24.2 C
Kediri
Friday, July 1, 2022

Pesantren dalam Kemerdekaan RI: Mengajar, Perang Lain melawan Penjajah

Perang melawan penjajah tak melulu persoalan fisik. Namun, bisa juga melalui penanaman pola pikir. Mendidik dan mengajar para santri adalah salah satu wujud dari hal itu. Sebagai upaya melawan penjajah. 

Hal itu yang juga ditanamkan di Pondok Pesantren Salafiyah Kapu di Dusun Kapurejo, Desa Kandangan, Kecamatan pagu, Kabupaten Kediri. Pengajaran ilmu agama di dalam pondok sekaligus juga menanamkan jiwa nasionalisme dan patriotisme para santri.

Pondok Kapu memang selalu lekat dengan semangat patriotisme. Sang pendiri, KH Hasan Muchyi merupakan salah satu prajurit Pangeran Diponegoro yang berjibaku melawan pasukan Belanda dalam Perang Jawa pada 1741 hingga 1743.

“Mbah Hasan adalah pahlawan (terutama) bagi kami,” ucap Muchammad Chamdani Bik atau yang biasa dipanggil Gus Bik, pengasuh Pondok Kapu saat ini.

Meskipun tak banyak bergelut dalam pergolakan fisik di era Kemerdekaan, Pondok Kapu tetap memiliki semangat pergerakan yang tinggi dalam melawan penjajah. Pondok ini juga terkait dengan nama KH Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama. Kiai Hasyim Asyari adalah menantu Mbah Hasan.

Baca Juga :  Memaknai Kemerdekaan di Pesantren: Ajak Warga Sekitar Mengaji

Selain itu, generasi di atas Gus Bik pun juga terlibat dalam perang. Meskipun tak terlalu melibatkan Pondok Kapu secara institusi, mereka turut bertempur melawan penjajah. Baik itu di era penjajahan Jepang maupun Belanda.

Ayah Gus Bik, KH Muhammad Shodiq, misalnya. Ulama ini ikut bertempur di daerah Jombang. Bergabung dengan Laskar Hisbullah di Tebu Ireng. 

Untuk mewarisi nilai-nilai patriot itu, Pondok Kapu juga rutin menggelar istighotsah saat perayaan kemerdekaan ini. Meskipun hanya istighotsah tapi juga mampu memompa semangat kebangsaan dan patriotisme santrinya. Karena melalui istighotsah itu mereka terus mendoakan para pahlawan.

Hanya, di masa pandemi ini istighotsah tak lagi dibuat secara massif seperti tahun-tahun sebelumnya. “Para santri sini juga sudah paham. Menunggu di luar makam, atau menjaga jarak selama berdoa di sekitar makam juga,” terang Gus Bik.

Baca Juga :  Lihat Sepatu Jebol, Bupati Langsung Cek Ukuran

Selain istighotsah, biasanya para santri juga mengikuti upacara bendera di Lapangan Kecamatan Pagu bersama Muspika. Para santri ikut sebagai marching band pondok saat upacara. Sayang, sejak pandemi ini upacara itu ditiadakan.

Gus Bik juga menjelaskan bahwa para santri sejak dulu memaknai kemerdekaan adalah dengan berdoa. Baik untuk mengenang jasa pahlawan. Dan berdoa untuk dikuatkan dengan apa saja yang akan datang di masa depan.(syi/fud)

Memaknai Kemerdekaan di Kalangan Santri

Kemapanan dalam belajar, tanpa harus bersembunyi dari kolonial.

Menanamkan jiwa nasionalisme, agamis, seperti yang diinginkan para leluhur.

Membuat rasa nyaman baik dari santri dan juga warga. Selalu terbuka dengan warga di luar.

Tidak menciptakan jarak. Berbaur dengan masyarakat dan belajar bersama.

- Advertisement -

Perang melawan penjajah tak melulu persoalan fisik. Namun, bisa juga melalui penanaman pola pikir. Mendidik dan mengajar para santri adalah salah satu wujud dari hal itu. Sebagai upaya melawan penjajah. 

Hal itu yang juga ditanamkan di Pondok Pesantren Salafiyah Kapu di Dusun Kapurejo, Desa Kandangan, Kecamatan pagu, Kabupaten Kediri. Pengajaran ilmu agama di dalam pondok sekaligus juga menanamkan jiwa nasionalisme dan patriotisme para santri.

Pondok Kapu memang selalu lekat dengan semangat patriotisme. Sang pendiri, KH Hasan Muchyi merupakan salah satu prajurit Pangeran Diponegoro yang berjibaku melawan pasukan Belanda dalam Perang Jawa pada 1741 hingga 1743.

“Mbah Hasan adalah pahlawan (terutama) bagi kami,” ucap Muchammad Chamdani Bik atau yang biasa dipanggil Gus Bik, pengasuh Pondok Kapu saat ini.

Meskipun tak banyak bergelut dalam pergolakan fisik di era Kemerdekaan, Pondok Kapu tetap memiliki semangat pergerakan yang tinggi dalam melawan penjajah. Pondok ini juga terkait dengan nama KH Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama. Kiai Hasyim Asyari adalah menantu Mbah Hasan.

Baca Juga :  Butuh Minum Ternak, Minta Droping Tiap Hari

Selain itu, generasi di atas Gus Bik pun juga terlibat dalam perang. Meskipun tak terlalu melibatkan Pondok Kapu secara institusi, mereka turut bertempur melawan penjajah. Baik itu di era penjajahan Jepang maupun Belanda.

Ayah Gus Bik, KH Muhammad Shodiq, misalnya. Ulama ini ikut bertempur di daerah Jombang. Bergabung dengan Laskar Hisbullah di Tebu Ireng. 

Untuk mewarisi nilai-nilai patriot itu, Pondok Kapu juga rutin menggelar istighotsah saat perayaan kemerdekaan ini. Meskipun hanya istighotsah tapi juga mampu memompa semangat kebangsaan dan patriotisme santrinya. Karena melalui istighotsah itu mereka terus mendoakan para pahlawan.

Hanya, di masa pandemi ini istighotsah tak lagi dibuat secara massif seperti tahun-tahun sebelumnya. “Para santri sini juga sudah paham. Menunggu di luar makam, atau menjaga jarak selama berdoa di sekitar makam juga,” terang Gus Bik.

Baca Juga :  Lolos Seleksi P3K, Christian Budi Lestari Jadi ASN di Usia 50 Tahun

Selain istighotsah, biasanya para santri juga mengikuti upacara bendera di Lapangan Kecamatan Pagu bersama Muspika. Para santri ikut sebagai marching band pondok saat upacara. Sayang, sejak pandemi ini upacara itu ditiadakan.

Gus Bik juga menjelaskan bahwa para santri sejak dulu memaknai kemerdekaan adalah dengan berdoa. Baik untuk mengenang jasa pahlawan. Dan berdoa untuk dikuatkan dengan apa saja yang akan datang di masa depan.(syi/fud)

Memaknai Kemerdekaan di Kalangan Santri

Kemapanan dalam belajar, tanpa harus bersembunyi dari kolonial.

Menanamkan jiwa nasionalisme, agamis, seperti yang diinginkan para leluhur.

Membuat rasa nyaman baik dari santri dan juga warga. Selalu terbuka dengan warga di luar.

Tidak menciptakan jarak. Berbaur dengan masyarakat dan belajar bersama.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/