24.1 C
Kediri
Monday, August 15, 2022

Kisah Heri Sutrisno, Petugas Kremasi Jenazah di Krematorium

- Advertisement -

  Meskipun sekadar membakar jenazah, pekerjaan ini bukan hal yang gampang. Butuh kecermatan agar tidak celaka. Kini, penerus pekerjaan ini juga semakin sulit didapat.

 

DWIYAN SETYA NUGRAHA

 

Bangunan kokoh itu berjarak sekitar 500 meter dari pintu masuk pemakaman Tionghoa Gunung Klotok. Berdiri di tengah-tengah pemakaman yang berada di Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto,  Kota Kediri. Itulah krematorium milik Dana Pangrukti Kediri.

- Advertisement -

Ada dua tempat kremasi di krematorium itu. Lengkap dengan alat pengoperasian. Jarak tempat pengoperasian ini sekitar 1,5 meter dari pintu ruang kremasi.

Tempat pembakaran mayat itu selebar 2 meteran. Dengan panjang hampir 6 meter.  Dinding dan lantainya terbuat dari batu persegi. Diatur mirip tatanan batu bata.  Di bagian belakang dibatasi tembok dengan lubang berukuran 10 cm x 10 cm. Lubang ini untuk masuknya semburan api yang berasal dari alat semacam kompor gas.

“Awalnya di sekitar tempat pembakaran ini terbuka. Namun untuk safety keluarga jenazah akhirnya dilapisi penutup di bagian depan,” terang Heri Sutrisno, petugas kremasi yang saat itu tengah bersih-bersih di lorong belakang ruang kremasi.

Ya, Heri adalah satu dari empat petugas kremasi. Bekerja dengan sistem shift. Setiap shift berisi dua petugas kremasi. Shift pertama bekerja pagi hingga siang. Sedangkan shift berikutnya siang hingga sore hari. Malam, tak ada petugas yang berjaga.

Baca Juga :  Sudah Jablai Masih Dipukuli Pula

Bagi Heri, bekerja sebagai petugas kremasi mayat tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Saat itu 2008, Heri yang masih berusia 19 tahun adalah tukang gali kubur. Juga di Makam Tionghoa Gunung Klotok tersebut. Karena Krematorium Dana Pangrukti membutuhkan petugas kremasi, Heri ditawari bergabung.

Saat tahu kalau ada tawaran bekerja di Krematorium Dana Pangrukti, Heri tak berpikir lama. Dia segera mengiyakan tawaran tersebut. Tak ada perasaan takut atau miris.

“Karena sejak awal saya bekerja sebagai tukang gali makam Tionghoa,  jadi tidak ada ketakutan sama sekali,” ungkap bapak dua anak ini.

Tidak hanya bertugas memandikan jenazah, Heri dan petugas kremasi juga  membuat sesajian hingga melakukan kremasi. ”Kalau sudah pegang jasad, pekerjaan lainnya justru biasa saja. Bahkan, tahun ini  menginjak tahun ketujuh bagi saya bekerja sebagai petugas kremasi,” terangnya.

Meskipun sekadar membakar jenazah, pekerjaan ini tak kalah berbahaya. Bahkan, bila tak cermat justru bisa membahayakan diri sendiri. Apalagi dia selalu berhubungan dengan api yang sangat panas. Jauh di atas titik didih. Mencapai 600 derajat celcius! Bayangkan bila api sepanas itu mengenai tubuh.

Menurut Heri, petugas kremasi seperti dirinya harus tepat dalam mengatur tungku pembakaran. Ada tiga katup yang harus dia kendalikan. Katup di sisi utara untuk aliran solar sebagai bahan bakar. Yang tengah untuk tekanan. Dan katup di sisi selatan untuk menyemprotkan air bila dianggap terlalu panas. Semua pengaturan harus tepat agar tidak terjadi kebakaran. Tak tepat waktu menutup pintu ruang kremasi juga bisa membahayakan dirinya. Karena api bisa mengenai tubuh.

Baca Juga :  Totok Darmanto, Warga Nganjuk yang Menciptakan Penjernih Udara

“Harus cermat dalam ngatur suhu alat pembakaran jenazah tersebut,” ungkapnya.

Bisa dibayangkan hawa panas dari balik tungku tersebut yang mencapai 600 derajat celcius. Padahal, untuk satu jasad, ia bisa membakar hingga dua jam. Itupun yang paling cepat. Bila mayatnya diberi pengawet, formalin, serta petinya tebal, bisa membutuhkan waktu lebih lama.

Bila waktu bakar lama, dia kadang mematikan terlebih dulu. Kemudian dibakar lagi. Bila tidak, khawatir tungku kepanasan karena terlalu lama.

Tantangan lainnya akan lebih terasa ketika harus memilah tulang di antara serbuk abu  pembakaran. Butuh waktu sehari untuk mendinginkan jenazah sebelum dilakukan penumbukan. “Kalau penumbukan tulang, hanya butuh 15 menit saja,” terangnya.

Kini, yang menjadi kegalauannya adalah mempersiapkan regenerasi. Mencari orang yang bisa melanjutkan pekerjaannya tersebut. Karena menurutnya, tak banyak orang yang mau bekerja sebagai tukang kremasi jenazah. “Mulai sekarang, kami mencari penerusnya. Biar nanti ketika semua petugas sudah pensiun, ada penggantinya,” pungkasnya.

