23.9 C
Kediri
Wednesday, July 6, 2022

Lika-liku Arif Kuntarko Beternak Lebah Lanceng

Keputusan Arif Kuntarko untuk beternak lebah lanceng bisa dibilang tidak sengaja. Berawal dari sakit batuk yang sering diderita anaknya, Arif yang sulit mencari madu lanceng di bambu sekitar rumah, memutuskan untuk membudidayakannya.

 

HABIBAH A. MUKTIARA, Kabupaten. JP Radar Kediri

Jarum jam menunjukkan pukul 15.00 Selasa (14/6) lalu. Arif Kuntarko terlihat sibuk mengecek kotak-kotak atau stup lebah lanceng yang diletakkan di samping rumahnya di Desa Adan-Adan, Gurah. “Lebahnya banyak yang kabur karena baru pindah rumah,” kata Arif sambil membuka kotak dan memperlihatkannya kepada Jawa Pos Radar Kediri.

Menempati rumah yang dindingnya belum diplester itu sejak Maret lalu, bukan hanya Arif saja yang harus beradaptasi. Melainkan, ribuan lebah lanceng miliknya juga harus “berkenalan” dengan tempat tinggal mereka yang baru. Agaknya ada lebah kabur dalam proses adaptasi dengan tempat baru tersebut.

Jika sebelumnya dia memiliki puluhan kotak lebah lanceng, Juni ini Arif tinggal memiliki 15 kotak. Bukan hanya rumah barunya yang membuat lanceng miliknya banyak yang kabur. Melainkan di lingkungan tempat tinggalnya yang baru ini minim tanaman yang mengandung nektar. “Mungkin karena di sini (rumah baru, Red) mereka kekurangan makanan,” lanjutnya.

Karenanya, selain terus membenahi rumahnya, pria yang Selasa lalu memakai kaus merah itu juga mulai menyiapkan makanan untuk lebah-lebahnya. Caranya, dengan menanam beberapa jenis bunga di sana. “Sekarang kami memulai lagi (memperbaiki persiapan beternak lanceng, Red),” paparnya.

Menjadi peternak lebah lanceng sejak 2019 lalu, bisa dibilang pria berusia  36 tahun ini memulainya secara tidak sengaja. Awalnya, dia hanya ingin mengonsumsi madu saja.

Baca Juga :  Azam Bakhor, Mahasiswa Kediri Raup Belasan Juta Per Bulan dari Molly

Adalah kondisi dua anaknya yang membuat Arif mencari madu lanceng. Mereka sering sakit batuk, pilek, dan panas. Agar tidak terlalu sering mengkonsumsi obat berbahan kimia, banyak yang menyarankan agar mereka mengonsumsi madu lanceng. “Mencari madu lanceng ini kan gampang-gampang susah,” bebernya.

Sebenarnya madu lanceng banyak dijual di online. Tetapi, dia tidak berani membeli karena keaslian madu tersebut tidak terjamin. Untuk memastikan madu yang akan dikonsumsi anaknya benar-benar madu asli, dia rela blusukan mencari madu di batang bambu yang ada di sekitar rumahnya.

“Kebetulan waktu itu saya dapat madu lanceng dari batang bambu di kandang milik tetangga,” kenang bapak tiga anak itu. Dari satu ruas bambu yang dihuni banyak lanceng, dia hanya bisa mendapat beberapa sendok madu.

Meski hasilnya tidak banyak, namun madu tersebut sangat manjur. Penyakit batuk, pilek, dan demam yang diderita anaknya langsung sembuh. Melihat manfaat madu itulah, tebersit ide di benaknya untuk beternak lanceng.

Dia lantas memesan sepuluh ruas bambu untuk tempat budi daya. Tanpa bekal ilmu yang cukup, kotak-kotak habitat lanceng miliknya tinggal tersisa lima stup. “Saat itu saya mau belajar dari teman asal Solo, namun ditolak,” paparnya.

Kolega Arif yang sudah berpengalaman beternak lebah lanceng itu baru mau mengajari jika dia sudah memiliki bunga untuk makanan lebah. Baginya, beternak lebah lanceng tanpa persiapan yang cukup tak ubahnya menyiksa makhluk ciptaan Tuhan. Sebab, lanceng-lanceng itu akan kekurangan makanan.

