23.3 C
Kediri
Wednesday, July 6, 2022

Ketika Penerima Bantuan KH Desa Mlancu Ingin Menggapai Harapan

 

 

Mereka tak ingin selamanya bergantung pada bantuan pemerintah. Ingin lebih berdaya hingga mampu mandiri. Salah satunya adalah mengembangkan potensi diri dengan memanfaatkan bantuan dari pemerintah.

 

“Kami selalu berupaya untuk melakukan penggalian bakat penerima bantuan. Baik itu ibu, anak, maupun bapak. Kalau mereka belum punya keterampilan, kami ikutkan pelatihan-pelatihan. Seperti pelatihan kuliner, pembuatan pupuk organik dan sebagainya.”

Kutipan itu adalah kata-kata Nur Habib. Pendamping bagi penerima Program Keluarga Harapan (PKH) di Desa Mlancu, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Kediri. Sebagai pembuka percakapan tentang upayanya mendorong kemandirian penerima PKH.

Seperti kata pepatah, hidup seperti roda berputar. Kadang di atas. Kadang juga di bawah. Nah saat berada di bawah itulah harus ada usaha untuk kembali lagi ke atas. Harus ada tekad dan semangat. Bantuan serta dorongan yang diberikan bisa menjadi pacuan untuk termotivasi menjadi lebih baik lagi.

Seperti masyarakat yang saat ini menerima program manfaat dari pemerintah. Mereka perlu motivasi agar bisa berkembang. Menjadi keluarga mandiri yang sejahtera. Tanpa harus mengandalkan bantuan dari pemerintah itu lagi.

Penerima PKH di Desa Mlancu ada yang mempunyai embrio usaha. Mereka hanya perlu dorongan agar bisa mandiri.

“Bagi yang sudah punya usaha, kira-kira apa yang bisa meningkatkan usaha itu. Baik peningkatan produktivitas dan pemasarannya,” jelas Habib.

Tak kenal lelah pria asli Desa Kepung, Kecamatan Kepung ini memberikan semangat dan motivasi. Tujuannya agar ke depan bisa mengajukan Graduasi Sejahtera Mandiri (GSM). Yakni penerima yang menyatakan lepas dari bantuan PKH. Artinya mereka sudah tak bergantung lagi karena sudah bisa mandiri.

“Alhamdulillah, pada 2019, di Desa Mlancu ada 10 orang yang GSM. Itu melebihi target yang satu tahun harus ada dua orang GSM,” ucapnya bersyukur.

Tentu, upaya yang ia lakukan itu tak sia-sia. Terasuk tekadnya dalam memacu anak-anak penerima manfaat di desa itu untuk berkreasi. Salah satunya adalah dengan pameran kesenian lukis cekakik yang digelar pada salah satu rumah warga penerima manfaat.

Baca Juga :  Melihat Perayaan Natal di Desa Sindurejo, Desa di Lereng Kelud

“Galeri ini untuk menyentil anak-anak di sini. Memotivasi keluarga PKH lebih kreatif dan bisa mengembangkan diri,” ujarnya.

Termasuk memamerkan lukisan karya anak PKH. Ada juga hasil karya berupa barong. Tujuannya adalah agar mereka yang membuat karya itu bisa bangga. “Dengan kebanggaan itu bisa membuat mereka terpacu dan tumbuh lebih baik lagi,” imbuh pria yang juga Sekretaris Lesbumi Kabupaten Kediri ini.

Habib mengatakan, jika sudah pernah berprestasi maka mereka akan semakin semangat belajar dan belajar. “Galeri lukisan cekakik hanya sarana untuk mengemas dan menjual dari hasil karya mereka. Dan itu bagian menjadi motivasi,” tambahnya.

Selain memberikan motivasi, Habib juga selalu mengingatkan. Bantuan PKH yang mereka terima harus diimbangi semangat kerja yang tinggi. Sebab, setidaknya ada yang diharapkan dari bantuan yang diberikan untuk meringankan kebutuhan keluarga itu.

“Mereka harus bisa menabung untuk kepentingan lain. Dan diharapkan bisa membuka usaha sendiri. Sehingga ke depan bisa semakin sejahtera tanpa bantuan pemerintah lagi,” tandasnya.

Pada pameran lukisan itu, menggambarkan tokoh-tokoh sejarah. Mulai dari pemuka agama di daerah seperti Mbah Imam Nawawi Desa Keling, Dewi Kilisuci, tiga tokoh  pendiri NU, Presiden Pertama RI Bung Karno, Gajahmada, juga Hasyim Mujadi.

 

Barong untuk Ringankan Beban Ortu

Sebagai penerima manfaat PKH semangat remaja satu ini patut dicontoh. Wahyu Adi Pratama namanya. Sejak duduk di bangku SMP ia mulai menggeluti kerajinan barong. Bakat terpendam yang ia akui sebagai turunan dari sang almarhum kakek. “Kalau kakek dulu buat celeng,” ujarnya.

