25 C
Kediri
Thursday, July 7, 2022

Ingin Gula dari Tanaman Herbal? Tanya Anis Suriyah

Awalnya dia merintis usaha sepatu batik tulis. Namun ada potensi lain dari wanita ini yang mampu dibaca oleh istri Wakil Bupati Kediri. Menggalakkan tanaman herbal.

 

 

Rumah di Desa Tunge, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri itu terasa asri. Berhias tanaman yang tumbuh subur. Tak hanya memenuhi halaman. Juga menjalar menjalar hingga ke dalam green house yang juga ada di depan rumah.

“Edukasi tanaman herbal ini baru berjalan selama dua bulan,” terang perempuan berkerudung merah muda. Sembari menyirami aneka tanaman yang ada di dalam green house.

Wanita itu bernama lengkap Anis Suriyah. Panggilan sehari-harinya Anis. Punya banyak kegiatan. Di antaranya sebagai pengurus lembaga sosial kesejahteraan anak (LKSA) Darul Muslimat NU ‘Budi Mulia’. Menjabat sebagai sekretaris. Selain, tentu saja, aktif sebagai pembudi daya tanaman herbal.

Koleksi tanaman herbalnya tak terbilang. Mulai dari ginseng Jawa, bidara, wijaya kusuma, dan, yang paling utama adalah Stevia. Tanaman yang jadi pemanis alami menyehatkan bernama latin stevia rebaudiana.

Stevia tak sekadar punya kandungan gula. Kandungan gula itu sangat cocok untuk pemilik penyakit diabetes maupun darah tinggi.

“Di daerah sini masih jarang yang membudidayakan tanaman ini,” imbuhnya.

Sebelum menggeluti pengembangan tanaman herbal, Anis mencoba peruntungan dengan membuka usaha pembuatan sepatu dari kain batik tulis. Suatu saat dia mendapat kunjungan dari Ketua Tim Penggerak PKK Rosyidah Masykuri. Istri Wakil Bupati Kediri Masykuri itu ternyata melihat potensi lain dari Anis. Yaitu di bidang budi daya tanaman herbal.

Baca Juga :  Tanah Pasir Hambat Pembangunan Jalan Kelud

Anis bercerita, saat itu Rosyidah Masykuri mengatakan bahwa bisnis sepatu memerlukan modal besar. Juga kalah pasar dengan perusahaan besar yang punya produk serupa. Karena itu dia diminta fokus pada bidang budi daya tanaman herbal yang juga telah digeluti.

“Saya kemudian mengembangan stevia. Saya kirim ke Kampung Anggrek yang ada swalayan tanaman di sana,” terang ibu dua anak ini.

Membudi dayakan stevia sudah dia geluti selama dua tahun lebih. Memang, soal merawat tanaman adalah kegemarannya.

Ide untuk mengembangkan tanaman stevia dia peroleh saat mengikuti acara yang digelar Muslimat NU Kabupaten Kediri. Kala itu ada promo dari produk yang menggunakan stevia sebagai bahan pemanis.

Karena penasaran ia mencari tahu kandungan tanaman tersebut. Ternyata berbagai khasiat banyak terkandung di tanaman berdaun tebal ini. Selain itu, belum banyak orang yang membudidayakan.

“Tiga tahun lalu ada pameran di dinas pertanian. Ada stan yang menjual stevia dengan tingga 13 sentimeter dijual dengan harga Rp 30 ribu,” ungkap Anis.

Dia kemudian membeli bibit stevia itu. Bermodal Rp 450 ribu. Tapi tidak di pameran tersebut. Anis memilih membeli online dari pedagang di Bogor. Jumlahnya 10 bibit. Namun, lima di antaranya mati. Dari yang tersisa itu dia kemudian mengembang-biakkan. Kemudian menjualnya. Lama-lama akhirnya dia bisa mendapatkan penghasilan dari aktivitasnya itu.

Kini, Anis tak hanya menjual bibit saja. Dia mendirikan Griya Edukasi Herbal Sekar Kinanti Tunge. Yang juga mengajarkan cara menanam.

