27.5 C
Kediri
Sunday, July 3, 2022

Di-PHK saat Pandemi, Wahyudi Purniawan Berkarya lewat Lukisan

 

Terkejut. Itulah perasaan Wahyudi Purniawan saat menerima surat pemutusan hubungan kerja (PHK). Ia tak menyangka bakal kehilangan pekerjaan gara-gara imbas pandemi. Namun begitu, bakat melukisnya justru mengemuka.

 

ILMIDZA AMALIA NADZIRA, KABUPATEN, JP Radar Kediri

 

 

Dunia Wahyudi Purniawan seakan runtuh kala menerima surat dari pabrik kopi tempat kerjanya di Sidoarjo akhir 2020 silam. Isi surat di awal pandemi Covid-19 itu menyatakan, “Mohon maaf, Anda harus dirumahkan”.

Saat itu di benak pria yang karib disapa Gandoel tersebut sontak menggelayut, apa yang harus dilakukan demi menyambung hidup. Melamar kerja di tempat lain tentu tak mudah. Apalagi dengan kondisi pagebluk dan banyak pekerja di-PHK. Namun dalam kegelisahannya, laki-laki ini menolak berdiam diri.

“Akhirnya istri dan anak saya tak boyong pulang ke Kediri. Lalu mulai menggeluti lukis lagi,” ujarnya. Gandoel pulang ke Desa Tegowangi, Kecamatan Plemahan. Di sini dia dengan tekun terus mencari inspirasi. Mencari cara agar tetap mendapatkan penghasilan. “Menjadi korban PHK bukan berarti tidak bisa sukses mengerjakan hal lain,” ungkap bapak satu anak itu.

Sejak kanak-kanak Gandoel senang melukis. Bahkan sejak TK hingga SD, karyanya kerap memenangkan lomba menggambar dan mewarnai. Sayang, hobi melukisnya sempat mandek saat SMP.

Baca Juga :  Menko Airlangga: Presiden Jokowi Pimpin Langsung Penanganan COVID-19

Meski bertahun-tahun tak melukis, bakatnya masih melekat. Pada 2018, dirinya memulai kembali. “Seketika saya ingin sekali melukis lagi, akhirnya 2018 itu saya mulai kembali,” tutur pria 34 tahun itu.

Walau belum punya pengalaman menjual karya seni, Gandoel tak putus asa. Tak disangka, banyak rekannya yang tak segan menolong. Dia pun bergabung di komunitas lukis dan berkenalan dengan pelukis-pelukis se-Karesidenan Kediri. Di sini Gandoel bisa memiliki banyak relasi sehingga karyanya dikenal.

Sebenarnya, sebelum di-PHK ia sudah mulai mempromosikan karyanya di galeri seni dan media sosial. Beberapa bahkan terjual. Menyadari potensi itu, Gandoel berpikir kenapa tidak fokus melukis. Pasalnya, jika karya lukisnya bisa terlihat hidup dan nyata bisa diminati dengan harga fantastis.

Sebagai seniman, Gandoel memfokuskan dirinya pada karya lukis aliran realis dan naturalis. Dengan lukisan itu dia dapat menarik minat kolektor. “Tapi lebih fokus pada karya lukis jenis hewan. Seperti kuda, harimau, dan gajah,” paparnya.

Bagi Gandoel, aliran realis tergolong tahap dasar untuk kalangan pelukis. Namun membutuhkan keahlian dan kesabaran tinggi. Satu lukisan saja bisa menghabiskan waktu satu minggu. Itu bergantung tingkat kesulitannya.

Baca Juga :  Juari-Umi Nadziroh, Pasutri yang Bersaing Kursi Kades Puhrubuh, Semen

“Makanya saya fokus dulu dengan karya realis jenis hewan. Karena kalau pemandangan itu tingkat kesulitannya masih tinggi,” terang alumnus SMK Candra Birawa, Pare ini. Ciri khas karyanya di kanvas selalu disematkan nama Gandoel Mustakaweni.

Tak tanggung-tanggung, hasil karya lukisnya sudah dikirim ke luar kota, seperti Bali, Manado, dan Tangerang. Bahkan karyanya pernah juga dikirim ke luar negeri untuk diberikan pada temannya sebagai kenang-kenangan. “Yang penting karya saya dikenal banyak orang dulu, nanti rezeki akan mengikuti,” tuturnya.

Gandoel bersyukur, meski pendapatannya tak menentu setiap bulannya, setidaknya dari hasil melukis bisa mencukupi kebutuhan keluarganya. Sudah puluhan lukisan yang dihasilkan sejak dirinya bergabung di komunitas lukis Kediri. “Lukisan saya termahal dibeli dengan harga Rp 10 juta,” ungkapnya.

