28.3 C
Kediri
Wednesday, June 29, 2022

Abu Safii, Juru Kunci Sedudo yang Jadi Jujukan Pemandu Pejabat

Puluhan tahun menjadi juru kunci di Air Terjun Sedudo, Abu Safii tidak hanya berpengalaman memimpin ritual siraman. Dia juga jadi jujukan para pejabat level lokal hingga presiden, yang meminta dipandu saat mandi di sana.

SRI UTAMI, SAWAHAN. JP Radar Nganjuk.

Beskap hitam, jarik, dan udengnya yang basah sudah ditanggalkan. Ditemui di rumahnya di Desa Ngliman, Sawahan pada Kamis (3/9) siang, Abu Safii yang baru saja memimpin ritual siraman di Air Terjun Sedudo sudah berganti baju batik lengan pendek.

Memakai dengan celana pendek warna hitam, pria yang tak lain adalah juru kunci Air Terjun Sedudo dan makam Mbah Ngliman ini bersantai di ruang tamu rumahnya. Dia memilih pulang tepat setelah ritual selesai. “Langsung mantuk. Mboten mbeta baju ganti (langsung pulang. Tidak bawa baju ganti, Red),” ujar pria yang akrab disapa Mbah Pii ini.  

Bulan Sura memang jadi bulan tersibuk bagi pria yang menjadi juru kunci sejak 1992 lalu. Selain ritual siraman pada tanggal 15 Sura atau Kamis (3/9) lalu, dia sudah memimpin ritual pada malam 1 Sura. Demikian juga pada tanggal 1 Sura, dan malam 15 Sura lalu.

Selebihnya, bukan berarti dia tidak beraktivitas. Jika pada empat momen itu biasanya dia memimpin ritual yang diikuti oleh ratusan atau bahkan ribuan orang, pada hari lain di bulan Sura dia juga sering memimpin ritual di sana. Hanya saja, pesertanya tidak banyak. “Ada saja yang datang minta diantar untuk mandi di Sedudo,” lanjut pria kelahiran 1948 silam itu.

Baca Juga :  ‘Menggali’ Candi Klotok, Mencari Jejak Sejarah Besar Kota Kediri (3)

Kedatangan para tamu yang melakukan ritual mandi di Air Terjun Sedudo di luar tanggal-tanggal tersebut cenderung tak bisa ditebak. Mayoritas datang pada malam hari. Tanpa pemberitahuan.

Tiba-tiba saja mereka sudah tiba di rumah Mbah Pii bersama orang terdekatnya. Tanpa banyak mengobrol, tamu-tamu “istimewa” ini langsung meminta diantar ke Air Terjun Sedudo untuk melakukan ritual mandi di sana.

Siapa saja yang datang ke Air Terjun Sedudo? Ditanya demikian, bapak dua anak itu menyebut sederet nama pejabat level lokal, regional, hingga nasional yang langganan datang. Bahkan, Kapolda Jatim dari masa ke masa menurutnya selalu menyempatkan datang ke Sedudo untuk mandi.

Bagaimana dengan presiden? Ditanya demikian, pria berusia 72 tahun itu menjawab dengan tersenyum. “Hanya Presiden Habibie yang tidak pernah datang ke Sedudo,” tuturnya sembari menghisap dalam rokok kretek di tangannya.

Kedatangan orang nomor satu di Indonesia itu ke Sedudo, disebutnya selalu dalam senyap. Tanpa protokoler. Begitu tiba mereka langsung meminta untuk diantar mandi di Air Terjun Sedudo. Setelah itu, berziarah di makam Mbah Ngliman yang terletak di samping kanan rumah pria tua tersebut.

Baca Juga :  Berjuang dengan Andalkan Mainan Anak-Anak

Tak hanya mengantar mandi di Air Terjun Sedudo, pada 2018 lalu Mbah Pii juga pergi ke Jakarta. Dia mengantar 10 jeriken air dari Air Terjun Sedudo jelang pemilihan presiden atas permintaan purnawirawan jenderal polisi yang merupakan tim sukses.

Puluhan tahun menjadi juru kunci Sedudo dan makam Mbah Ngliman, sudah tak terhitung berapa banyak tokoh yang meminta diantar untuk ritual mandi di Air Terjun Sedudo. Meski memiliki “kedekatan” dengan tokoh-tokoh besar itu, sosok bapak dua anak itu tak berubah. “Ya tetap seperti ini,” urainya sambil tersenyum.  

Tinggal di lereng gunung Wilis, Mbah Pii memang hidup bersahaja. Pria yang terbiasa dimintai nasihat oleh para petinggi negeri ini memilih untuk memisahkan perannya sebagai “orang tua” dan sebagai warga negara.

Selebihnya, pria yang sebagian rambutnya mulai memutih ini mengaku hanya menjalankan tugasnya sebagai juru kunci. Baik di Air Terjun Sedudo maupun di makam Mbah Ngliman.  

Selama pandemi Covid-19, Mbah Pii berujar dirinya lebih banyak membatasi aktivitasnya. Seperti warga lain, dia berharap agar wabah virus dari Cina ini bisa segera berlalu.

Karenanya, dalam ritual Siraman minggu lalu dirinya juga menyelipkan doa khusus agar wabah korona di Indonesia bisa segera selesai. “Ini yang katanya penyakit kecil tapi ganas. Semoga segera selesai,” harapnya.

