23.9 C
Kediri
Tuesday, July 5, 2022

Rudy Sucahyo, Mantan Musisi yang Berinovasi Ciptakan Genset Tenaga Cahaya

Hanya Dua kata, mengurangi polusi. Tapi, sudah menggerakkan mantan musisi kafe ini berbuat nyata. Merakit genset yang bersumber tenaga surya.

Lelaki berpeci bundar itu menyinari papan kecil berwarna hitam yang ada di atas kotak sebesar CPU komputer di mejanya. Beberapa saat kemudian, papan kecil itu berputar. Mencari sumber cahaya. Lelaki itu kemudian mengubah posisi lampu yang dia pegang. Ke arah kiri benda tersebut. Ternyata, papan kecil itu tetap mengikuti.

Pria bernama Rudy Sucahyo itu bukan tengah bermain-main. Melainkan sedang mengetes genset tenaga surya rakitannya. Ternyata berhasil, papan hitam kecil itu menangkap  cahaya yang dia berikan. Kemudian menjadi tenaga untuk menghidupkan kotak yang ada di bawahnya.

“Kalau cahaya dari lampu, harus sedekat ini. Sekitar lima sampai 10 meter,” tunjuknya, sambil memeragakan posisi lampu dengan genset kecil bikinannya.

Tenaga yang dikeluarkan juga tidak sebesar genset berbahan bakar minyak bumi. Tapi masih bisa memenuhi kebutuhan listrik satu rumah. Rentang waktunya, bila terisi penuh, sekitar satu sampai dua jam.

Rudy tak hanya berteori. Dia sudah merasakan manfaat karyanya itu untuk kebutuhan rumahnya.

“Belum tak produksi massal, hanya alternatif saja,” ucapnya.

Peralatan ciptaannya itu merupakan pengembangan dari teknologi tenaga surya. Berawal dari keresahannya karena melihat fakta menurunnya kadar oksigen. Kalau dibiarkan, kerusakan lingkungan yang terjadi bisa kian parah.

Baca Juga :  Pemasok BPNT Ditekan Roro?

Dia tidak langsung menyalahkan ‘gambar besarnya’, yaitu akibat karbon dari kendaraan bermotor. Tapi, dia memilih berinstropeksi pada hal-hal kecil di sekitarnya.

“Kepikiran ya dari genset. Asap genset kan juga mengandung karbon yang tidak baik bagi kesehatan,” ujar bapak yang memiliki tiga anak ini.

Dia pun mencoba merakit genset. Upaya yang tergolong nekat karena harus dia mulai dari nol. Ya, pria asal Desa Kandat, Kecamatan Kandat ini sama sekali tak punya skill di dunia permesinan dan kelistrikan. Pengetahuannya dia dapat dari otodidak. Sejak SMA hingga kuliah, dia beberapa kali mencoba memperbaiki mesin. Kemudian merakit ulang.

Pekerjaan yang dia geluti pun jauh dari lumuran oli mesin atau tegangan listrik. Karena dia adalah seorang musisi. Yang bekerja dari hotel dan kafe di Pulau Bali.

“Dulu menggitar dan menyanyi. Bayarannya juga lumayan di kafe yang banyak bulenya. Yang request lagu,” tawanya.

Tapi, saat senggang di sela bekerja, waktunya dia gunakan belajar mesin dan listrik. Satu skill yang menurutnya wajib dimiliki setiap lelaki. Yang akan menjadi kepala rumah tangga. Minimal tahu dan bisa mengoperasikan.

Kemampuannya itu dia maksimalkan untuk membuat alat ini sekitar dua tahun lalu. Trial and error  sudah pasti terjadi dalam prosesnya. Selama hampir satu tahun ia merasakan kegagalan. Jutaan rupiah uang yang ia rogoh dari kantongnya sendiri tak berhasil menjadi genset tenaga surya.

Baca Juga :  Kampung Keren Jadi Rujukan Tempat Wisata

Namun Rudy tak menyerah. Dirinya terus belajar dari kesalahan. Menganalisa apa yang kurang dari build awal. Hingga akhirnya dia berhasil membuatnya.

Dia memang tak membuat massal peralatannya itu. Tapi, dia juga meladeni bila ada permintaan. Setidaknya, dia sudah mem-build dua unit genset yang merupakan pesanan warga Kediri.

“Bagi saya, alat ini manfaat utamanya adalah untuk mengurangi polusi udara,” kata Rudy.
Ia juga berpikir ingin lebih bermanfaat bagi keluarga dan lingkungan. Makanya ia juga mengajar mengaji di musala dekat rumah. Kemudian, santri-santri mengajinya ada yang terlibat dalam merakit genset tenaga surya.

“Todal ada empat orang yang ikut dalam grup dan merakit genset,” terangnya.

Apresiasi terhadap genset bikinan Rudy juga muncul. Saat diikutkan dalam lomba Kediri Cerdas yang berlangsung Maret lalu, genset ini meraih juara. Mendapat juara ketiga untuk kategori inovasi dalam lomba yang digelar oleh Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan (Barenlitbang) Kabupaten Kediri ini.

Setelah ngobrol panjang lebar, Rudy mencoba menggunakan alat yang sudah dia recharge itu. Dicoba untuk menyalakan lampu, mengisi daya gawai, hingga menyalakan kipas angin.






