun juga ajang PON yang jadi target mereka tertunda. Latihan rutin seminggu tiga kali dilakukan agar kualitas dan stamina tetap terjaga.

 

MOCH. DIDIN SAPUTRO, Kabupaten, JP Radar Kediri.

 

“Alhamdulillah sehat.” Itu sepenggal jawaban M. Khanafi ketika ditanya Jawa Pos Radar Kediri tentang kondisinya saat ini. Di tengah pandemi korona, dan sedang bersiap mengikuti PON 2020, pertanyaan seperti itu memang sering dia terima.

- Advertisement -

Dari cara menjawabnya, terlihat Khanafi sangat bersemangat. Motivasinya tetap tinggi di tengah ancaman virus korona. Semangat itu juga tak mengendur ketika pemusatan atlet Jatim untuk PON terganggu. Dia dan rekan-rekannya terpaksa berlatih di rumah masing-masing.

Sebenarnya, menurut Khanafi, berlatih di rumah itu susah-susah gampang. Terutama karena dia tak boleh kontak langsung dengan orang lain. Dia harus berhati-hati dalam menjalani latihan mandiri.

“Banyak gerakan yang perlu partner untuk latihan. Jadi ya harus pintar-pintar memanfaatkan sesuatu,” ujarnya.

Program latihan yang diterapkan utamanya adalah latihan kekuatan dan fisik. Hal ini wajib dilakukan untuk mempertahankan stamina pemain. Khanafi menyebut bahwa rasa tanggung jawab sebagai atletlah yang memacu pemain tetap latihan. Apalagi ajang empat tahunan ini menjadi gengsi tersendiri bagi daerah-daerah untuk bisa memenangkan pertandingan.

Baca Juga :  Didik Fauzan, Menangi Hadiah Utama ‘Sepeda17an Virtual’

Di Kabupaten Kediri, total ada empat atlet PON cabor sepak bola. Mereka adalah Eko Saputro, Aziz Alghany, Rizky Dwi, dan M. Khanafi. Mereka latihan mandiri di rumah sejak dua minggu yang lalu.

Nah, selain latihan, untuk menghilangkan kejenuhan ada aktivitas lain yang dikerjakan Khanafi. Yakni beternak sapi. “Ya pelihara sapi juga tetap,” sebutnya.

Memang, aktivitas itu menurutnya sudah menjadi hobi. Terlebih, keberadaan sapi di rumahnya itu membuat rasa lelah usai latihan bisa hilang. Mantan pemain Persedikab ini juga tak lupa mengonsumsi jamu tradisional untuk menjaga daya tubuhnya. “Jamu buat sendiri di rumah,” cetusnya.

Sementara untuk sistem latihan di rumah memang sudah menjadi program pelatih PON cabor Sepak bola. Pelatih tim sepakbola PON Jatim Rudy Keltjes menegaskan bahwa dampak korona ini memang membuat semua agenda yang telah dirancang berubah. Termasuk dalam hal pemusatan latihan PON.

“Tetap kami kawal. Kami kasih pekerjaan dan setiap hari dihubungi untuk dipantau perkembangan latihannya,” ujar Rudy saat dihubungi penulis.

Untuk sistem pemantauannya, atlet melakukan latihan dengan laporan menggunakan kiriman video. Sebagai bukti bahwa atlet telah menjalani program latihan mandiri di rumah ini.

Baca Juga :  Srawung Psikologi, Komunitas Diskusi Kediri yang Terus Eksis

“Saya yakin pada anak-anak, pasti bisa. Karena telah kami bentuk kedisiplinan dan kejujuran,” ungkapnya.

Apabila tidak melakukan latihan, ia menyebut itu risiko bagi pribadi masing-masing. Apalagi sejauh ini rata-rata pemain sudah terbentuk fisik dan tekniknya. “Selama latihan di rumah kondisinya jangan sampai turun. Latihan fisik dari pelatih harus tetap diterapkan,” pesannya.

Ia mengakui bahwa hal ini memang berat. Namun kesungguhan atlet dalam melakukan latihan itu harus terus dipantau. “Baik untuk kesehatannya juga untuk kondisi fisiknya,” tambah Rudy.

Ia berpesan kepada para atlet jangan sampai kondisinya turun. Tetap menjaga kesehatan dan jangan sampai malas berlatih. Sebab itu akan berpengaruh pada latihan ke depan.

“Saat keluar rumah pakai masker. Kalau latihan jangan bergerombol dan jaga jarak. Latihan sendiri-sendiri untuk kewaspadaan,” sarannya.

Menurutnya, tanggungjawab pemain dalam hal ini sangat diperlukan. Ia mengakui semangat atlet di Jatim ini sudah terbentuk dan luar biasa. Untuk itu ia berharap ini semua tetap terjaga hingga suasana kondusif dan sampai pelaksanaan PON nanti bisa berjalan lancar.  