Baca Juga :  Pantau di Web dan Medsos Radar Kediri untuk Info Produk dan Diskonnya

Di griya edukasi itu Anis mengajarkan cara menanam yang nonkimia. Media tanam menggunakan sekam bercampur tanah. “Media tanaman ini sangat berpengaruh dengan buah yang dihasilkan,” jelas Anis Rodiyah.

Perempuan 46 tahun ini memulai griya edukasi setelah pandemi korona menyerang. Membuat tempat wisata yang jadi lokasi jualan tanaman herbalnya tutup. Saat itu, untuk beberapa saat dia tak bisa menyalurkan produksinya. Bibit stevia dan yang lain jadi menumpuk.

Tapi Anis tak menyerah. Dia kemudian mendirikan tempat edukasi herbal itu. Lokasinya di halaman. Pembangunannya butuh waktu panjang. “Ada beberapa bagian yang saya kerjakan sendiri. Seperti tangga dan batu pijakan taman,” imbuhnya.

Di tempatnya saat ini terdapat 40-an jenis tanaman herbal. Mulai dari stevia, insulin, mint, bidara, ginseng Jawa, dlingo, kumis kucing, lavender, cabai jamu, cincau, krisan (seruni), stroberi, wijaya kusuma, dewandaru, sambiloto, daun ungu, katuk, kucai, rosella, kelor, cabai pelangi, seledri, sirih merah, sirih gading, dan sirih Hijau.

“Karena saya belajar otodidak, di sini kami bisa berbagi ilmu tentang tanaman herbal,” tutur Anis.

Khusus Stevia, Anis mengatakan tanaman ini merupakan pengganti gula. Cara mengolahnya ada tiga macam. Daun yang masih segar bisa diseduh dengan air mendidih. Atau, daunnya bisa dikeringkan lebih dulu. Setelah itu diseduh dengan air panas. Sedangkan bila untuk kebutuhan membuat sirup, daun stevia kering diblender. Setelah hancur diseduh dengan air mendidih kemudian disaring. “Untuk pemakaian, cukup beberapa tetes karena ini manis,” pungkasnya.

- Advertisement -

Awalnya dia merintis usaha sepatu batik tulis. Namun ada potensi lain dari wanita ini yang mampu dibaca oleh istri Wakil Bupati Kediri. Menggalakkan tanaman herbal.

 

 

Rumah di Desa Tunge, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri itu terasa asri. Berhias tanaman yang tumbuh subur. Tak hanya memenuhi halaman. Juga menjalar menjalar hingga ke dalam green house yang juga ada di depan rumah.

“Edukasi tanaman herbal ini baru berjalan selama dua bulan,” terang perempuan berkerudung merah muda. Sembari menyirami aneka tanaman yang ada di dalam green house.

Wanita itu bernama lengkap Anis Suriyah. Panggilan sehari-harinya Anis. Punya banyak kegiatan. Di antaranya sebagai pengurus lembaga sosial kesejahteraan anak (LKSA) Darul Muslimat NU ‘Budi Mulia’. Menjabat sebagai sekretaris. Selain, tentu saja, aktif sebagai pembudi daya tanaman herbal.

Koleksi tanaman herbalnya tak terbilang. Mulai dari ginseng Jawa, bidara, wijaya kusuma, dan, yang paling utama adalah Stevia. Tanaman yang jadi pemanis alami menyehatkan bernama latin stevia rebaudiana.

Stevia tak sekadar punya kandungan gula. Kandungan gula itu sangat cocok untuk pemilik penyakit diabetes maupun darah tinggi.

“Di daerah sini masih jarang yang membudidayakan tanaman ini,” imbuhnya.

Sebelum menggeluti pengembangan tanaman herbal, Anis mencoba peruntungan dengan membuka usaha pembuatan sepatu dari kain batik tulis. Suatu saat dia mendapat kunjungan dari Ketua Tim Penggerak PKK Rosyidah Masykuri. Istri Wakil Bupati Kediri Masykuri itu ternyata melihat potensi lain dari Anis. Yaitu di bidang budi daya tanaman herbal.