Tak mau ditolak lagi, putra pasangan Abdul Rohim dan Yatimah ini langsung menanam banyak bunga yang disukai lebah. Mulai jenis air mata pengantin, jatropa, dan santos.

Baca Juga :  Datang, Belanja, Rasakan Diskon Spesialnya

Upaya Arif mulai membuahkan hasil. Selama tiga bulan merawat lebah, dia bisa mendapatkan madu setengah gelas. Namun, setiap panen ia hanya mengambil 2/3 madu saja. “Saya sisakan untuk jadi makanan cadangan lanceng,” tuturnya.

Setahun melakukan budi daya, pria kelahiran 1986 silam itu mulai merasakan hasilnya. Dari 5-6 kotak lanceng miliknya, dia bisa menghasilkan satu liter madu. Dari total 20 kotak lanceng, dia bisa menghasilkan tiga liter. “Itu jika koloninya super. Kalau nggak super ya nggak sampai tiga liter,” urainya sembari menyebut jumlah stok makanan atau tanaman bunga akan menentukan besar koloni di kotak lanceng.

Semakin banyak stok makanan atau tanaman bunga di sekitarnya, semakin besar perkembangan lebah. Artinya, koloni lebah di stup akan menjadi besar atau menjadi koloni super.

Begitu pandemi Covid-19 mencapai puncaknya 2020 lalu, pesanan madu lanceng mencapai 25 liter. Tak bisa memenuhi pesanan, dia lantas mendatangkan madu dari Solo. Satu liter madu lanceng dijual seharga Rp 450 ribu.

Ingin memperluas varian madu lanceng, tahun lalu dia mendatangkan lebah lanceng Biroi dari Sulawesi. Satu kotaknya seharga Rp 400 ribu. Tetapi, lanceng itu agaknya tidak cocok dengan suhu Kediri. “Dari 10 kotak hanya tersisa satu,” kenangnya sambil tertawa.

Beternak lanceng memang gampang-gampang susah. Karenanya, pria yang sudah bertahun-tahun merasakan lika-liku beternak lanceng ini sama sekali tak terpikat tawaran keuntungan tinggi dari beternak lanceng. Dia tahu benar jika sesuai hitungannya, tawaran itu sama sekali tidak masuk akal.






Reporter: Habibaham Anisa Muktiara
- Advertisement -

Keputusan Arif Kuntarko untuk beternak lebah lanceng bisa dibilang tidak sengaja. Berawal dari sakit batuk yang sering diderita anaknya, Arif yang sulit mencari madu lanceng di bambu sekitar rumah, memutuskan untuk membudidayakannya.

 

HABIBAH A. MUKTIARA, Kabupaten. JP Radar Kediri

Jarum jam menunjukkan pukul 15.00 Selasa (14/6) lalu. Arif Kuntarko terlihat sibuk mengecek kotak-kotak atau stup lebah lanceng yang diletakkan di samping rumahnya di Desa Adan-Adan, Gurah. “Lebahnya banyak yang kabur karena baru pindah rumah,” kata Arif sambil membuka kotak dan memperlihatkannya kepada Jawa Pos Radar Kediri.

Menempati rumah yang dindingnya belum diplester itu sejak Maret lalu, bukan hanya Arif saja yang harus beradaptasi. Melainkan, ribuan lebah lanceng miliknya juga harus “berkenalan” dengan tempat tinggal mereka yang baru. Agaknya ada lebah kabur dalam proses adaptasi dengan tempat baru tersebut.

Jika sebelumnya dia memiliki puluhan kotak lebah lanceng, Juni ini Arif tinggal memiliki 15 kotak. Bukan hanya rumah barunya yang membuat lanceng miliknya banyak yang kabur. Melainkan di lingkungan tempat tinggalnya yang baru ini minim tanaman yang mengandung nektar. “Mungkin karena di sini (rumah baru, Red) mereka kekurangan makanan,” lanjutnya.

Karenanya, selain terus membenahi rumahnya, pria yang Selasa lalu memakai kaus merah itu juga mulai menyiapkan makanan untuk lebah-lebahnya. Caranya, dengan menanam beberapa jenis bunga di sana. “Sekarang kami memulai lagi (memperbaiki persiapan beternak lanceng, Red),” paparnya.

Menjadi peternak lebah lanceng sejak 2019 lalu, bisa dibilang pria berusia  36 tahun ini memulainya secara tidak sengaja. Awalnya, dia hanya ingin mengonsumsi madu saja.