Wahyu, panggilan remaja ini, sejak SD suka dengan kesenian jaranan. Terutama barong. Bahkan ia juga sering membuat kerajinan miniatur barong. Yang salah satunya dikreasikan menjadi gantungan kunci. Nah, saat ini ia telah kelas XI di SMK Pembangunan Kandangan. Mulai mengembangkan keterampilannya membuat barong besar.

Baca Juga :  Pandemi, Umat Hindu Kota Kediri Pilih Gelar Melasti di Pura

“Pertama buat yang pesan orang Sragen. Saat itu saya unggah di Facebook,” kata anak pertama dari tiga bersaudara ini.

Dari situ ia tertarik untuk membuat lagi. Itu sekitar tiga tahun lalu. Hingga sekarang sudah lebih dari20 barong yang telah terjual. Beberapa di antaranya dipesan warga luar pulau. Kalimantan hingga Sumatera.

Untuk menjadikan barong secara utuh ia tak melakukannya seorang diri. Tapi dibantu ibu dan ayahnya. Bahkan beberapa kali juga dibantu temannya. Terutama dalam hal pengecatan dan pembuatan kain.

Meskipun demikian, dalam menjalankan usaha kerajinan tersebut masih ada beberapa kendala. Yakni peralatan yang belum memadahi. Sehingga dalam pembuatan butuh waktu agak lama. Untuk membuatnya butuh waktu satu bulan. Hingga benar-benar jadi satu set barong secara utuh yang rata-rata dibanderol seharga Rp 2 juta itu.

“Ada beberapa teman yang tertarik dan ingin belajar,” akunya sembari mengatakan selain menerima pesanan, ia juga rutin tampil pada acara Barong Sewu di SLG.

Usaha barong yang dilakukan Wahyu tak membebaninya untuk tetap aktif bersekolah. Ia menjadikan barong itu untuk sampingan keluarga. Tentu berharap usahanya bisa menjadi salah satu alternatif peningkatan ekonomi.

“Kami senang dan mendukung. Dari hasil penjualan barong termasuk salah satunya untuk tambahan biaya sekolah dan untuk modal buat barong lagi,” kata Winarti, sang Ibu.

Ia mengaku putranya memang semangat dalam membuat barong. Terlebih sebagai penerima manfaat PKH, menjadikan keluarganya terpacu untuk bisa menjadi keluarga mandiri. Yang nantinya ingin bisa sejahtera tanpa mengandalkan bantuan dari pemerintah lagi.

Wahyu memang salah satu dari sekian penerima PKH yang berusaha untuk bisa mandiri. Menjadi motivasi keluarga lain agar lebih produktif. Semakin bersemangat untuk memanfaatkan bantuan pemerintah dengan sebaik mungkin.

 

 

- Advertisement -

 

 

Mereka tak ingin selamanya bergantung pada bantuan pemerintah. Ingin lebih berdaya hingga mampu mandiri. Salah satunya adalah mengembangkan potensi diri dengan memanfaatkan bantuan dari pemerintah.

 

“Kami selalu berupaya untuk melakukan penggalian bakat penerima bantuan. Baik itu ibu, anak, maupun bapak. Kalau mereka belum punya keterampilan, kami ikutkan pelatihan-pelatihan. Seperti pelatihan kuliner, pembuatan pupuk organik dan sebagainya.”

Kutipan itu adalah kata-kata Nur Habib. Pendamping bagi penerima Program Keluarga Harapan (PKH) di Desa Mlancu, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Kediri. Sebagai pembuka percakapan tentang upayanya mendorong kemandirian penerima PKH.

Seperti kata pepatah, hidup seperti roda berputar. Kadang di atas. Kadang juga di bawah. Nah saat berada di bawah itulah harus ada usaha untuk kembali lagi ke atas. Harus ada tekad dan semangat. Bantuan serta dorongan yang diberikan bisa menjadi pacuan untuk termotivasi menjadi lebih baik lagi.

Seperti masyarakat yang saat ini menerima program manfaat dari pemerintah. Mereka perlu motivasi agar bisa berkembang. Menjadi keluarga mandiri yang sejahtera. Tanpa harus mengandalkan bantuan dari pemerintah itu lagi.

Penerima PKH di Desa Mlancu ada yang mempunyai embrio usaha. Mereka hanya perlu dorongan agar bisa mandiri.

“Bagi yang sudah punya usaha, kira-kira apa yang bisa meningkatkan usaha itu. Baik peningkatan produktivitas dan pemasarannya,” jelas Habib.

Tak kenal lelah pria asli Desa Kepung, Kecamatan Kepung ini memberikan semangat dan motivasi. Tujuannya agar ke depan bisa mengajukan Graduasi Sejahtera Mandiri (GSM). Yakni penerima yang menyatakan lepas dari bantuan PKH. Artinya mereka sudah tak bergantung lagi karena sudah bisa mandiri.

“Alhamdulillah, pada 2019, di Desa Mlancu ada 10 orang yang GSM. Itu melebihi target yang satu tahun harus ada dua orang GSM,” ucapnya bersyukur.