Kini, meski Gandoel tak lagi menjadi karyawan pabrik yang setiap bulannya mendapatkan upah, setidaknya jika lukisannya dikenal masyarakat luas. Dengan begitu, dia tetap bisa mendatangkan pundi-pundi rupiah. (ndr)

 

- Advertisement -

 

Terkejut. Itulah perasaan Wahyudi Purniawan saat menerima surat pemutusan hubungan kerja (PHK). Ia tak menyangka bakal kehilangan pekerjaan gara-gara imbas pandemi. Namun begitu, bakat melukisnya justru mengemuka.

 

ILMIDZA AMALIA NADZIRA, KABUPATEN, JP Radar Kediri

 

 

Dunia Wahyudi Purniawan seakan runtuh kala menerima surat dari pabrik kopi tempat kerjanya di Sidoarjo akhir 2020 silam. Isi surat di awal pandemi Covid-19 itu menyatakan, “Mohon maaf, Anda harus dirumahkan”.

Saat itu di benak pria yang karib disapa Gandoel tersebut sontak menggelayut, apa yang harus dilakukan demi menyambung hidup. Melamar kerja di tempat lain tentu tak mudah. Apalagi dengan kondisi pagebluk dan banyak pekerja di-PHK. Namun dalam kegelisahannya, laki-laki ini menolak berdiam diri.

“Akhirnya istri dan anak saya tak boyong pulang ke Kediri. Lalu mulai menggeluti lukis lagi,” ujarnya. Gandoel pulang ke Desa Tegowangi, Kecamatan Plemahan. Di sini dia dengan tekun terus mencari inspirasi. Mencari cara agar tetap mendapatkan penghasilan. “Menjadi korban PHK bukan berarti tidak bisa sukses mengerjakan hal lain,” ungkap bapak satu anak itu.

Sejak kanak-kanak Gandoel senang melukis. Bahkan sejak TK hingga SD, karyanya kerap memenangkan lomba menggambar dan mewarnai. Sayang, hobi melukisnya sempat mandek saat SMP.

Baca Juga :  Ruslan, Cetuskan Ide Studio untuk Pelukis Realis di Kediri

Meski bertahun-tahun tak melukis, bakatnya masih melekat. Pada 2018, dirinya memulai kembali. “Seketika saya ingin sekali melukis lagi, akhirnya 2018 itu saya mulai kembali,” tutur pria 34 tahun itu.

Walau belum punya pengalaman menjual karya seni, Gandoel tak putus asa. Tak disangka, banyak rekannya yang tak segan menolong. Dia pun bergabung di komunitas lukis dan berkenalan dengan pelukis-pelukis se-Karesidenan Kediri. Di sini Gandoel bisa memiliki banyak relasi sehingga karyanya dikenal.

Sebenarnya, sebelum di-PHK ia sudah mulai mempromosikan karyanya di galeri seni dan media sosial. Beberapa bahkan terjual. Menyadari potensi itu, Gandoel berpikir kenapa tidak fokus melukis. Pasalnya, jika karya lukisnya bisa terlihat hidup dan nyata bisa diminati dengan harga fantastis.

Sebagai seniman, Gandoel memfokuskan dirinya pada karya lukis aliran realis dan naturalis. Dengan lukisan itu dia dapat menarik minat kolektor. “Tapi lebih fokus pada karya lukis jenis hewan. Seperti kuda, harimau, dan gajah,” paparnya.

Bagi Gandoel, aliran realis tergolong tahap dasar untuk kalangan pelukis. Namun membutuhkan keahlian dan kesabaran tinggi. Satu lukisan saja bisa menghabiskan waktu satu minggu. Itu bergantung tingkat kesulitannya.

Baca Juga :  Korona di Kediri: Butuh Perawat di Tiap Desa

“Makanya saya fokus dulu dengan karya realis jenis hewan. Karena kalau pemandangan itu tingkat kesulitannya masih tinggi,” terang alumnus SMK Candra Birawa, Pare ini. Ciri khas karyanya di kanvas selalu disematkan nama Gandoel Mustakaweni.

Tak tanggung-tanggung, hasil karya lukisnya sudah dikirim ke luar kota, seperti Bali, Manado, dan Tangerang. Bahkan karyanya pernah juga dikirim ke luar negeri untuk diberikan pada temannya sebagai kenang-kenangan. “Yang penting karya saya dikenal banyak orang dulu, nanti rezeki akan mengikuti,” tuturnya.

Gandoel bersyukur, meski pendapatannya tak menentu setiap bulannya, setidaknya dari hasil melukis bisa mencukupi kebutuhan keluarganya. Sudah puluhan lukisan yang dihasilkan sejak dirinya bergabung di komunitas lukis Kediri. “Lukisan saya termahal dibeli dengan harga Rp 10 juta,” ungkapnya.

Kini, meski Gandoel tak lagi menjadi karyawan pabrik yang setiap bulannya mendapatkan upah, setidaknya jika lukisannya dikenal masyarakat luas. Dengan begitu, dia tetap bisa mendatangkan pundi-pundi rupiah. (ndr)

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/