Baca Juga :  Pegatan gara-gara Pindang Asin

Adalah kondisi dua anaknya yang membuat Arif mencari madu lanceng. Mereka sering sakit batuk, pilek, dan panas. Agar tidak terlalu sering mengkonsumsi obat berbahan kimia, banyak yang menyarankan agar mereka mengonsumsi madu lanceng. “Mencari madu lanceng ini kan gampang-gampang susah,” bebernya.

Sebenarnya madu lanceng banyak dijual di online. Tetapi, dia tidak berani membeli karena keaslian madu tersebut tidak terjamin. Untuk memastikan madu yang akan dikonsumsi anaknya benar-benar madu asli, dia rela blusukan mencari madu di batang bambu yang ada di sekitar rumahnya.

“Kebetulan waktu itu saya dapat madu lanceng dari batang bambu di kandang milik tetangga,” kenang bapak tiga anak itu. Dari satu ruas bambu yang dihuni banyak lanceng, dia hanya bisa mendapat beberapa sendok madu.

Meski hasilnya tidak banyak, namun madu tersebut sangat manjur. Penyakit batuk, pilek, dan demam yang diderita anaknya langsung sembuh. Melihat manfaat madu itulah, tebersit ide di benaknya untuk beternak lanceng.

Dia lantas memesan sepuluh ruas bambu untuk tempat budi daya. Tanpa bekal ilmu yang cukup, kotak-kotak habitat lanceng miliknya tinggal tersisa lima stup. “Saat itu saya mau belajar dari teman asal Solo, namun ditolak,” paparnya.

Kolega Arif yang sudah berpengalaman beternak lebah lanceng itu baru mau mengajari jika dia sudah memiliki bunga untuk makanan lebah. Baginya, beternak lebah lanceng tanpa persiapan yang cukup tak ubahnya menyiksa makhluk ciptaan Tuhan. Sebab, lanceng-lanceng itu akan kekurangan makanan.

Tak mau ditolak lagi, putra pasangan Abdul Rohim dan Yatimah ini langsung menanam banyak bunga yang disukai lebah. Mulai jenis air mata pengantin, jatropa, dan santos.

Baca Juga :  Della Alviana, Pesepakbola Perempuan Asli Kediri yang Ikuti TC Timnas

Upaya Arif mulai membuahkan hasil. Selama tiga bulan merawat lebah, dia bisa mendapatkan madu setengah gelas. Namun, setiap panen ia hanya mengambil 2/3 madu saja. “Saya sisakan untuk jadi makanan cadangan lanceng,” tuturnya.

Setahun melakukan budi daya, pria kelahiran 1986 silam itu mulai merasakan hasilnya. Dari 5-6 kotak lanceng miliknya, dia bisa menghasilkan satu liter madu. Dari total 20 kotak lanceng, dia bisa menghasilkan tiga liter. “Itu jika koloninya super. Kalau nggak super ya nggak sampai tiga liter,” urainya sembari menyebut jumlah stok makanan atau tanaman bunga akan menentukan besar koloni di kotak lanceng.

Semakin banyak stok makanan atau tanaman bunga di sekitarnya, semakin besar perkembangan lebah. Artinya, koloni lebah di stup akan menjadi besar atau menjadi koloni super.

Begitu pandemi Covid-19 mencapai puncaknya 2020 lalu, pesanan madu lanceng mencapai 25 liter. Tak bisa memenuhi pesanan, dia lantas mendatangkan madu dari Solo. Satu liter madu lanceng dijual seharga Rp 450 ribu.

Ingin memperluas varian madu lanceng, tahun lalu dia mendatangkan lebah lanceng Biroi dari Sulawesi. Satu kotaknya seharga Rp 400 ribu. Tetapi, lanceng itu agaknya tidak cocok dengan suhu Kediri. “Dari 10 kotak hanya tersisa satu,” kenangnya sambil tertawa.

Beternak lanceng memang gampang-gampang susah. Karenanya, pria yang sudah bertahun-tahun merasakan lika-liku beternak lanceng ini sama sekali tak terpikat tawaran keuntungan tinggi dari beternak lanceng. Dia tahu benar jika sesuai hitungannya, tawaran itu sama sekali tidak masuk akal.






Reporter: Habibaham Anisa Muktiara

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/