23.7 C
Kediri
Sunday, June 26, 2022

Lereng Utara Kelud, Kawasan Penting Sejarah Jawa (3)

Peradaban kuno di wilayah Kediri sangat dimungkinkan berasal dari kawasan timur kabupaten ini. Banyak bukti peninggalan bersejarah yang terserak. Bahkan sisa-sisa adanya permukiman itu pun hingga kini masih terlihat di Desa Siman.

 

MOCH. DIDIN SAPUTRO, Kabupaten, JP Radar Kediri.

 

       Perjalanan menuju Desa Siman, Kecamatan Kepung bisa ditempuh dengan mudah. Daerah yang merupakan salah satu desa paling timur di Kabupaten Kediri ini jaraknya sekitar 15 kilometer dari alun-alun Kecamatan Pare. Banyak bukti peninggalan masa klasik di desa ini. Salah satunya adalah keberadaan Prasasti Paradah. Total ada dua prasasti yang hingga kini dalam kondisi masih utuh.

       Prasasti itu berada di Dusun Bogor Pradah. Dusun itu sesuai nama prasasti peninggalan era klasik yakni Kerajaan Medang atau Mataram Kuno. Di sekitar prasasti paradah juga terdapat bukti-bukti bersejarah lain. Salah satunya adalah bukti sejumlah artefak dikumpulkan di sebuah punden dusun.

       Kata pemerhati sejarah Novi Bahrul Munib, punden yang menyimpan berbagai temuan artefak dan arca itu memang kental akan nama Paradah. Itu mengacu pada nama daerah lama pada masa Kerajaan Medang. Selama ini memang tak banyak yang tahu bahwa punden ini ternyata ada di daerah yang diperkirakan merupakan bekas pemukiman kuno.

Baca Juga :  Terbiasa Keluar Masuk Hutan sejak Kecil

       Kata Novi, yang jadi dasarnya adalah banyaknya temuan yang terkait dengan peradaban kuno yang ada di punden tersebut. “Seperti adanya umpak penyangga tiang bangunan, ambang pintu atau dorpel, dan masih ada lumpang batu,” ungkapnya.

       Tak hanya temuan itu, di kawasan itu juga banyak ditemukan benda-benda bersejatah lain. “Di sekitar sini juga banyak ditemukan gerabah, pecahan keramik, dan batu bata kuno. Lokasinya di areal kebun dan persawahan warga,” tambahnya.

       Memang, tak hanya di kawasan punden saja. Ketika menyusuri jalanan di sekitar areal tegal milik warga, ada sejumlah pecahan batu bata merah, keramik, dan genteng. Pecahan tersebut bercampur dengan tanah. Dibuat guludan untuk tanaman budidaya. Namun ada sejumlah pecahan batu bata yang terlihat jelas di tepi jalan menuju punden.

Baca Juga :  Sembuh Tujuh, Tambah Pasien Positif 2 Orang

       Bahkan jika melihat referensi sejarah, kawasan Paradah itu menurutnya sangat luas. Bahkan sempat disebut pada Prasasti Gneng I atau Brumbung I yang diterbitkan Raja Bameswara di era Kerajaan Kediri. “Di Prasasti Gneng I (Brumbung, Red) terbaca kalau Gneng masih masuk Watak Paradah,” jelas Novi.

       Di Desa Brumbung juga demikian, temuan artefak yang mengacu pada permukiman kuno juga cukup banyak. Bukti itu kini disimpan di museum mini desa setempat. Ada dorepel, lumping, dan juga jambangan.

Peradaban permukiman kuno di kawasan ini memang diperjelas dari keterangan Sejarawan Sigit Widiatmoko. Guru Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri ini menyatakan bahwa kawasan tersebut memiliki banyak bukti peninggalan.        Terutama yang paling istimewa adalah Prasasti Harinjing. Yang terkenal akan jasa Bhagawanta Bhari dalam menjaga peninggalan nenek moyang dan berhasil membuat terobosan untuk meningkatkan hasil pertanian. “Jadi kawasan itu pasti sudah makmur sejak dulu. Dibuktikan dengan banyaknya penemuan-penemuan benda kuno di sana,” jelas Sigit. (dea/bersambung)

- Advertisement -

Peradaban kuno di wilayah Kediri sangat dimungkinkan berasal dari kawasan timur kabupaten ini. Banyak bukti peninggalan bersejarah yang terserak. Bahkan sisa-sisa adanya permukiman itu pun hingga kini masih terlihat di Desa Siman.