Baca Juga :  Warga Temukan Tembok Bata Kuno

Anis bercerita, saat itu Rosyidah Masykuri mengatakan bahwa bisnis sepatu memerlukan modal besar. Juga kalah pasar dengan perusahaan besar yang punya produk serupa. Karena itu dia diminta fokus pada bidang budi daya tanaman herbal yang juga telah digeluti.

“Saya kemudian mengembangan stevia. Saya kirim ke Kampung Anggrek yang ada swalayan tanaman di sana,” terang ibu dua anak ini.

Membudi dayakan stevia sudah dia geluti selama dua tahun lebih. Memang, soal merawat tanaman adalah kegemarannya.

Ide untuk mengembangkan tanaman stevia dia peroleh saat mengikuti acara yang digelar Muslimat NU Kabupaten Kediri. Kala itu ada promo dari produk yang menggunakan stevia sebagai bahan pemanis.

Karena penasaran ia mencari tahu kandungan tanaman tersebut. Ternyata berbagai khasiat banyak terkandung di tanaman berdaun tebal ini. Selain itu, belum banyak orang yang membudidayakan.

“Tiga tahun lalu ada pameran di dinas pertanian. Ada stan yang menjual stevia dengan tingga 13 sentimeter dijual dengan harga Rp 30 ribu,” ungkap Anis.

Dia kemudian membeli bibit stevia itu. Bermodal Rp 450 ribu. Tapi tidak di pameran tersebut. Anis memilih membeli online dari pedagang di Bogor. Jumlahnya 10 bibit. Namun, lima di antaranya mati. Dari yang tersisa itu dia kemudian mengembang-biakkan. Kemudian menjualnya. Lama-lama akhirnya dia bisa mendapatkan penghasilan dari aktivitasnya itu.

Kini, Anis tak hanya menjual bibit saja. Dia mendirikan Griya Edukasi Herbal Sekar Kinanti Tunge. Yang juga mengajarkan cara menanam.

Baca Juga :  Cari Metode Ajar Sendiri dengan Bahasa Isyarat

Di griya edukasi itu Anis mengajarkan cara menanam yang nonkimia. Media tanam menggunakan sekam bercampur tanah. “Media tanaman ini sangat berpengaruh dengan buah yang dihasilkan,” jelas Anis Rodiyah.

Perempuan 46 tahun ini memulai griya edukasi setelah pandemi korona menyerang. Membuat tempat wisata yang jadi lokasi jualan tanaman herbalnya tutup. Saat itu, untuk beberapa saat dia tak bisa menyalurkan produksinya. Bibit stevia dan yang lain jadi menumpuk.

Tapi Anis tak menyerah. Dia kemudian mendirikan tempat edukasi herbal itu. Lokasinya di halaman. Pembangunannya butuh waktu panjang. “Ada beberapa bagian yang saya kerjakan sendiri. Seperti tangga dan batu pijakan taman,” imbuhnya.

Di tempatnya saat ini terdapat 40-an jenis tanaman herbal. Mulai dari stevia, insulin, mint, bidara, ginseng Jawa, dlingo, kumis kucing, lavender, cabai jamu, cincau, krisan (seruni), stroberi, wijaya kusuma, dewandaru, sambiloto, daun ungu, katuk, kucai, rosella, kelor, cabai pelangi, seledri, sirih merah, sirih gading, dan sirih Hijau.

“Karena saya belajar otodidak, di sini kami bisa berbagi ilmu tentang tanaman herbal,” tutur Anis.

Khusus Stevia, Anis mengatakan tanaman ini merupakan pengganti gula. Cara mengolahnya ada tiga macam. Daun yang masih segar bisa diseduh dengan air mendidih. Atau, daunnya bisa dikeringkan lebih dulu. Setelah itu diseduh dengan air panas. Sedangkan bila untuk kebutuhan membuat sirup, daun stevia kering diblender. Setelah hancur diseduh dengan air mendidih kemudian disaring. “Untuk pemakaian, cukup beberapa tetes karena ini manis,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/