26 C
Kediri
Sunday, August 14, 2022

Tangis Depan Kakbah, Tuntaskan Umrah Wajib

- Advertisement -

Jamaah siap melanjutkan rangkaian ibadah umrah. Suasana haru. Tak ada kata, hanya hati yang bicara. Cinta bertemu dengan Yang dicinta.

 

Labbaikallahumma Labbaik Labbaika Laa Syarikalaka Labbaik….. Alunan talbiah terus berkumandang dari mulut para jamaah. Bus melaju memasuki kota Haram Makkah. Menuju maktab masing masing.

Kami yang tergabung di kloter dua Surabaya mendapat maktab (pemondokan/hotel) di kawasan Masbahjin. Dua kilometer (km) arah utara Masjidilharam. Pemerintah memberikan nomor untuk mempermudah jamaah menghafal. Nomor rumah kami 309 di Hotel LoLoat As Salam.

- Advertisement -

“Selamat datang bapak ibu jamaah haji kloter 2, rombongan 8 di kota Makkah. Saat ini suhu di Makkah 48°C bapak ibu jamaah agar memakai masker, kacamata hitam, dan semprotan air. Hindari paparan sinar matahari langsung,” ujar Amiluddin, petugas haji yang menyambut kami di depan hotel.

Usai memasukkan barang ke kamar, jamaah siap melanjutkan rangkaian ibadah umrah. Ini wajib bagi yang belum pernah dan umrah sunah bagi yang sudah pernah. Menuju Masjidilharam melaksanakan tawaf, sai, dan tahalul atau cukur rambut.

Baca Juga :  Disiplin Jadi Kunci Utama

Dari jarak 2 km dari Masjidilharam, Zam-zam Tower dengan jam raksasanya terlihat menghunjam langit. Kaligrafi tulisan Allah di atas jam terbaca jelas. Tak terasa air mata pun meleleh. Membasahi sanubari para tamu Allah asal Kediri.

Begitu masuk masjid, kerinduan baitullah makin membuncah. Derai air mata semakin deras. Kami masuk lewat pintu Assalam. Pintu ini menghubungkan langsung ke area sai. Area antara bukit Safa dan Marwa, tempat Siti Hajar berlari-lari mencari air untuk Ismail.

Kami harus memotong jalur orang bersai untuk masuk masjid menuju Kakbah. Saat itu tidak terlalu ramai. Melihat Kakbah bergetar hati kami. Meski bukan kali pertama bagi sebagian kami, tetap saja haru. Tak ada kata, hanya hati yang bicara. Cinta bertemu dengan Yang dicinta, kerinduan bertemu Yang dirindu. Merasa begitu dekat dengan-Nya. “Bapak ibu mari kita mulai tawaf. Dalam doa Mintalah apa yang bapak inginkan. Semoga ibadah kita ini benar-benar iklas karena Allah. Sehingga menjadi umrah yng Mabrur,” ujar Gus Ahsin, ketua rombongan kami sebelum tawaf.

Baca Juga :  Cerita Warga Jambean tentang Putri, Korban Pembunuhan sang Ibu

Kami langsung menuju area tawaf. Memulai dari pojok Hajar Aswat. Berputar 7 kali mengelilingi Kakbah. Usai tawaf dilanjut sai. Berlari kecil antara bukit Safa dan Marwa sebanyak 7 kali. Dan diakiri dengan tahalul. Memotong rambut sedikitnya tiga helai. Usai itu, paripurna sudah rangkaian umrah.

Kami semua larut dalam doa. Rasa syukur tak terhingga. Usai memenuhi kewajiban, meski tubuh terasa lelah, usai perjalanan 10 jam plus berjalan untuk tawaf dan sai, tapi jamaah merasa bahagia. Kami kembali ke hotel beristirahat.

Sementara itu, kloter lainnya sudah masuk maktab masing masing. Kloter 1, yang sebagian besar asal Kbupaten Kediri berada di daerah Misfallah, nomor rumah 1114 hotel Tharawat Zamzam, berjarak sekitar 1,5 km dari Majidilharam arah selatan. Kloter 3 jamaah asal Kota Kediri bermaktab di Aziziah Danubiyah, Hotel Al Asel, rumah 308, sekitar 3 km dari Masjidilharam arah tenggara.

Dan Kloter 4 yang sebagian besar diisi jamaah yang visanya sempat tertunda berada di Hotel Mawasim Al Rawdhoh, rumah 814 sektor Raudhoh shyb Amir. Berjarak 2 km dari Masjidilharam.

