25.6 C
Kediri
Saturday, June 25, 2022

Terpaksa PHK Karyawan, Jualan Sayuran untuk Makan

Pandemi Covid-19 membuat Supar, perajin sound system harus memutar haluan. Dia tidak lagi mengandalkan pesanan sound system untuk membuat dapurnya mengepul. Namun, Supar harus banting setir menjadi penjual sayuran di pagi hari.

 

KAREN WIBI. NGANJUK, JP Radar Nganjuk

 

Suara mesin potong kayu dan besi di halaman belakang rumah Supar, warga Kelurahan Kauman, Kecamatan Nganjuk jarang terdengar saat ini. Padahal, biasanya mulai pagi hingga sore hari, Supar dan karyawannya sangat sibuk.  Bahkan, tak jarang mereka harus nglembur membuat sound system hingga malam hari. Apalagi, jika sedang musim hajatan pernikahan dan khitanan.

Namun, kondisi itu berbeda 180 derajat sekarang. Di samping rumah yang menghadap barat itu, hanya ada beberapa papan besi hitam yang sedang dijemur. Jika dihitung dengan jari juga bisa. Hanya ada 8 buah papan.

Baca Juga :  Kerusakan Jalan di Sumengko Semakin Parah

Saat masuk ke ruangan, hanya ada Supar dan dua karyawannya sedang bekerja. “Delapan karyawan terpaksa saya rumahkan karena sepi pesanan sound system saat pandemi korona,” ungkap Supar.

Tiga orang itu terlihat sangat serius membuat sound system. Mereka punya tugas  yang berbeda. Ada yang  menghaluskan permukaan besi.

Lalu, satu lagi pekerja  sedang melubangi beberapa besi yang sudah berkarat. Sedangkan, Supar memiliki bagian membengkokkan beberapa besi. Itu akan menjadi bagian terluar dari sound system. “Saya membuat sound system sejak 2005,” ujar Supar.

Selama 16 tahun itu, tahun ini menjadi tahun terberat Supar. Apalagi, saat pemerintah memutuskan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Pesta pernikahan dan khitanan tidak ada. Akibatnya, semua hal yang berhubungan dengan pesta pernikahan dan khitanan, termasuk  perajin sound system ikut kelimpungan.

Baca Juga :  Ngebut di Tol saat Hujan, Tubruk Truk

Untuk bertahan hidup, pria berusia 42 tahun ini mulai banting setir. Dia tidak lagi mengandalkan sound system. Setiap pagi hari, Supar berjualan sayur di rumah. Itu dilakukan agar dapur tetap mengepul. Karena pesanan sound system sudah tidak bisa diharapkan lagi.

Apalagi, Supar adalah pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Modal usahanya berasal dari pinjaman. Sehingga, jika tidak ada pemasukan, dia juga kesulitan untuk mengangsur pinjaman.

Saat ini, Supar hanya bisa terus berusaha dan berdoa. Dia berharap, pandemi Covid-19 segera berakhir. Sehingga, masa kejayaan perajin sound system yang pernah dirasakan bisa terulang. “Saya dulu pernah dapat pesanan sound system dari seluruh Jawa Timur, Sumatera, hingga Kalimantan,” kenangnya.

- Advertisement -

Pandemi Covid-19 membuat Supar, perajin sound system harus memutar haluan. Dia tidak lagi mengandalkan pesanan sound system untuk membuat dapurnya mengepul. Namun, Supar harus banting setir menjadi penjual sayuran di pagi hari.

 

KAREN WIBI. NGANJUK, JP Radar Nganjuk

 

Suara mesin potong kayu dan besi di halaman belakang rumah Supar, warga Kelurahan Kauman, Kecamatan Nganjuk jarang terdengar saat ini. Padahal, biasanya mulai pagi hingga sore hari, Supar dan karyawannya sangat sibuk.  Bahkan, tak jarang mereka harus nglembur membuat sound system hingga malam hari. Apalagi, jika sedang musim hajatan pernikahan dan khitanan.

Namun, kondisi itu berbeda 180 derajat sekarang. Di samping rumah yang menghadap barat itu, hanya ada beberapa papan besi hitam yang sedang dijemur. Jika dihitung dengan jari juga bisa. Hanya ada 8 buah papan.

Baca Juga :  Ubah Limbah Plastik Jadi BBM

Saat masuk ke ruangan, hanya ada Supar dan dua karyawannya sedang bekerja. “Delapan karyawan terpaksa saya rumahkan karena sepi pesanan sound system saat pandemi korona,” ungkap Supar.

Tiga orang itu terlihat sangat serius membuat sound system. Mereka punya tugas  yang berbeda. Ada yang  menghaluskan permukaan besi.

Lalu, satu lagi pekerja  sedang melubangi beberapa besi yang sudah berkarat. Sedangkan, Supar memiliki bagian membengkokkan beberapa besi. Itu akan menjadi bagian terluar dari sound system. “Saya membuat sound system sejak 2005,” ujar Supar.

Selama 16 tahun itu, tahun ini menjadi tahun terberat Supar. Apalagi, saat pemerintah memutuskan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Pesta pernikahan dan khitanan tidak ada. Akibatnya, semua hal yang berhubungan dengan pesta pernikahan dan khitanan, termasuk  perajin sound system ikut kelimpungan.

Baca Juga :  Warga Surabaya di RSUD Nganjuk, Ada Apa?

Untuk bertahan hidup, pria berusia 42 tahun ini mulai banting setir. Dia tidak lagi mengandalkan sound system. Setiap pagi hari, Supar berjualan sayur di rumah. Itu dilakukan agar dapur tetap mengepul. Karena pesanan sound system sudah tidak bisa diharapkan lagi.

Apalagi, Supar adalah pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Modal usahanya berasal dari pinjaman. Sehingga, jika tidak ada pemasukan, dia juga kesulitan untuk mengangsur pinjaman.

Saat ini, Supar hanya bisa terus berusaha dan berdoa. Dia berharap, pandemi Covid-19 segera berakhir. Sehingga, masa kejayaan perajin sound system yang pernah dirasakan bisa terulang. “Saya dulu pernah dapat pesanan sound system dari seluruh Jawa Timur, Sumatera, hingga Kalimantan,” kenangnya.

Artikel Terkait

Most Read

Megengan Pandemi

Sembadra Karya


Artikel Terbaru

/