Reporter: Iqbal Syahroni
- Advertisement -

Hanya Dua kata, mengurangi polusi. Tapi, sudah menggerakkan mantan musisi kafe ini berbuat nyata. Merakit genset yang bersumber tenaga surya.

Lelaki berpeci bundar itu menyinari papan kecil berwarna hitam yang ada di atas kotak sebesar CPU komputer di mejanya. Beberapa saat kemudian, papan kecil itu berputar. Mencari sumber cahaya. Lelaki itu kemudian mengubah posisi lampu yang dia pegang. Ke arah kiri benda tersebut. Ternyata, papan kecil itu tetap mengikuti.

Pria bernama Rudy Sucahyo itu bukan tengah bermain-main. Melainkan sedang mengetes genset tenaga surya rakitannya. Ternyata berhasil, papan hitam kecil itu menangkap  cahaya yang dia berikan. Kemudian menjadi tenaga untuk menghidupkan kotak yang ada di bawahnya.

“Kalau cahaya dari lampu, harus sedekat ini. Sekitar lima sampai 10 meter,” tunjuknya, sambil memeragakan posisi lampu dengan genset kecil bikinannya.

Tenaga yang dikeluarkan juga tidak sebesar genset berbahan bakar minyak bumi. Tapi masih bisa memenuhi kebutuhan listrik satu rumah. Rentang waktunya, bila terisi penuh, sekitar satu sampai dua jam.

Rudy tak hanya berteori. Dia sudah merasakan manfaat karyanya itu untuk kebutuhan rumahnya.

“Belum tak produksi massal, hanya alternatif saja,” ucapnya.

Peralatan ciptaannya itu merupakan pengembangan dari teknologi tenaga surya. Berawal dari keresahannya karena melihat fakta menurunnya kadar oksigen. Kalau dibiarkan, kerusakan lingkungan yang terjadi bisa kian parah.

Baca Juga :  Ingin Keren, Remaja-Remaja Ini Nekat Menantang Bahaya

Dia tidak langsung menyalahkan ‘gambar besarnya’, yaitu akibat karbon dari kendaraan bermotor. Tapi, dia memilih berinstropeksi pada hal-hal kecil di sekitarnya.

“Kepikiran ya dari genset. Asap genset kan juga mengandung karbon yang tidak baik bagi kesehatan,” ujar bapak yang memiliki tiga anak ini.

Dia pun mencoba merakit genset. Upaya yang tergolong nekat karena harus dia mulai dari nol. Ya, pria asal Desa Kandat, Kecamatan Kandat ini sama sekali tak punya skill di dunia permesinan dan kelistrikan. Pengetahuannya dia dapat dari otodidak. Sejak SMA hingga kuliah, dia beberapa kali mencoba memperbaiki mesin. Kemudian merakit ulang.

Pekerjaan yang dia geluti pun jauh dari lumuran oli mesin atau tegangan listrik. Karena dia adalah seorang musisi. Yang bekerja dari hotel dan kafe di Pulau Bali.

“Dulu menggitar dan menyanyi. Bayarannya juga lumayan di kafe yang banyak bulenya. Yang request lagu,” tawanya.

Tapi, saat senggang di sela bekerja, waktunya dia gunakan belajar mesin dan listrik. Satu skill yang menurutnya wajib dimiliki setiap lelaki. Yang akan menjadi kepala rumah tangga. Minimal tahu dan bisa mengoperasikan.

Kemampuannya itu dia maksimalkan untuk membuat alat ini sekitar dua tahun lalu. Trial and error  sudah pasti terjadi dalam prosesnya. Selama hampir satu tahun ia merasakan kegagalan. Jutaan rupiah uang yang ia rogoh dari kantongnya sendiri tak berhasil menjadi genset tenaga surya.

Baca Juga :  10 Guru di Kota Kediri Terancam Batal Jadi P3K

Namun Rudy tak menyerah. Dirinya terus belajar dari kesalahan. Menganalisa apa yang kurang dari build awal. Hingga akhirnya dia berhasil membuatnya.

Dia memang tak membuat massal peralatannya itu. Tapi, dia juga meladeni bila ada permintaan. Setidaknya, dia sudah mem-build dua unit genset yang merupakan pesanan warga Kediri.

“Bagi saya, alat ini manfaat utamanya adalah untuk mengurangi polusi udara,” kata Rudy.
Ia juga berpikir ingin lebih bermanfaat bagi keluarga dan lingkungan. Makanya ia juga mengajar mengaji di musala dekat rumah. Kemudian, santri-santri mengajinya ada yang terlibat dalam merakit genset tenaga surya.

“Todal ada empat orang yang ikut dalam grup dan merakit genset,” terangnya.

Apresiasi terhadap genset bikinan Rudy juga muncul. Saat diikutkan dalam lomba Kediri Cerdas yang berlangsung Maret lalu, genset ini meraih juara. Mendapat juara ketiga untuk kategori inovasi dalam lomba yang digelar oleh Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan (Barenlitbang) Kabupaten Kediri ini.

Setelah ngobrol panjang lebar, Rudy mencoba menggunakan alat yang sudah dia recharge itu. Dicoba untuk menyalakan lampu, mengisi daya gawai, hingga menyalakan kipas angin.






Reporter: Iqbal Syahroni

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/