24.2 C
Kediri
Saturday, July 2, 2022

Upaya Pemain Persedikab Sayyid Abbiyu Atma Bertahan di Pandemi Covid

Apapun dilakukan untuk bertahan dalam kondisi pandemi Covid-19. Pemain Persedikab Sayyid Abbiyu Atma memilih membantu orang tuanya berjualan bensin di toko saat kompetisi liga 3 void 2020 lalu. Pemain senior ini tak gengsi melakoni sesuatu yang jauh dari keahliannya menggocek bola. 

 

IQBAL SYAHRONI, Kabupaten. JP Radar Kediri

Cuaca di lapangan Jombangan, Desa Tretek, Pare mulai panas sekitar pukul 09.00, Kamis (7/10) lalu. Meski demikian, puluhan pemuda terlihat bersemangat berlari di peleton masing-masing. Mereka mengitari lapangan sepak bola yang terletak persis di sebelah jalan desa itu.

          Memakai jersey sepak bola lengkap dengan kaus kaki dan sepatu, puluhan pemuda itu rupanya tengah berlatih sepak bola. Saat didekati, ada satu sosok yang sudah tidak asing lagi. Dia tak lain adalah Sayyid Abbiyu Atma. Memakai jersey Persedikab tahun 2018, pemuda yang akrab disapa Abbi itu memang menonjol.

          Bukan saja karena tinggi badannya. Tetapi, dia juga merupakan yang tertua di antara puluhan pemuda yang ada di sana. Tidak hanya di lapangan itu, pemuda asal Kunjang, Kabupaten Kediri ini juga merupakan yang tertua di Persedikab, klub tempatnya bernaung. “Ini tahun kelima, saya bergabung sejak 2015,” terang skuad Bledug Kelud ini.

Baca Juga :  Pelaku Bacok Singonegaran: Dirawat dengan Tangan Diborgol

          Usianya memang baru 23 tahun. Tetapi, sesuai dengan peraturan PSSI, dia tergolong pemain paling senior yang berlaga di liga 3. Jika Kamis lalu dia bisa berlatih dengan teman-temannya, tidak demikian dengan tahun lalu.

          Pandemi Covid-19 membuat liga 3 sempat void atau ditiadakan. Dia bersama puluhan pemain Persedikab lain pun terpaksa menggantung sepatu untuk sementara.

          Hampir satu tahun tak bermain sepak bola, Abbi pun memilih mencari aktivitas lain agar tak menganggur. Salah satunya, bekerja membantu orang tuanya menjaga toko di rumah. “Ya bantu jualan juga, kirim jualan, kulakan,” kenangnya.

          Meski menyandang status sebagai pemain bola, Abbi tak pilih-pilih. Tanpa rasa gengsi dia biasa kulakan berbagai jenis dagangan yang dijual di toko. Mulai kulakan jajanan, bensin, dan barang dagangan lainnya.

          Pandemi membuat pemuda kelahiran 1998 silam itu benar-benar beralih pekerjaan untuk sementara. Tak jarang Abbi harus mengangkat jeriken berisi bensin dan menuangkannya ke dalam botol-botol kaca untuk mengisi toko pracangan miliknya. “Tidak masalah, kesempatan membantu orang tua,” beber pemuda berkulit sawo matang itu.  

Baca Juga :  Cerita Panji Bisa Menyatukan Lagi Dua Wilayah

          Pekerjaan mengelola toko milik orang tuanya itu dilakukan sembari kesibukan lain yang tak jauh-jauh dari sepak bola. Dia diajak melatih SSB Triple S Kediri oleh Bambang Drajat, pelatih yang sudah menukanginya sejak di Persedikab junior. Dia dipercaya menjadi asisten pelatih di SSB untuk mengisi waktu.

          Abbi dipercaya melatih pemain kelahiran 2005-2010 di SSB Triple S. “Alhamdulillah, dengan melatih selama void kemarin sekaligus melatih skill bermain bola agar tidak hilang,” urainya senang.

          Meski pandemi belum berlalu, Abbi kini bisa semakin tersenyum gembira. Bukan saja liga yang sekarang kembali bergulir. Melainkan, dia seolah memasuki babak baru dalam karirnya sebagai pemain bola. Yakni, pelatih Tony Ho mempercaya dirinya sebagai pemain bertahan Persedikab Kediri.

