24.2 C
Kediri
Saturday, July 2, 2022

Ortu Meninggal, Boscu Terpaksa Masuk Sel

Boscu mendapat ujian bertubi-tubi. Setelah menikmati kehidupan yang indah, Boscu langsung mendapat cobaan. Orang tuanya meninggal dunia. Jaraknya berdekatan. Akibatnya, Boscu merasakan hidup yang sesungguhnya. Dia tidak bisa lagi berlindung di ketiak ibu atau bapaknya. Makan tinggal makan, minum tinggal ambil dan tidur tanpa mikir utang tak lagi dirasakan. “Harus cari kerja untuk makan,” ungkap Boscu.

Karena di Malang, Boscu malu bekerja sebagai pelayan toko atau kuli bangunan, dia akhirnya memilih mengembara. Kota Angin yang dipilih. Karena selain banyak anginnya, persaingan mencari kerja juga tidak seketat di kota besar. Tapi, yang paling utama adalah teman-teman Boscu tidak tahu jika hanya sebagai pelayan toko atau kuli.

Baca Juga :  Pasien Covid-19 asal Prambon Sembuh

Saat mendengar ada lowongan di toko, Boscu langsung melamar. Jarak toko dari tempat kosnya cukup jauh. Toko yang dilamar ada di Jalan A. Yani Nganjuk. Sedangkan, kosnya ada di Warujayeng, Kecamatan Tanjunganom. “Tak masalah. Karena bos di toko mengizinkan saya menginap di toko,” ujarnya.

Saat bekerja, Boscu berusaha sabar. Dia juga bekerja keras. Omelan bosnya terkait kerjanya yang dianggap tak becus, tak didengarkan. Karena dia butuh uang untuk makan. Satu minggu bekerja, Boscu minta upah. Tapi, omelan yang didapat. Boscu tetap sabar.

Ternyata, pemilik toko ini keterlaluan. Tak hanya suka ngomel tak karuan. Dia juga memaksa menyodomi Boscu. Tak tanggung-tanggung, empat kali Boscu dipaksa disodomi. Ini membuat Boscu emosi dan sakit hati.

Baca Juga :  Jejak Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy'ari di Pondok Kapu Kediri

Setelah dua minggu bekerja tak diberi upah, Boscu berencana membunuh pemilik toko mebel. Dia menghabisi bosnya di persewaan garasi. Senjata parang yang digunakan.

Setelah menghabisi juragannya, Boscu bingung. Dia keliling Kota Angin dengan menggunakan pikap milik sang juragan. Barang-barang berharga milik bosnya juga ikut dibawa. Rencananya, mau dijual untuk makan. “Saya melarikan diri ke Blitar,” ujar Boscu.

Setelah di Blitar, Boscu bingung. Dia memilih kembali ke kosnya di Warujayeng. Akhirnya, Boscu dibekuk polisi di kos. “Saya tidak melawan saat ditangkap,” ujar Boscu.

Polisi langsung menjebloskan Boscu ke tahanan. “Saya kapok dan tidak akan melanggar hukum lagi,” sesalnya.

- Advertisement -

Boscu mendapat ujian bertubi-tubi. Setelah menikmati kehidupan yang indah, Boscu langsung mendapat cobaan. Orang tuanya meninggal dunia. Jaraknya berdekatan. Akibatnya, Boscu merasakan hidup yang sesungguhnya. Dia tidak bisa lagi berlindung di ketiak ibu atau bapaknya. Makan tinggal makan, minum tinggal ambil dan tidur tanpa mikir utang tak lagi dirasakan. “Harus cari kerja untuk makan,” ungkap Boscu.

Karena di Malang, Boscu malu bekerja sebagai pelayan toko atau kuli bangunan, dia akhirnya memilih mengembara. Kota Angin yang dipilih. Karena selain banyak anginnya, persaingan mencari kerja juga tidak seketat di kota besar. Tapi, yang paling utama adalah teman-teman Boscu tidak tahu jika hanya sebagai pelayan toko atau kuli.

Baca Juga :  Ekspedisi Kali Serinjing, Telusur Sejarah Terbentuknya Kediri (9)

Saat mendengar ada lowongan di toko, Boscu langsung melamar. Jarak toko dari tempat kosnya cukup jauh. Toko yang dilamar ada di Jalan A. Yani Nganjuk. Sedangkan, kosnya ada di Warujayeng, Kecamatan Tanjunganom. “Tak masalah. Karena bos di toko mengizinkan saya menginap di toko,” ujarnya.

Saat bekerja, Boscu berusaha sabar. Dia juga bekerja keras. Omelan bosnya terkait kerjanya yang dianggap tak becus, tak didengarkan. Karena dia butuh uang untuk makan. Satu minggu bekerja, Boscu minta upah. Tapi, omelan yang didapat. Boscu tetap sabar.

Ternyata, pemilik toko ini keterlaluan. Tak hanya suka ngomel tak karuan. Dia juga memaksa menyodomi Boscu. Tak tanggung-tanggung, empat kali Boscu dipaksa disodomi. Ini membuat Boscu emosi dan sakit hati.

Baca Juga :  Dwi Putra Kusuma, Siswa SMP Tewas Terjatuh dari Motor 

Setelah dua minggu bekerja tak diberi upah, Boscu berencana membunuh pemilik toko mebel. Dia menghabisi bosnya di persewaan garasi. Senjata parang yang digunakan.

Setelah menghabisi juragannya, Boscu bingung. Dia keliling Kota Angin dengan menggunakan pikap milik sang juragan. Barang-barang berharga milik bosnya juga ikut dibawa. Rencananya, mau dijual untuk makan. “Saya melarikan diri ke Blitar,” ujar Boscu.

Setelah di Blitar, Boscu bingung. Dia memilih kembali ke kosnya di Warujayeng. Akhirnya, Boscu dibekuk polisi di kos. “Saya tidak melawan saat ditangkap,” ujar Boscu.

Polisi langsung menjebloskan Boscu ke tahanan. “Saya kapok dan tidak akan melanggar hukum lagi,” sesalnya.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/