23.3 C
Kediri
Thursday, August 11, 2022

Jangkar Kelud, Komunitas Relawan Bencana Tiga Kabupaten

Mereka membentuk diri usai erupsi 2007. Selama itu memang tak banyak publisitas dari mereka. Namun, kelompok relawan dari tiga daerah rawan bencana ini tetap kompak bersinergi.

 

MOCH. DIDIN SAPUTRO, Kabupaten, JP Radar Kediri.

 

Suasana hangat terasa di Gedung Pertemuan Balai Desa Kebonrejo, Kecamatan Kepung, Kamis (13/2) malam. Sejumlah orang bercengkerama satu dengan yang lain. Hujan yang lebat mengguyur kawasan lereng utara Gunung Kelud semakin menambah akrab suasana yang tercipta.

Beberapa di antaranya menceritakan kejadian kelam enam tahun silam. Tepatnya 13 Februari 2014 lalu. Saat gunung berapi yang berjarak 7 kilometer dari Desa Kebonrejo itu menyemburkan material vulkaniknya. Sementara beberapa yang lain, melakukan diskusi antar-relawan terkait kebencanaan. Mengemasnya dalam acara tahunan Refleksi Erupsi Gunung Kelud.

Salah satu yang ada di sana adalah Jangkar Kelud. Sebuah perkumpulan yang cukup dikenal di seputaran lereng Gunung Kelud. Rata-rata anggota relawan ini adalah warga yang ada di wilayah tersebut. Terutama daerah yang terdampak bencana.

“Alhamdulillah hingga saat ini kami tetap bersinergi membangun kesiapsiagaan bencana,” kata Koordinator Jangkar Kelud Wilayah Kediri Sudarmanto.

Mbah Darmo, sapaan akrabnya, menyampaikan bahwa ada 76 desa yang tergabung dalam Jangkar Kelud. Berasal dari tiga kabupaten di lingkar Gunung Kelud. Yakni Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar, dan Kabupaten Malang.

Baca Juga :  Tingkatkan Kompetensi Guru

Keberadaan mereka tentu saja penting. Mengingat kejadian erupsi kelud enam tahun silam itu menjadi hal yang butuh penanganan banyak pihak. Salah satunya adalah masyarakat lokal.

Mbah Darmo menyebut, aktivitas Jangkar Kelud sebenarnya sudah ada jauh sebelum letusan 2014 itu. Tapi, memang tak banyak yang tahu para relawan yang terbentuk setelah letusan 2007 ini terus melakukan kegiatan rutin. Terutama yang terkait dengan kebencanaan. Salah satunya adalah kewaspadaan jika sewaktu-waktu Gunung Kelud erupsi.

“Evakuasi mandiri sangatlah penting. Jadi warga yang ada di seputaran Kelud setidaknya tahu apa yang harus dilakukan ketika gunung ini erupsi,” jelasnya.

Banyak agenda yang dilakukan oleh perkumpulan relawan ini. Selain lokal latih evakuasi mandiri, juga ada silaturahmi dengan diskusi untuk menambah wawasan anggota relawan.

Sayangnya, selama aktivitas dahulu, tak ada dokumentasi yang diabadikan. Bahkan saat hari-H letusan Kelud. Mbah Darmo mengaku tak ada sama sekali dokumentasi dari relawan ini. “Itu yang menjadi keterbatasan kami dahulu. Memang anggota relawan ini dari desa. Belum banyak yang melek teknologi saat itu,” ungkapnya.

Dan hal itulah yang menurutnya membuat banyak pihak tak banyak yang tahu ada Jangkar Kelud. Selain hal itu, Mbah Darmo juga mengakui bahwa saat ada erupsi, relawan ini tak hanya memikirkan bagaimana masyarakat bisa mengungsi. Tak hanya memikirkan penyebaran informasi yang didapat langsung dari pos pemantauan Gunung Api Kelud. Namun mereka juga memikirkan bagaimana diri masing-masing saat mengungsi.

Baca Juga :  ‘Menggali’ Candi Klotok, Mencari Jejak Sejarah Besar Kota Kediri (12)

“Kami memang fokus langsung penanganan. Saat erupsi selain membantu keselamatan warga juga menyelamatkan aset pribadi. Karena kami juga korban saat itu,” ungkapnya.

Itu karena memang semua anggota rata-rata berada di kawasan rawan terdampak. Terutama di desa-desa yang dahulu terimbas letusan Kelud. Tak hanya fokus pada erupsi kelud. Namun pasca-bencana letusan itu Jangkar Kelud juga tetap aktif dalam hal kebencanaan. Seperti ancaman lahar hujan, juga tanah longsor dan banjir. “Untuk lahar hujan, kita koordinasi di daerah-daerah yang dekat dengan aliran lahar. Bahkan sampai di aliran paling bawah. Yakni di desa-desa yang aliran sungainya berhulu di Kelud,” ujar Darmo.

Di Kabupaten Kediri, ada lima kecamatan yang di dalamnya ada desa yang masuk dalam Jangkar Kelud. Yakni Kecamatan Kepung, Puncu, Kandangan, Plosoklaten, dan Ngancar. Di daerah itulah selama ini menjadi kawasan rawan bencana. Darmo berharap, perkumpulan relawan ini bisa tetap eksis. Setidaknya itu dibuktikan dengan program kegiatan dan juga agenda yang terjadwal. Apalagi dalam satu tahun ada dua kegiatan. “Ada refleksi Kelud juga ada Riyayan (Lebaran, Red). Kami selalu menjalin silaturahmi dengan dua kabupaten lain,” pungkasnya.

