24.3 C
Kediri
Sunday, August 14, 2022

Bisnis Pakaian Bekas di Kediri: Sekarang Harus Lewat Pelabuhan Tikus

- Advertisement -

Bisnis Pakaian Bekas di Kediri: Sekarang Lewat Pelabuhan Tikus 

Bisnis pakaian bekas tak lagi menggiurkan seperti saat-saat jayanya dulu. Tepatnya pada akhir dekade 1990-an. Penyebabnya adalah terbitnya pelarangan impor pakaian bekas. Pelarangan yang tertuang dalam Permendag Nomor 51 tahun 2015 itu sontak mengebiri bisnis ini. 

Toh, bisnis pakaian bebas tetap menggeliat di wilayah Gringging. Meskipun tidak seramai dulu kios-kios yang ada masih bisa mendapat suplai barang dari pemasok. 

“Kalau baju bekas saya ambil dari distributor di Batam, yang impor dari luar negeri,” aku Yuni Hartanti.

Pengambilan dari Batam berlangsung setiap enam bulan sekali. Biasanya dikirim dengan truk. Menurut Yuni, satu truk pengiriman tak hanya bertujuan ke Kediri saja. Tapi juga beberapa kota lain seperti Malang, Jember, atau Surabaya.

- Advertisement -

Sekali pengiriman Yuni mengambil 10 koli. Harganya Rp 1 juta per kolinya. Sebelum pandemi dia bahkan berani ambil lima koli setiap dua bulan. Namun, situasi pandemi dan ketatnya aturan pemerintah membuat distributor mengurangi jumlah dan waktu pengiriman.

Meskipun ada pelarangan, Yuni yakin distributor punya cara untuk lolos dari pemeriksaan. Namun dia tak tahu dengan pasti bagaimana proses mereka mengelabui aturan yang ada. 

Yuni memang mengakui adanya pelarangan impor. Namun, sepengetahuannya, distributor punya cara untuk mendapatkan barang itu. Pakaian-pakaian bekas impor tersebut dimasukkan lewat beberapa pelabuhan kecil. “Istilahnya pelabuhan tikus,” ujarnya sembari tertawa kecil.

Baca Juga :  Tas Tali Kur Dania Fashion

Pelabuhan-pelabuhan itu berada di beberapa pulau yang mudah dijadikan akses masuk. Seperti Batam, Sumatera, Sulawesi, bahkan hingga lewat Timor Leste.

Apakah dia pernah mengalami masalah selama ini? Yuni mengaku, sejak terjun ke bisnis ini pada 1999 dia tak pernah tersandung masalah. Soal pengambilan dan pengiriman menjadi urusan distributor. “Istilahnya saya tinggal terima jadi. Bila barang kosong tinggal menghubungi distributor,” akunya. 

Cerita lain diutarakan oleh Budi Darmawan. Lelaki yang mulai terjun di bisnis ini sejak 1998 ini mengaku pernah merasakan kejayaan. Dia bahkan merupakan pelopor bisnis pakaian bekas di Pasar Gringging.

“Dulu disini kan sawah. Lalu saya yang membabat (mengawali) dan mengurus semua perizinan untuk jualan,” terangnya.

Menurutnya, saat itu minat masyarakat terhadap pakaian bekas sangat tinggi. Itu bila dibanding sekarang. “Sekarang sudah kalah dengan brand lokal yang bagus-bagus,” ujar lelaki 52 tahun itu. 

Saat jaya, dia bisa menyekolahkan keempat anaknya sampai perguruan tinggi. Apalagi dia adalah supplier terbesar di Pasar Gringging selama 10 tahun. “Saya dulu langsung ambil dari Singapura, Hongkong, dan USA,” terangnya. 

Saat itu proses perizinan impor pakaian bekas masih gampang. Beda dengan sekarang yang sulit dan ketat. “Sekarang ruwet, mangkanya saya sudah pensiun jualan pakaian bekas. Toh anak-anak sudah mentas semua,” akunya bangga.

Baca Juga :  Uniknya Kerajinan Kaca Markaz Trophy

Magnet pakaian bekas memang tak sepenuhnya luntur. Seperti yang diakui oleh Andi Prasetyo, seorang pembeli. Menurutnya, membeli pakaian bekas sangat menantang. Karena bisa mendapatkan merek-merek ternama dengan harga miring.

“Harus sabar biar dapat  barang bagus. Pernah nemu barang yang masih ada label harganya,” ceritanya.

Andi bahkan memanfaatkan hobinya berburu pakaian bekas untuk berbisnis. Dia membeli di Pasar Gringging kemudian ditawarkan melalui medsos. Karena sudah lama tertarik dengan pakaian bekas dia mengaku tak kesulitan menemukan pakaian bagus dan bermerek. Apalagi sejak kecil sudah sering diajak orang tuanya belanja ke daerah ini. 

“Dulu istilahnya dalboan.  Sekarang yang ngetren istilahnya trifthing. Dulu, waktu SMP pernah beli jaket denim bekas dengan ibu. Sekarang jaket itu masih bagus,” terangnya. 

Menurut pemuda 20 tahun ini mencari pakaian bekas seperti mencari harta karun. Ada tantangannya. “Pulang setidaknya harus dapat dua baju,” ujarnya sembari tertawa kecil. 

