30.2 C
Kediri
Monday, July 4, 2022

Arsitektur Berbeda Wujud Pluralisme

Jejak peninggalan masa lampau di Jalan Dhoho sangat beragam. Mulai era kerajaan hingga kolonial mewarnai kota tua ini. Keberagaman itu yang harus jadi ciri khas bila kelak melakukan penataan.

 

Keragaman budaya yang terbentang di Jalan Dhoho tak lepas dari sejarah keberadaannya. Kawasan ini telah melewati berbagai masa. Jejak peninggalan tiap-tiap masa pun masih tertinggal hingga sekarang.

Salah satu contohnya adalah corak arsitektur bangunannya. Di sepanjang jalan Dhoho model bangunannya beragam. Di titik tertentu sangat dominan dengan era kolonial penjajah. Namun, di titik lain ada yang kuat nuansa bangunan Jawa. Juga, ada Pecinan yang sangat kental dengan nilai dan nuansa oriental.

“Ketika membangun infrastruktur, keberagaman itulah yang nantinya akan dikuatkan,” kata Kabid Tata Ruang di Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Kediri Khoirul Anwar.

Baca Juga :  Bobby Yong, Korban Pembunuhan di Kelurahan Payaman, Nganjuk

Arahnya adalah menunjukkan adanya pluralisme di Kota Kediri. Dan, nilai keberagaman itu sudah terbangun sejak lama. Ini selaras dengan Kota Kediri sebagai kota toleran di Indonesia. 

Keberagaman yang ada di kawasan Jalan Dhoho diperkuat pula dengan kajian tim dari Institut Teknologi 10 Nopember (ITS). Berdasarkan kajian tersebut, dinas PUPR memastikan arsitektur bangunan infrastruktur di Jalan Dhoho tidak hanya berasal dari satu masa saja. Model arsiteknya akan sangat kaya dengan variasi. 

Agar penataan bangunannya lebih terarah lagi, Pemkot Kediri perlu pula masukan dari berbagai pihak. Bukan saja eksekutif dan legislatif tapi juga budayawan dan sejarawan. Tujuannya, supaya program pembangunan memiliki guiden.

Ia meyakini pemikiran bersama-sama itulah yang bisa menjadikan penataan Jalan Dhoho menjadi lebih baik. Apa yang telah disiapkan dinas PUPR itu selaras dengan hasil survei yang pernah dilakukan pemkot terhadap orang luar tentang Kediri. Salah satunya mengenai kerajaannya yang tua.

Baca Juga :  Terapkan Prokes Ketat selama PPKM Darurat

“Ada tiga yang lekat dengan Kota Kediri, Gudang Garam (perusahaan rokok, Red), tahu, dan kerajaan Kediri,” ungkap Kepala Barenlitbang Chevy Ning Suyudi.

Dari survei tersebut, orang tahu Kediri dari kerajaannya yang tua. Karena itulah, ada harapan ornamen masa kerajaan tidak dihilangkan dari arsitektur bangunan. Kerajaan Kediri sudah sangat dikenal oleh orang di luar Kediri.

Artinya, kerajaan yang jadi ciri khas Kota Kediri ini sudah terlegitimasi di masyarakat luas. Karena itulah, perlu memperkuatnya lewat bangunan yang baru tanpa menghilangkan arsitek lama lainnya. Seperti ragam bangunan masa kolonial dan pecinan. (rq/fud/bersambung)

 

- Advertisement -

Jejak peninggalan masa lampau di Jalan Dhoho sangat beragam. Mulai era kerajaan hingga kolonial mewarnai kota tua ini. Keberagaman itu yang harus jadi ciri khas bila kelak melakukan penataan.

 

Keragaman budaya yang terbentang di Jalan Dhoho tak lepas dari sejarah keberadaannya. Kawasan ini telah melewati berbagai masa. Jejak peninggalan tiap-tiap masa pun masih tertinggal hingga sekarang.

Salah satu contohnya adalah corak arsitektur bangunannya. Di sepanjang jalan Dhoho model bangunannya beragam. Di titik tertentu sangat dominan dengan era kolonial penjajah. Namun, di titik lain ada yang kuat nuansa bangunan Jawa. Juga, ada Pecinan yang sangat kental dengan nilai dan nuansa oriental.

“Ketika membangun infrastruktur, keberagaman itulah yang nantinya akan dikuatkan,” kata Kabid Tata Ruang di Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Kediri Khoirul Anwar.

Baca Juga :  Akikah ketika Ramadan

Arahnya adalah menunjukkan adanya pluralisme di Kota Kediri. Dan, nilai keberagaman itu sudah terbangun sejak lama. Ini selaras dengan Kota Kediri sebagai kota toleran di Indonesia. 

Keberagaman yang ada di kawasan Jalan Dhoho diperkuat pula dengan kajian tim dari Institut Teknologi 10 Nopember (ITS). Berdasarkan kajian tersebut, dinas PUPR memastikan arsitektur bangunan infrastruktur di Jalan Dhoho tidak hanya berasal dari satu masa saja. Model arsiteknya akan sangat kaya dengan variasi. 

Agar penataan bangunannya lebih terarah lagi, Pemkot Kediri perlu pula masukan dari berbagai pihak. Bukan saja eksekutif dan legislatif tapi juga budayawan dan sejarawan. Tujuannya, supaya program pembangunan memiliki guiden.

Ia meyakini pemikiran bersama-sama itulah yang bisa menjadikan penataan Jalan Dhoho menjadi lebih baik. Apa yang telah disiapkan dinas PUPR itu selaras dengan hasil survei yang pernah dilakukan pemkot terhadap orang luar tentang Kediri. Salah satunya mengenai kerajaannya yang tua.

Baca Juga :  SMK PGRI 2 Kota Kediri Jalin Kerja Sama dengan IC Tech Co. Ltd Jepang

“Ada tiga yang lekat dengan Kota Kediri, Gudang Garam (perusahaan rokok, Red), tahu, dan kerajaan Kediri,” ungkap Kepala Barenlitbang Chevy Ning Suyudi.

Dari survei tersebut, orang tahu Kediri dari kerajaannya yang tua. Karena itulah, ada harapan ornamen masa kerajaan tidak dihilangkan dari arsitektur bangunan. Kerajaan Kediri sudah sangat dikenal oleh orang di luar Kediri.

Artinya, kerajaan yang jadi ciri khas Kota Kediri ini sudah terlegitimasi di masyarakat luas. Karena itulah, perlu memperkuatnya lewat bangunan yang baru tanpa menghilangkan arsitek lama lainnya. Seperti ragam bangunan masa kolonial dan pecinan. (rq/fud/bersambung)

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/