 

- Advertisement -

Mereka membentuk diri usai erupsi 2007. Selama itu memang tak banyak publisitas dari mereka. Namun, kelompok relawan dari tiga daerah rawan bencana ini tetap kompak bersinergi.

 

MOCH. DIDIN SAPUTRO, Kabupaten, JP Radar Kediri.

 

Suasana hangat terasa di Gedung Pertemuan Balai Desa Kebonrejo, Kecamatan Kepung, Kamis (13/2) malam. Sejumlah orang bercengkerama satu dengan yang lain. Hujan yang lebat mengguyur kawasan lereng utara Gunung Kelud semakin menambah akrab suasana yang tercipta.

Beberapa di antaranya menceritakan kejadian kelam enam tahun silam. Tepatnya 13 Februari 2014 lalu. Saat gunung berapi yang berjarak 7 kilometer dari Desa Kebonrejo itu menyemburkan material vulkaniknya. Sementara beberapa yang lain, melakukan diskusi antar-relawan terkait kebencanaan. Mengemasnya dalam acara tahunan Refleksi Erupsi Gunung Kelud.

Salah satu yang ada di sana adalah Jangkar Kelud. Sebuah perkumpulan yang cukup dikenal di seputaran lereng Gunung Kelud. Rata-rata anggota relawan ini adalah warga yang ada di wilayah tersebut. Terutama daerah yang terdampak bencana.

“Alhamdulillah hingga saat ini kami tetap bersinergi membangun kesiapsiagaan bencana,” kata Koordinator Jangkar Kelud Wilayah Kediri Sudarmanto.

Mbah Darmo, sapaan akrabnya, menyampaikan bahwa ada 76 desa yang tergabung dalam Jangkar Kelud. Berasal dari tiga kabupaten di lingkar Gunung Kelud. Yakni Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar, dan Kabupaten Malang.

Baca Juga :  Rumah Tertimpa Pohon, Satu Keluarga Mengungsi

Keberadaan mereka tentu saja penting. Mengingat kejadian erupsi kelud enam tahun silam itu menjadi hal yang butuh penanganan banyak pihak. Salah satunya adalah masyarakat lokal.

Mbah Darmo menyebut, aktivitas Jangkar Kelud sebenarnya sudah ada jauh sebelum letusan 2014 itu. Tapi, memang tak banyak yang tahu para relawan yang terbentuk setelah letusan 2007 ini terus melakukan kegiatan rutin. Terutama yang terkait dengan kebencanaan. Salah satunya adalah kewaspadaan jika sewaktu-waktu Gunung Kelud erupsi.

“Evakuasi mandiri sangatlah penting. Jadi warga yang ada di seputaran Kelud setidaknya tahu apa yang harus dilakukan ketika gunung ini erupsi,” jelasnya.

Banyak agenda yang dilakukan oleh perkumpulan relawan ini. Selain lokal latih evakuasi mandiri, juga ada silaturahmi dengan diskusi untuk menambah wawasan anggota relawan.

Sayangnya, selama aktivitas dahulu, tak ada dokumentasi yang diabadikan. Bahkan saat hari-H letusan Kelud. Mbah Darmo mengaku tak ada sama sekali dokumentasi dari relawan ini. “Itu yang menjadi keterbatasan kami dahulu. Memang anggota relawan ini dari desa. Belum banyak yang melek teknologi saat itu,” ungkapnya.

Dan hal itulah yang menurutnya membuat banyak pihak tak banyak yang tahu ada Jangkar Kelud. Selain hal itu, Mbah Darmo juga mengakui bahwa saat ada erupsi, relawan ini tak hanya memikirkan bagaimana masyarakat bisa mengungsi. Tak hanya memikirkan penyebaran informasi yang didapat langsung dari pos pemantauan Gunung Api Kelud. Namun mereka juga memikirkan bagaimana diri masing-masing saat mengungsi.

Baca Juga :  KVRR Kediri: Perpanjang hingga Slot Tambahan Penuh

“Kami memang fokus langsung penanganan. Saat erupsi selain membantu keselamatan warga juga menyelamatkan aset pribadi. Karena kami juga korban saat itu,” ungkapnya.

Itu karena memang semua anggota rata-rata berada di kawasan rawan terdampak. Terutama di desa-desa yang dahulu terimbas letusan Kelud. Tak hanya fokus pada erupsi kelud. Namun pasca-bencana letusan itu Jangkar Kelud juga tetap aktif dalam hal kebencanaan. Seperti ancaman lahar hujan, juga tanah longsor dan banjir. “Untuk lahar hujan, kita koordinasi di daerah-daerah yang dekat dengan aliran lahar. Bahkan sampai di aliran paling bawah. Yakni di desa-desa yang aliran sungainya berhulu di Kelud,” ujar Darmo.

Di Kabupaten Kediri, ada lima kecamatan yang di dalamnya ada desa yang masuk dalam Jangkar Kelud. Yakni Kecamatan Kepung, Puncu, Kandangan, Plosoklaten, dan Ngancar. Di daerah itulah selama ini menjadi kawasan rawan bencana. Darmo berharap, perkumpulan relawan ini bisa tetap eksis. Setidaknya itu dibuktikan dengan program kegiatan dan juga agenda yang terjadwal. Apalagi dalam satu tahun ada dua kegiatan. “Ada refleksi Kelud juga ada Riyayan (Lebaran, Red). Kami selalu menjalin silaturahmi dengan dua kabupaten lain,” pungkasnya.

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/