Tentu, upaya yang ia lakukan itu tak sia-sia. Terasuk tekadnya dalam memacu anak-anak penerima manfaat di desa itu untuk berkreasi. Salah satunya adalah dengan pameran kesenian lukis cekakik yang digelar pada salah satu rumah warga penerima manfaat.

Baca Juga :  Desa-Desa Pemenang dalam Anugerah Desa 2018 (11/Habis)

“Galeri ini untuk menyentil anak-anak di sini. Memotivasi keluarga PKH lebih kreatif dan bisa mengembangkan diri,” ujarnya.

Termasuk memamerkan lukisan karya anak PKH. Ada juga hasil karya berupa barong. Tujuannya adalah agar mereka yang membuat karya itu bisa bangga. “Dengan kebanggaan itu bisa membuat mereka terpacu dan tumbuh lebih baik lagi,” imbuh pria yang juga Sekretaris Lesbumi Kabupaten Kediri ini.

Habib mengatakan, jika sudah pernah berprestasi maka mereka akan semakin semangat belajar dan belajar. “Galeri lukisan cekakik hanya sarana untuk mengemas dan menjual dari hasil karya mereka. Dan itu bagian menjadi motivasi,” tambahnya.

Selain memberikan motivasi, Habib juga selalu mengingatkan. Bantuan PKH yang mereka terima harus diimbangi semangat kerja yang tinggi. Sebab, setidaknya ada yang diharapkan dari bantuan yang diberikan untuk meringankan kebutuhan keluarga itu.

“Mereka harus bisa menabung untuk kepentingan lain. Dan diharapkan bisa membuka usaha sendiri. Sehingga ke depan bisa semakin sejahtera tanpa bantuan pemerintah lagi,” tandasnya.

Pada pameran lukisan itu, menggambarkan tokoh-tokoh sejarah. Mulai dari pemuka agama di daerah seperti Mbah Imam Nawawi Desa Keling, Dewi Kilisuci, tiga tokoh  pendiri NU, Presiden Pertama RI Bung Karno, Gajahmada, juga Hasyim Mujadi.

 

Barong untuk Ringankan Beban Ortu

Sebagai penerima manfaat PKH semangat remaja satu ini patut dicontoh. Wahyu Adi Pratama namanya. Sejak duduk di bangku SMP ia mulai menggeluti kerajinan barong. Bakat terpendam yang ia akui sebagai turunan dari sang almarhum kakek. “Kalau kakek dulu buat celeng,” ujarnya.

Wahyu, panggilan remaja ini, sejak SD suka dengan kesenian jaranan. Terutama barong. Bahkan ia juga sering membuat kerajinan miniatur barong. Yang salah satunya dikreasikan menjadi gantungan kunci. Nah, saat ini ia telah kelas XI di SMK Pembangunan Kandangan. Mulai mengembangkan keterampilannya membuat barong besar.

Baca Juga :  Heru Sutapa, Pendonor Plasma Konvalesen Pertama di Kota Kediri

“Pertama buat yang pesan orang Sragen. Saat itu saya unggah di Facebook,” kata anak pertama dari tiga bersaudara ini.

Dari situ ia tertarik untuk membuat lagi. Itu sekitar tiga tahun lalu. Hingga sekarang sudah lebih dari20 barong yang telah terjual. Beberapa di antaranya dipesan warga luar pulau. Kalimantan hingga Sumatera.

Untuk menjadikan barong secara utuh ia tak melakukannya seorang diri. Tapi dibantu ibu dan ayahnya. Bahkan beberapa kali juga dibantu temannya. Terutama dalam hal pengecatan dan pembuatan kain.

Meskipun demikian, dalam menjalankan usaha kerajinan tersebut masih ada beberapa kendala. Yakni peralatan yang belum memadahi. Sehingga dalam pembuatan butuh waktu agak lama. Untuk membuatnya butuh waktu satu bulan. Hingga benar-benar jadi satu set barong secara utuh yang rata-rata dibanderol seharga Rp 2 juta itu.

“Ada beberapa teman yang tertarik dan ingin belajar,” akunya sembari mengatakan selain menerima pesanan, ia juga rutin tampil pada acara Barong Sewu di SLG.

Usaha barong yang dilakukan Wahyu tak membebaninya untuk tetap aktif bersekolah. Ia menjadikan barong itu untuk sampingan keluarga. Tentu berharap usahanya bisa menjadi salah satu alternatif peningkatan ekonomi.

“Kami senang dan mendukung. Dari hasil penjualan barong termasuk salah satunya untuk tambahan biaya sekolah dan untuk modal buat barong lagi,” kata Winarti, sang Ibu.

Ia mengaku putranya memang semangat dalam membuat barong. Terlebih sebagai penerima manfaat PKH, menjadikan keluarganya terpacu untuk bisa menjadi keluarga mandiri. Yang nantinya ingin bisa sejahtera tanpa mengandalkan bantuan dari pemerintah lagi.

Wahyu memang salah satu dari sekian penerima PKH yang berusaha untuk bisa mandiri. Menjadi motivasi keluarga lain agar lebih produktif. Semakin bersemangat untuk memanfaatkan bantuan pemerintah dengan sebaik mungkin.

 

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/