29.1 C
Kediri
Wednesday, July 6, 2022

Febdi Andika, Beradu Peruntungan melalui Hobi Ikan Channa

Ketika ingin memberdayakan hobinya untuk cari uang, dia dipandang sebelah mata. Banyak yang ragu ikan channa bisa jadi ladang uang. Kini, dia mulai menuai hasil.

Belasan akuarium tertata di ruang tamu rumah yang berada di Kelurahan Ngadirejo, Kecamatan Kota ini. Menandakan penghuninya seorang penghobi ikan hias. Akuarium itu tertata pada rak bersusun tiga. Namun, tidak semuanya terisi. Hanya ada delapan akuarium berukuran 100 x 50 sentimeter yang dihuni oleh satu jenis ikan hias, ikan channa.

“Awalnya ya hanya punya satu, saat saya mulai koleksi pada 2020 lalu,” ucap si penghuni rumah, Febdi Andika, sembari tangannya sibuk menaruh pakan ke dalam air.

Dika, demikian pemuda 23 tahun ini biasa disapa, memang seorang penghobi ikan hias. Beberapa jenis ikan hias pernah dia miliki. Mulai molly, diskus, hingga cupang. Namun, kini gairahnya mengumpul pada ikan gabus hias yang kepalanya mirip seekor ular. Ikan yang dikenal dengan nama channa.

Perkenalannya dengan ikan yang juga disebut dengan nama snakehead itu berawal ketika dia ‘diracuni’ oleh temannya. Sang teman, memang lebih dulu menerjuni bisnis dan hobi memelihara channa.

“Awalnya ya ragu. Takut kalau banyak yang mati,” kenangnya.

Rasa takut itu dia bunuh sendiri. Pengalamannya memelihara ikan hias jadi dasar keberanian. Akhirnya, dia pun membulatkan tekad. Memberanikan diri memulai memelihara ikan channa.

Baca Juga :  Bertekad Kembangkan Pariwisata Nganjuk

Tapi, tantangan tak selesai di situ. Kali ini giliran keluarganya yang memberi  penolakan. Menganggap  bisnis yang dibangun dari hobi memelihara ikan hias bukan pilihan bagus.

Dika tetap nekat. Membeli akuarium pun secara diam-diam. “Saya ingin buktikan kalau bisnis ini bisa jalan,” tegas bungsu dari dua bersaudara ini.

Modalnya tidak banyak. Hanya Rp 2 juta. Karena itu dia dengan sabar membangun bisnis barunya ini. Sedikit demi sedikit.

“Kalau ada ikan yang laku, uangnya saya belikan akuarium baru. Saya isi lagi dengan ikan. Yang penting akuarium banyak dulu,” ceritanya.

Alumnus SMK Dhoho ini punya harapan besar pada bisnis ikan yang memiliki banyak nama ini. Salah satunya adalah, menurutnya, tren ikan channa bukan tren sesaat.  Akan berlangsung lama. Sebab pemijahan ikan ini termasuk tidak mudah. Harus menggunakan teknik yang tidak semua orang tahu.

“Beda dengan cupang, kan mudah. Satu pasang ikan ditaruh di satu wadah bisa langsung berkembang biak,” ujarnya membandingkan.

Sedangkan channa lebih sulit. “Kadang, salah satu di antaranya bisa mati kalau tekniknya salah,” lanjutnya.

Meskipun punya pengalaman panjang, Dika juga tak luput dari sial dan apes. Misalnya, ketika kulakan ikan di supplier tak jarang banyak yang mati ketika dia terima. Bisa separuh lebih yang seperti itu. Kerugian, tentu saja, bisa jutaan rupiah.

Baca Juga :  Social Marketing

Hal serupa terjadi bila dia menjual pada konsumen. Kadang, ikan yang diterima si konsumen mati setelah diterima. Bedanya, bila waktu kulakan dia tak diganti, ketika menjual dan ikannya mati langsung dia ganti.

“Pembeli saya beri ganti rugi bila dari awal mengirim video unboxing sejak pertama diterima,” terangnya.

Kini, bisnisnya ini sudah  mulai berkembang. Pasarnya meluas.  Tak hanya di Kediri tapi juga melebar ke Tulungagung, Blitar, Nganjuk, Malang, hingga Surabaya. Omzetnya pun sudah tiga kali lipat dari modal awalnya dulu.

Paling tidak, hal ini bisa menggantikan bisnis jual beli motor bekas yang sudah ambruk saat pandemi. Ya, Dika awalnya  memang berkecimpung di bisnis jual beli sepeda motor bekas itu. Bisnis yang dia rintis sejak masih di bangku SMK.

“Waktu pandemi jarang yang beli sepeda motor. Jadi terpaksa gulung tikar,” akunya.

Kini, dia berharap banyak pada bisnis ikan channa. Karena itu, Dika berharap tren ini bisa bertahan lama. “Saat ini saya punya ratusan ikan channa berbagai jenis,” terangnya.






