23.3 C
Kediri
Wednesday, July 6, 2022

Wiwin Febriana Sari, Pengacara Muda Langganan Tangani Kasus Asusila

 Wiwin Febriana Sari secara resmi menjadi pengacara sejak tahun lalu. Meski demikian, pengacara muda itu sudah akrab dengan kasus pidana dan perdata sejak 2019 lalu.

 

Cita-cita sering kali jauh dengan realisasinya. Hal itu pula yang dialami oleh Wiwin Febriana Sari. Perempuan asal Desa Tirukidul, Gurah ini sempat bercita-cita ingin menjadi dokter saat duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA).

“Dokter itu profesi mulia karena mempunyai tugas untuk menolong seseorang yang mengalami sakit,” kata Wiwin tentang cita-citanya saat belia.

          Untuk mengejar cita-citanya, dia pun mengikuti tes agar dapat masuk ke perguruan tinggi negeri. Namun, orang tuanya tidak memberikan izin karena lokasinya berada di luar kota.

Wiwin pun memilih pasrah menuruti orang tua. Selanjutnya, dia mendaftar ke mendaftar ke jurusan Ilmu Hukum Universitas Islam Kediri (Uniska). Beberapa tahun berkutat dengan ilmu hukum, dia semakin menyadari urgensi ilmu yang dipelajarinya.

“Bagi saya hukum ini sangat penting sekali. Disitulah saya sangat tertarik dan mendalami tentang hukum,” kenangnya. Karena itu pula, meski belum diwisuda, anak pertama dari tiga bersaudara ini mengambil Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA) di Universitas Brawijaya pada 2017 silam.

Dua bulan menempuh studi, dia langsung bergabung dengan LBH Fadjar setelah lulus. Sejak 2018 silam Wiwin pun telaah menjadi anggota. Meski demikian, dia tidak bisa langsung praktik. Sebab, Wiwin baru disumpah advokat pada Oktober tahun lalu.

Baca Juga :  Setelah Antar ke TK, Langsung Ngarit dan Bercocok Tanam

          Mengapa harus menunggu sangat lama? Rupanya faktor usia jadi kendala. “Untuk disumpah sebagai advokat minimal harus usia 25 tahun,” bebernya.
          Sembari menunggu disumpah, perempuan kelahiran tahun 1996 ini memilih menjadi paralegal. Selain membantu perkara yang ditangani dan melakukan pendampingan, dia bertugas membuat surat pembelaan atau duplik.

          Beberapa kasus pun ditanganinya. Selain kasus narkoba, dia juga langganan menangani kasus asusila. Jika saat ini banyak kasus asusila yang didampinginya, Wiwin mengaku sangat terkesan dengan kasus yang ditangani pada awal 2019 silam.

          Adalah kasus perceraian yang ditangani sulung dari tiga bersaudara itu. Kliennya hendak bercerai dengan istrinya. “Dia ini dikenalkan temannya ke cewek, setelah itu (cewek, Red) tidak pulang ke rumah,” kenangnya.

Karena tidak pulang, orang tua sang gadis melakukan pencarian dan melaporkan kliennya ke polisi. Dengan usia gadis yang masih 15 tahun atau anak-anak, penanganan kasusnya pun berbeda.

Sebagai paralegal, hal tersebut merupakan pengalaman tak terlupakan. Dia sempat kerepotan karena di saat yang sama harus menangani banyak kasus. Wiwin pun mencontohkan saat harus membela sang klien yang berstatus duda. Kala itu, dia harus membuat pembelaan. Untuk kali pertama, gadis berjilbab itu harus membaca hasil visum dari rumah sakit.

Beberapa sisi lemah dan sisi kuat diuraikan untuk bisa membebaskan kliennya dari jerat pidana. Nyatanya, kasus anak memang tidak mudah. Kliennya tetap divonis lima tahun penjara. Meski, hubungan keduanya disebut suka sama suka atau tidak ada paksaan.

Baca Juga :  Sekali Klik Warga Bisa Akses Segala Data dan Keperluan

          Pengalaman pertama itu seolah berlanjut hingga sekarang. Wiwin banyak menangani kasus asusila dengan korban anak. “Banyak kasus dilaporkan karena pacarnya anak dibawah umur,” papar anak dari Mokid Suwanto dan Sutini.

Selain menangani kasus asusila, Wiwin juga menangani kasus peredaran pil dobel l. Dalam satu tahun, kasus pengedaran pil dobel l ini bisa 80 hingga 100 kasus. Pandemi Covid-19 justru membuat kasus melonjak.

Dari puluhan kasus yang ditangani, dia terkesan dengan kliennya yang masih berusia 17 tahun. Siswa SMA itu ditangkap karena menjadi kurir sabu. Karena usianya yang dibawah umur, kliennya tersebut divonis hukuman rehabilitasi.

Pandemi Covid-19 membuatnya tidak berkomunikasi langsung dengan kliennya di lapas. Alhasil, Wiwin hanya bisa menghubungi lewat telepon. Selebihnya, dia menitipkan surat kepada petugas yang sedang berjaga.

Saking seringnya menitip surat, menurut Wiwin tidak jarang ada surat yang ketlisut atau hilang. “Ya terpaksa membuat lagi. Mau bagaimana lagi,” tuturnya tentang suka duka menjadi pengacara.

          Meski belum genap dua tahun beracara, Wiwin mengaku semakin mencintai dunia yang digelutinya itu. Gadis yang saat ini menempuh pendidikan S2 di Universitas Brawijaya itu pun bertekad untuk terus belajar. Dia juga tak cepat puas meski tesisnya mendapat nilai A dan meraih predikat cumlaude. (ut)

 

- Advertisement -

 Wiwin Febriana Sari secara resmi menjadi pengacara sejak tahun lalu. Meski demikian, pengacara muda itu sudah akrab dengan kasus pidana dan perdata sejak 2019 lalu.

