30.2 C
Kediri
Monday, July 4, 2022

Kenangan Dodik Agung Setiawan, Korban Tewas Tertabrak Kereta Api

Suara suaminya itu tidak akan dilupakan Mikhe. Menyanggupi untuk membelikan susu anak semata wayang meraka yang baru berumur tiga tahun. Suara yang tak disangka Mikhe menjadi suara terakhir suaminya.

FAJAR RAHMAD, Kabupaten JP Radar Kediri

Wajah tegar masih terlihat dari Mikhe. Perempuan 29 tahun itu sibuk membersihkan rumah untuk tempat tahlilan. Di sela-sela kesibukannya itu, dia juga menemui para pelayat masih terus berdatangan di rumah yang berada di Desa Dawuhan Kidul, Kecamatan Papar kemarin (12/11).

Mikhe baru saja ditinggal suami tercintanya, Dodik Agung Setiawan. Pria 33 tahun itu tewas menjadi korban tabrakan Kereta Api Matarmaja dan mobil Rabu siang (11/11) sekitar pukul 12.30. Jasadnya dimakamkan di Desa Dawuhan Kidul, Papar, tak jauh dari kediamannya, Rabu malam pukul 17.30.

“Dodik itu orangnya baik Mas. Dia sering ngobrol masalah pekerjaan sama saya dan sempat bilang kalau Rabu malam akan mengurus ATM di Mojokerto,” terang Jarot, 54, paman Mikhe yang mendampingi Mikhe menemui para pelayat.

Baca Juga :  Masih Banyak Fasilitas Publik yang Tidak Ramah bagi Kaum Difabel

Jarot menceritakan jika Dodik sering mengajaknya untuk salat magrib berjamaah di musala dekat rumahnya. Ketika malam hari, mereka bermain karambol di depan halaman rumah Jarot. Karena itu, dia merasa sangat kehilangan sebab keponakannya itu telah meninggalkannya dengan cepat. “Padahal baru empat tahun menikah,” tuturnya.

Jarot sebenarnya mengaku tidak menyangka kalau keponakannya itu tewas menjadi korban kecelakaan. Saat mendapat kabar, dia tidak berani datang sendirian ke lokasi, karena tidak kuat melihat keponakannya itu tewas dalam kondisi tragis. Dia lalu menyuruh anak dan istrinya ikut ke rumah sakit dan melihat kondisi Dodik.

Laki-laki yang rumahnya tepat di depan kediaman Dodik ini mengungkap bila Mikhe sempat mengalami mimpi aneh sehari sebelum kecelakaan. Mimpi itu menceritakan bila depan rumah pasangan Dodik dan Mikhe ramai dengan orang-orang. Mikhe mengira bila mimpi itu bertanda ada hajatan nikahan di keluarganya, namun kenyataan yang dia terima justru kabar Dodik meninggal dengan tragis.

Baca Juga :  Mayoritas ODHA dari Luar Kota

Sementara itu, Rully Saputra, 28, kerabat Mikhe lainnya menceritakan bila malam sebelum kecelakaan itu terjadi dia masih ngobrol dengan Dodik di depan rumahnya. Membicarakan perihal perawatan burung yang dimiliki oleh Dodik.

“Saya ngelus dada Mas, ketika Mikhe bercerita bila sebelum kecelakaan sempat menelpon Dodik untuk membelikan susu di supermarket yang berada di Papar,” kata Rully.

Usai menelpon itu, Mikhe sempat cemas, karena hampir setengah jam dari obrolan telpon dengan Dodik, suaminya tidak kunjung datang. Hingga akhirnya Mikhe mendengar dari para tetangganya bila suaminya telah meninggal dunia tertabrak. (dea)

 

- Advertisement -

Suara suaminya itu tidak akan dilupakan Mikhe. Menyanggupi untuk membelikan susu anak semata wayang meraka yang baru berumur tiga tahun. Suara yang tak disangka Mikhe menjadi suara terakhir suaminya.

FAJAR RAHMAD, Kabupaten JP Radar Kediri

Wajah tegar masih terlihat dari Mikhe. Perempuan 29 tahun itu sibuk membersihkan rumah untuk tempat tahlilan. Di sela-sela kesibukannya itu, dia juga menemui para pelayat masih terus berdatangan di rumah yang berada di Desa Dawuhan Kidul, Kecamatan Papar kemarin (12/11).

Mikhe baru saja ditinggal suami tercintanya, Dodik Agung Setiawan. Pria 33 tahun itu tewas menjadi korban tabrakan Kereta Api Matarmaja dan mobil Rabu siang (11/11) sekitar pukul 12.30. Jasadnya dimakamkan di Desa Dawuhan Kidul, Papar, tak jauh dari kediamannya, Rabu malam pukul 17.30.

“Dodik itu orangnya baik Mas. Dia sering ngobrol masalah pekerjaan sama saya dan sempat bilang kalau Rabu malam akan mengurus ATM di Mojokerto,” terang Jarot, 54, paman Mikhe yang mendampingi Mikhe menemui para pelayat.

Baca Juga :  Mayoritas ODHA dari Luar Kota

Jarot menceritakan jika Dodik sering mengajaknya untuk salat magrib berjamaah di musala dekat rumahnya. Ketika malam hari, mereka bermain karambol di depan halaman rumah Jarot. Karena itu, dia merasa sangat kehilangan sebab keponakannya itu telah meninggalkannya dengan cepat. “Padahal baru empat tahun menikah,” tuturnya.

Jarot sebenarnya mengaku tidak menyangka kalau keponakannya itu tewas menjadi korban kecelakaan. Saat mendapat kabar, dia tidak berani datang sendirian ke lokasi, karena tidak kuat melihat keponakannya itu tewas dalam kondisi tragis. Dia lalu menyuruh anak dan istrinya ikut ke rumah sakit dan melihat kondisi Dodik.

Laki-laki yang rumahnya tepat di depan kediaman Dodik ini mengungkap bila Mikhe sempat mengalami mimpi aneh sehari sebelum kecelakaan. Mimpi itu menceritakan bila depan rumah pasangan Dodik dan Mikhe ramai dengan orang-orang. Mikhe mengira bila mimpi itu bertanda ada hajatan nikahan di keluarganya, namun kenyataan yang dia terima justru kabar Dodik meninggal dengan tragis.

Baca Juga :  Masuk ‘Dunia Hitam’, Gus Miek Jadi Kiai Kontroversi

Sementara itu, Rully Saputra, 28, kerabat Mikhe lainnya menceritakan bila malam sebelum kecelakaan itu terjadi dia masih ngobrol dengan Dodik di depan rumahnya. Membicarakan perihal perawatan burung yang dimiliki oleh Dodik.

“Saya ngelus dada Mas, ketika Mikhe bercerita bila sebelum kecelakaan sempat menelpon Dodik untuk membelikan susu di supermarket yang berada di Papar,” kata Rully.

Usai menelpon itu, Mikhe sempat cemas, karena hampir setengah jam dari obrolan telpon dengan Dodik, suaminya tidak kunjung datang. Hingga akhirnya Mikhe mendengar dari para tetangganya bila suaminya telah meninggal dunia tertabrak. (dea)

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/