Reporter: Ilmidza Amalia Nadzira
- Advertisement -

Ketika ingin memberdayakan hobinya untuk cari uang, dia dipandang sebelah mata. Banyak yang ragu ikan channa bisa jadi ladang uang. Kini, dia mulai menuai hasil.

Belasan akuarium tertata di ruang tamu rumah yang berada di Kelurahan Ngadirejo, Kecamatan Kota ini. Menandakan penghuninya seorang penghobi ikan hias. Akuarium itu tertata pada rak bersusun tiga. Namun, tidak semuanya terisi. Hanya ada delapan akuarium berukuran 100 x 50 sentimeter yang dihuni oleh satu jenis ikan hias, ikan channa.

“Awalnya ya hanya punya satu, saat saya mulai koleksi pada 2020 lalu,” ucap si penghuni rumah, Febdi Andika, sembari tangannya sibuk menaruh pakan ke dalam air.

Dika, demikian pemuda 23 tahun ini biasa disapa, memang seorang penghobi ikan hias. Beberapa jenis ikan hias pernah dia miliki. Mulai molly, diskus, hingga cupang. Namun, kini gairahnya mengumpul pada ikan gabus hias yang kepalanya mirip seekor ular. Ikan yang dikenal dengan nama channa.

Perkenalannya dengan ikan yang juga disebut dengan nama snakehead itu berawal ketika dia ‘diracuni’ oleh temannya. Sang teman, memang lebih dulu menerjuni bisnis dan hobi memelihara channa.

“Awalnya ya ragu. Takut kalau banyak yang mati,” kenangnya.

Rasa takut itu dia bunuh sendiri. Pengalamannya memelihara ikan hias jadi dasar keberanian. Akhirnya, dia pun membulatkan tekad. Memberanikan diri memulai memelihara ikan channa.

Baca Juga :  Dindra Saputra, Murid TK Korban Meninggal Kasus Tabrak Lari 

Tapi, tantangan tak selesai di situ. Kali ini giliran keluarganya yang memberi  penolakan. Menganggap  bisnis yang dibangun dari hobi memelihara ikan hias bukan pilihan bagus.

Dika tetap nekat. Membeli akuarium pun secara diam-diam. “Saya ingin buktikan kalau bisnis ini bisa jalan,” tegas bungsu dari dua bersaudara ini.

Modalnya tidak banyak. Hanya Rp 2 juta. Karena itu dia dengan sabar membangun bisnis barunya ini. Sedikit demi sedikit.

“Kalau ada ikan yang laku, uangnya saya belikan akuarium baru. Saya isi lagi dengan ikan. Yang penting akuarium banyak dulu,” ceritanya.

Alumnus SMK Dhoho ini punya harapan besar pada bisnis ikan yang memiliki banyak nama ini. Salah satunya adalah, menurutnya, tren ikan channa bukan tren sesaat.  Akan berlangsung lama. Sebab pemijahan ikan ini termasuk tidak mudah. Harus menggunakan teknik yang tidak semua orang tahu.

“Beda dengan cupang, kan mudah. Satu pasang ikan ditaruh di satu wadah bisa langsung berkembang biak,” ujarnya membandingkan.

Sedangkan channa lebih sulit. “Kadang, salah satu di antaranya bisa mati kalau tekniknya salah,” lanjutnya.

Meskipun punya pengalaman panjang, Dika juga tak luput dari sial dan apes. Misalnya, ketika kulakan ikan di supplier tak jarang banyak yang mati ketika dia terima. Bisa separuh lebih yang seperti itu. Kerugian, tentu saja, bisa jutaan rupiah.

Baca Juga :  Dokter Aditya Berpeluang Pimpin RSUD Gambiran

Hal serupa terjadi bila dia menjual pada konsumen. Kadang, ikan yang diterima si konsumen mati setelah diterima. Bedanya, bila waktu kulakan dia tak diganti, ketika menjual dan ikannya mati langsung dia ganti.

“Pembeli saya beri ganti rugi bila dari awal mengirim video unboxing sejak pertama diterima,” terangnya.

Kini, bisnisnya ini sudah  mulai berkembang. Pasarnya meluas.  Tak hanya di Kediri tapi juga melebar ke Tulungagung, Blitar, Nganjuk, Malang, hingga Surabaya. Omzetnya pun sudah tiga kali lipat dari modal awalnya dulu.

Paling tidak, hal ini bisa menggantikan bisnis jual beli motor bekas yang sudah ambruk saat pandemi. Ya, Dika awalnya  memang berkecimpung di bisnis jual beli sepeda motor bekas itu. Bisnis yang dia rintis sejak masih di bangku SMK.

“Waktu pandemi jarang yang beli sepeda motor. Jadi terpaksa gulung tikar,” akunya.

Kini, dia berharap banyak pada bisnis ikan channa. Karena itu, Dika berharap tren ini bisa bertahan lama. “Saat ini saya punya ratusan ikan channa berbagai jenis,” terangnya.






Reporter: Ilmidza Amalia Nadzira

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/