Soal perawatan, Andi mengaku mudah. Cukup merendam di air panas sebelum mencuci di mesin cuci. Jika ada noda membandel dia menggunakan asam citrat. Andi mengkau sangat berhati-hati dalam membeli dan merawat baju bekas. Apalagi saat ini tengah masa pandemi. (c3/fud)

- Advertisement -

Bisnis Pakaian Bekas di Kediri: Sekarang Lewat Pelabuhan Tikus 

Bisnis pakaian bekas tak lagi menggiurkan seperti saat-saat jayanya dulu. Tepatnya pada akhir dekade 1990-an. Penyebabnya adalah terbitnya pelarangan impor pakaian bekas. Pelarangan yang tertuang dalam Permendag Nomor 51 tahun 2015 itu sontak mengebiri bisnis ini. 

Toh, bisnis pakaian bebas tetap menggeliat di wilayah Gringging. Meskipun tidak seramai dulu kios-kios yang ada masih bisa mendapat suplai barang dari pemasok. 

“Kalau baju bekas saya ambil dari distributor di Batam, yang impor dari luar negeri,” aku Yuni Hartanti.

Pengambilan dari Batam berlangsung setiap enam bulan sekali. Biasanya dikirim dengan truk. Menurut Yuni, satu truk pengiriman tak hanya bertujuan ke Kediri saja. Tapi juga beberapa kota lain seperti Malang, Jember, atau Surabaya.

Sekali pengiriman Yuni mengambil 10 koli. Harganya Rp 1 juta per kolinya. Sebelum pandemi dia bahkan berani ambil lima koli setiap dua bulan. Namun, situasi pandemi dan ketatnya aturan pemerintah membuat distributor mengurangi jumlah dan waktu pengiriman.

Meskipun ada pelarangan, Yuni yakin distributor punya cara untuk lolos dari pemeriksaan. Namun dia tak tahu dengan pasti bagaimana proses mereka mengelabui aturan yang ada. 

Yuni memang mengakui adanya pelarangan impor. Namun, sepengetahuannya, distributor punya cara untuk mendapatkan barang itu. Pakaian-pakaian bekas impor tersebut dimasukkan lewat beberapa pelabuhan kecil. “Istilahnya pelabuhan tikus,” ujarnya sembari tertawa kecil.

Baca Juga :  Peringati Haul Tumenggung Kopek, Gus Muwafiq Ajak Pahami Sejarah

Pelabuhan-pelabuhan itu berada di beberapa pulau yang mudah dijadikan akses masuk. Seperti Batam, Sumatera, Sulawesi, bahkan hingga lewat Timor Leste.

Apakah dia pernah mengalami masalah selama ini? Yuni mengaku, sejak terjun ke bisnis ini pada 1999 dia tak pernah tersandung masalah. Soal pengambilan dan pengiriman menjadi urusan distributor. “Istilahnya saya tinggal terima jadi. Bila barang kosong tinggal menghubungi distributor,” akunya. 

Cerita lain diutarakan oleh Budi Darmawan. Lelaki yang mulai terjun di bisnis ini sejak 1998 ini mengaku pernah merasakan kejayaan. Dia bahkan merupakan pelopor bisnis pakaian bekas di Pasar Gringging.

“Dulu disini kan sawah. Lalu saya yang membabat (mengawali) dan mengurus semua perizinan untuk jualan,” terangnya.

Menurutnya, saat itu minat masyarakat terhadap pakaian bekas sangat tinggi. Itu bila dibanding sekarang. “Sekarang sudah kalah dengan brand lokal yang bagus-bagus,” ujar lelaki 52 tahun itu. 

Saat jaya, dia bisa menyekolahkan keempat anaknya sampai perguruan tinggi. Apalagi dia adalah supplier terbesar di Pasar Gringging selama 10 tahun. “Saya dulu langsung ambil dari Singapura, Hongkong, dan USA,” terangnya. 

Saat itu proses perizinan impor pakaian bekas masih gampang. Beda dengan sekarang yang sulit dan ketat. “Sekarang ruwet, mangkanya saya sudah pensiun jualan pakaian bekas. Toh anak-anak sudah mentas semua,” akunya bangga.

Baca Juga :  Materi-Materi Berborang Itu Seperti Kunci Inggris 

Magnet pakaian bekas memang tak sepenuhnya luntur. Seperti yang diakui oleh Andi Prasetyo, seorang pembeli. Menurutnya, membeli pakaian bekas sangat menantang. Karena bisa mendapatkan merek-merek ternama dengan harga miring.

“Harus sabar biar dapat  barang bagus. Pernah nemu barang yang masih ada label harganya,” ceritanya.

Andi bahkan memanfaatkan hobinya berburu pakaian bekas untuk berbisnis. Dia membeli di Pasar Gringging kemudian ditawarkan melalui medsos. Karena sudah lama tertarik dengan pakaian bekas dia mengaku tak kesulitan menemukan pakaian bagus dan bermerek. Apalagi sejak kecil sudah sering diajak orang tuanya belanja ke daerah ini. 

“Dulu istilahnya dalboan.  Sekarang yang ngetren istilahnya trifthing. Dulu, waktu SMP pernah beli jaket denim bekas dengan ibu. Sekarang jaket itu masih bagus,” terangnya. 

Menurut pemuda 20 tahun ini mencari pakaian bekas seperti mencari harta karun. Ada tantangannya. “Pulang setidaknya harus dapat dua baju,” ujarnya sembari tertawa kecil. 

Soal perawatan, Andi mengaku mudah. Cukup merendam di air panas sebelum mencuci di mesin cuci. Jika ada noda membandel dia menggunakan asam citrat. Andi mengkau sangat berhati-hati dalam membeli dan merawat baju bekas. Apalagi saat ini tengah masa pandemi. (c3/fud)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/