- Advertisement -

Puluhan tahun menjadi juru kunci di Air Terjun Sedudo, Abu Safii tidak hanya berpengalaman memimpin ritual siraman. Dia juga jadi jujukan para pejabat level lokal hingga presiden, yang meminta dipandu saat mandi di sana.

SRI UTAMI, SAWAHAN. JP Radar Nganjuk.

Beskap hitam, jarik, dan udengnya yang basah sudah ditanggalkan. Ditemui di rumahnya di Desa Ngliman, Sawahan pada Kamis (3/9) siang, Abu Safii yang baru saja memimpin ritual siraman di Air Terjun Sedudo sudah berganti baju batik lengan pendek.

Memakai dengan celana pendek warna hitam, pria yang tak lain adalah juru kunci Air Terjun Sedudo dan makam Mbah Ngliman ini bersantai di ruang tamu rumahnya. Dia memilih pulang tepat setelah ritual selesai. “Langsung mantuk. Mboten mbeta baju ganti (langsung pulang. Tidak bawa baju ganti, Red),” ujar pria yang akrab disapa Mbah Pii ini.  

Bulan Sura memang jadi bulan tersibuk bagi pria yang menjadi juru kunci sejak 1992 lalu. Selain ritual siraman pada tanggal 15 Sura atau Kamis (3/9) lalu, dia sudah memimpin ritual pada malam 1 Sura. Demikian juga pada tanggal 1 Sura, dan malam 15 Sura lalu.

Selebihnya, bukan berarti dia tidak beraktivitas. Jika pada empat momen itu biasanya dia memimpin ritual yang diikuti oleh ratusan atau bahkan ribuan orang, pada hari lain di bulan Sura dia juga sering memimpin ritual di sana. Hanya saja, pesertanya tidak banyak. “Ada saja yang datang minta diantar untuk mandi di Sedudo,” lanjut pria kelahiran 1948 silam itu.

Baca Juga :  Menelusuri Jejak Satwa Lindung yang Habitatnya Bakal Jadi Bandara (5)

Kedatangan para tamu yang melakukan ritual mandi di Air Terjun Sedudo di luar tanggal-tanggal tersebut cenderung tak bisa ditebak. Mayoritas datang pada malam hari. Tanpa pemberitahuan.

Tiba-tiba saja mereka sudah tiba di rumah Mbah Pii bersama orang terdekatnya. Tanpa banyak mengobrol, tamu-tamu “istimewa” ini langsung meminta diantar ke Air Terjun Sedudo untuk melakukan ritual mandi di sana.

Siapa saja yang datang ke Air Terjun Sedudo? Ditanya demikian, bapak dua anak itu menyebut sederet nama pejabat level lokal, regional, hingga nasional yang langganan datang. Bahkan, Kapolda Jatim dari masa ke masa menurutnya selalu menyempatkan datang ke Sedudo untuk mandi.

Bagaimana dengan presiden? Ditanya demikian, pria berusia 72 tahun itu menjawab dengan tersenyum. “Hanya Presiden Habibie yang tidak pernah datang ke Sedudo,” tuturnya sembari menghisap dalam rokok kretek di tangannya.

Kedatangan orang nomor satu di Indonesia itu ke Sedudo, disebutnya selalu dalam senyap. Tanpa protokoler. Begitu tiba mereka langsung meminta untuk diantar mandi di Air Terjun Sedudo. Setelah itu, berziarah di makam Mbah Ngliman yang terletak di samping kanan rumah pria tua tersebut.

Baca Juga :  Guru Ketua PBNU Itu Berpulang

Tak hanya mengantar mandi di Air Terjun Sedudo, pada 2018 lalu Mbah Pii juga pergi ke Jakarta. Dia mengantar 10 jeriken air dari Air Terjun Sedudo jelang pemilihan presiden atas permintaan purnawirawan jenderal polisi yang merupakan tim sukses.

Puluhan tahun menjadi juru kunci Sedudo dan makam Mbah Ngliman, sudah tak terhitung berapa banyak tokoh yang meminta diantar untuk ritual mandi di Air Terjun Sedudo. Meski memiliki “kedekatan” dengan tokoh-tokoh besar itu, sosok bapak dua anak itu tak berubah. “Ya tetap seperti ini,” urainya sambil tersenyum.  

Tinggal di lereng gunung Wilis, Mbah Pii memang hidup bersahaja. Pria yang terbiasa dimintai nasihat oleh para petinggi negeri ini memilih untuk memisahkan perannya sebagai “orang tua” dan sebagai warga negara.

Selebihnya, pria yang sebagian rambutnya mulai memutih ini mengaku hanya menjalankan tugasnya sebagai juru kunci. Baik di Air Terjun Sedudo maupun di makam Mbah Ngliman.  

Selama pandemi Covid-19, Mbah Pii berujar dirinya lebih banyak membatasi aktivitasnya. Seperti warga lain, dia berharap agar wabah virus dari Cina ini bisa segera berlalu.

Karenanya, dalam ritual Siraman minggu lalu dirinya juga menyelipkan doa khusus agar wabah korona di Indonesia bisa segera selesai. “Ini yang katanya penyakit kecil tapi ganas. Semoga segera selesai,” harapnya.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/