- Advertisement -

Rasa tanggung jawab sebagai atlet mendorong mereka tetap giat berlatih. Meskipun di tengah pandemi Covid-19. Meskipun juga ajang PON yang jadi target mereka tertunda. Latihan rutin seminggu tiga kali dilakukan agar kualitas dan stamina tetap terjaga.

 

MOCH. DIDIN SAPUTRO, Kabupaten, JP Radar Kediri.

 

“Alhamdulillah sehat.” Itu sepenggal jawaban M. Khanafi ketika ditanya Jawa Pos Radar Kediri tentang kondisinya saat ini. Di tengah pandemi korona, dan sedang bersiap mengikuti PON 2020, pertanyaan seperti itu memang sering dia terima.

Dari cara menjawabnya, terlihat Khanafi sangat bersemangat. Motivasinya tetap tinggi di tengah ancaman virus korona. Semangat itu juga tak mengendur ketika pemusatan atlet Jatim untuk PON terganggu. Dia dan rekan-rekannya terpaksa berlatih di rumah masing-masing.

Sebenarnya, menurut Khanafi, berlatih di rumah itu susah-susah gampang. Terutama karena dia tak boleh kontak langsung dengan orang lain. Dia harus berhati-hati dalam menjalani latihan mandiri.

“Banyak gerakan yang perlu partner untuk latihan. Jadi ya harus pintar-pintar memanfaatkan sesuatu,” ujarnya.

Program latihan yang diterapkan utamanya adalah latihan kekuatan dan fisik. Hal ini wajib dilakukan untuk mempertahankan stamina pemain. Khanafi menyebut bahwa rasa tanggung jawab sebagai atletlah yang memacu pemain tetap latihan. Apalagi ajang empat tahunan ini menjadi gengsi tersendiri bagi daerah-daerah untuk bisa memenangkan pertandingan.

Baca Juga :  Sel Tahanan Polres Kediri Overload di Masa Pandemi

Di Kabupaten Kediri, total ada empat atlet PON cabor sepak bola. Mereka adalah Eko Saputro, Aziz Alghany, Rizky Dwi, dan M. Khanafi. Mereka latihan mandiri di rumah sejak dua minggu yang lalu.

Nah, selain latihan, untuk menghilangkan kejenuhan ada aktivitas lain yang dikerjakan Khanafi. Yakni beternak sapi. “Ya pelihara sapi juga tetap,” sebutnya.

Memang, aktivitas itu menurutnya sudah menjadi hobi. Terlebih, keberadaan sapi di rumahnya itu membuat rasa lelah usai latihan bisa hilang. Mantan pemain Persedikab ini juga tak lupa mengonsumsi jamu tradisional untuk menjaga daya tubuhnya. “Jamu buat sendiri di rumah,” cetusnya.

Sementara untuk sistem latihan di rumah memang sudah menjadi program pelatih PON cabor Sepak bola. Pelatih tim sepakbola PON Jatim Rudy Keltjes menegaskan bahwa dampak korona ini memang membuat semua agenda yang telah dirancang berubah. Termasuk dalam hal pemusatan latihan PON.

“Tetap kami kawal. Kami kasih pekerjaan dan setiap hari dihubungi untuk dipantau perkembangan latihannya,” ujar Rudy saat dihubungi penulis.

Untuk sistem pemantauannya, atlet melakukan latihan dengan laporan menggunakan kiriman video. Sebagai bukti bahwa atlet telah menjalani program latihan mandiri di rumah ini.

Baca Juga :  Gedung SMAN 1 Kota Kediri Diduga Cagar Budaya

“Saya yakin pada anak-anak, pasti bisa. Karena telah kami bentuk kedisiplinan dan kejujuran,” ungkapnya.

Apabila tidak melakukan latihan, ia menyebut itu risiko bagi pribadi masing-masing. Apalagi sejauh ini rata-rata pemain sudah terbentuk fisik dan tekniknya. “Selama latihan di rumah kondisinya jangan sampai turun. Latihan fisik dari pelatih harus tetap diterapkan,” pesannya.

Ia mengakui bahwa hal ini memang berat. Namun kesungguhan atlet dalam melakukan latihan itu harus terus dipantau. “Baik untuk kesehatannya juga untuk kondisi fisiknya,” tambah Rudy.

Ia berpesan kepada para atlet jangan sampai kondisinya turun. Tetap menjaga kesehatan dan jangan sampai malas berlatih. Sebab itu akan berpengaruh pada latihan ke depan.

“Saat keluar rumah pakai masker. Kalau latihan jangan bergerombol dan jaga jarak. Latihan sendiri-sendiri untuk kewaspadaan,” sarannya.

Menurutnya, tanggungjawab pemain dalam hal ini sangat diperlukan. Ia mengakui semangat atlet di Jatim ini sudah terbentuk dan luar biasa. Untuk itu ia berharap ini semua tetap terjaga hingga suasana kondusif dan sampai pelaksanaan PON nanti bisa berjalan lancar.  

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/