25.6 C
Kediri
Friday, July 1, 2022

Menelusuri Jejak Zaman Purba di Nganjuk (3)

Hutan Rejoso benar-benar surga bagi pecinta benda purbakala. Selain fosil, di sana juga ada Grojogan Putri Ayu. Tak hanya indah, bebatuannya juga sarat akan nilai sejarah.

Ekspedisi Bentang Kendeng Timur: Menelusuri Jejak Zaman Purba di Nganjuk membawa tim ke berbagai temuan menarik. Baik dari segi nilai sejarah maupun keindahan yang dapat dinikmati hingga sekarang.

Masih berada di hutan Rejoso, tim bergeser sedikit dari Desa Tritik menuju Desa Sambikerep. Sebuah desa yang berada di utara megaproyek Semantok itu menyimpan sebuah potensi wisata alam unggulan. Yaitu, Grojogan Putri Ayu.

Air terjun tersebut memiliki berbagai keunggulan. Salah satunya dilihat dari tingkatan air terjun.T idak hanya memiliki satu-dua tingkat saja. Melainkan ada tujuh tingkat. Pemandangan air yang mengalir pun sukses memanjakan mata.

Belum lagi kualitas kejernihan air yang mengalir di sana. tersebut. Sangat bening. Seakan tidak tercampur dengan material tanah maupun lumpur sama sekali. Bahkan bebatauan yang teraliri air tetap dapat terlihat dengan sangat jelas.

Baca Juga :  Ambil Pelajaran di Setiap Tempat Baru

Bebatuan itu pula yang menjadi salah satu daya pikatnya. Sebab, bebatuan di sana bukan bebatuan pegunungan biasa pada umumnya. Melainkan struktur bebatuan yang terbentuk dari karang laut.

“Batuan karang dasar laut tersebut terangkat atau naik akibat kegiatan tektonik pertemuan dua lempeng bumi,” ujar Kasi Sejarah, Seni Tradisi, Museum, dan Kepurbakalaan Disparporabud Nganjuk Amin Fuadi kepada Jawa Pos Radar Nganjuk kemarin.

Proses pembentukannya tidak terjadi dalam waktu sekejap. Sebaliknya, pembentukan terjadi dalam kurun waktu yang sangat lama. Diperkirakan mencapai ribuan tahun yang lalu. Yakni, berkisar pada zaman Pleistosen.

Kontur bebatuan terbentuk dari penggerusan aliran air di sana. Saat melewati batuan atau tanah lebih keras menjadi menempel lalu menumpuk. “Akhirnya jadi seperti yang ada sekarang ini,” imbuhnya.

Baca Juga :  Kelurahan Mangundikaran Raih Juara II Lomba Pangan Aman Nasional

Dengan sejarah pembentukan batuan itu pula akhirnya banyak ditemukan fosil flora dan fauna dasar laut yang berumur ratusan ribu tahun yang lalu di sana. “Saat ini (temuan fosil flora dan fauna laut) ada di puncak-puncak bukit deretan pegunungan Pandan ke timur. Hingga mencapai Jatikalen,” terang Amin.

Dengan segala potensi tersebut, Grojogan Putri Ayu digadang-gadang menjadi spot yang sarat dengan keindahan dan edukasi. Oleh karena itu, pihaknya melirik lokasi tersebut untuk diproyeksikan sebagai destinasi wisata unggulan ke depannya.

Sayangnya, jalan atau akses menuju lokasi itu masih jauh dari kata layak. Belum ada pengaspalan atau semacamnya. Masih murni tanah. Sehingga apabila hujan mengguyur daerah setempat, medannya semakin berat lagi. Setidaknya ada tiga titik yang aksesnya dipenuhi dengan tanah berlumpur untuk menuju ke sana.

- Advertisement -

Hutan Rejoso benar-benar surga bagi pecinta benda purbakala. Selain fosil, di sana juga ada Grojogan Putri Ayu. Tak hanya indah, bebatuannya juga sarat akan nilai sejarah.

Ekspedisi Bentang Kendeng Timur: Menelusuri Jejak Zaman Purba di Nganjuk membawa tim ke berbagai temuan menarik. Baik dari segi nilai sejarah maupun keindahan yang dapat dinikmati hingga sekarang.

Masih berada di hutan Rejoso, tim bergeser sedikit dari Desa Tritik menuju Desa Sambikerep. Sebuah desa yang berada di utara megaproyek Semantok itu menyimpan sebuah potensi wisata alam unggulan. Yaitu, Grojogan Putri Ayu.

Air terjun tersebut memiliki berbagai keunggulan. Salah satunya dilihat dari tingkatan air terjun.T idak hanya memiliki satu-dua tingkat saja. Melainkan ada tujuh tingkat. Pemandangan air yang mengalir pun sukses memanjakan mata.

Belum lagi kualitas kejernihan air yang mengalir di sana. tersebut. Sangat bening. Seakan tidak tercampur dengan material tanah maupun lumpur sama sekali. Bahkan bebatauan yang teraliri air tetap dapat terlihat dengan sangat jelas.

Baca Juga :  Dalami Kasus Pencurian di Rumah Perangkat Desa

Bebatuan itu pula yang menjadi salah satu daya pikatnya. Sebab, bebatuan di sana bukan bebatuan pegunungan biasa pada umumnya. Melainkan struktur bebatuan yang terbentuk dari karang laut.

“Batuan karang dasar laut tersebut terangkat atau naik akibat kegiatan tektonik pertemuan dua lempeng bumi,” ujar Kasi Sejarah, Seni Tradisi, Museum, dan Kepurbakalaan Disparporabud Nganjuk Amin Fuadi kepada Jawa Pos Radar Nganjuk kemarin.

Proses pembentukannya tidak terjadi dalam waktu sekejap. Sebaliknya, pembentukan terjadi dalam kurun waktu yang sangat lama. Diperkirakan mencapai ribuan tahun yang lalu. Yakni, berkisar pada zaman Pleistosen.

Kontur bebatuan terbentuk dari penggerusan aliran air di sana. Saat melewati batuan atau tanah lebih keras menjadi menempel lalu menumpuk. “Akhirnya jadi seperti yang ada sekarang ini,” imbuhnya.

Baca Juga :  Jembatan Gantung Paling Cocok di Cepoko

Dengan sejarah pembentukan batuan itu pula akhirnya banyak ditemukan fosil flora dan fauna dasar laut yang berumur ratusan ribu tahun yang lalu di sana. “Saat ini (temuan fosil flora dan fauna laut) ada di puncak-puncak bukit deretan pegunungan Pandan ke timur. Hingga mencapai Jatikalen,” terang Amin.

Dengan segala potensi tersebut, Grojogan Putri Ayu digadang-gadang menjadi spot yang sarat dengan keindahan dan edukasi. Oleh karena itu, pihaknya melirik lokasi tersebut untuk diproyeksikan sebagai destinasi wisata unggulan ke depannya.

Sayangnya, jalan atau akses menuju lokasi itu masih jauh dari kata layak. Belum ada pengaspalan atau semacamnya. Masih murni tanah. Sehingga apabila hujan mengguyur daerah setempat, medannya semakin berat lagi. Setidaknya ada tiga titik yang aksesnya dipenuhi dengan tanah berlumpur untuk menuju ke sana.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/