 

 

- Advertisement -

Jamaah siap melanjutkan rangkaian ibadah umrah. Suasana haru. Tak ada kata, hanya hati yang bicara. Cinta bertemu dengan Yang dicinta.

 

Labbaikallahumma Labbaik Labbaika Laa Syarikalaka Labbaik….. Alunan talbiah terus berkumandang dari mulut para jamaah. Bus melaju memasuki kota Haram Makkah. Menuju maktab masing masing.

Kami yang tergabung di kloter dua Surabaya mendapat maktab (pemondokan/hotel) di kawasan Masbahjin. Dua kilometer (km) arah utara Masjidilharam. Pemerintah memberikan nomor untuk mempermudah jamaah menghafal. Nomor rumah kami 309 di Hotel LoLoat As Salam.

“Selamat datang bapak ibu jamaah haji kloter 2, rombongan 8 di kota Makkah. Saat ini suhu di Makkah 48°C bapak ibu jamaah agar memakai masker, kacamata hitam, dan semprotan air. Hindari paparan sinar matahari langsung,” ujar Amiluddin, petugas haji yang menyambut kami di depan hotel.

Usai memasukkan barang ke kamar, jamaah siap melanjutkan rangkaian ibadah umrah. Ini wajib bagi yang belum pernah dan umrah sunah bagi yang sudah pernah. Menuju Masjidilharam melaksanakan tawaf, sai, dan tahalul atau cukur rambut.

Baca Juga :  Upaya Kreatif Sulastri Kurangi Tumpukan Sampah Plastik

Dari jarak 2 km dari Masjidilharam, Zam-zam Tower dengan jam raksasanya terlihat menghunjam langit. Kaligrafi tulisan Allah di atas jam terbaca jelas. Tak terasa air mata pun meleleh. Membasahi sanubari para tamu Allah asal Kediri.

Begitu masuk masjid, kerinduan baitullah makin membuncah. Derai air mata semakin deras. Kami masuk lewat pintu Assalam. Pintu ini menghubungkan langsung ke area sai. Area antara bukit Safa dan Marwa, tempat Siti Hajar berlari-lari mencari air untuk Ismail.

Kami harus memotong jalur orang bersai untuk masuk masjid menuju Kakbah. Saat itu tidak terlalu ramai. Melihat Kakbah bergetar hati kami. Meski bukan kali pertama bagi sebagian kami, tetap saja haru. Tak ada kata, hanya hati yang bicara. Cinta bertemu dengan Yang dicinta, kerinduan bertemu Yang dirindu. Merasa begitu dekat dengan-Nya. “Bapak ibu mari kita mulai tawaf. Dalam doa Mintalah apa yang bapak inginkan. Semoga ibadah kita ini benar-benar iklas karena Allah. Sehingga menjadi umrah yng Mabrur,” ujar Gus Ahsin, ketua rombongan kami sebelum tawaf.

Baca Juga :  Yuliana, ODGJ yang Kakinya Dirantai karena Sering Mengamuk

Kami langsung menuju area tawaf. Memulai dari pojok Hajar Aswat. Berputar 7 kali mengelilingi Kakbah. Usai tawaf dilanjut sai. Berlari kecil antara bukit Safa dan Marwa sebanyak 7 kali. Dan diakiri dengan tahalul. Memotong rambut sedikitnya tiga helai. Usai itu, paripurna sudah rangkaian umrah.

Kami semua larut dalam doa. Rasa syukur tak terhingga. Usai memenuhi kewajiban, meski tubuh terasa lelah, usai perjalanan 10 jam plus berjalan untuk tawaf dan sai, tapi jamaah merasa bahagia. Kami kembali ke hotel beristirahat.

Sementara itu, kloter lainnya sudah masuk maktab masing masing. Kloter 1, yang sebagian besar asal Kbupaten Kediri berada di daerah Misfallah, nomor rumah 1114 hotel Tharawat Zamzam, berjarak sekitar 1,5 km dari Majidilharam arah selatan. Kloter 3 jamaah asal Kota Kediri bermaktab di Aziziah Danubiyah, Hotel Al Asel, rumah 308, sekitar 3 km dari Masjidilharam arah tenggara.

Dan Kloter 4 yang sebagian besar diisi jamaah yang visanya sempat tertunda berada di Hotel Mawasim Al Rawdhoh, rumah 814 sektor Raudhoh shyb Amir. Berjarak 2 km dari Masjidilharam.

 

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/