- Advertisement -

  Meskipun sekadar membakar jenazah, pekerjaan ini bukan hal yang gampang. Butuh kecermatan agar tidak celaka. Kini, penerus pekerjaan ini juga semakin sulit didapat.

 

DWIYAN SETYA NUGRAHA

 

Bangunan kokoh itu berjarak sekitar 500 meter dari pintu masuk pemakaman Tionghoa Gunung Klotok. Berdiri di tengah-tengah pemakaman yang berada di Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto,  Kota Kediri. Itulah krematorium milik Dana Pangrukti Kediri.

Ada dua tempat kremasi di krematorium itu. Lengkap dengan alat pengoperasian. Jarak tempat pengoperasian ini sekitar 1,5 meter dari pintu ruang kremasi.

Tempat pembakaran mayat itu selebar 2 meteran. Dengan panjang hampir 6 meter.  Dinding dan lantainya terbuat dari batu persegi. Diatur mirip tatanan batu bata.  Di bagian belakang dibatasi tembok dengan lubang berukuran 10 cm x 10 cm. Lubang ini untuk masuknya semburan api yang berasal dari alat semacam kompor gas.

“Awalnya di sekitar tempat pembakaran ini terbuka. Namun untuk safety keluarga jenazah akhirnya dilapisi penutup di bagian depan,” terang Heri Sutrisno, petugas kremasi yang saat itu tengah bersih-bersih di lorong belakang ruang kremasi.

Ya, Heri adalah satu dari empat petugas kremasi. Bekerja dengan sistem shift. Setiap shift berisi dua petugas kremasi. Shift pertama bekerja pagi hingga siang. Sedangkan shift berikutnya siang hingga sore hari. Malam, tak ada petugas yang berjaga.

Baca Juga :  Tepergok, Pak Lurah Batal Bergoyang

Bagi Heri, bekerja sebagai petugas kremasi mayat tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Saat itu 2008, Heri yang masih berusia 19 tahun adalah tukang gali kubur. Juga di Makam Tionghoa Gunung Klotok tersebut. Karena Krematorium Dana Pangrukti membutuhkan petugas kremasi, Heri ditawari bergabung.

Saat tahu kalau ada tawaran bekerja di Krematorium Dana Pangrukti, Heri tak berpikir lama. Dia segera mengiyakan tawaran tersebut. Tak ada perasaan takut atau miris.

“Karena sejak awal saya bekerja sebagai tukang gali makam Tionghoa,  jadi tidak ada ketakutan sama sekali,” ungkap bapak dua anak ini.

Tidak hanya bertugas memandikan jenazah, Heri dan petugas kremasi juga  membuat sesajian hingga melakukan kremasi. ”Kalau sudah pegang jasad, pekerjaan lainnya justru biasa saja. Bahkan, tahun ini  menginjak tahun ketujuh bagi saya bekerja sebagai petugas kremasi,” terangnya.

Meskipun sekadar membakar jenazah, pekerjaan ini tak kalah berbahaya. Bahkan, bila tak cermat justru bisa membahayakan diri sendiri. Apalagi dia selalu berhubungan dengan api yang sangat panas. Jauh di atas titik didih. Mencapai 600 derajat celcius! Bayangkan bila api sepanas itu mengenai tubuh.

Menurut Heri, petugas kremasi seperti dirinya harus tepat dalam mengatur tungku pembakaran. Ada tiga katup yang harus dia kendalikan. Katup di sisi utara untuk aliran solar sebagai bahan bakar. Yang tengah untuk tekanan. Dan katup di sisi selatan untuk menyemprotkan air bila dianggap terlalu panas. Semua pengaturan harus tepat agar tidak terjadi kebakaran. Tak tepat waktu menutup pintu ruang kremasi juga bisa membahayakan dirinya. Karena api bisa mengenai tubuh.

Baca Juga :  Pemenuhan Hak Difabel Terkendala Data

“Harus cermat dalam ngatur suhu alat pembakaran jenazah tersebut,” ungkapnya.

Bisa dibayangkan hawa panas dari balik tungku tersebut yang mencapai 600 derajat celcius. Padahal, untuk satu jasad, ia bisa membakar hingga dua jam. Itupun yang paling cepat. Bila mayatnya diberi pengawet, formalin, serta petinya tebal, bisa membutuhkan waktu lebih lama.

Bila waktu bakar lama, dia kadang mematikan terlebih dulu. Kemudian dibakar lagi. Bila tidak, khawatir tungku kepanasan karena terlalu lama.

Tantangan lainnya akan lebih terasa ketika harus memilah tulang di antara serbuk abu  pembakaran. Butuh waktu sehari untuk mendinginkan jenazah sebelum dilakukan penumbukan. “Kalau penumbukan tulang, hanya butuh 15 menit saja,” terangnya.

Kini, yang menjadi kegalauannya adalah mempersiapkan regenerasi. Mencari orang yang bisa melanjutkan pekerjaannya tersebut. Karena menurutnya, tak banyak orang yang mau bekerja sebagai tukang kremasi jenazah. “Mulai sekarang, kami mencari penerusnya. Biar nanti ketika semua petugas sudah pensiun, ada penggantinya,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/