 

MOCH. DIDIN SAPUTRO, Kabupaten, JP Radar Kediri.

 

       Perjalanan menuju Desa Siman, Kecamatan Kepung bisa ditempuh dengan mudah. Daerah yang merupakan salah satu desa paling timur di Kabupaten Kediri ini jaraknya sekitar 15 kilometer dari alun-alun Kecamatan Pare. Banyak bukti peninggalan masa klasik di desa ini. Salah satunya adalah keberadaan Prasasti Paradah. Total ada dua prasasti yang hingga kini dalam kondisi masih utuh.

       Prasasti itu berada di Dusun Bogor Pradah. Dusun itu sesuai nama prasasti peninggalan era klasik yakni Kerajaan Medang atau Mataram Kuno. Di sekitar prasasti paradah juga terdapat bukti-bukti bersejarah lain. Salah satunya adalah bukti sejumlah artefak dikumpulkan di sebuah punden dusun.

       Kata pemerhati sejarah Novi Bahrul Munib, punden yang menyimpan berbagai temuan artefak dan arca itu memang kental akan nama Paradah. Itu mengacu pada nama daerah lama pada masa Kerajaan Medang. Selama ini memang tak banyak yang tahu bahwa punden ini ternyata ada di daerah yang diperkirakan merupakan bekas pemukiman kuno.

Baca Juga :  Kisah-Kisah Menarik dari Kuliner ‘Akulturasi’ Tionghoa –Kediri (2)

       Kata Novi, yang jadi dasarnya adalah banyaknya temuan yang terkait dengan peradaban kuno yang ada di punden tersebut. “Seperti adanya umpak penyangga tiang bangunan, ambang pintu atau dorpel, dan masih ada lumpang batu,” ungkapnya.

       Tak hanya temuan itu, di kawasan itu juga banyak ditemukan benda-benda bersejatah lain. “Di sekitar sini juga banyak ditemukan gerabah, pecahan keramik, dan batu bata kuno. Lokasinya di areal kebun dan persawahan warga,” tambahnya.

       Memang, tak hanya di kawasan punden saja. Ketika menyusuri jalanan di sekitar areal tegal milik warga, ada sejumlah pecahan batu bata merah, keramik, dan genteng. Pecahan tersebut bercampur dengan tanah. Dibuat guludan untuk tanaman budidaya. Namun ada sejumlah pecahan batu bata yang terlihat jelas di tepi jalan menuju punden.

Baca Juga :  Manusuk Sima, Tegaskan Kota Kediri Jadi Destinasi Wisata Budaya

       Bahkan jika melihat referensi sejarah, kawasan Paradah itu menurutnya sangat luas. Bahkan sempat disebut pada Prasasti Gneng I atau Brumbung I yang diterbitkan Raja Bameswara di era Kerajaan Kediri. “Di Prasasti Gneng I (Brumbung, Red) terbaca kalau Gneng masih masuk Watak Paradah,” jelas Novi.

       Di Desa Brumbung juga demikian, temuan artefak yang mengacu pada permukiman kuno juga cukup banyak. Bukti itu kini disimpan di museum mini desa setempat. Ada dorepel, lumping, dan juga jambangan.

Peradaban permukiman kuno di kawasan ini memang diperjelas dari keterangan Sejarawan Sigit Widiatmoko. Guru Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri ini menyatakan bahwa kawasan tersebut memiliki banyak bukti peninggalan.        Terutama yang paling istimewa adalah Prasasti Harinjing. Yang terkenal akan jasa Bhagawanta Bhari dalam menjaga peninggalan nenek moyang dan berhasil membuat terobosan untuk meningkatkan hasil pertanian. “Jadi kawasan itu pasti sudah makmur sejak dulu. Dibuktikan dengan banyaknya penemuan-penemuan benda kuno di sana,” jelas Sigit. (dea/bersambung)

Artikel Terkait

Most Read

Megengan Pandemi

Sembadra Karya


Artikel Terbaru

/