Abbi dikontrak semusim dengan beberapa pertimbangan. Salah satunya, pelatih menilai skill-nya mumpuni dan jam terbang tinggi. “Saya bangga. Semoga bisa membawa Persedikab Kediri berjaya bersama teman-teman satu tim lainnya,” paparnya pemuda yang juga mahasiswa Universitas Nusantara PGRI Kediri ini. (ut)

 

- Advertisement -

Apapun dilakukan untuk bertahan dalam kondisi pandemi Covid-19. Pemain Persedikab Sayyid Abbiyu Atma memilih membantu orang tuanya berjualan bensin di toko saat kompetisi liga 3 void 2020 lalu. Pemain senior ini tak gengsi melakoni sesuatu yang jauh dari keahliannya menggocek bola. 

 

IQBAL SYAHRONI, Kabupaten. JP Radar Kediri

Cuaca di lapangan Jombangan, Desa Tretek, Pare mulai panas sekitar pukul 09.00, Kamis (7/10) lalu. Meski demikian, puluhan pemuda terlihat bersemangat berlari di peleton masing-masing. Mereka mengitari lapangan sepak bola yang terletak persis di sebelah jalan desa itu.

          Memakai jersey sepak bola lengkap dengan kaus kaki dan sepatu, puluhan pemuda itu rupanya tengah berlatih sepak bola. Saat didekati, ada satu sosok yang sudah tidak asing lagi. Dia tak lain adalah Sayyid Abbiyu Atma. Memakai jersey Persedikab tahun 2018, pemuda yang akrab disapa Abbi itu memang menonjol.

          Bukan saja karena tinggi badannya. Tetapi, dia juga merupakan yang tertua di antara puluhan pemuda yang ada di sana. Tidak hanya di lapangan itu, pemuda asal Kunjang, Kabupaten Kediri ini juga merupakan yang tertua di Persedikab, klub tempatnya bernaung. “Ini tahun kelima, saya bergabung sejak 2015,” terang skuad Bledug Kelud ini.

Baca Juga :  Catatan Ekspedisi Wilis I, Potensi Wisata Pegunungan Wilis (Habis)

          Usianya memang baru 23 tahun. Tetapi, sesuai dengan peraturan PSSI, dia tergolong pemain paling senior yang berlaga di liga 3. Jika Kamis lalu dia bisa berlatih dengan teman-temannya, tidak demikian dengan tahun lalu.

          Pandemi Covid-19 membuat liga 3 sempat void atau ditiadakan. Dia bersama puluhan pemain Persedikab lain pun terpaksa menggantung sepatu untuk sementara.

          Hampir satu tahun tak bermain sepak bola, Abbi pun memilih mencari aktivitas lain agar tak menganggur. Salah satunya, bekerja membantu orang tuanya menjaga toko di rumah. “Ya bantu jualan juga, kirim jualan, kulakan,” kenangnya.

          Meski menyandang status sebagai pemain bola, Abbi tak pilih-pilih. Tanpa rasa gengsi dia biasa kulakan berbagai jenis dagangan yang dijual di toko. Mulai kulakan jajanan, bensin, dan barang dagangan lainnya.

          Pandemi membuat pemuda kelahiran 1998 silam itu benar-benar beralih pekerjaan untuk sementara. Tak jarang Abbi harus mengangkat jeriken berisi bensin dan menuangkannya ke dalam botol-botol kaca untuk mengisi toko pracangan miliknya. “Tidak masalah, kesempatan membantu orang tua,” beber pemuda berkulit sawo matang itu.  

Baca Juga :  Polisi Tuntaskan Berkas Penyidikan Kades Kras

          Pekerjaan mengelola toko milik orang tuanya itu dilakukan sembari kesibukan lain yang tak jauh-jauh dari sepak bola. Dia diajak melatih SSB Triple S Kediri oleh Bambang Drajat, pelatih yang sudah menukanginya sejak di Persedikab junior. Dia dipercaya menjadi asisten pelatih di SSB untuk mengisi waktu.

          Abbi dipercaya melatih pemain kelahiran 2005-2010 di SSB Triple S. “Alhamdulillah, dengan melatih selama void kemarin sekaligus melatih skill bermain bola agar tidak hilang,” urainya senang.

          Meski pandemi belum berlalu, Abbi kini bisa semakin tersenyum gembira. Bukan saja liga yang sekarang kembali bergulir. Melainkan, dia seolah memasuki babak baru dalam karirnya sebagai pemain bola. Yakni, pelatih Tony Ho mempercaya dirinya sebagai pemain bertahan Persedikab Kediri.

Abbi dikontrak semusim dengan beberapa pertimbangan. Salah satunya, pelatih menilai skill-nya mumpuni dan jam terbang tinggi. “Saya bangga. Semoga bisa membawa Persedikab Kediri berjaya bersama teman-teman satu tim lainnya,” paparnya pemuda yang juga mahasiswa Universitas Nusantara PGRI Kediri ini. (ut)

 

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/