 

Cita-cita sering kali jauh dengan realisasinya. Hal itu pula yang dialami oleh Wiwin Febriana Sari. Perempuan asal Desa Tirukidul, Gurah ini sempat bercita-cita ingin menjadi dokter saat duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA).

“Dokter itu profesi mulia karena mempunyai tugas untuk menolong seseorang yang mengalami sakit,” kata Wiwin tentang cita-citanya saat belia.

          Untuk mengejar cita-citanya, dia pun mengikuti tes agar dapat masuk ke perguruan tinggi negeri. Namun, orang tuanya tidak memberikan izin karena lokasinya berada di luar kota.

Wiwin pun memilih pasrah menuruti orang tua. Selanjutnya, dia mendaftar ke mendaftar ke jurusan Ilmu Hukum Universitas Islam Kediri (Uniska). Beberapa tahun berkutat dengan ilmu hukum, dia semakin menyadari urgensi ilmu yang dipelajarinya.

“Bagi saya hukum ini sangat penting sekali. Disitulah saya sangat tertarik dan mendalami tentang hukum,” kenangnya. Karena itu pula, meski belum diwisuda, anak pertama dari tiga bersaudara ini mengambil Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA) di Universitas Brawijaya pada 2017 silam.

Dua bulan menempuh studi, dia langsung bergabung dengan LBH Fadjar setelah lulus. Sejak 2018 silam Wiwin pun telaah menjadi anggota. Meski demikian, dia tidak bisa langsung praktik. Sebab, Wiwin baru disumpah advokat pada Oktober tahun lalu.

Baca Juga :  Adi Brata, Pecinta Matematika, Peraih Satya Yasa Cundamani

          Mengapa harus menunggu sangat lama? Rupanya faktor usia jadi kendala. “Untuk disumpah sebagai advokat minimal harus usia 25 tahun,” bebernya.
          Sembari menunggu disumpah, perempuan kelahiran tahun 1996 ini memilih menjadi paralegal. Selain membantu perkara yang ditangani dan melakukan pendampingan, dia bertugas membuat surat pembelaan atau duplik.

          Beberapa kasus pun ditanganinya. Selain kasus narkoba, dia juga langganan menangani kasus asusila. Jika saat ini banyak kasus asusila yang didampinginya, Wiwin mengaku sangat terkesan dengan kasus yang ditangani pada awal 2019 silam.

          Adalah kasus perceraian yang ditangani sulung dari tiga bersaudara itu. Kliennya hendak bercerai dengan istrinya. “Dia ini dikenalkan temannya ke cewek, setelah itu (cewek, Red) tidak pulang ke rumah,” kenangnya.

Karena tidak pulang, orang tua sang gadis melakukan pencarian dan melaporkan kliennya ke polisi. Dengan usia gadis yang masih 15 tahun atau anak-anak, penanganan kasusnya pun berbeda.

Sebagai paralegal, hal tersebut merupakan pengalaman tak terlupakan. Dia sempat kerepotan karena di saat yang sama harus menangani banyak kasus. Wiwin pun mencontohkan saat harus membela sang klien yang berstatus duda. Kala itu, dia harus membuat pembelaan. Untuk kali pertama, gadis berjilbab itu harus membaca hasil visum dari rumah sakit.

Beberapa sisi lemah dan sisi kuat diuraikan untuk bisa membebaskan kliennya dari jerat pidana. Nyatanya, kasus anak memang tidak mudah. Kliennya tetap divonis lima tahun penjara. Meski, hubungan keduanya disebut suka sama suka atau tidak ada paksaan.

Baca Juga :  Pelaku Begal Payudara asal Kunjang Sengaja Cegat Korban di Tempat Sepi

          Pengalaman pertama itu seolah berlanjut hingga sekarang. Wiwin banyak menangani kasus asusila dengan korban anak. “Banyak kasus dilaporkan karena pacarnya anak dibawah umur,” papar anak dari Mokid Suwanto dan Sutini.

Selain menangani kasus asusila, Wiwin juga menangani kasus peredaran pil dobel l. Dalam satu tahun, kasus pengedaran pil dobel l ini bisa 80 hingga 100 kasus. Pandemi Covid-19 justru membuat kasus melonjak.

Dari puluhan kasus yang ditangani, dia terkesan dengan kliennya yang masih berusia 17 tahun. Siswa SMA itu ditangkap karena menjadi kurir sabu. Karena usianya yang dibawah umur, kliennya tersebut divonis hukuman rehabilitasi.

Pandemi Covid-19 membuatnya tidak berkomunikasi langsung dengan kliennya di lapas. Alhasil, Wiwin hanya bisa menghubungi lewat telepon. Selebihnya, dia menitipkan surat kepada petugas yang sedang berjaga.

Saking seringnya menitip surat, menurut Wiwin tidak jarang ada surat yang ketlisut atau hilang. “Ya terpaksa membuat lagi. Mau bagaimana lagi,” tuturnya tentang suka duka menjadi pengacara.

          Meski belum genap dua tahun beracara, Wiwin mengaku semakin mencintai dunia yang digelutinya itu. Gadis yang saat ini menempuh pendidikan S2 di Universitas Brawijaya itu pun bertekad untuk terus belajar. Dia juga tak cepat puas meski tesisnya mendapat nilai A dan meraih predikat cumlaude. (ut)

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/